Apresiasi Terhadap Rasa Seni

Maunya tak usah saja mengaji kalau pada suatu malam ada pertunjukan wayang kulit. Apalagi kalau Dalang Suki yang ditanggap. Ayah tahu juga gelagat ini. Kalau misalnya aku memaksakan tidur siang biar malamnya bisa leklekan, biar malam bisa melek terus supaya tidak ngantuk kalau nonton wayang kulit. Juga kalau aku pergi ke toko Baba Kim Ling beli tembakau dan klembak-menyan buat mengisi slepenku. Mesti ada persiapan merokok di siang hari agar malam nonton wayang sudah lengkap perlengkapan rokokku. Mengikuti cerita dalang wayang sambil merokok terasa nikmat sekali, sekaligus buat cagak melek. Kalau uang tidak cukup untuk beli perlengkapan rokok, ada yang urun beli tembakaunya, ada yang kemenyan, dan ada yang beli klembaknya. Tidak lazim orang beli rokok yang sudah jadi, itu cuma golongan ndoro-ndoro. Kami, golongan rakyat, biasa mengelinting sendiri rokok kami. Kalau kebetulan Hari Raya Idul Fitri bolehlah sesekali merokok “Mascot” atau “Davros” atau rokok Belanda lainnya.

Tapi Ayah menyuruhku mengaji dulu kalau mau nonton wayang kulit. Beliau khawatir kalau saja aku pergi nonton tanpa mengaji dulu di surau. Sebab itu, beliau perlukan kontrol sendiri ke surau, kalau-kalau aku tidak mengaji. Kalau aku melihat beliau datang ke surau untuk kontrol begitu, aku mengerti bahwa beliau khawatir aku tidak mengaji. Karena itu, dari kejauhan aku berikan tabik seolah aku hendak katakan, “hei ini aku ada!” Beliau lalu pergi tentu dengan hati puas dan lega.

Nonton wayang, maksudku wayang kulit, karena aku ingin mengikuti jalan cerita dalam suatu lakon. Kalau dalang sedang suluk apa lagi gamelan kelewat lama, tak senanglah hariku. Zaman itu belum ada pesinden yang mengiringi gamelan. Kalau harus ada iringan tembang, maka yang menyanyikan hanya orang laki-laki, salah seorang niaga yang merangkap jadi waranggana. Kecuali jalan cerita, aku sangat tertarik pada cara ki dalang ber-ontowacono melakukan dialog di antara wayang-wayangnya. Di sana terlihat betapa kayanya dalang menguasai jalan cerita dan kemahiran retorika. Belum lagi caranya mempertontonkan gerak perbuatan masing-masing wayang, gerak-geriknya, jalannya, dan tekanan suaranya. Gatot Kaca serba tangkas dan gagah, tegas dan pasti. Setiaki serba cekatan dan terampil. Ongkowijoyo selalu tenang, rendah hati, tetapi apa yang ditugaskan selalu beres. Lain halnya dengan Dursosono, seorang patih Hastina yang serba kasar, gembuyan, dan cekakaan, tugas apa pun yang diserahkan selalu kandas, tak pernah selesai. Hidupnya mewah dan gemar foya-foya. Sengkuni, perdana menteri Hastina, klemak-klemek, pembujuk serta pemutar balik persoalan, tokoh munafik yang paling berbahaya.

Di kalangan pesantren, nonton wayang kulit hampir tidak pernah dipertentangkan apa hukumnya, haram atau boleh. Ada pihak yang mengambil sikap tidak boleh, tidak dijelaskan sampai tingkat apa ketidakbolehannya, apakah haram ataukah makruh, dengan dalil karena mendengarkan bunyi-bunyian yang mengasyikkan hingga terlengah dari ingat kepada Allah (dzikrullah), padahal tak ingat kepada Allah haram hukumnya. Lagi pula bercampur baurnya antara penonton pria dan wanita di waktu malam, bisa menjurus kepada perbuatan maksiat. Ada juga yang mengambil pendirian boleh, karena konon wayang adalah ciptaan para Wali (Wali Songo) dalam mengasimilasi ajaran Hindu ke dalam Islam. Lagi pula orang bisa mengambil intisari pelajaran yang ada dalam lakon-lakon wayang. Dalam cerita Pandawa membangun sebuah candi, dikisahkan bahwa bangunan candi selalu mengalami kehancuran, pagi dibangun sore harinya roboh, sore dibangun pagi harinya juga roboh. Setelah diteliti, ternyata ada sesuatu sarana paling fundamental yang terlupakan, yaitu tidak diikutsertakannya Jimat Katimasodo (Kalimah Syahadat). Tetapi baiklah, pasal nonton wayang kulit hampir tak pernah dipertentangkan bagaimana mengenai hukumnya. Siapa yang suka, nontonlah, siapa yang tak suka, tak usahlah pergi nonton. Sebab itu, di antara kiai dan santri terdapat saling toleransi, saling mengambil sikap nafsi-nafsi, yang suka silakan nonton, dan yang tak suka silakan tidur di rumah.

Yang sudah terang, siapa-siapa yang mengambil sikap boleh menonton wayang, mereka nonton sekedar mengambil yang perlunya, hendak mengikuti jalan cerita sesuatu lakon, itu pun pandai-pandai menyaring konklusinya. Dalam pada itu, hal-hal yang menyebabkan dipandang sebagai ‘illat at-tahrim (sebab yang menjadikan haram), misalnya bercampur- baurnya penonton laki-laki dan wanita, dijauhi, demikian pula sikap asyiknya mengikuti jalan cerita dijaga, agar tidak sedetik pun lupa kepada Allah SWT. Tetapi biar bagaimanapun, tak ada kiai yang nanggap wayang, meski ia senang wayang sekalipun. Tak pernah terjadi dalam suatu pesantren orang mengadakan pagelaran wayang kulit, walaupun santrinya banyak yang suka wayang.

Kami anak-anak, tentulah tidak sampai sejauh itu membenamkan diri memecahkan masalah yang rurnit tentang nonton wayang. Aku dan teman-teman termasuk gemar nonton wayang kulit. Tetapi pagi hari tentu Ayah menyuruhku mendaras Al-Qur’an bila malam harinya aku mau nonton wayang. Agaknya untuk kafarat, menebus utang pahala.

Salah seorang kiai yang senang wayang kulit pernah menceritakan bahwa beliau sangat mengagumi cara Wali Songo menggubah wayang kulit untuk media dakwah. Diceritakan misalnya tentang Pandawa Lima. Urutan mereka ialah: Yudistira, Werkudoro, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Ini mengandung arti tentang Rukun Islam yang lima. Yudistira adalah lambang Syahadat, orang yang memegang teguh kalimah Thayyibah dan risalabira mempunyai sifat-sifat seperti yang dimiliki Yudistira, yakni kejujuran dalam segala ucapan dan perbuatan. Werkudoro adalah lambang rukun Islam yang kedua, yaitu sembahyang 5 waktu. Sembahyang 5 waktu ini tidak bisa ditawar, berlaku bagi siapa pun, dalam keadaan apa pun, dan di mana pun. Caranya bisa berbeda, seperti cara sembahyangnya orang dalam perjalanan, dalam keadaan sakit, dan sebagainya, tetapi tetap menjalankan sembahyang. Cocok dengan sifat Werkudoro yang memperlakukan semua orang sama tak dibeda-bedakan. Arjuna merupakan lambang rukun Islam ketiga, yakni zakat. Berzakat dengan sendirinya mempunyai syarat orang harus mempunyai harta kekayaan. Semua orang mendambakan kekayaan, sama dengan tokoh pewayangan Arjuna yang disenangi oleh semua orang, bahkan dia dipandang sebagai lanang ing jagad. Nakula danSadewa merupakan lambang dari rukun Islam keempat dan kelima. Tokoh pewayangan ini merupakan saudara kembar, demikian pun rukun Islam yang keempat dan kelima. Tokoh pewayangan ini merupakan saudara kembar, karena tidak dikerjakan setiap hari, tetapi tiap setahun sekali. Karena itu tokoh Nakula dan Sadewa juga tidak sembarang waktu ditampilkan dalam lakon wayang.

Yang menambah pikiranku bahwa wayang kulit adalah hasil ciptaan Wali Songo, jika kebetulan aku menonton lakon Bima Ngaji, artinya Bima atau Werkudoro berguru. Judul ini saja menimbulkan asosiasi bahwa hal ini menggambarkan dunia santri. Mengapa dipakai istilah “mengaji” misalnya? Mengapa tidak dipakai judul “Bima Kursus” atau “Bima Sekolah”? Mengapa mesti Bima ngaji. Bukankah istilah “ngaji” erat hubungannya dengan dunia santri.

Dalam lakon “Bima Ngaji” aku menarik suatu kesimpulan betapa seharusnya seorang murid menaati gurunya. Kalau sang guru tidak jujur, misalnya Durna dalam cerita tersebut, maka ia sendiri yang rugi. Tetapi bagi sang murid yang taat, seperti Bima, tidak memperoleh sesuatu kerugian apa pun, bahkan mendapat keuntungan-keuntungan. Bima yang dengan setia menaati ajaran gurunya yang tak jujur (Durna), akhirnya memperoleh kesaktian-kesaktian dan menemukan gurunya yang sejati (Dewa Ruci). Pelajaran ini mengandung makna bahwa seorang murid atau santri mestilah setia kepada gurunya. Di satu segi yang lain memberi pelajaran bahwa percumalah guru yang hendak menyesatkan muridnya karena sang murid pada akhirnya akan menemukan jalan yang benar.

Kadang-kadang aku tirukan cerita-cerita dalang wayang pada saat kami menjelang tidur di langgar Kiai Khudlori. Kami sesekali tidur beramai-ramai di langgar atau masjid. Jika malam telah sepi, lampu telah dipadamkan, buat periang waktu menjelang tidur, berceritalah salah seorang teman menirukan dalang ketika sedang melakonkan sebuah cerita. Macam- macamlah cerita yang ditirukan, cerita Lahirnya GatotKaca, atau Srikandi Meguru Manah, atau Petruk Dadi Ratu. Jika seorang teman berpura-pura jadi dalang, kami yang lain-lain berpura-pura jadi niaga tukang pukul gamelan. Tentu saja suara gamelan cukup dengan mulut. Aku pernah ditunjuk jadi dalang pura-pura. Aku bercerita terus-menerus, tahu-tahu teman-teman sudah tidur semua…!

Paling senang kalau ngaji tiba-tiba diliburkan. Misalnya, sekonyong-konyong kiai kedatangan tamu dari jauh, apalagi tamu bekas teman kiai di pesantren. Ngaji diliburkan. Mau pulang rumah, hari masih sore, maka berkerumunlah anak-anak. Kebetulan di kampung kami telah beberapa hari kedatangan rombongan “Komedi Stambul” namanya “Miss Tutih Opera of Jayalelana.”

Rombongan opera ini menggemparkan seluruh kampung, setidak-tidaknya di kalangan kami anak-anak. Miss Tutih ini konon yang jadi bintang panggungnya atau primadona. Jika sandiwara telah selesai main kira-kira pukul 12 malam, anak-anak suka berkerumun di samping pintu panggung, menunggu keluarnya sripanggung. Tapi sialnya, tak seorang pun pernah menjumpai sripanggung ini, biar ditunggu hingga keluarnya anak wayang yang penghabisan. Karena penasaran, kami sering mengunjungi pondokan sripanggung di waktu siang hari. Kami ingin sekali melihat dari dekat pemegang peran Nyai Dasima atau Puteri Ginoviva atau si Jula-Juli Bintang Tiga. Seperti apa sih orangnya? Tentang pemain laki-laki yang biasa jadi anak raja agak mudah dijumpai, karena tiap hari Jum’at ia bisa dipastikan datang ke masjid untuk sembahyang Jum’at. Namanya Sjafiuddin, konon ia berasal dari Madura, walaupun “Miss Tutih Opera of Jayalena” ini rombongan dari Jawa Barat. Kami senang kepada Syafiuddin, selain kalau main mempesonakan, juga karena ia bersembahyang. Alangkah gantengnya kalau ia sedang memerankan Prince Hamlet, alangkah mengharukannya ketika memerankan “Merchant of Baghdad.” Dalam lakon apa saja selamanya Miss Tutih berpasangan dengan Syafiuddin. Dua-duanya merupakan favorit di kampungku, apalagi Syafiuddin orangnya santri. Lain benar kalau sedang berada di masjid, ia mengenakan kain sarung plekat dengan baju koko putih, pecinya mengkilap hitam, peci padang kata orang. Kami tentu tidak bisa menonton tiap malam, kecuali karena waktu-waktu mengaji cukup padat, juga aku sendiri mana bisa terus- menerus keluarkan 5 sen untuk harga karcis sekali nonton.

Satu ketika datanglah rombongan Ketoprak Mataram di kampungku. Biasanya kami para santri kurang tertarik kepadanya. Lebih tertarik pada wayang kulit atau stambul bangsa lain. Tetapi kalau hati lagi iseng dan di kantong ada uang 3 sen, tak apalah sesekali nonton ketoprak.

Sekali waktu aku beramai-ramai nonton ketoprak ini.

Ceritanya mengambil lakon Yakub-Ibrahim, dua kakak-beradik anak raja Mesir. Yakub seorang pangeran yang baik hati, cakap, dan suka menolong sesama manusia. Sebaliknya Ibrahim, abangnya, berwatak kasar dan jahat. Yakub difitnah abangnya karena adiknya ini menjadi kekasih ayahnya, raja Mesir. Ibrahim ingin satu ketika tahta kerajaan jatuh pada dirinya, sebab itu, bulat tekadnya untuk membinasakan adiknya. Beruntung sekali, atas bantuan bujang istana, Yakub bisa lolos dari lubang jarum, pergi meninggalkan istana, hidup mengembara menjelajahi seluruh negeri.

Tentu saja para penonton jatuh hati kepada Yakub ini dan membenci Ibrahim. Di suatu kampung jauh dari kota, Yakub menjumpai sebuah pesantren. Di sana ia berguru kepada seorang arif, yang kira-kira merupakan kiailah.

Nama kampung inilah yang membuat aku geli, namanya kampung Karangnongko. Tidak masuk akal, mana mungkin di Mesir ada kampung namanya “Karangnongko?”

Maklumlah cerita ketoprak. Alhasil akhir cerita, Yakub kembali ke negerinya dan menggantikan singgasana ayahnya yang sudah tua. Adapun abangnya yang jahat, untuk menyenangkan hati para penonton, dihukum berat, naik tiang gantungan. Tetapi untuk lebih menyenangkan para penonton, Yakub si raja Mesir ini memberi ampunan hingga abangnya bertaubat menjadi orang baik-baik.

Di beberapa pesantren, para santri tidak hanya menyibukkan diri dalam mengaji dan belajar. Ada juga saat-saat untuk rekreasi. Waktu rekreasi ini kadang-kadang diisi dengan main gambus, yaitu semacam tarian anak-anak laki-laki menirukan langkah-langkah dalam pencak silat, tangan menjurus ke muka, menangkis ke samping, langkah kuda-kuda, duduk bersimpuh menantikan datangnya serangan lalu siap untuk menyepak, dan sebagainya, dan sebagainya. Tentu saja diiringi bunyi-bunyian gendang dan ketipung mengikuti irama suara biola digesek. Lagunya tentu saja lagu-lagu padang pasir atau irama Melayu. Adapun pengiring suara, menyanyikan syair-syair shalawat nabi, atau lagu-lagu pantun Melayu. Yang aku masih hafal hingga kini ialah sebuah pantun Melayu:

Main layangan, main layangan di Surabaya,

Putus talinya, putus talinya jatuh di Garut,

Jadilah orang, jadilah orang taat beragama,

Kepada Allah, kepada Allah selalu menurut.

Main gambus ini agak jarang-jarang karena memerlukan latihan, sedang waktu buat mengaji amatlah padat. Para kiai kami tidak begitu melarangnya asal tidak terlalu sering dan tidak mengganggu pengajian. Paling malam pukul 12 harus sudah selesai. Kecuali main gambus, hampir tiap-tiap surau ada klub genjringan, yaitu main rebana. Sekumpulan pemain kira-kira 5 atau 6 orang memukul genjring atau rebana yang garis tengahnya sekitar 30 cm. Bingkainya dibuat dari kayu yang dicat dengan warna warni menyolok. Alasnya dari kulit domba yang dicukur halus serta dikeringkan, disentak, oleh irisan rotan kuat-kuat menelusuri seluruh lingkarannya agar menjadi nyaring bila dipukul. Pada kedua tepinya diberi kuping-kuping terbuat dari logam tipis agar memberikan bunyi kemrincing, menambah harmonis suara rebana. Di belakang penabuh genjring ini duduk beberapa deretan penyanyi yang melagukan syair-syair mengiringi suara rebana. Syair-syair itu semuanya dalam bahasa Arab dan umumnya diambil dari bagian-bagian tertentu dalam Kitab Barzanji. Dengan sendirinya mendatangkan suasana memuji-muji kebesaran Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam irama-irama tertentu, para pemukul rebana ini ikut juga menyanyikan syair-syair menambah meriahnya suasana. Sudah tentu semua anggota klub genjringan ini laki-laki. Genjringan ini juga disebut trebangan atau terbangan, penabuh atau pemukulnya dengan sendirinya disebut “penerbang.” Jadi dengan demikian di beberapa pesantren ada penerbang-penerbang, tapi bukan pilot pesawat terbang! Puncak dari permainan rebana ini, biasanya menjelang penutup, tampillah jago-jago pencak memperlihatkan kebolehannya main silat atau kuntao. Pertama-tama main kembang, yaitu pemain tunggal mendemonstrasikan metode pencak yang mutakhir, kemudian sebagai klimaksnya, tampillah sepasang juara silat bertanding mengalahkan lawannya. Bukan main dahsyatnya, bagaikan pendekar-pendekar mencari mangsanya, dan bukan main gemuruh tempik sorak mengelu-elukan pemenangnya.

Demikianlah rekreasi-rekreasi dalam lingkungan pesantren. Sekedar mencari suasana santai, tetapi tidak mengganggu pengajian, dan pelajaran para santri. Paling-paling 3 bulan sekali pada waktu perayaan hari-hari besar Islam.

Banyak sebenarnya suasana santai itu dalam pesantren. Kalau saja datang santri atau calon santri baru yang hendak belajar mengaji, walaupun tidak ada keharusan tertulis, berlakulah semacam perpeloncoan. Begitu datang orang baru (calon santri) ke pesantren, kedengaranlah suara teriakan nyaring “Tamuuuuu”! Serentak santri-santri keluar dari gutekan. Yang sedang menanak nasi ditinggalkan tanakannya, yang sedang mengaji meninggalkan pengajiannya, semuanya beramai-ramai melihat sang tamu. Sang tamu ini (tentu yang calon santri) lalu dikepung rapat, ia dipencilkan dalam lingkaran santri-santri. Macam-macamlah ejekan dan poyokan keluar dari seribu mulut yang haus menggoda itu. Kalau sang tamu kebetulan pakai blangkon, maka terdengarlah teriakan-teriakan “Blangkonooo, blangkonooo,” atau salah seorang yang sedikit mblubut atau sedikit tegaan menghampiri sang tamu sambil berkata: “nyambut blangkone, mas!” (pinjam blangkonmu, Saudara). Kadang-kadang seorang lain pura-pura dengan ramahnya membawa sang tamu, dikiranya hendak dibawa ke kantor pesantren, kiranya diantar ke… WC sambil berkata: “Di sini kalau mau setooooor!” Karuan saja meledaklah tawa orang banyak. Jika sang tamu kebetulan diantarkan oleh orang tuanya atau keluarganya, kontan saja satu teriakan melengking sangat nyaring:”Uauuuuttt, nggowo bolo1″ (hei, dia membawa bala tentara!). Pendeknya macam-macamlah cara untuk “memelonco” santri baru. Hal-hal demikian dianggap biasa dalam dunia pesantren. Oleh sebab itu, kiai tak pernah ikut campur. Perpeloncoan ini lazim disebut Surakan, sama sekali tak pernah dilakukan hal-hal yang bersifat menyakiti atau membuat letih badan. Itu sekedar perkenalan pertama dalam menguji mental calon santri, dengan demikian ia mulai dikenalkan dengan calon teman- teman senasib sepenanggungan.

Pernah satu ketika datanglah seorang calon santri ke pesantrenku. la seorang pemuda yang berbadan tegap, besar, dan tinggi, perawakannya gagah. Datang dengan memikul bungkusan besar berisi pakaian dan buku-bukunya. Seperti biasa, ia disambut dengan teriakan pertama “Tamuuuuuuuuuu!”. Seluruh anak keluar dari gutekannya atau tempat belajarnya. Santri-santri menyerbu sang tamu dengan suatu lingkaran besar dan padat.

Karena melihat badan sang tamu tegap dan gagah, dari mulut 1000, serentak keluar suara menirukan bunyi gamelan sangat ramainya. Tetamu ini tidak seperti tamu biasa. Sama sekali tidak tampak goncang hatinya. Dengan tenangnya ia menurunkan pikulannya di atas tanah, perlahan-lahan ia singsingkan lengan bajunya dan sarungnya. Tiba-tiba ia berjoged menirukan tarian Werkudoro, hingga anak-anak lambat laun jadi capek sendiri, akhirnya terhentilah suara gamelan dari mulut 1000 itu. Melihat gelagat demikian, sang tamu berseru- seru menantang: “Hayo keluarkan siapa pendekarmu!” Kontan anak-anak pada diam saling memandang yang satu kepada yang lainnya sambil gerutunya: “Waaaah ini memang genthol” Anak-anak jadi sadar bahwa tamu satu ini memang jago dan sudah banyak pengalamannya dalam pesantren-pesantren. Benar juga, tak lama kemudian ia diangkat menjadi Lurah Pondok (semacam Ketua Dewan Mahasiswa di kalangan universitas).

Surakan ini biasanya cuma berlangsung sebentar saja, tak lebih dari 1 jam dan dalam batas- batas tidak merusak badan atau benda, lagi pula tak pernah dikeluarkan biaya biar satu sen pun.

Semua ini sekedar menginsyafi perlunya suatu kehidupan rileks, sebagai apresiasi atau penginsyafan penghargaan terhadap rasa seni di kalangan santri. Kiai sering menginsyafkan kami semua, bahwa rasa seni amat penting, agar kita terdidik oleh perasaan halus, satu faktor penting bila kita telah berada di tengah-tengah masyarakat. Orang yang tak menghargai rasa seni akan menjadi orang yang serba kaku, bahkan bisa menimbulkan sikap kasar dalam tindak-tanduknya.

Temanku Mahmud, 6 tahun lebih tua dariku. la sudah lama tamat sekolah, dan mengajinya hampir menyelesaikan kitab Alfiyah, 1000 bait sajak dalam bahasa Arab tentang ilmu Nahwu dan Sharaf. Di kalangan kami, ia pemuda paling ganteng dan jempolan. Kecuali jago pencak, ia mempunyai kemahiran kaligrafi, seni melukis huruf. Menulis kalimat-kalimat dalam bahasa Arab dalam lukisan indah, yang nilai seninya dikagumi banyak orang. Teman- temanku banyak yang memesan lukisan lafal-lafal untuk digantungkan di rumahnya sebagai penghias dinding. Tak pernah memungut bayaran, cukup bila pemesannya menyediakan kertas dan alat tulis secukupnya.

Ayahnya mempunyai pesantren khusus untuk anak-anak perempuan. Sebanyak 200 anak perempuan, fatayat, tiap sore mengaji di pesantrennya. Kadang-kadang Ibu si Mahmud memberikan pelajaran bila ayahnya berhalangan.

Aku senang mengunjungi Mahmud bila ia sedang melukis lafal-lafal.

Suatu hari aku mengunjunginya ketika ia sedang melukis sebuah lafal. Aku terpesona oleh caranya melukis huruf demi huruf membentuk kalimat sangat indah dan resik. Rangkaian huruf itu akhirnya menciptakan sebuah lafal yang bagus dan indah dipandang mata. la bilang, itu lukisan seni huruf gaya al-Farisi, berasal dari negeri Parsi. Ada gaya lain dalarn seni lukis huruf Arab, ada gaya as-Tsuluts, Nasakh, Rig’ah,dan lain-lain.

Aku tertarik oleh lukisan yang sedang ia kerjakan. Aku ingin memesannya untuk digantungkan di rumahku. Aku ingin memilikinya.

“O…, tidak bisa! Ini sudah ada yang punya,” kata Mahmud sambil membuang senyum lebar dan matanya melirik tajam kepadaku.

“Milik siapa?” aku ingin tahu

“Maaf saja, ini rahasia…!” sambil meyeringai, matanya terus menatapku tajam-tajam.

“Kalau begitu, tolonglah Mud, bikinkan lukisan persis macam ini!” aku mendesak. Benar- benar aku ingin memiliki lukisan macam itu.

“Itu pun tidak bisa! Lukisan macam ini cuma satu-satunya. Orang lain tak mungkin bisa memilikinya!” jawabnya. Jarinya terus menelusuri lekuk-lekuk huruf Arab membuat bentuk tertentu.

“Lukisan indah, untuk kenang-kenangan indah!” gumamnya sendirian.

“Untuk siapa?” aku masih penasaran dan mendesak ingin tahu.

Mahmud tidak menggubris pertanyaanku. la melukis terus sambil bersiul kecil mengikuti irama yang sedang dinyanyikan fatayat-fatayat yang tengah mengaji di ruang depan rumahnya, tak jauh dari tempat kerja Mahmud.

Santri-santri perempuan itu sedang menyanyikan sebuah lagu dari syair-syair dalam maulid Diba di bawah asuhan Ibu si Mahmud. Syair-syair itu sebuah panembrama mengelu-elukan kehadiran Nabi Besar Muhammad Saw. Sebelum perang membaca bagian-bagian yang mengisahkan sejarah perjuangannya.

Ya Rasulallah salamun ‘alaik,

Ya Rofi’as sya’ni wad daraji,

‘Athfatan ya jiratal ‘alami,

Ya uhailal judi wal karami…

Salam sejahtera bagi Tuan, wahai Rasulallah! Nabi nan bermartabat tinggi amat berbunyi, Santun, lembut nian hati Tuan, oh Penata alam, Duhai Nabi yang dermawan, pemurah hati lagi mulia!

Suara itu mengalun dalam irama syahdu, naik dan turun gelombang demi gelombang bersahut-sahutan. Bila gelombang yang satu mengalunkan nada lirih dan lembut sampai pada titik akhir bait, sekonyong disambut alunan gelombang dalam nada gemuruh, silih berganti susul-menyusul. Dua irama dalam satu lagu, antara yang lembut menyerah dengan yang datang menerjang!

Sembilan bait itu selesai dinyanyikan ganti-berganti. Memang enak sekali, begitu nikmat didengarkan dari tempat kerja Mahmud. Pantas ia bersiul lirih mengikuri irama nyanyian fatayat-fatayat itu.

Menjelang setengah enam sore, pengajian itu usai sudah. Sengaja bubar pada jam itu untuk memberi kesempatan anak-anak perempuan tiba di rumahnya masing-masing sebelum waktu maghrib.

Sekonyong-konyong masuklah ke tempat kerja Mahmud dua orang perempuan. Yang satu seumur Ibuku, aku sudah kenal. Namanya Bibi Rodiah. Aku mengenalnya, karena ia sering membantu Ibu di rumah membatik kain, kadang-kadang menemani Ibu pergi mengaji. Yang satunya masih muda, lebih muda sedikit dari kakakku. Kulitnya keputih-putihan seperti nona Cina tetanggaku. la mengenakan kerudung di kepalanya berwarna merah jambu yang diberi sulaman benang putih.

“Mud, ini si Sum mau ketemu sebentar!” kata Bibi Rodiah. Mahmud kelihatan gugup ketika menatap wajah Sum, hampir saja sarungku dipakai lap untuk membersihkan jari-jarinya yang masih berlumuran tinta.

“Ada apa Sum?” bertanya Mahmud. Kok seperti gemetar suaranya!

“Apa lukisannya sudah jadi, Mud?” tanya Sum, kepalanya menunduk.

“Oh… anu…belum! Insya Allah besok selesai,” jawabnya sambil melirik padaku.

“Melukisnya sangat hati-hati. Mahmud tak mau terburu-buru, takut ada yang salah. Bukan begitu, Mud?” Bibi Rodiah menyela.

“Memang begitu,” jawab Mahmud pendek saja.

“Habis yang memesan siapa!” Bibi Rodiah bilang,

“Pemesannya kan bukan orang sembarangan!” Bibi Rodiah menyeringai sambil melirik tajam kepada Sum.

“Ah, ya tak apa!” jawab Sum, lalu sambungnya,

“Mud, ini benda tak berharga buat Mahmud, barangkali ada gunanya!” sambil menyerahkan bungkusan kecil kepada Mahmud.

“Apa ini? Kok ada-ada saja Sum ini!” Mahmud menyambut bungkusan dari tangan Sum.

“Permisi, sudah hampir maghrib, mau pulang,” kata Sum berpamitan.

“Nantilah dulu, Sum, maghrib masih lama. Biar saya mengantarkan kau sampai ke rumahmu!” menyela Bibi Rodiah, maksudnya menahan Sum biar agak lama bertemu Mahmud.

“Maghrib sudah hampir tiba. Takut dimarahi ayah kalau terlambat Permisi, Mud!” Sum tetap hendak pulang segera.

Akhirnya Bibi Rodiah menyertainya pulang. “Alhamdulillah! Tuhan Maha Kasih Sayang!” berkata Mahmud kegirangan sambil jegigisan.

Bungkusan segera dibuka, ternyata sebuah peci hitam. Kontan saja ia pakai, ternyata pas betul di kepalanya.

“Akan saya pakai terus-terusan, biar sedang tidur sekalipun…!” katanya.

Peci dilepas, diamati sambil bersiul-siul, lalu dikenakan di kepalanya lagi sambil senyum lebar tak henti- henti.

“Hai, kau tahu? Sum itu bunga mawarnya kampung ini” berkata Mahmud sambil menyodorkan ibu jarinya dekat hidungku.

“Bunga mawar? Jual bunga dia?” aku bertanya, tak mengerti.

“Ah, kau anak kecil, tahu apa kau tentang bunga mawar!” bentaknya padaku. Aku pun berpamitan pulang. Tak berhasil memesan lafal dari Mahmud.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: