Di Bawah Penjajahan Seumur Jagung (2)

Malam itu kira-kira baru pukul 9, tetapi jalan-jalan di Jakarta tampak agak sepi. Beberapa delman dan orang naik sepeda. Mobil-mobil tidak begitu banyak, itu pun cuma dinaiki tuan-tuan Dai Nippon saja.

“Inikah mobil dinas, Gus?” aku mengalihkan pembicaraan lain.

“Bukan! Mobil dinas cuma di waktu kantor Itu pun jarang aku pakai. Aku diberi mobil dinas pakai tanda militer Jepang. Aku tak mau pakai. Saya malu memakai mobil militer Jepang. Sebab itu, saya membeli sendiri mobil Fiat ini,” jawabnya.

“Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di zaman begini?” aku bertanya. Pertanyaan ini aku ajukan karena di zaman itu tidak ada orang sipil yang memiliki mobil. Aku ingat pamanku yang mobilnya diambil Jepang.

“Ya Allah! Kalau soal mobil saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab beliau tegas.

“Mobil adalah suatu alat bepergian, juga alat berjuang. Banyak di antara kawan-kawan kita yang sudah tergolong pemimpin, kadang-kadang persoalan rumah tangga saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan masalah umat yang jauh lebih besar dari sakedar masalah rumah tangga.” beliau meneruskan.

“Begini ya akhirnya, tadi pembicaraan kita di hotel terputus. Saya belum menceritakan kepada saudara mengenai soal lain. Sebagaimana saudara tahu, semua partai dan organisasi rakyat telah dibubarkan oleh Jepang. Kini telah disusun badan yang bernama “Tiga A”. Maksudnya untuk menghimpun seluruh tenaga pemimpin Indonesia untuk mengerahkan rakyat kita membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya ini. Tetapi seperti saudara ketahui, “Tiga A” ini tidak jalan, karena baik pemimpinnya maupun idenya tidak memperoleh dukungan dari rakyat,” katanya.

“Bagaimana sikap kita terhadap “Tiga A”?” aku bertanya.

“Sikap kita, kita tidak menentukan sikap!” begitu jawabannya yang sangat diplomatis tetapi masuk akal.

“Kini para pemimpin sedang menampung ide Jepang, akan didirikan sebuah badan baru untuk mendampingi ‘Empat-Serangkai’, Sukarno-Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH. Mas Mansur,” beliau meneruskan.

“Sebenarnya ‘Empat-Serangkai’ ini mau ke mana?” aku minta penjelasan.

“Secara berbaik sangka, saya percaya bahwa sebagai pemimpin-pemimpin, mereka tentu memperjuangkan aspirasi rakyat Tetapi mereka kewalahan menghadapi anggapan umum dari rakyat seolah-olah cuma diperalat oleh Jepang. Sebab itu, di mana-mana dirasakan Jepang bahwa dukungan rakyat tidak seperti yang diharapkan.”

“Kalau badan baru itu nanti diadakan, apakah kita juga ikut di sana?” aku ingin mendapat penjelasan lagi.

“Saya ada rencana, tetapi ini masih saya simpan sendiri. Kalau badan baru itu terbentuk, kita meminta Jepang, atau lebih tepat lagi, kita memperjuangkan kepada Jepang untuk membentuk badan khusus di kalangan umat Islam,” demikian beliau menjelaskan.

Percakapan kami terhenti karena mobil telah memasuki sebuah halaman rumah. Mobil berhenti, klakson dibunyikan. Keluarlah dari dalam rumah seorang laki-laki masih muda, aku taksir usianya belum 40 tahun. Badannya tegap, tetapi rambutnya tidak tersisir. Tampaknya cara berpakaiannya seenaknya saja. Dalam batinku, ini dia Mr Muhammad Yamin, jago Partindo dulu.

“Wah, tepat juga setengah jam!” tegur tuan rumah.

“Kalau orang tidak menghargai waktu, tandanya tidak mengerti harganya waktu!” jawab K.H.A. Wahid Hasyim. Semua tertawa!

Aku diperkenalkan dengan Mr. Muhammad Yamin. Ketika kami berjabat-tangan, terasa betapa tebal tapak tangannya dan sangat erat meremas jari-jari tanganku. Sambil menatap mukaku, ia senyum menyeringai sambil katanya:

“Inikah yang saudara katakan tadi di telepon ‘pedagang’ yang baru datang?” sambil melirik kepada KH.A. Wahid Hasyim.

“Datang dari mana? Jawa Timur?” tanyanya lebih lanjut kepadaku.

“Dari Jawa Tengah, Banyumas!” jawabku.

“Ooo, dari Tirta-kencana! Dari negerinya Kolopaking!” cepat saja ia menyambut jawabanku.

Tanganku dilepaskan. Ia segera menarik tangan KH. A. Wahid Hasyim Sambil berjalan memasuki suatu ruangan dalam, ia bercakap-cakap sambil berjalan pelan, sementara tangannya merangkul pundak K.H A. Wahid Hasyim. Aku tidak ikut duduk bersama mereka, aku mengambil tempat duduk di ruangan depan yang terbuka. Dari kejauhan, aku memperhatikan dua sahabat meneruskan percakapannya sambil bergurau diselingi kadang-kadang oleh tawanya yang keras.

Aku perhatikan wajah Mr. Muhammad Yamin. Raut mukanya serba tebal dan kuat di bawah kerangka kepalanya yang besar. Biasanya profil yang demikian menunjukkan bahwa ia memiliki watak keras dengan otak yang genius. Pantas cepat saja menyalin nama daerahku Banyumas dengan Tirta-kencana, artinya Air-emas. Ketika ia menyebut negerinya Kolopaking, teringat padaku akan sebuah keluarga salah seorang Bupati di daerah Banyumas yang terkenal berani menghadapi Belanda dan memiliki sifat kerakyatan. Ketika pada umumnya para Bupati menulis namanya dengan gelar-gelar kebangsawanan di mukanya dengan Kanjeng Raden Tumenggung atau Kanjeng Raden Haryo, maka seorang Bupati di daerah Banyumas hanya menulis namanya pada pintu gerbang pendoponya di ujung alun-alun: Sumitro begitu saja, tanpa Kanjeng Raden Tumenggung dan sebagainya. Pantas kata orang bahwa Mr. Muhammad Yamin salah seorang ahli sejarah yang besar.

Ketika kedua orang sahabat itu lebih dari 1 1/2 jam mengadakan pembicaraan, tiba-tiba Mr. Muhammad Yamin menghampiri aku dan mengajak aku memasuki ruangan tempat mereka berbincang-bincang.

“Bagaimana kabar di Jawa Tengah?” Mr. Muhammad Yamin menanya.

“Di mana-mana sudah mulai sulit memperoleh beras, rakyat mulai gelisah!” jawabku untung-untungan. Aku kira orang ini tentulah anti Jepang.

“Nah, betul nggak kataku!” K.H.A. Wahid Hasyim menyambut jawabanku.

“Dalam keadaan rakyat sulit memperoleh beras, mana bisa kita harus mengumpulkan padi buat Setan-Gundul! ‘Tidak bisa jadi!” begitu KH. A. Wahid Hasyim menyambung.

“Karena itu kita harus menyusun kekuatan untuk melawan Jepang dengan teori perjuangan yang hebat,” Mr. Muhammad Yamin menjawab.

“Kita galang terlebih dahulu kekuatan pemuda, dan Empat-Serangkai, jangan dibiarkan berjalan sendiri!” KH.A. Wahid Hasyim menyambut.

Beliau berdiri dari kursinya, dan aku maklum bahwa pembicaraan dianggap selesai untuk malam itu. Kami berpamitan, dan kami menuju mobil Fiat untuk pulang ke hotel.

“Hari-hari yang akan datang, kita akan disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan besar dan penuh bahaya. Tetapi, wa man yattaqi Allaha yaj’a lahu makhrajan…” K.H.A. Wahid Hasyim memulai pembicaraan di mobil.

“Ada hal-hal baru dalam pembicaraan dengan Muhammad Yamin?” aku bertanya.

“Dia ini orang penting. Dia kawan baik Mr. Subarjo dan Mr. Iwa Kusumasumantri yang dekat hubungannya dengan pihak Angkatan Laut Jepang. Tetapi juga kawan baik dari Sukarno-Hatta yang kini sedang didekati pihak Angkatan Darat Jepang. Aku dengar bahwa antara kedua angkatan Jepang ini hubungannya tidak serasi, saling berebut mempengaruhi Tokyo. Kita harus manfaatkan situasi ini,” jawab K.H.A. Wahid Hasyim.

“Tetapi kita harus waspada terhadap kekuatan-kekuatan yang ada di sekitar Saikoo Sikikan”, K.H.A.Wahid Hasyim melanjutkan,

“di Jakarta saja sekurang-kurangnya ada 3 orang yang penting kita perhatikan. Pertama, H. Simizu, ini orang diserahi mendampingi Sukarno-Hatta. Konon, inilah orangnya yang telah berhasil memecah kelompok nasionalis Tiongkok menjadi golongan Chiang Kai Sek dan Wang Ching Wei. Kedua, Abdulhamid Ono, begitulah namanya orang Jepang satu ini, tugasnya mendampingi saya dalam menghubungi para alim ulama. Dan ketiga, Kolonel Horie, yang diserahi tugas mengawasi Kantor Urusan Agama (Shumubu) yang dipimpin oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy‘ari.”

“Wah, alangkah ketatnya Jepang ini mengawasi kita!” aku menyela.

“Ya, tetapi dengan bersandar kepada Al-Quran, insya Allah setan ora doyan demit ora ndulit! (Setan tidak doyan dan hantu tidak mencolek).”

Hingga di hotel, aku sangat mengantuk, tetapi K.H.A. Wahid Hasyim masih mengajak berbicara terus. Beliau menggerayangi meja di sudut kamar untuk mencari sisa-sisa makanan yang tadi sore kami makan bersama. Masih ada sisa tahu telor dan mie goreng, kami lalap sampai ludes.

Kami sembahyang isya. K.H.A. Wahid Hasyim seperti ayahandanya selalu menghafal Al-Qur‘an dalam tiap sembahyangnya. Beliau juga hafal Al-Qur‘an di luar kepala. Selalu dibacanya di tengah sembahyang, di waktu duduk tidak ada pekerjaan, dan bahkan sambil berjalan atau mengemudikan mobilnya. Sementara beliau meneruskan menghafal Al-Qur‘an, aku pergi tidur.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: