DI BAWAH PENJAJAHAN SEUMUR JAGUNG (7)

Pada permulaan tahun 1944 sudah 4 bulan Hizbullah terbentuk di seluruh Jawa-Madura. Beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan juga telah terbentuk, walaupun tidak merata. Markas Tertinggi Hizbullah berada di Jakarta, dengan Zainul Arifin sebagai panglimanya. Anggota pimpinan yang lain diambilkan dari unsur Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, PSII, dan lain-lain organisasi umat Islam. Beberapa ulama di antaranya K.H.A. Wahab Chasbullah dijadikan penasehat dan pelindung.

Jika pusat latihan Peta berkedudukan di Bogor, maka pusat latihan Hizbullah berada di Cibarusa, suatu desa di perbatasan antara Bekasi dan Cibinong, dekat Jakarta Bogor.

Di kedua tempat ini, pemuda-pemuda Indonesia digembleng jasmani dan rohaninya untuk pertahanan tanah air dari ancaman musuh, baik yang datang dari luar maupun yang ada di dalam negeri. Kedua-duanya dilatih kemiliteran oleh perwira-perwira Jepang. Banyak orang mempunyai firasat bahwa akhirnya bagi Jepang akan terjadi lelakon senjata makan tuannya sendiri.

Aku diserahi membentuk Barisan Hizbullah untuk daerah Kedu di Magelang. Seorang temanku, KH. Muslich membentuk di daerah Banyumas. Seorang Shodancho dari salah satu Daidan Peta di Magelang bernama A. Yani, aku mintai bantuannya untuk melatih Hizbullah seluruh daerah Kedu. Dia telah membantu pembentukan Hizbullah sejak dari permulaan. Aku tidak tahu mengapa pilihanku jatuh kepada pemuda A. Yani ini.

Kian hari situasi baik politik maupun ekonomi dan militer semakin genting. Perasaan anti Jepang semakin meluas di mana-mana. Gerakan sabotase untuk melemahkan kedudukan Jepang digerakkan oleh rakyat di beberapa daerah sampai terjadi pemberontakan-pemberontakan di Indramayu, Singaparna, Cilacap, dan Blitar.

Sejak Jepang datang, dia tak pernah memperoleh simpati rakyat Indonesia, kecuali beberapa hari yang pertama karena propagandanya hendak membebaskan rakyat dari penjajahan.

Namun hari demi hari kebencian kian menumpuk. Badan-badan yang dibentuk Jepang, mulai dari Tiga A, sampai Putera dan Jawa Hokokai yang dipimpin oleh Empat Serangkai tak pernah dapat meraih simpati dan dukungan dari rakyat Indonesia. Rakyat kian membenci dan bahkan mendendam.

Aku sering meninggalkan Jakarta untuk menyertai K.H.A. Wahid Hasyim mengunjungi daerah-daerah. Di Jakarta, beliau bekerja sama dengan tokoh-tokoh nasional dan kalangan pemuda. Di daerah-daerah beliau mempunyai anak buah di kalangan supir truk, bengkel mobil, kondektur kereta api, dan pedagang keliling untuk melakukan tugas-tugas penghubung. Sementara itu, hubungan dengan dunia pesantren tambah dipererat.

Di Jombang, di bawah pimpinan Hadratus Syaikh dan K.H.A. Wahab Chasbullah diselenggarakan Riyadhah-Rohani di kalangan para ulama. Kecuali meningkatkan semangat pembelaan tanah air, juga mengamalkan beberapa wirid. Hizbur-Rifa‘i, Hizbul-Bahr, Hizbun Nawawi, dan lain-lain doa dipompakan dalam Riyadhah yang berbentuk Latihan-Rohani itu.

Dalam banyak kesempatan, K.H.A. Wahid Hasyim menjelaskan isi ramalan Ranggowarsito tentang Joyoboyo, bahwa Jepang hanya seumur jagung dalam menguasai Indonesia. Kepercayaan itu haruslah dijadikan dorongan untuk berjuang. Diinsyafkan kepada masyarakat bahwa perjuangan hendaklah jangan disandarkan pada ramalan-ramalan. Perjuangan itu harus disandarkan kepada penyusunan kekuatan lahir batin, pengorganisasian, dan tawakkal kepada Allah SWT.

Berhubung dengan tertangkapnya K.H. Mahfuzh Shiddiq, ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama oleh Jepang, maka pimpinan diambil alih K.H.A. Wahab Chasbullah sehari-hari didampingi oleh Hasyim. K.H.A. Wahid Hasyim menggerakkan suatu kampanye ditujukan kepada dunia pesantren dan alim ulama. Kampanye itu bernama Mahadi Nashrillah terdiri 3 fasal:

1. Tazawuru ba’dhuhum ba’dha, artinya: Saling kunjung mengunjungi dan mempererat persatuan.

2. Tawashaw bi al-haqqi wa tawashaw bi as-shabri, artinya: Saling memberi nasehat tentang kebenaran dan ketabahan berjuang.

3. Riyadhah Ruhaniyah, artinya: Memperdekatkan diri kepada Allah untuk memohon pertolongan-Nya sambil memperbanyak wirid, hizb, dan doa.

Sejak permulaan Mei tahun 1945, aku sering berada di Jakarta. Di markas tertinggi Hizbullah selalu berkumpul beberapa ulama dan tokoh-tokoh umat Islam. Di antaranya: K.H.A. Wahab Chasbullah, KH.A. Wahid Hasyim, Zainul Arifin, KH. Dahlan, KH. Abdul Halim Majalengka, K.H. Sanusi Bogor, K.H. Masykur Malang, K.H. Mustofa Kamil Singaparna, K.H. Abdulkahar Muzakkir, Mr. Muhammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, dan lain-lain. Mereka selalu membicarakan situasi yang semakin gawat bagi Jepang, baik dalam segi politik, ekonomi, maupun militer.

Suatu hari, seorang pemuda Ansor Jakarta, Fatoni, memberitahukan kepadaku bahwa seorang petani bernama Husin akan minta berjumpa dengan K.H.A. Wahid Hasyim. Bertemulah dua orang ini, lama mengadakan pembicaraan. Setelah petani itu pergi, K.H.A. Wahid Hasyim memberitahukan kepadaku bahwa dia adalah Tan Malaka, orang terkemuka dalam memimpin gerakan di bawah tanah melawan Jepang. Guru Adam Malik dan Chairul Saleh, katanya.

Dari berita-berita radio yang dapat kita sadap mengabarkan bahwa beberapa pulau di lautan Pasifik sebelah selatan di sekitar Salomon yang diduduki Jepang, satu demi satu jatuh ke tangan Amerika. Jenderal Mc. Arthur panglima Sekutu telah mendekati Filipina. Kepulauan Jepang terutama Tokyo sudah mulai dibom oleh Amerika. Sementara ekonomi dan kekuatan militer Jepang semakin payah, gerakan anti Jepang bertambah meluas di seluruh Indonesia.

Ada sementara pemimpin Indonesia yang masih taat kepada Jepang dan percaya atas janji￾janji Jepang bahwa Indonesia akan dimerdekakan kelak bila perang Asia Timur Rayanya Jepang mencapai kemenangan. Tetapi sebagian pemimpin yang lain K.H.A. Wahid Hasyim termasuk di dalamnya menganggap bahwa Jepang akan mengalami kekalahan, dan oleh sebab itu Kemerdekaan Indonesia harus kita rebut pada saat yang dipandang paling tepat. Saat yang paling tepat inilah yang selalu menjadi bahan pembicaraan dan musyawarah di antara pemimpin dan kalangan pemuda.

Untuk persiapan menjelang Indonesia Merdeka, daerah-daerah harus disiapkan, baik mental maupun organisasi perjuangannya. Indonesia Merdeka harus direbut di Jakarta, tetapi harus dibarengi secara serentak oleh perjuangan di daerah-daerah, agar Jepang tidak sempat memusatkan kekuatannya, dan agar perhatian Jepang menjadi terpecah-pecah.

Secara lahiriyah, rakyat Indonesia dalam keadaan sakit dan menderita sangat parah, akibat penindasan penjajahan Jepang selama 3½ tahun. Akan tetapi secara mental dan semangat, daya juangnya semakin dahsyat menyala-nyala. Kepala tidak lagi menunduk, tetapi tegak ke atas dengan mata memandang ke depan melihat suatu harapan besar, bahwa zaman baru akan segera tiba.

Untuk tugas inilah kami tinggalkan Jakarta. Kami serombongan petugas disebar ke daerah-daerah, ada yang ke Jawa Timur dan ada yang ke Jawa Barat. Aku mendapat tugas ke Jawa Tengah. Aku singgahi Pekalongan dan Purwokerto. Dalam menuju Magelang, aku singgahi Wonosobo dan Parakan, dua kota di pegunungan yang amat strategis, siapa tahu perjuangan akan memakan waktu lama dan diperlukan suatu daerah yang memiliki daya tahan untuk berjuang. Daerah ini kecuali padat penduduknya, terpencar desa-desa di balik pegunungan yang beratus-ratus jumlahnya, juga terkenal sebagai gudang makanan.

Baru dua hari aku tiba di Magelang aku jatuh sakit. Aku pulang ke rumah di Purworejo dalam keadaan sakit. Agaknya karena bekerja sangat keras dan hampir tidak pernah istirahat.

Badanku sangat lemah seperti tidak mempunyai kekuatan sedikit pun. Aku cuma berbaring di bawah pengawasan Dokter Sutikno. Tetapi pikiranku jauh menjangkau ke mana-mana.

Dalam keadaan sakit, aku kedatangan dua orang pembesar Jepang yang aku sudah kenal. Mereka tidak datang bersamaan tetapi sendiri-sendiri. Aku sangat heran begitu baik si Jepang ini menengokku sakit. Dan lebih heran lagi karena ada sesuatu yang sangat aneh buatku. Dia seorang pembesar Jepang di Magelang, namanya Machuda, aku tidak perdulikan apa nama depannya, aku cuma tahu namanya Machuda, begitu saja. Yang membuat aku melihatnya aneh karena dia datang dengan mengenakan kain sarung dan peci hitam. Mimpikah aku? Dia datang dengan menyerahkan sebuah bungkusan buatku. Aku buka di depannya, ternyata isinya… bahan baju satu stel. Dia mendoakan aku semoga aku lekas sembuh. Tidak banyak bicaranya, lalu segera minta diri. Tidak lama kemudian datang lagi seorang pembesar Jepang, yang aku kenal namanya tuan Oya. Dia biasa saja, masih berpakaian seragam militer. Dia tidak membawa bungkusan seperti Machuda. Tetapi dia datang untuk berpamitan bahwa pertemuannya denganku mungkin yang terakhir kalinya. Karena aku dalam keadaan sakit, aku malas saja berbicara panjang-panjang, dan dia sendiri pun tampak tergesa-gesa. Ketika berjabatan tangan denganku menjelang pulang, ia memegang tanganku lama sekali, sambil air matanya berlinang-linang. Aku jadi bingung dan merasa sangat aneh terhadap peristiwa itu, apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Baru setelah satu jam kemudian, melalui siaran radio dari Jakarta, aku mendengar berita bahwa Bung Karno-Hatta telah memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Aku seperti baru siuman dari pingsan atau mendusin dari ngelamun mendengar siaran radio itu. Antara percaya dan tidak. Aku berusaha untuk mengumpulkan semua ingatanku tentang apa yang terjadi di Jakarta sebelum aku tinggalkan. Mengapa secepat itu berlangsung? Apa sebenarnya yang telah terjadi di sana?

Aku menangis! Iba rasa hatiku, justru dalam detik-detik paling penting dalam sejarah bangsa kita, saat yang telah lama aku nantikan dengan penuh kesabaran dan penderitaan, tiba-tiba aku berada di tempat yang jauh dari pusat kejadian itu, jauh dari Jakarta pusat perjuangan. Lama aku termenung. Berangsur-angsur datang suara dari batinku, aku tidak boleh menyesali apa yang terjadi. Semua ini karena suratan takdir. Aku ditakdirkan harus sakit. Berangsur-angsur aku menata hatiku untuk sabar dan tawakal.

Hari itu memasuki minggu ke-3 bulan Ramadhan. Akan tetapi derita lapar karena berpuasa terasa nikmat sekali. Rasanya, belum pernah dalam hidupku merasakan lapar tetapi nikmat dan bahagia seperti ketika itu. Semua ini lantaran pengaruh dan berkahnya kemerdekaan.

Aku merasa sekonyong-konyong menjadi sehat kembali, kontan merasa sembuh seketika dari sakitku. Aku mengambil sepeda untuk menemui beberapa teman.

Alam pun tampak cerah berseri, tidak tampak kelesuan suasana puasa yang biasanya lunglai. Sepanjang jalan penduduk mengibarkan bendera merah putih, ada yang terbuat dari kain dan banyak pula yang terbuat dari kertas saja. Gelak tawa kedengaran di mana-mana, mereka riang gembira dan tampak amat bahagia. Muka-muka jadi bersinar, amat bebas bicaranya menghalau rasa tertekan selama 3½ tahun. Seenaknya saja keluar dari mulutnya mencaci Jepang dan mengutuknya dengan amat leluasa. Pada dada mereka tersemat lencana Merah Putih, ada yang terbuat dari kain, logam, dan juga dari kertas, pokoknya asal ada tanda Merdeka, Merah Putih. Bila berpapasan satu dengan yang lain meneriakkan pekik ‘Merdeka’ dengan mengepalkan tinjunya yang disambut dengan kepalan tinju yang maunya lebih gede lagi dengan mulutnya meneriakkan ‘Merdeka’ lebih nyaring. Kadang-kadang teriakan pekik itu amat mendadak tersentak, membuat orang jadi kaget seketika, lalu masing-masing melemparkan tawanya sambil menyeringai. Pokoknya semuanya senang dan bahagia.

Masjid dan surau penuh orang melakukan sembahyang Tarawih, malam-malam jadi tampak hidup dengan lampu-lampu menerangi tiap rumah dan jalan-jalan. Orang berkerumun-kerumun di mana-mana seperti laron keluar dari sarangnya. Dunia seperti baru lahir dari kandungan Kemerdekaan setelah penderitaan lahir batin sekian lamanya di bawah kecemasan yang gelap.

Aku kumpulkan teman-teman yang selama ini membantuku dan membantu rumah tanggaku tiap kali aku tidak ada di rumah. Datanglah Kiai Haji Jamil, Solichun, Ustadz Ridwan, dan Mawardi Ichwan. Menyusul Sayyid Muhammad dan Haji Ashari. Mereka inilah orang-orang yang selalu aku mintai pertimbangan dan pendapat bila aku menghadapi kesulitan-kesulitan.

Aku ingatkan kepada mereka bahwa kita jangan menjadi lengah, tenggelam di saat senang dan bahagia. Perjuangan baru akan mulai. Hingga jauh malam menjelang sahur kami berbincang-bincang membicarakan hal-hal yang bersangkut paut dengan segala kemungkinan.

Dua hari kemudian aku menerima kawat K.H.A. Wahid Hasyim untuk datang ke Jakarta. Beliau adalah Menteri Negara dalam pemerintahan baru yang dibentuk setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kepada Solichun, pemimpin Hizbullah aku pesankan, agar anak buahnya tetap terhimpun dan selamanya dalam keadaan siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Aku tinggalkan kotaku menuju Jakarta, Ibu Kota Republik Indonesia.

Allahu Akbar wa lillahi al-hamd! Allah Maha Besar,

Selamanya Maha Terpuji!!!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: