DI BAWAH PENJAJAHAN SEUMUR JAGUNG (6)

Agustus 1943.

Sudah 10 hari aku menjelajahi desa-desa sekitar Cilacap, Kebumen, dan Purworejo. Udara sangat panas dimusim kemarau dengan angin yang menerbangkan debu-debu, pernafasan ini menjadi tambah sesak saja dengan batuk yang tidak sembuh-sembuh. Bersepeda dengan memakai ban-buluk, artinya, ban yang tidak berangin, susahnya bukan main mengayuh ban sepeda dengan melalui jalan-jalan penuh lobang dan batu karena sudah lama aspalnya ikut menyingkir. Rasanya badan ini seperti dibanting-banting, sekujur tubuh sakit semua. Pohon asam dan tanjung yang dijadikan tempat berlindung sepanjang jalan raya, sudah lama ditebangi karena dipergunakan untuk kayu bakar kereta api sebagai pengganti arang batu, dan buahnya dimakan orang-orang untuk mengganjel perut-perut yang lapar. Bahan, makanan terutama beras, kecuali amat susah diperoleh, harganya hampir menyamai harga emas, sebab itu sudah banyak rakyat hanya makan bonggol pisang serta dedaunan yang lumayan untuk mengganjal perut. Sepanjang jalan banyak ditanam pohon jarak atas anjuran Jepang, untuk minyak pelicin pesawat terbang, katanya. Hampir tiap 1 Km kita bisa menjumpai mayat yang sudah mulai membusuk, kadang-kadang sampai dua atau tiga, berlindung di bawah pohon jarak dengan ditutupi daun pisang atau dedaunan lainnya. Mayat orang-orang yang mati kelaparan!

Alam Indonesia yang terkenal indah permai, sudah berubah menjadi begitu berantakan, panas, dan kering sekeliling, begitu resah dan tak bisa bicara kecuali dari mulutnya yang menganga menghembuskan debu-debu yang beterbangan.

Di mana-mana aku jumpai orang kelaparan, badan kurus dan pucat dengan kaki yang membengkak, tidak beri-beri tentulah kaki-gajah. Kulitnya penuh dengan kudis, koreng, dan borok-borok. Malam-malam berlalu dengan kelam dan menekan, orang tidak memperdulikan penerangan lampu. Kecuali karena gerakan kusukeiho (memadamkan penerangan karena bahaya serangan udara), juga hampir tak ada orang menjual minyak tanah. Satu dua rumah kadang-kadang menggunakan penerangan lampu dlupak, pelita kecil dengan menggunakan minyak goreng. Dan lagi, buat apa penerangan lampu di rumah kalau perut keroncongan?

Bayangkan, dalam keadaan begitu, rakyat dipaksa tiap pagi berbaris dan menghadap ke arah Tokyo untuk memberi hormat kepada raja Jepang Tennoo Heika yang sedang sarapan pagi dengan roti panggang, selai, dan air jeruk dingin! Sehabis membungkukkan badan selingkar 90 derajat untuk Tennoo Heika, masih harus bersabar mendengarkan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo yang menyayat hati, lalu menghormat kepada bendera Jepang Hinomaru, sementara harus menahan tangannya menggaruk kudis dan koreng yang gatal sekali!

Aku singgah sebentar di Pesantren Wanayasa, Kebumen. Pesantren itu lengang saja tidak tampak kegiatan para santri yang jumlahnya tinggal sepertiga. Banyak santri-santri yang pulang ke kampungnya, karena orang tuanya tidak mampu memberikan biaya perbekalan di Pesantren. Sementara yang masih tinggal di pesantren mengambil waktu mengaji untuk ronda kampung membantu ‘Kaiboodan,’ menjaga keamanan kampung kalau-kalau datang serangan dari Sekutu.

“Amat senang saudara datang ke sini,” tegur Kiai Haji Nasuha, pemimpin Pesantren Wanayasa Kebumen. Seorang tua yang berusia sekitar 70 tahun, ulama sangat terkenal di daerah Kebumen, bertahun-tahun menjadi sahabat K.H. Hasyim Asy‘ari ketika masih sama￾sama muqim dan menuntut ilmu di Makah.

“Sejak Jepang datang, negeri ini seperti diamuk Ya‘juj wa Ma’juf saja! Santri-santri banyak yang bubar karena orang tuanya tak bisa membiayai” demikian Kiai Nasuha seolah memberi laporan tentang situasi pesantrennya.

“Saya mendengar bahwa sekarang rakyat dijadikan kuli paksa, namanya apa dalam bahasa Jepang?” pertanyaan dimajukan Kiai Nasuha.

“Namanya Romusha,” jawabku.

“‘Ya betul, romusha. Masya Allah! Di desa-desa sudah banyak penduduk dijadikan romusha. Saya dengar dari pemuda-pemuda kita bahwa mereka dikirim untuk membuat jalan kereta api di Sumatera. Betulkah ini?”

“Bukan di Sumatera, tetapi di Burma atau Indo-China, sebelah utara lagi dari Malaya,” jawabku.

“Kasihan anak istrinya. Sehingga sawah-sawah tidak digarap karena di desa kekurangan tenaga. Coba pikirkan! Anak istrinya disuruh makan apa? Sedang pemuda-pemuda banyak dijadikan Heibo, katanya juga dikirim ke luar negeri buat perang melawan Inggris-Amerika,” Kiai Nasuha diam sebentar lalu sambungnya: “Kemarin ada anak santri yang bilang bahwa adiknya perempuan didaftar untuk menjadi juru rawat. Orang tuanya keberatan tetapi dipaksa saja dengan gadis-gadis lain didaftar, katanya dikirim ke Jakarta untuk dijadikan juru-rawat. Kalau memang mau dijadikan juru rawat kok jauh-jauh, di Kebumen ini rumah sakit saja kekurangan juru rawat,” Kiai Nasuha menyambung pembicaraannya

“Inilah namanya musibah,” aku menyela.

“Saya kira tidak dijadikan juru rawat, tetapi tukang merawat Jepang-Jepang yang sudah keliwat lama pisah dari istri-istri mereka. Ini benar-benar zalim dan keterlaluan. Apa tidak lebih baik kita berontak saja?” pertanyaan Kiai Nasuha dengan semangat

“Berontak itu kalau cuma sendirian percuma saja, mudah ditumpas Jepang. Kita jangan lupa ketika Diponegoro berontak melawan Belanda. Yang berontak cuma sebagian rakyat saja, itu pun cuma terbatas Yogya, Kedu, Banyumas, dan sebagian daerah lain. Begitu juga ketika Teuku Umar dan Imam Bonjol berontak, hanya terbatas di daerahnya sendiri, sedang rakyat-rakyat di daerah lain boleh dibilang tidak ikut memberontak,” jawabku.

“Jadi, mau dibiarkan saja Jepang ini melakukan kezaliman?” pertanyaan Kiai dengan nada mendesak

“Menurut teori perjuangan yang diceritakan oleh K.H.A. Wahib Hasyim, bahwa para pemimpin harus dibulatkan dulu pikirannya, bahwa pemberontakan itu harus menyeluruh meliputi seluruh Indonesia. Kita harus melatih para pemuda di seluruh penjuru tanah air di dalam ilmu kemiliteran. Siapa yang harus melatih? Tak lain adalah Jepang sendiri. Kalau kita akan melawan Jepang, kita harus tahu akan ilmu Jepang. Agar supaya Jepang tidak curiga, kita harus menanamkan kepercayaan kepadanya bahwa maksud latihan kemiliteran ini untuk bersiap-siap melawan Belanda dan kawan-kawannya. Jepang menginsyafi bahwa Belanda memang bermaksud untuk kembali menjajah Indonesia lagi. Nanti, kalau pemuda-pemuda kita sudah mahir ilmu militer, nah, tinggal tunggu saat yang baik kita serentak seluruh Indonesia mengangkat senjata melawan Jepang.”

“Kalau begitu, biar santri-santri ikut belajar militer. Di mana bisa belajarnya?” bertanya Kiai Nasuha.

“Kini telah dibentuk Hizbullah, pemuda-pemuda santri dididik kemiliteran selama 6 bulan di Jakarta. Tiap kabupaten diharuskan mengirim 5 orang pemuda-pemuda dari pesantren. Selesai menjalani pendidikan kilat kemiliteran, mereka diwajibkan melatih pemuda-pemuda di daerahnya. Diutamakan pemuda-pemuda pesantren. Kini di Jakarta telah diatur pelaksanaannya. Kedatanganku menghadap para kiai untuk memohon doa restunya dan untuk membicarakan dengan para kiai tentang calon-calon yang akan dikirim ke pendidikan militer di Jakarta,” aku menerangkan.

“Baik sekali!” jawab Kiai Nasuha,

“untuk mencari 5 orang pemuda sangat gampang. Di sini banyak santri-santri pilihan yang menjadi anggota Ansor!” Kiai Nasuha menyebut beberapa nama. Abdullah Al-Haddad, Marzuki, Basiran, Samirun, Mahfudz, dan lain-lain nama yang aku sudah kenal semua.

Aku berpamitan hendak meneruskan perjalanan, untuk menjumpai beberapa kiai lagi. Tetapi Kiai Nasuha menahan aku, agar aku bermalam di pesantrennya. Beberapa kiai diundang oleh Kiai Nasuha untuk menjumpai aku di rumahnya. Malam itu, datanglah beberapa ulama yarig terkenal di Kebumen. Yang aku sudah lama kenal, ialah: KH. Muhsin, K.H. Ishom, Kiai Afandi, dan Haji Hasyim ketua Nahdhatul Ulama, Kebumen.

Sampai jauh malam kami merundingkan tentang pelaksanaan pengiriman 5 orang pemuda ke latihan militer Hizbullah di Jakarta. Pagi harinya aku melanjutkan perjalanan ke Purworejo, Yogya, Magelang, Parakan, dan Wonosobo.

Ketika tiba di Kutoarjo, hari sudah senja. Perjalanan dari Kebumen ke Kutoarjo yang hanya 40 Km, aku tempuh dalam waktu 9 jam. Kereta api penuh sesak dengan penumpang, hingga memenuhi atap-atap gerbongnya. Tiap 5 hingga 10 menit berhenti, kehabisan kayu bakar. Para penumpang beramai-ramai mencari kayu bakar di kanan kiri jalan kereta api, kadang-kadang membantu pegawai kereta api menebang kayu-kayu sepanjang rel kereta api. Haus dan lapar bukan main!

Aku menuju ke pesantren Kiai Damanhuri. Pesantrennya kecil saja, dan terasa sepi dan mencekam. Masjid itu gelap tiada penerangan lampu. Tetapi masih jelas suara orang membaca-baca wiridan, pertanda sembahyang maghrib sudah selesai. Aku perhatikan di dalamnya cuma 3 orang dengan Kiai Damanhuri masih berada di mihrab, tempat imam sedang memimpin pembacaan windan. Aku sembahyang maghrib sendinan. Ketika wiridan sudah selesai, dan kiai selesai sembahyang sunat, aku hadang dia di pintu masjid. Beliau sangat terkejut melihat kedatanganku.

“Masya Allah, sangking tindak pundi?” (datang dari mana?) tegurnya sambil menyalami tanganku.

“Njajah deso milang kori,” (pergi keliling-keliling), jawabku sambil bergurau. Kyai ini senang bergurau, melucu. Tetapi di saat serius juga serius. Aku diajak masuk ke rumahnya, dan menanyakan kabar keselamatanku. Sambil berjalan beliau cerita, semalam bermimpi ketemu aku. Segera aku sambut, kini kita saling berjumpa dalam keadaan nyata, tidak dalam mimpi.

“Bu Nyai! Bikin kopi kental, ini ada tamu agung!” serunya kepada Ibu Nyai yang masih ada di dalam,

“suruh si Busro menyembelih ayam!”

“Ah, jangan repot-repot kiai!” kataku.

“Tidak repot kok! Memang saban saya makan selamanya dengan ayam, artinya, kalau saya makan, ayam saya pun juga makan,” jawabnya mulai melucu.

“Di pesantren ini tak ada lagi santri, mereka pada pulang kampung. Orang tua mereka pada susah, padinya diambil Jepang. Saya dengar mereka pada dagang keliling, takut dijadikan romusha atau dijadikan Heiho,” mulai Kiai Damanhuri membuka percakapan.

“Jadi kiai tidak lagi mengajar sekarang?” aku bertanya.

“Saya sekarang mengajar dengan keliling mendatangi desa-desa, biar saya yang mengalah. Di rumah saja juga susah. Selalu saja saya didatangi pejabat Jepang untuk membantu mereka membikin propaganda tentang pengumpulan padi dan kerja suka rela. Orang tani sudah tidak memiliki padi, sudah 3 panenan ini padi tak menjadi, terserang hama, lagi pula, banyak sawah terbengkalai tidak ada pekerja yang menggarap sawah karena dijadikan romusha. Saya tidak mau ikut propaganda pengumpulan padi, ini kerja zalim kepada rakyat, penuh dosa. Subhanallah!” Kiai Damanhuri menerangkan sambil menahan genangan air matanya.

“Apa rakyat di sini bertambah sengsara?” aku menanya, sebenarnya suatu pertanyaan sia-sia, sebab aku sudah tahu, rakyat di mana-mana menderita.

“Memang, rakyat bertambah menderita, ya lahir ya batin. Sudah banyak orang tidak makan nasi. Kalau saudara perhatikan, halaman-halaman rumah penduduk yang dulu banyak ditanami pohon pisang, sekarang sudah jarang sekali. Pisang yang masih muda terpaksa dimakan, juga bonggolnya. Tetapi orang-orang yang jadi alat Jepang bertambah makmur saja hidupnya,” kata Kiai.

“Makmur dari mana?” aku menanya ingin tahu.

“Tentu saja dari main kusukeiho. Dari mana lagi kalau tidak main kusukeiho?” Jawabnya. Kusukeiho itu bahasa Jepang, artinya serangan bahaya udara. Kalau ada tanda kusukeiho, lampu-lampu dipadamkan, keadaan menjadi gelap seluruhnya. Oleh rakyat jadi merupakan istilah populer, bahwa kusukeiho artinya main gelap-gelapan, korupsilah begitu!

“Astaghfirullah, kasihan rakyat!” aku menyela.

“Ya, ini memang benar-benar zaman edan!” Kiai meneruskan percakapannya.

“Kalau tak ikut edan tidak kebagian. Tetapi orang pada lupa bahwa: Sabejo-bejane kang lali, isih bejo kang eling lawan waspodo (Sebahagia-bahagianya yang sedang lupa, masih berbahagialah mereka yang selalu ingat dan waspada).”

“Orang tua-tua kita sudah mengajar kepada kita,” demikian kiai melanjutkan uraiannya

“Bahwa telah difirasatkan kelak akan datang suatu masa yang digambarkan sebagai demikian: Keong sak kenong matane Tikus-tikus pada ngidung Kucing gering kang njageni … ” Bahwa artinya: Siput bermata sebesar kenong. Ini suatu tamsil bahwa rakyat yang tak berdaya dan lemah seperti binatang siput, mendadak bermata sebesar kenong, artinya, tahu segala-galanya apa yang terjadi. Tikus-tikus berdendang menyanyi-nyanyi. Ini suatu tamsil bahwa para penjahat dan pencoleng yang seperti tikus-tikus yang menggerogoti kekayaan rakyat pada hidup senang dan makmur karena berhasil dengan curian dan perampokannya. Sedangkan kucing-kucing, artinya pihak penguasa yang harus membasmi tikus-tikus tidak sanggup menangkap dan mengejar tikus-tikus karena mereka cuma kucing kurus tak berdaya!” Kiai Damanhuri diam sebentar seperti ada yang dipikirkan dalam-dalam.

“Kalau sudah demikian, lalu apa yang bakal terjadi?” tanyaku mengisi kesunyian.

“Wallahu A’lam! Cuma Allah Yang Maha Tahu apa yang bakal terjadi,” seperti tersentak dari diamnya Kiai Damanhuri menjawab pertanyaanku.

“Cuma banyak sekali orang mempercakapkan bahwa Jepang tidak akan lama lagi berkuasa di sini,” beliau meneruskan,

“dan ini termasuk sunnatullah. Artinya, bahwa Allah selalu menyertai anggapan orang banyak. Kalau orang banyak menganggap bahwa sesuatu itu baik, maka Allah juga beranggapan demikian. Sebaliknya kalau orang banyak menganggap bahwa sesuatu itu tidak baik, Allah juga beranggapan demikian.”

“Apa kata orang banyak bahwa Jepang tidak akan lama lagi berkuasa?” aku bertanya.

“Ya, kata orang-orang bahwa Jepang hanya berkuasa selama seumur jagung” jawabnya.

“Apa maknanya berkuasa seumur jagung?” aku menanya. Percakapan dari hati ke hati ini bertambah menarik.

“Macam-macam orang memberikan tafsiran. Ada yang menafsirkan bahwa seumur jagung itu artinya seumur raja agung. Lha, kita ini tidak tahu, siapa yang dianggap sebagai raja agung di waktu sekarang, apakah Hitler ataukah Tenno Heika yang kini masih merajai dunia dengan menaklukkan begitu banyak negeri. Ada lagi yang menafsirkan bahwa jagung itu artinya seumurnya orang jagong. Kalau kita pergi jagong, yaitu datang ke tempat pesta penganten, itu cuma beberapa saat saja, tidak lama. Jadi kalau diikuti tafsir ini, bahwa Jepang memang tidak lama berkuasa di sini. Ada lagi yang menafsirkan bahwa seumur jagung itu benar-benar selama umur jagung. Mulai menanam biji jagung, hingga tumbuh jadi pohon, lalu dipetik buah jagungnya dan disimpan, itu paling lama hanya 3½ bulan. Jadi kalau diikuti tafsiran ini, Jepang menguasai Indonesia Cuma 3½ tahun saja. Tetapi yaitu, Iaya’lamu al-ghaiba illa Allah, tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah SWT!” demikian Kiai Damanhuri menerangkan.

Aku cuma singgah saja di Pesantren Kiai Damanhuri, karena itu, sehabis disuguhi makan dengan ayam goreng, aku berpamitan pulang. Tiba di rumahku, di Purworejo, sudah jam 12 malam. Aku diantarkan oleh Haji Sahlan, seorang murid Kiai Damanhuri yang menjadi pemimpin Ansor dengan delmannya.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: