DI BAWAH PENJAJAHAN SEUMUR JAGUNG (5)

Hampir tiap sebulan sekali aku mendapat panggilan dari K.H.A. Wahid Hasyim untuk menjumpai beliau. Kadang-kadang menjumpainya di Jakarta, kadang di Tebuireng atau Surabaya, kadang di Yogya atau Bandung. Tetapi surat-suratnya pun selalu datang. Surat-suratnya selalu aku bacakan di muka para kiai, berisi pandangan beliau tentang situasi dewasa itu, lalu digariskan petunjuk-petunjuk yang harus kami lakukan bersama para ulama. Lama-lama para kiai dan teman-teman jadi seperti ketagihan kalau agak lama tidak ikut membaca surat-surat KH.A. Wahid Hasyim Awal tahun 1943, aku mendapat panggilan K.H.A. Wahid Hasyim untuk menjumpainya di Jakarta.

“Kita disibukkan kini oleh pekerjaan-pekerjaan besar,” beliau memulai percakapannya denganku.

“Sebagai saudara ketahui, kini telah terbentuk suatu badan gabungan dari semua partai dan organisasi Islam, namanya Majlis Syuro Muslimin Indonesia, disingkat menjadi ‘Masyumi.’ Nama ini mirip-mirip seperti bahasa Jepang, biar mereka senang. Tak apalah, apa artinya sebuah nama! Badan ini gabungan dari 4 organisasi Islam, Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, Perserikatan Ummat Islam Indonesia, dan Perhimpunan Ummat Islam Sifatnya federatif karena itu, masing-masing anggota 4 organisasi Islam itu tetap berjalan seperti sediakala. Ketuanya telah dipilih, Hadratus Syaikh Hasyim Asy‘ari dan sebagai pelaksana sehari-hari adalah saya sendiri.”

“Apa yang menjadi tujuan dari Masyumi ini?” aku bertanya.

“Menyusun seluruh tenaga umat Islam Indonesia membantu Jepang ke arah tercapainya kemenangan akhir bagi kita,” jawabnya.

“Bagi kita selaku, kita itu siapa?”

“Sengaja saya memakai kalimat itu, agar Jepang mengira bahwa kita itu artinya mereka. Tetapi yang sebenarnya, kita ialah kita-kita ini!”

“Bukan main diplomatisnya semboyan ini!” kataku.

“Jepang mulai kewalahan dalam perang ini karena sekutu mulai menyerang kembali ke daerah-daerah yang diduduki Jepang.” Demikian K.H.A. Wahid Hasyim, lalu terusnya: “Kami para pemimpin hari-hari mengadakan kontak satu sama lain dan berunding, sampai kepada satu kesimpulan, kesempatan ini kita jadikan strategi untuk mendesak Jepang agar memberikan kesempatan kepada Bangsa Indonesia untuk mengatur urusan di dalam negeri, agar Jepang lebih memusatkan perhatiannya kepada Sekutu.”

“Apakah Jepang mempercayai kita?” tanyaku kepada beliau.

“Kita selalu membuat slogan-slogan dan gerakan-gerakan begitu rupa, untuk menimbulkan kesan seolah-olah kita senasib sepenanggungan dengan mereka. Misalnya, pada kampanye-kampanye Jepang melawan Sekutu, kita gunakan untuk kampanye anti Belanda, anggota Sekutu yang ingin kembali hendak menjajah kita lagi. Kita perhebat kampanye anti Belanda ini. Dengan demikian, Jepang percaya bahwa kita anti Belanda. Menurut tafsiran Jepang, anti Belanda sama dengan anti Sekutu, dan anti Sekutu sama dengan pro-Jepang. Itu menurut logika mereka.” Beliau berhenti sebentar, pandangannya menerawang menembus jauh ke depan. Tentu dalam pikirannya penuh dengan rencana-rencana perjuangan besar.

“Kalau begitu, kita sudah bisa menipu Jepang!” kataku bangga.

“Ente jangan lupa, Nabi kita pernah mengatakan: Al-Harbu khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh tipu muslihat. Kita hidup dalam zaman perang, bukan? Dalam suatu peperangan berlaku suatu ketentuan: Membunuh atau dibunuh, menipu atau ditipu, mengelabui atau dikelabui. Tinggal pilih, kita mau yang mana? Tentu saja kita mau unggul, jika bisa dengan risiko paling kecil,” jawabnya tegas.

K.H.A. Wahid Hasyim ini kalau berbicara pelan, kata-katanya disusun hati-hati, tetapi kalau sudah menyinggung hal-hal yang penting sekali, selalu diucapkan dengan sangat tegas dan bersemangat. Aku ingat Anwar Cokroaminoto memberi julukan kepada beliau Joyongotot.

“Lantas tugas apa yang diserahkan padaku?” aku bertanya.

K.H.A. Wahid Hasyim mengambil tasnya, dikeluarkan sebuah bungkusan, lalu katanya:

“Ini, saudara bagi-bagikan kepada teman-teman yang bisa membantu tugas-tugas perjuangan!” katanya sambil menyerahkan bungkusan itu. Aku buka, ingin tahu apa isinya.

“Apa ini?” sambil aku amat-amati. Isinya setumpuk kartu ukuran lebih kecil daripada kartupos.

“Karcis cap ceker! Itu vrijkaart; karcis kereta api cuma-cuma, sebanyak 30 helai. Bisa dibagi-bagikan untuk teman-teman yang bisa membantu perjuangan kita!” jawabnya.

“Kok cap ceker?” aku masih belum mengerti.

“Iya, sebab ada stempel dari pembesar Jepang dengan huruf-huruf Jepang yang seperti ceker-ayam itu!” sambungnya,

“Karcis itu berlaku untuk kereta api ekspres klas I untuk seluruh Jawa Madura.”

“Dapat dari mana?” aku keheran-heranan.

“Jangan ditanya! Ingat: Al-Harbu khid‘ah. Saudara ingat dalam dongeng Al-Baidaba bahwa kancil yang begitu cerdik bisa dikalahkan oleh siput yang kelihatannya lemah tak berdaya lagi nggremet itu. Jepang yang berlagak sok cerdik, kini berhadapan dengan kaum santri!” berkata demikian sambil menggebrak meja.

“Dalam hubungannya dengan Majlis Syuro Muslimin Indonesia bagaimana?” kataku bertanya.

“Saya akan terbitkan sebuah majalah, saya akan beri nama Suara Muslimin. Saya meminta saudara bersedia menjadi pemimpin redaksinya. Nanti dibantu oleh Harsono Cokroaminoto, K.H. Mukhtar, dan A. Barri al-Bahri.”

“Wah, berat buatku. Nanti aku jadi terpaku di Jakarta. Tugas di daerah-daerah bagaimana?” aku bertanya.

“Itu, kan bisa dibagi waktunya,” jawabnya.

“Ya, tetapi aku Konsul Nahdhatul Ulama di daerah Kedu!” jawabku.

“Sudahlah, terima saja. Kalau perlu untuk sementara saja. Nanti kalau sudah berjalan bisa diatur lagi.”

“Bagaimana kalau Harsono saja, biar aku membantunya,” kataku.

“Aku ingin biar saudara sajalah. Nanti kalau dirasa kurang sreg bisa diatur lagi. Pokoknya asal terbit dulu beberapa nomor.”

Pembicaraan berhenti karena banyak tamu-tamu datang untuk menjumpai K.H.A. Wahid Hasyim. Banyak di antaranya terdiri dari para ulama datang dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Ada yang aku sudah kenal, ialah K.H. Dahlan dari Kertosono, orangnya gemuk, mengenakan topi lebar. Orangnya periang dan pandai melucu. Saban-saban kalau membicarakan hal yang penting, ia berbicara kepada K.H.A. Wahid Hasyim dengan bahasa Belanda. Tamu yang lainnya yang aku sudah kenal ialah K.H. Dzofir dari Kediri, orangnya berwajah tampan, halus tutur katanya, dan ramah sekali. Yang lain-lain aku belum kenal. Mereka datang untuk melaporkan keadaan di daerahnya masing-masing. Banyak kiai-kiai ditangkapi Jepang karena dituduh menghalang-halangi usaha Jepang mengumpulkan padi milik rakyat. Padahal yang sebenarnya, Jepang merampas padi milik rakyat yang hanya itu-itunya, walaupun dibeli akan tetapi dengan harga yang sangat jauh perbedaannya dengan harga di pasaran. Lama mereka berunding dengan K.H.A. Wahid Hasyim mengenai hal-hal yang tidak mengenakkan didengar karena semuanya menyangkut perkosaan terhadap rakyat. K.H.A. Wahid Hasyim menyanggupi akan menjumpai bupati di daerahnya guna mencari penyelesaian yang baik.

Menjelang ashar, para tamu pada pulang. K.H.A. Wahid Hasyim mengajak aku makan siang. Kebetulan lewat di muka rumah abang penjual gado-gado. Kami makan gado-gado hingga kenyang. Lepas sembahyang ashar, datang seorang tamu. Bertubuh padat dan pendek dengan wajah seperti seorang Cina. Dia mengenakan baju jas kuning gading dengan kain sarung dan berpeci hitam. Begitu melihat K.HA. Wahid Hasyim, dia menyeru dengan amat fasihnya

“Assalamu ‘alaikum warahmatuIlahi wa barakatuh. Wilujeng sampeyan, Gus?” menyapa tamu ini kepada K.H.A. Wahid Hasyim dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur. Yang dijawab oleh yang disapa juga dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur. Ketika aku diperkenalkan kepadanya, dia menyebutkan namanya:

“Kulo Abdulhamid Ono” sambil menjabat tanganku. Aku segera teringat nama seorang Jepang yang bertugas mendampingi, atau lebih tepat membayang-bayangi K.H.A. Wahid Hasyim. Batinku mengatakan: O, ini dia orangnya!

“Kulo wau langkung mriki, tasih kathah tamu” katanya, yang artinya, bahwa tadi dia lewat di sini tetapi masih banyak tamu.

“Konco-konco sami kepengin pinanggih kulo” Jawab K.H.A. Wahid Hasyim, bahwa mereka itu teman-teman yang ingin menjumpainya.

Dua orang itu lalu menuju ke ruang lain, mengadakan pembicaraan empat mata. Sementara menunggu mereka, dan agar Jepang ini lebih tenteram hatinya bahwa aku tidak mungkin bisa nguping (pasang telinga), aku mengambil mesin tulis untuk menulis surat-surat.

Lama mereka berunding, menjelang waktu maghrib barulah Abdulhamid Ono minta diri. Dia pergi begitu saja tanpa menyalami aku.

“Jepang meminta kepadaku agar pemuda-pemuda Islam memasuki Heiho serdadu cadangan untuk dikirim ke medan perang.” K.H.A. Wahid Hasyim mengungkap hasil pembicaraannya dengan Abdulhamid Ono.

“Saya memajukan pikiran lain. Tetapi ini panjang ceritanya. Baiklah kita sembahyang maghrib dulu!”

“Abdulhamid Ono datang membawa pesan Saikoo Sikikan, berhubung dengan serangan-serangan Sekutu, Jepang memerlukan pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi serdadu pendamping tentara Jepang di medan perang. Kepada pemimpin-pemimpin Jawa Hookoo Kai, sebuah badan baru yang menggantikan ‘Putera’ telah disampaikan suatu instruksi. Lalu meminta kepada saya lewat Abdulhamid Ono, agar pemuda-pemuda santri juga memasuki Heiho.” K.H.A. Wahid Hasyim memulai percakapan sehabis sembahyang maghrib.

“Tentu akan dikirim ke Burma atau kepulauan Pasifik!” aku menyela.

“Ya, tentu demikian. Aku katakan kepadanya bahwa akan lebih baik kalau pemuda-pemuda santri dilatih kemiliteran untuk pertahanan di dalam negeri. Mempertahankan sejengkal tanah air di dalam negeri akan lebih menggugah semangat pemuda-pemuda kita, daripada bertempur di daerah yang sangat jauh letaknya di luar tanah air,” beliau meneruskan.

“Mempertahankan sejengkal tanah air dari serangan Sekutu?” aku bertanya.

“Dari serangan Sekutu maupun dari musuh-musuh yang lain!” jawabnya,

“Musuh yang sudah berada di kampung halaman kita, lebih kita dahulukan pengusirannya daripada yang masih jauh di luar tanah air!”

“Tetapi kita belum mempunyai kecakapan mengusir musuh!” tanyaku.

“Makanya, aku meminta supaya Jepang melatih pemuda-pemuda kita di bidang kemiliteran,” jawab K.H.A. Wahid Hasyim.

“Tetapi apakah Jepang mau terima logika kita?” aku meneruskan bertanya.

“Saya katakan kepada Abdulhamid Ono, menghadapi kekuatan Sekutu di medan perang harus dibebankan kepada tentara yang sudah terlatih baik, yaitu tentara Dai Nippon. Pemuda-pemuda kita yang baru dilatih kemiliteran mungkin akan menyulitkan tentara Jepang yang profesionil itu. Lain halnya kalau pertahanan di dalam negeri diserahkan pemuda-pemuda kita. Dengan demikian, serahkan pertahanan di dalam negeri kepada putera-putera tanah air sendiri, sedang serdadu-serdadu Jepang yang ada di sini bisa dikirim ke medan perang menghadapi serangan Sekutu.” jawabnya.

“Pemuda-pemuda kita sekarang dijadikan Tentara ‘Peta’, pembela tanah air. Apakah pemuda-pemuda santri juga memasuki ‘Peta‘?” aku menanya.

“Saya mempunyai rencana demikian. Sebagian dari pemuda-pemuda kita memasuki Peta. Adik saya sendiri, Abdul Khaliq Hasyim, memasuki Peta, dilatih menjadi Daidancho, komandan batalion. Demikian juga saudara Wahib Wahab, putera K.H.A. Wahab Chasbullah, juga memasuki Peta sebagai Shodancho, komandan peleton. Kecuali itu disebutnya nama-nama yang lain misalnya: Iskandar Sulaiman, Konsul Nahdhatul Ulama Malang sebagai Daidancho, Syamsul Islam, Komisaris Daerah Ansor Jawa Timur sebagai Chudancho, Sultan Syamsun, sebagai Shodancho, dan lain-lain nama yang aku tak ingat lagi.

“Saya mengusulkan kepada Jepang lewat Abdulhamid Ono” demikian K. H. A. Wahid Hasyim meneruskan keterangannya “agar untuk pemuda-pemuda santri dibentuk ‘Tentara Hizbullah’ seperti halnya dengan Peta. ‘Hizbullah’ ini bertugas membela dan mempertahankan Tanah air Indonesia.”

“Apa reaksi Abdulhamid Ono?” aku bertanya ingin tahu.

“Pada prinsipnya dia bisa menerima. Tetapi dia meminta saya membuat rencananya secara terperinci. Aku sanggupi, beberapa hari ini saya akan menyerahkan rencana yang dimaksud!” jawab beliau.

Semalaman kami berbincang-bincang mengenai rencana pembentukan Hizbullah. Aku mendapat tugas menjemput K.H.A. Wahab Chasbullah di Surabaya untuk segera datang ke Jakarta. Sementara itu, K.H.A. Wahid Hasyim dengan didampingi oleh Zainul Arifin mengadakan hubungan dan pembicaraan dengan tokoh-tokoh Indonesia terutama ‘Empat Serangkai’.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: