DI BAWAH PENJAJAHAN SEUMUR JAGUNG (4)

Sekolahku, Islamitich Westerse School tempat aku mengajar, sudah beberapa bulan ditutup karena Jepang menutup semua sekolah yang memakai bahasa pengantar dan diajarkan bahasa Belanda. Aku cuma mengajar pada Madrasah Nahdhatul Ulama. Aku meneruskan Madrasah Kulliyatul Mu‘allimin, akan tetapi telah diubah menjadi semacam Kursus Guru bagi madrasah-madrasah di daerah Banyumas. Artinya, para guru madrasah di kursus untuk beberapa minggu. Selesai satu angkatan, diteruskan oleh angkatan yang lain.

Tetapi pekerjaanku sebagai pimpinan Ansor Jawa Tengah tetap aku lakukan. Bahkan dengan tugas ini aku memperoleh banyak sekali kesempatan untuk mengunjungi para ulama dan pesantren-pesantren di mana-mana.

Semua organisasi pemuda dan kepanduan telah dibubarkan Jepang. Mereka tidak diperbolehkan lagi mengadakan kegiatan-kegiatan. Anggota-anggotanya dijadikan Kaiboodan dan Seinendan dua organisasi keamanan dan kepemudaan yang didirikan oleh Jepang. Partai-partai politik sudah lama dibubarkan, demikian pula menyusul organisasi sosial dan agama. Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah di beberapa daerah dibubarkan, tetapi untuk daerahku, Banyumas dan Kedu tetap saja berjalan seperti biasa. Demikian pula Gerakan Ansor.

Ada gelagat bahwa Jepang tidak menyukai Ansor. Dengan tetap berjalannya Ansor, seolah-olah hendak menandingi Kaiboodan dan Seinendan. Banyak pemuda-pemuda yang enggan masuk kedua organisasi bikinan Jepang ini, mereka membanjiri Ansor. Untuk menghilangkan syak wasangka Jepang, aku berikan pelajaran taisoo (olah raga ala Jepang) dan nyanyian-nyanyian ala Jepang dalam Ansor. Bahkan pelajaran bahasa Jepang. Aku sendiri tak pandai bahasa Jepang, ada temanku pandai bahasa ini yang aku minta bantuannya untuk mengajar bahasa Jepang. Dengan cara demikian aku merasa aman dari kecurigaan Jepang.

Pada suatu hari, aku dipanggil Katisatsu Syoocho, kepala polisi Karesidenan Banyumas. Di waktu itu, jika seseorang dipanggil pembesar pemerintah, alamat tidak akan dibolehkan pulang, artinya ditangkap. Semalaman aku tak bisa tidur. Aku datang kepada beberapa kiai meminta fatwanya dan mohon doanya. Mereka menganjurkan agar aku tetap saja menghadap pembesar polisi ini. Aku diberi bekal beberapa doa yang aku baca sepanjang jalan.

Di luar dugaanku, pembesar polisi ini seorang bangsa Indonesia, namanya Umar Khatab. Dia mempersilakan aku duduk di ruangnya, sendirian hanya kami berdua. Ketakutanku mulai berkurang. Batinku, kalau masih bangsa sendiri tentulah masih bisa diajak berunding.

Setelah mencocokkan nama, umur, pekerjaan, dan alamatku, dia memulai membuka percakapan: “Betulkah bahwa saudara pemimpin Ansor Jawa Tengah?” dia mulai.

“BetuL Tepatnya, komisaris daerah Ansor untuk Jawa Tengah bagian selatan, meliputi Karesidenan Banyumas, Kedu, dan Yogya,” jawabku. Dia mencatat dalam buku catatannya.

“Sudah berapa lama saudara menjabat komisaris daerah Ansor?”

“Sejak tahun 1938,” jawabku ringkas.

“Apakah Ansor suatu gerakan politik?” pertanyaannya menyusul.

“Ansor adalah suatu gerakan berasas Islam dan bertujuan keislaman,” aku menjawab.

“Apakah semangat Nippon juga dimiliki oleh anggota Ansor?”

“Dalam Ansor kami ajarkan taisoo (olah raga ala Jepang) dan nyanyian Jepang” aku merasa pertanyaan ini yang akan menentukan nasibku selanjutnya.

“Apakah Ansor menghalang-halangi gerakan Seinendan dan Kaiboodan?” pertanyaan ini mengingatkan padaku agar aku lebih berhati-hati dalam menjawab.

“Bagaimana kami menghalang-halangi, padahal apa yang diajarkan dalam Seinendan dan Keiboodan juga kami ajarkan di sana!” jawabku tegas.

Kaisatsu Schoocho diam sejenak, dia menoleh ke arah pintu, agaknya untuk meyakinkan dirinya bahwa tak ada orang yang akan masuk ruangan. Lalu ditariknya kursi tempat duduknya mendekati tempat dudukku. Dengan suara lebih pelan dia meneruskan bicaranya:

“Begini saudara,” diam sebentar lalu meneruskan:

“Saya mendapat instruksi dari pihak Kenpetai (polisi militer) untuk menahan saudara, berhubung ada laporan bahwa saudara mengadakan gerakan anti Jepang. Saya tidak ingin saudara dan Ansor mendapat kesulitan. Oleh sebab itu, saya ingin menganjurkan saudara untuk sementara waktu tidak berdiam di daerah Banyumas. Saudara bisa memilih daerah mana dalam wilayah saudara, toh saudara adalah Komisaris Daerah Jawa Tengah. Nanti kalau keadaan sudah mengizinkan, saudara boleh kembali ke daerah Banyumas,” demikian kata-katanya dengan pelan sambil sebentar-sebentar mengawasi arah pintu.

“Terima kasih atas nasihat tuan. Nasihat itu menyenangkan hatiku, dan aku akan lakukan,” jawabku.

“Saya mengharap saudara tidak salah paham akan maksud saya. Adapun jawaban-jawaban saudara telah saya tulis semua, merupakan bahan yang sangat berfaedah untuk laporan kepada atasan saya,” jawabnya meyakinkan hatiku.

Aku mohon diri, lama aku menjabat tangannya erat-erat sambil kuulangi terimakasihku.

Peristiwa itu segera aku laporkan dalam rapat Majlis Konsul Nahdhatul Ulama dan kepada teman-teman.

Pak Mukhtar sebagai Konsul Nahdhatul Ulama mengambil keputusan agar aku hijrah ke daerah Kedu. Sekaligus akan mengusulkan kepada Pengurus Besar agar aku diangkat menjadi Konsul Nahdhatul Ulama daerah Kedu. Satu dan lain mengingat bahwa susunan pemerintah militer Jepang di daerah-daerah hanya mempunyai wilayah seluas karesidenan. Dengan demikian untuk daerah Kedu harus ada seorang konsul tersendiri.

Aku berangkat ke Magelang, ibu kota Karesidenan Kedu. Sebulan kemudian datang pengangkatanku sebagai Konsul Nahdhatul Ulama daerah Kedu oleh Pengurus Besar di Surabaya.

Pekerjaanku yang pertama, aku mengelilingi seluruh karesidenan Kedu untuk menjumpai para ulama dan mengunjungi pesantren-pesantren. Sekaligus menjalankan tugas yang diserahi dari KH A. Wahid Hasyim untuk meratakan pikiran dan pandangan beliau di kalangan para ulama dan pesantren-pesantren.

Surat-surat KH A. Wahid Hasyim selalu datang, hampir tiap minggu suratnya tiba, melalui pos dan kurir dari Tebuireng.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: