DI BAWAH PENJAJAHAN SEUMUR JAGUNG (3)

Pagi itu hawa dan udara Jakarta terasa panas. Sudah beberapa hari tak turun hujan, hingga pepohonan tampak kering, daun-daun penuh debu. Kami baru saja selesai sarapan pagi, ketika datang dua orang tamu. Yang satu aku sudah kenal, orangnya berbadan tegap, berwajah tampan dan gagah. Kulitnya putih kekuning-kuningan, mengenakan celana dan kemeja berwarna khaki. Ia mengendarai sepeda motor ‘Harly Davidson’ Dia Zainul Arifin, konsul Nahdhatul Ulama di Jakarta. Yang satunya agak kekurus-kurusan, sedikit jangkung, setelah diperkenalkan, aku baru tahu, namanya: Anwar Cokroaminoto. Namanya sudah lama aku kenal sebagai pemimpin redaksi harian ‘Pemandangan,’ tetapi sejak surat kabar ini dihentikan penerbitannya oleh Jepang, ia memangku jabatan baru sebagai pemimpin redaksi ‘Asia-Raya’ sebuah harian yang terbit sejak Jepang menduduki Indonesia.

“Tentu ada berita besar kalau bung-bung ini datang pagi-pagi.” KH A. Wahid Hasyim menegur kedua tamunya.

“Malah mau cari berita ke sini, kok!” Anwar Cokroaminoto menjawab.

“Di sini ini gudang berita, ibarat sumur tak ada kering-keringnya,” menyela Zainul Arifin. Ia menoleh kepadaku sambil bertanya:

“Sudah berapa hari ente di sini?”

“Sudah 5 hari” jawabku ringkas.

“Apa kabar di Jawa Tengah?” Zainul Arifin menanya.

“Kabar di mana-mana sama saja, keadaan tambah sulit dan penuh tanda tanya,” jawabku.

“Rasa-rasanya kita baru berkenalan!” menyela Anwar Cokroaminoto.

“Nama Mas Anwar sudah lama aku kenal Aku pernah menjadi pembantu harian ‘Pemandangan’ di mana Mas Anwar memimpin.”

“Barangkali ketika masih dipimpin Mr. Sumanang?” jawabnya.

“Mulai zaman M. Tabrani, lalu zaman Sumanang!” aku menjawab.

“Apakah sekarang masih membantu?” ia bertanya.

“Ya, kadang-kadang. Tetapi sejak sering bepergian dengan Gus Wahid ini, hampir tak ada waktu lagi buat menulis. Lagi pula, isi koran sekarang ini sama saja, soal perang Asia Timur Raya dan memuji-muji Dai Nippon melulu. Rasanya jadi malas saya menulis,” jawabku.

“Nah, di situ seninya jadi wartawan! Bukankah Kiai Wahab Chasbullah sudah katakan: Di zaman kini, kita harus bisa mengatakan ‘Hu’ dengan dua macam tafsiran. Bisa ‘Hu’culono (lepaskan) dan bisa ‘Hu’ntalen (telanlah).” Semuanya ketawa riuh.

Hingga siang (tengah hari) tiga orang itu berunding mengenai berbagai masalah yang sedang hangat dewasa itu. Saling tukar menukar informasi dan saling memberikan analisa.

Bahwa di mana-mana banyak orang ditempeleng Jepang. Anak-anak pelajar dan pemuda, dimiliterisasi dan digunduli kepalanya hingga di mana-mana pemuda kita cuma gundul saja kepalanya seperti Jepang. Banyak orang-orang disiksa Jepang, dijemur di panas matahari atau dipukuli hanya karena dituduh melakukan gerakan anti Jepang, padahal bukti tidak ada. Rakyat sudah semakin sulit memperoleh beras, hingga sudah banyak daerah-daerah yang menderita kelaparan. Orang-orang yang dulu menjadi hamba sahaya Belanda, kini sudah banyak dipekerjakan sebagai pegawai Jepang.

Untuk mengatasi situasi pangan, rakyat diharuskan menanam apa saja di halaman rumahnya, tanaman yang bisa mendatangkan hasil bahan makanan, misalnya, singkong, ubi rambat, jagung, dan sebagainya. Bahkan di beberapa kota alun-alun juga ditanami jagung dan singkong. Sepanjang jalan raya harus ditanami pohon jarak karena Jepang memerlukan minyak pelumas bahan bakar pesawat terbang dan sebagainya. Bahkan halaman-halaman rumah rakyat juga harus ditanami pohon jarak untuk kemenangan Perang Asia Timur Raya, perangnya Jepang melawan Sekutu. Nama jalan-jalan di Jakarta telah banyak sekali yang diganti dengan nama-nama Jepang, terutama jalan-jalan protokol. Mula-mula nama Jepang itu ditulis dalam huruf latin, sebulan kemudian sudah berganti dalam tulisan Jepang, katakana.

Daerah kekuasaan Jepang semakin luas, hampir meliputi seluruh Asia Timur dan Tenggara. Mulai dari Korea, Manchuria, Tiongkok, Indo-China, Thai, Burma, perbatasan India, Malaya, Indonesia, Filipina, dan kepulauan di Lautan Pasifik. Darwin, pintu gerbang Australia berkali-kali diserang dari udara. Dengan demikian tentu saja serdadu Jepang tidak cukup mampu mengawal daerah yang seluas itu.

Jepang bermaksud untuk menjadikan pemuda-pemuda kita serdadu cadangan, sebagian untuk menjaga kepulauan Indonesia dan sebagian lagi untuk bertempur mendampingi serdadu-serdadu Jepang di Burma, di Indo-China, dan di lain daerah pertempuran.

Jepang mendekati pemimpin-pemimpin Indonesia, Ir. Sukarno, Dr. Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewan tara, dan K.H. Mas Mansur dijadikan ‘Empat-Serangkai’ mendampingi Pemerintahan Pusat Bala tentara Dai Nippon di Jakarta.

Dikandung maksud, dengan ‘Empat-Serangkai’ ini, Jepang akan mendirikan sebuah badan terdiri dari peleburan seluruh partai politik dan organisasi masyarakat yang telah dibubarkan. Badan baru itu akan diberi nama ‘PUTERA’, artinya: Pusat Tenaga Rakyat Tugasnya untuk membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya mengalahkan Sekutu.

Pulang dari Jakarta, rasanya aku seperti habis mi’roj diperlihatkan situasi seluruh tanah air di bawah kekuasaan Jepang. Amat kuat tertanam di sanubariku bahwa tahap baru dalam perjuangan sudah dimulai.

Aku diberi tugas oleh K.H.A. Wahid Hasyim untuk meratakan pandangan di kalangan para ulama dan dunia pesantren tentang tahap baru dalam perjuangan dewasa itu. Bebas dari penjajahan Belanda, mulai memasuki hidup dalam kekuasaan pemerintah militer Jepang.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: