Belajar di Era Masyarakat Berpengetahuan (Knowledge Society)

Peran Penting Pendidikan Informal

Pendidikan formal merupakan kegiatan belajar yang dirancang secara jelas, memiliki tujuan yang jelas, memiliki manfaat ataupun kegunaan, dan kegiatan tersebut tertata dengan baik serta memiliki legitimasi yang sah dari institusi. Berbeda dengan pendidikan formal, pendidikan informal tidak terlalu terikat pada tatanan yang harus sistematis. Misalnya pendidikan informal yang terjadi sehari-hari di lingkungan sekitar pekerjaan ataupun pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Penting disadari bahwa kebanyakan hal-hal yang kita pelajari dalam kehidupan kita justru pada pendidikan informal. Pendidikan informal melekat dalam kehidupan sosial kita. Di era masyarakat berpengetahuan, pendidikan informal memiliki peranan yang sangat penting. Di era pembelajaran berbasis teknologi digital, pembelajar yang mandiri atas inisiatif sendiri atau “independent learner” menjadi suatu keharusan. Melalui disiplin diri, kemandirian, inisiatif pengembangan diri yang berasal dari motivasi internal atau motivasi yang tumbuh dan berasal dari dalam diri (intrinsic motivation) sangat diperlukan dalam proses pengembangan kompetensi.

Pandangan World Economic Forum

World Economic Forum (2020) membagi kemampuan ke dalam berbagai jenis yaitu: Kemampuan berpikir analitik dan berinovasi (analytical thinking and innovation); Kemampuan belajar aktif dan menguasai strategi belajar (active learning and lesson strategies); Kemampuan berkreasi, berinisiatif, dan kemampuan membuat temuan baru (creativity, originality and initiative); Kemampuan dalam menguasai teknologi desain dan pemrograman (technology design and programming); Kemampuan berpikir kritis dan analisis (critical thinking and analysis); Kemampuan memecahkan masalah yang kompleks (complex problem solving); Kemampuan dalam memimpin dan memberi pengaruh kepada kelompok (leadership and social influence); Kecerdasan menata emosi (emotional intelligence); Kemampuan bernalar objektif, menuangkan gagasan, dan memecahkan masalah (reasoning, problem-solving and ideation); Kemampuan melaksanakan analisis sistem dan evaluasi (systems analysis and evaluation) (Gardner, 2018)

Pandangan UNESCO

Di era masyarakat berpengetahuan, masyarakat harus memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. The EFA Global Monitoring Report 2012 mengusulkan pendekatan dalam mengurai perbedaan keterampilan yang terkait dengan dunia kerja. Ada tiga tipe keterampilan yang diperlukan generasi muda: keterampilan dasar (foundation sekills), keterampilan yang dapat dipindahkan (transferable skills), keterampilan teknis dan vokasi (vocational and technical skills). Keterampilan dasar berupa keterampilan literasi dan numerasi yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan. Keterampilan dasar ini juga diperlukan sebagai pengetahuan prasyarat untuk melanjutkan ke pendidikan jenjang berikutnya atau untuk mengikuti program pelatihan tertentu, dan untuk dapat menguasai keterampilan yang dapat dipindahkan serta keterampilan teknis dan vokasi. Keterampilan yang dapat dipindahkan (transferable skills) digunakan untuk mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan. Keterampilan ini untuk adaptasi ke kebutuhan pekerjaan lain. Keterampilan yang dapat dipindahkan (transferable skills) meliputi analisis masalah dan mendapatkan solusi yang sesuai; mengomunikasikan ide-ide dan informasi secara efektif, kreatif; keterampilan kepemimpinan dan kepedulian, serta menunjukkan kemampuan kewiraswastaan. Beberapa keterampilan tesebut dapat dipupuk di luar sekolah dan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pendidikan dan pelatihan. Keterampilan teknis dan vokasi (technical and vocational skills) merupakan keterampilan yang dapat diperoleh melalui program praktik kerja pada sekolah menengah atau sekolah kejuruan atau program pelatihan tertentu atau program magang tertentu. Banyak pekerjaan yang memerlukan kecakapan teknis khusus (specific technical know-how) seperti menjahit, bercocok tanam, ataupun pekerjaan komputer di kantor (UNESCO, 2012).

Pandangan Dunia Usaha

Bates (2019) mengutip (Canada, 2014) menguraikan bahwa ketrampilan yang diperlukan dalam masyarakat berpengetahuan (knowledge society) sebagai berikut.

a. Keterampilan komunikasi (communication skills) yaitu kemampuan komunikasi lisan, tulisan, termasuk komunikasi dalam media sosial misalnya keterampilan membuat video di Youtube, penyampaian ide di internet, mengunggah info-grafis, kemampuan mengidentifikasi tren perubahan (trends) dan ide-ide dari sumber di dunia maya.

b. Kemampuan belajar secara mandiri (the ability to learn independently) yaitu memiliki motivasi dan rasa tanggung jawab secara mandiri untuk mengerjakan atau mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai dan mencari secara mandiri hal-hal tersebut. Misalnya, kebutuhan mempelajari peralatan baru, cara mengerjakan hal-hal baru, ataupun belajar dengan pihak-pihak yang lebih menguasai pekerjaan. Hal ini menjadi bagian dari disiplin diri karena di era knowledge society pengetahuan terus berkembang.

c. Etika dan tanggung jawab (ethics and responsibility) yaitu kemampuan membangun rasa dapat dipercaya (trust) dan rasa tanggung jawab baik ketika bekerja sama dalam tim, dalam pergaulan informal, dalam pergaulan sosial, termasuk pula pergaulan dalam jejaring sosial (social network).

d. Kemampuan bekerja dalam tim dan sikap yang luwes (teamwork and flexibility) yaitu kemampuan bekerja sama dan berbagi pengetahuan dengan pihak-pihak yang menjadi mitra kerja ataupun pihak-pihak yang memiliki kesamaan kepentingan. Mereka bekerja secara virtual dan jarak jauh dengan kolega, klien, maupun mitra.

e. Kemampuan berpikir (thinking skills) baik yang terkait dengan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, kreativitas, originalitas, maupun kemampuan dalam membuat strategi. Kemampuan ini merupakan kemampuan terpenting di era knowledge society. Dari kemampuan ini diharapkan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan biaya efisien dan hasil kerja yang berdaya saing tinggi.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: