Di Bawah Penjajahan Seumur Jagung (1)

Sebelum bala tentara Jepang menduduki kepulauan Indonesia, berbulan-bulan lamanya Radio Tokyo menggemakan lagu kebangsaan kita dalam siaran-siarannya yang ditujukan kepada Bangsa Indonesia. Propaganda Jepang bahwa mereka akan membebaskan bangsa kita dari belenggu penjajahan sangat menarik sekali. Banyak orang yang terpengaruh oleh cerita dari mulut ke mulut bahwa bangsa yang berkulit kuning akan memerdekakan Indonesia dan penjajahan Belanda, demikian katanya menurut ramalan Joyoboyo. Kini bangsa yang berkulit kuning ini telah datang.

Begitu bala tentara Jepang yang berkulit kuning menjejakkan kakinya di bumi persada Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya mendengung-dengung memenuhi penjuru Tanah Air, ikut mengelu-elukan kedatangan anak-anak “Matahari-Terbit” sebagai tanda berterima kasih, karena telah membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda.

Untuk beberapa hari saja lagu kebangsaan kita bergema melalui Radio Indonesia yang telah dikuasai Jepang.

Propaganda bahwa Jepang benar-benar membebaskan bangsa kita dari belenggu penjajahan semakin termakan.

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari kemudian lagu kebangsaan itu dibungkam dari siaran-siaran radio Indonesia, bahkan tidak lagi diizinkan untuk diperdengarkan dalam setiap pertemuan dan upacara apa pun. Sebagai gantinya, Jepang mewajibkan diperdengarkan lagu kebangsaan mereka Kimigayo sebagai lagu wajib dalam siaran-siaran radio, dalam pertemuan-pertemuan dan upacara-upacara. Setiap pagi, siang, petang, dan malam lagu Kimigayo itu berdengung-dengung memenuhi Nusantara kita.

Nasib serupa menimpa bendera kebangsaan kita, Merah Putih. Jepang melarang dikibarkan bendera kebangsaan Indonesia. Di tiap kantor, jawatan, dan rumah-rumah penduduk harus dikibarkan bendera Jepang Hinomaru, berwarna putih mulus dengan bola merah di tengahnya.

Mulai timbul kesadaran di kalangan rakyat bahwa kita telah terkecoh oleh kelicikan propaganda Jepang. Bahwa mereka telah membebaskan kita dari penjajahan Belanda memanglah benar. Tetapi kita telah tertipu oleh kelicikannya, bahwa lepas dari mulut singa masuk ke mulut buaya, lepas dan penjajahan Belanda dicengkeram di kuku penjajahan Jepang. Rakyat menjadi sadar bahwa diplomasi propaganda Jepang telah membuat kecele sebagian bangsa kita yang terpengaruh oleh propaganda mereka. Kalau memang Jepang benar-benar hendak membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, artinya dari penjajahan siapa pun, buat apa mereka melarang lagu dan bendera kebangsaan kita? Kiranya, dengan dalih pengakuannya sebagai “saudara tua,” mereka akan menjajah “saudara muda”-nya dengan kedok atas nama melindungi dan memimpin.

Kesadaran akan datangnya penjajahan baru menjadi semakin kuat setelah Jepang menamakan dirinya “saudara tua” Bangsa Indonesia. Sebutan Jepang atau japan tidak diperkenankan lagi, dan sebagai gantinya mereka harus disebut Dai Nippon, artinya: Jepang Yang Besar!

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di mana-mana orang dipukuli Jepang. Sedikit saja melakukan perbuatan yang dianggap salah, Jepang dengan serta-merta menempeleng kepala. Di kalangan pesantren sudah umum julukan bagi Jepang sebagai setan-gundul artinya, setan yang berkepala gundul karena gemar akan gundul atau kepala orang Indonesia. Jika saja kita lewat di muka serdadu Jepang yang sedang berdiri dengan bayonet terhunus, atau ber-papasan dengan mereka, lalu kita lupa tidak menghormat mereka dengan membungkukkan badan, kontan saja ia memanggil dengan sungut-sungutnya, lalu kepala kita ditempelengnya beberapa kali. Tidak perduli siapa kita, rakyat biasa atau orang yang patut dihormati sekalipun, baik pemuda maupun orang tua.

Suatu “kebudayaan” baru datang menyertai kedatangan tentara Jepang, ialah “kebudayaan” Saikere. Semua anak sekolah, pegawai pemerintah, kaum pekerja dan buruh, bahkan di pesantren-pesantren, tiap pagi sekitar jam 7, harus berbaris menghadap arah Tokyo, lalu membungkukkan badan 90 derajat selama beberapa detik, maksudnya untuk menghormat Tenno Heika, raja Jepang, yang pagi itu barangkali sedang sarapan pagi atau sedang mandi di istananya di Tokyo.

Masalah saikere ini menimbulkan kegemparan di kalangan para ulama dan dunia pesantren di seluruh tanah air. Membungkukkan badan hingga 90 derajat dengan maksud menghormat sesama manusia biar raja sekalipun, menurut pandangan para ulama adalah haram, dosa besar. Membungkukkan badan semacam itu menyerupai ruku’ dalam sembahyang orang Islam, yang hanya diperuntukkan menyembah Allah SWT. Selain Allah, biar raja sekalipun, biar katanya Tenno Heika adalah tuhan bangsa Jepang keturunan dewa simaterasu, dewa di langit sekalipun, haramlah diberi hormat dengan membungkukkan badan hingga 90 derajat bentuknya. Pendirian para ulama dan dunia pesantren disampaikan kepada Saikoo Sikikan, panglima besar tentara Jepang di Jakarta, namun Jepang tidak menggubris. Keharusan Saikere berjalan terus!

Sekitar bulan April-Mei 1942, terjadilah suatu peristiwa yang sangat menggemparkan seluruh dunia pesantren.

K.H. Hasyim Asy’ari, pemimpin Pesantren Tebuireng dan Rais Akbar Nahdhatul Ulama ditangkap Jepang. Beliau dimasukkan ke dalam penjara di Jombang, lalu dipindahkan ke penjara Mojokerto, dan akhirnya di penjara Bubutan, Surabaya. Beberapa kiai dan santri meminta dipenjarakan bersama-sama K.H. Hasyim Asy’ari sebagai tanda setia kawan, sebagai tanda khidmah kepada guru dan pemimpin mereka yang telah berusia sekitar 70 tahun itu.

Tidak jelas kesalahan apa yang menyebabkan Hadratus Syaikh ini ditangkap. Tetapi peristiwa tersebut membakar seluruh dunia pesantren dalam memulai gerakan di bawah tanah menentang dan menghancurkan Jepang.

Konon kabarnya, Hadratus Syaikh dituduh mengadakan aksi menentang kekuasaan Jepang di Indonesia. Padahal yang sebenarnya, Jepang sendirilah yang membuat tindakan-tindakan yang menyebabkan rakyat menjadi anti Jepang. Mereka di mana-mana merampas padi rakyat, kekayaan tanah air kita diangkuti ke negeri mereka untuk membiayai peperangan mereka melawan sekutu. Jepang di mana-mana terkenal dengan kegemarannya memperkosa kehormatan wanita kita untuk melampiaskan hawa nafsunya. Propaganda mereka bahwa kedatangannya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda, kiranya cuma menggantikan kedudukan Belanda selaku penjajah berikutnya. Jikalau hal ini membuat rakyat menjadi marah dan melakukan gerakan anti Jepang, janganlah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang disalahkan. Tetapi, jikalau Jepang menganggap bahwa hal itu disebabkan karena digerakkan oleh beliau, maka secara langsung dan tidak langsung Jepang mengakui K.H. Hasyim Asy’ari sebagai ulama paling besar pengaruhnya di kalangan rakyat Indonesia.

Lebih dari empat bulan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dipenjarakan Jepang. Baru dibebaskan setelah usaha yang terus-menerus dilakukan oleh para ulama di bawah pimpinan K.H.A. Wahab Chasbullah dan K.H.A. Wahid Hasyim untuk menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta. Entah karena over-compensatie, memberi secara berlebihan, ataukah karena menyadari pengaruh dan wibawa Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, setelah terjadinya penangkapan diri beliau, tidak lama kemudian Saikoo Sikikan sebagai penguasa tertinggi pemerintah bala tentara Jepang di Jawa, mengangkat K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Shumubucho, kepala jawatan urusan agama pusat, dengan dua orang wakilnya, masing-masing: K.H. Abdulkahar Muzakir dan K.H.A Wahid Hasvim. Buat K.H.A. Wahid Hasyim ditambah lagi kedudukan sebagai anggota Chuuoo Sangi In kira-kira setingkat dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta.

Suatu hari, dalam pertengahan tahun 1942, aku mendapat panggilan dari K.H.A. Wahid Hasyim agar menemui beliau di Jakarta. Berangkatlah aku ke Jakarta dengan penuh tanda tanya dalam kepalaku, apa maksud panggilan itu. Tetapi aku telah membayangkan bahwa akan ada tugas baru diserahkan pada pundakku.

“Aku ingin memberitahukan kepada saudara bahwa suatu tahap baru dalam perjuangan kita harus kita mulai sekarang,” demikian kata K.H.A. Wahid Hasyim kerika aku menjumpainya di Hotel Des Indes, sebuah hotel kelas satu di Jakarta. Hotel yang di zaman kolonial hanya ditempati oleh pembesar-pembesar Belanda.

“Apa artinya tahap baru dalam perjuangan kita, Gus?” kembali aku bertanya. Aku selalu memanggil beliau dengan sebutan Gus. Di kalangan pesantren dan dunia ulama terkenal dengan sebutan Gus Wahid.

“Setan gundul ini, maksudnya Jepang merasa bahwa peperangan antara mereka dengan sekutu akan memakan waktu lama dan memerlukan kelengkapan perang yang bukan main hebatnya. Setan gundul ini tahu bahwa ulama mempunyai pengaruh yang besar sekali di kalangan rakyat kita. Sebaliknya, mereka juga mengetahui bahwa rakyat sangat membenci orang-orang yang selama ini menjadi alat yang membantu dengan setia penjajahan Belanda. Jepang kini sedang memikat hari rakyat. Mereka sangat memerlukan dukungan rakyat!” K.H.A. Wahid Hasyim memulai menjelaskan buah pikirannya. “Mereka telah membebaskan kita dari penjajahan Belanda, mereka telah mengusir Belanda dari kedudukan penguasa di negeri kita. Ini berarti babakan dalam perjuangan kita telah berakhir. Nah, kini kita memasuki tahapan baru dalam perjuangan, yakni menghadapi Jepang sebagai penjajah baru.”

Aku mulai paham apa yang dimaksud dengan tahapan baru dalam perjuangan.

“Bagaimana kita menghadapi Jepang, mereka sangat kuat, mempunyai angkatan perang yang sanggup menaklukkan seluruh daratan Tiongkok, Manchuria, dan kini menguasai Filipina, Thai, Burma, Indo-China, Malaya, dan Indonesia,” demikian kataku menyela.

Dengan menyibirkan bibirnya, beliau menjawab:

“Saudara ingat dongeng-dongeng Al-Baidaba tentang cerita dunia binatang. Singa dan harimau sebagai raja hutan dan gajah yang mempunyai keperkasaan, toh bisa dikalahkan oleh kancil, dan kancil masih dikalahkan oleh siput-siput yang bersatu!”

“Bagaimana Gus, aku masih belum mengerti dalam hubungannya dengan teori perjuangan!” aku menanya karena sudah tak sabar lagi.

“Kita pakai ini!” sambil menunjuk ke keningnya, ―kita harus memakai otak dan pikiran. Kita bisa menjadi “kancil” dalam menghadapi segala singa dan serigala. Dan saya akan mengubah teori Al-Baidaba, janganlah kancil bermusuhan dengan siput, tetapi harus bersahabat. Ya, kalau saya sendiri tentulah tidak akan bisa menjadi “kancil” yang berhasil mengelabui singa dan serigala. Akan tetapi kalau kita kaum ulama bersatu, insya Allah akan jadi “kancil,” bahkan lebih dewasa dan lebih dari sekadar “seekor kancil.”

“Dari mana kita harus memulai?” aku bertanya.

“Nah itu dia suatu pertanyaan yang penting. Begini! Hadratus Syaikh dan saya diserahi Jepang membentuk Kantor Jawatan Agama Pusat. Saya telah katakan kepada Saikoo Sikikan bahwa hal itu tidaklah mungkin jika tidak dibentuk kantor-kantor cabangnya di seluruh Jawa dan Madura. Luar Jawa mempunyai susunan pemerintahan militer tersendiri yang lepas dari kekuasaan mereka di Jawa dan Madura. Sebab itu, kita cuma diberi wewenang terbatas hanya di Jawa dan Madura. Usul saya agar dibentuk kantor-kantor cabang di daerah-daerah disetujui Jepang. Arti kata “daerah” terbatas pada daerah Karesidenan, karena susunan pemerintah militer Jepang demikian,” K.H.A. Wahid Hasyim menjelaskan.

“Jadi di tiap-tiap Karesidenan akan dibentuk kantor urusan agama?” aku meminta penjelasan.

“Benar, di tiap karesidenan akan dibentuk. Namanya, menurut mereka: Shumuka, kantor urusan agama karesidenan. Kepalanya bernama Shumukacho, harus seorang ulama. Ketika Jepang bertanya kepada saya mengapa harus ulama, saya jawab, karena tugasnya mengurus Agama Islam, tidak ada yang lebih ahli tentang keislaman kecuali kaum ulama. Adapun pegawainya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan ulama dan ada yang bukan golongan ulama, tetapi harus berjiwa Islam dan mempunyai cita-cita perjuangan Islam.”

“Saya merasa bersyukur bahwa dulu kami mengadakan pembaruan dalam sistem pesantren”, beliau meneruskan keterangannya.

“Apa yang dilakukan oleh K.H. Muhammad Ilyas bersama-sama saya dan teman-teman mengadakan perubahan dalam pelajaran pesantren, alhamdulillah diikuti oleh pesantren-pesantren yang lain. Seperti saudara ketahui, bertahun-tahun yang lalu, kami adakan pelajaran membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, ilmu bumi, sejarah Indonesia, dan berhitung dalam Pesantren Tebuireng. Sekarang itu semua diikuti oleh pesantren-pesantren yang lain. Santri-santri lulusan Tebuireng begitu banyak tersebar di mana-mana. Ini tentu akan memudahkan usaha kita membentuk kantor-kantor urusan agama daerah,” beliau meyakinkan aku.

“Kalau begitu, prinsip kita membantu Jepang?” aku bertanya.

“Saudara harus tahu, ini perjuangan. Dalam perjuangan bisa berlaku tipu-menipu, ini istilahnya secara kasar. Musuh menipu kita, dan kita memakai akal, sehingga siapa memperalat siapa. Saudara masih ingat, bukankah dalam Al-Qur’an telah difirmankan:

Wa makaru wa makara Allahu wa Allahu khairu al-makirin,

Mereka melakukan tipu muslihat, dan Allah Maha Pengatur daya-upaya!”

“Saya kasih tahu saudara, ini bangsa menamakan dirinya Nippon. Di kalangan para santri, nippon yang oleh Jepang harus diucapkan nippong, itu diartikan “nipu wong” (menipu orang). Mereka katanya akan membebaskan kita dari penjajahan Belanda, memang benar kita dibebaskan, tidak lagi dijajah Belanda, tetapi apakah setelah bebas dari Belanda kita jadi merdeka ataukah dijajah mereka, itu tidak mereka katakan. Inilah bentuk penipuannya. Masa kita tidak bisa membalas mengakali mereka?” beliau jelaskan.

“Prinsipnya dulu, apakah kita membantu Jepang?” aku mendesak.

“Prinsipnya, kita membantu kita sendiri!” jawabnya tegas.

“Kita membantu diri kita melalui kesempatan yang mereka berikan. Mungkin, dan ini pasti, mereka tentu akan memperalat kita. Tetapi kita kan bukan benda mati! Yang penting kita pergunakan sebaik-baiknya kesempatan yang mereka berikan. Dengan kesempatan itu, kita mempunyai alat berjuang. Sementara, ibarat orang main sepak bola, kita mungkin akan kemasukan gol, tetapi jika kita pandai menyepak bola, tahu akan peraturan permainan dan mengadakan kerjasama di antara kesebelasan kita, kita juga bisa memasukkan gol-gol di gawang lawan. Sementara itu, saya akan mengadakan kerjasama dengan lain-lain golongan, misalnya, dengan golongan Sukarno-Hatta, golongan Chairul Saleh, B.M. Diah, golongan Tan Malaka, dan sebagainya.” Beliau memandang jauh ke depan seolah sedang melihat jauh ke muka, tentu di dalam pikirannya sedang penuh dengan perjuangan yang besar.

“Wah, ini suatu perjuangan besar, Gus” aku menyela.

“Memang perjuangan besar. Tetapi harus kita mulai sekarang. Kita tidak bisa dikatakan lemah. Al-Muslimuna ‘ala khairin innama ad-dhu’fu fi al-qiyadah, (umat Islam selamanya dalam keadaan baik, cuma kelemahan selamanya di pihak pimpinan). Umat di mana-mana menantikan pimpinan. Dan kita ini golongan pimpinan. Kita sudah mulai memperoleh kesempatan. Bodoh sekali kalau kesempatan ini tidak digunakan. Kita sudah belajar sekian lama, sudah mempunyai pengalaman betapa pahitnya menjadi anak jajahan. Sekarang tinggal keberanian berbuat, dan saya merasa saya berani bertindak!” Beliau katakan dengan tegas dan bersemangat.

Kami masing-masing diam. Lama juga kami diam, masing-masing dengan pikiran yang memenuhi kepala. Tetapi hariku seperti tersentak bangun setelah mendengar kata-katanya bahwa sekarang diperlukan suatu keberanian bertindak. Orang bertindak bisa berakibat salah dan bisa berakibat benar, tetapi orang yang tak berbuat sudah terang amat salah sekali.

Setelah masing-masing diam agak lama, seperti tergugah dari alam pemikiran masing-masing, tiba-tiba berdering bunyi telepon di kamar hotel. Beliau bangun dari kursi, lalu mengangkat gagang telepon.

―Wong Tebuireng? Betul, saya sendiri.―

Beliau tertawa terbahak-bahak, keras dan panjang.

―Kami lagi bicarakan soal dagang… Ya, seperti dagang yang kemarin…. Ha, bagaimana? Tidak, ini ada kawan datang, seorang pedagang juga…. Biasa,… dagang zaman sekarang yang sedang dibutuhkan orang banyak! Tak usah, biar sayalah yang datang!… Tak apa, biar saya yang datang!… Tak usah, saya ada kendaraan sendiri… Baik, kira-kira setengah jam lagi… Sampai ketemu,… Wa ‘alaikumu as-salam…!’

“Dari siapa?” aku menanya.

“Dari Mr. Muhammad Yamin!” Dia kecuali sahabatku, juga orang penting. Dia mau datang kemari, saya bilang lebih baik sayalah yang ke sana. Mari kita ke sana. Biar saudara berkenalan dengannya,” jawab K.H.A. Wahid Hasyim dan mengajak aku turut bersama beliau ke rumah Mr. Muhammad Yamin.

Sementara K.H.A. Wahid Hasyim mengganti sarung dengan mengenakan celana dan kemejanya, aku duduk sendirian. Masih terkenang dalam ingatanku nama Mr. Muhammad Yamin. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mendengarkan pidatonya di Yogya, ketika itu beliau seorang tokoh dari Partindo, Partai Indonesia. Masih ingat pidatonya, ketika itu beliau mengupas tentang “Perang Pacifik” yang bakal meletus, lalu tentang cita-cita Jepang menguasai seluruh Asia. Beliau katakan di waktu itu akan bahayanya Imperialisme-Kuning, yang dimaksud tentulah Jepang.

Namaku dipanggil K.H.A. Wahid Hasyim. Aku masuk ke kamar tidurnya, beliau sedang mengenakan sepatu. Aku duduk di atas kasur tempat beliau tidur, karena aku disuruhnya duduk dekat beliau.

“Malam ini tentu akan ada rencana baru. Betulkan, bahwa saya telah mengadakan hubungan dengan berbagai golongan. Alhasil, kita kaum santri sedang diperlukan oleh semua golongan. Kita juga memerlukan mereka. Kita saling memerlukan dalam rangka perjuangan besar memerdekakan bangsa kita dari penjajahan yang mana pun!” beliau katakan sambil mengikat tali sepatunya. Beliau berdiri, bercermin sebentar membetulkan letak dasinya. Lalu mengambil peci hitamnya, ditentengnya peci itu, lalu mengajak aku keluar dari kamar hotel. Di luar telah tersedia sebuah mobil Fiat hitam. Beliau kemudikan sendiri mobilnya, dan aku duduk di sampingnya.

“Kemarin saya telah menjumpai Bung Hatta, agaknya Yamin tahu ini. Dia jangan-jangan akan menanyakan kepadaku apa yang kemarin saya bicarakan dengan Bung Hatta,” K.H. A. Wahid Hasyim memulai pembicaraan setelah mobil keluar dari halaman Hotel Des Indes.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: