Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (11)

Bulan Mei 1949, Jenderal Spoor, panglima besar Belanda tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. Kaum Republik mengatakan bahwa kecelakaan itu karena pesawatnya ditembak kaum gerilya.

Kegiatan diplomasi di Dewan Keamanan menghasilkan keputusan agar Belanda meninggalkan seluruh daerah Republik Indonesia. Kemenangan di medan diplomasi ini tak mungkin tercapai jika tidak karena semakin menghebatnya perlawanan kaum Republik terhadap aksi militer Belanda. Taktik perang gerilya membawa kemenangan.

Yang sudah pasti adalah karena pertolongan Allah SWT. Aku menundukkan kepala, bahwa tidaklah percuma umat Islam melakukan gerakan puasa sunat terus-menerus, tidaklah sia-sia gerakan batin yang menghebat dilakukan oleh para alim ulama di mana-mana, baik di daerah gerilya maupun di daerah pendudukan Belanda sendiri. Apalah artinya perlawanan militer dan diplomasi jika tidak mendapat pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Biasa sifat sementara manusia, di saat menderita kesulitan yang bertumpuk-tumpuk, mereka bersujud memohon pertolongan Allah, saat demi saat cuma mengenang Allah. Tetapi bila penderitaan dan kesulitan telah terhalau karena sifat Rahman dan Rahim Allah, orang lupa akan hal ini. Mereka menyangka bahwa kemenangannya cuma karena usahanya sendiri. Tuhan sudah ditinggalkan di belakangnya…!

Sejak bulan Juni-Juli 1949, mulailah pasukan-pasukan gerilya memasuki Yogya dan kota-kota lain wilayah Republik Indonesia. Belanda sudah dibersihkan dari daerah Republik.

Menjelang Agustus, kami memasuki kota kembali. Yogya dalam suasana bersyukur, bermandikan cahaya kemenangan, dan kegembiraan. Republik Indonesia tegak berdiri kembali setelah dirobek-robek oleh Belanda. Perayaan 17 Agustus diliputi oleh suasana kegembiraan dan keharuan yang tak mudah dilukiskan dengan kata-kata.

Sukamo-Hatta, Sutan Syahrir, HA. Salim, dan lain-lain pemimpin Republik telah berada kembali di ibu kota. Dan orang terakhir yang memasuki ibu kota adalah Pak Dirman, Panglima Besar. Beliau dalam keadaan sakit yang kian parah. Memasuki ibu kota dengan diusung di atas tandu dan dalam pakaian gerilya dengan ikat kepala berwarna wulung, hitam pekat.

Bung Hatta pada 23 Agustus 1949 memasuki ruangan Ridderzaal di Den Haag negeri Belanda, untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar dengan Belanda.

Ketika diadakan peringatan Hari Angkatan Perang pada 5 Oktober di ibu kota, segenap pasukan gerilya mengadakan parade di muka Panglima Besar Sudirman. Dalam parade, banyak orang yang tidak kuat menahan rasa harunya, menyaksikan anak-anak TNI dan laskar-laskar pejuang dengan pakaian macam-macam, sedang Panglima Besar menerima parade sambil duduk karena kesehatannya tidak mengizinkan berdiri lama-lama.

Sewaktu menerima kehormatan dari parade, beliau berdiri dengan ditolong oleh tongkatnya di tangan kanan, berdiri yang dipaksakan. Aku mengawasi dari panggung, betapa seorang santri menjadi panglima besar dari suatu negara yang habis dikoyak-koyak musuh, tetapi masih tegak berdiri lebih sentausa dari sedia kala. Alangkah gagahnya kaum pejuang yang mengikhlaskan pengorbanannya untuk suatu cita-cita mulia!

Tak tahan iba hatiku ketika melihat anak-anak Hizbullah dalam parade dengan pakaian yang compang-camping yang mereka kenakan sejak dari daerah gerilya. Mereka tidak ikut parade karena terlambat datang dari daerah gerilya, mereka tidak sempat untuk mempersiapkan diri, dan mereka merasa puas berdiri di luar garis menyaksikan kawan-kawan mereka seperjuangan memperlihatkan kepahlawanannya membela tanah air dan negara.

Tanggal 7 Desember 1949, aku memasuki Sidang Komite Nasional Pusat di Yogya. Aku bersama Wahib Wahab dan lain-lain teman hadir sebagai anggota Komite Nasional Pusat. Aneh juga jalan sejarah hidup manusia, beberapa bulan yang lalu masih berada di daerah pertempuran gerilya dengan celana digulung hingga lutut, tak bersepatu. Tetapi kini anggota KNI Pusat, menghadiri sidang perwakilan rakyat tertinggi untuk mengesahkan hasil-hasil KMB yang telah ditandatangani oleh Wakil Presiden Muhammad Hatta sebagai Ketua Delegasi Republik. Tidak lagi memakai celana yang digulung sampai lutut dan tak bersepatu, tetapi memakai setelan betul-betul dengan sepatu dan dasi baru.

Sidang KNI Pusat itu diakhiri dengan upacara pelantikan Bung Karno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Serikat, yang beberapa hari kemudian harus meninggalkan Yogya untuk kembali ke Jakarta, Ibu Kota Republik baru ini.

Dengan kembalinya Yogya sebagai Ibu Kota Republik dan berdirinya Republik Indonesia Serikat, maka permusuhan dengan Belanda dinyatakan berakhir. Sekarang keduanya sebagai dua negara yang sama-sama merdeka dan berdaulat.

Laskar-laskar perjuangan tidak diperbolehkan lagi. Mereka melalui suatu saringan meleburkan diri ke dalam Tentara Nasional Indonesia. Anak-anak Hizbullah di bawah asuhanku sebanyak 1 divisi, hanya 1 batalion saja yang meleburkan diri ke dalam TNI, adapun sisanya yang terbesar dinyatakan bubar. Dari santri kembali ke santri.

Dari pesantren mereka kembali memasuki pesantrennya masing-masing. Yang tukang jahit kembali membuka warungnya, yang tukang gunting rambut kembali memegang kepala-kepala orang, kalau perlu menggunduli mereka, dan yang ustazd kembali ke madrasahnya masing-masing. Mereka puas, telah pernah menyumbangkan sesuatu kepada tanah air ini, kepada negara ini di saat yang paling sulit dan di saat nyawa menjadi taruhannya. Tetapi bersyukur bahwa Allah SWT melindungi mereka, dan memberikan bantuan-Nya yang membawa kemenangan kepada mereka. Harapan mereka cuma satu, semoga amalnya diterima Allah sebagai amal yang saleh.

Tidak satu sen pun mereka menuntut kepada Republik untuk mengganti hartanya yang telah hilang, mengganti rumahnya yang telah menjadi abu. Mereka dengan penuh kesabaran menata kembali hidupnya, mendirikan kembali rumah kediamannya. Harapan mereka, semoga rezeki yang mereka terima dari jerih payahnya itu merupakan rezeki yang halal.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: