Diambang Pintu Pesantren

Kalau saja di depan kelas bertengger jam dinding, pastilah jalan menit-menit itu akan kuhitung satu demi satu dalam tarikan nafas panjang. Lama benar rasanya menanti waktu pulang. Tetapi jam dinding itu tak pernah ada. Biar jam tua sekalipun. Tak ada seorang pun anak-anak memiliki jam. Itu bukan zamannya anak-anak memiliki jam. Itu satu kemustahilan. Tak terjangkau dalam angan-angan kami memiliki jam, melebihi tak terjangkaunya berpikir memiliki sepasang sepatu. Jam itu cuma dimiliki ndoro Guru yang disimpan baik-baik di kantong baju jasnya di sebelah kiri atas diikat dengan rantai peraknya yang mengkilap melintang pada lobang baju. Tapi yang paling keramat tentulah arloji milik ndoro Mantri. Begitu jarum arloji keramat ini menunjuk angka 12, otomatis saja ndoro Mantri  membunyikan bel panjang, pertanda bahwa waktu pulang sekolah tiba. Serentak seluruh kelas gemuruh memecah telinga, anak-anak jadi liar, hiruk-pikuk saling berdahulu hendak pulang, saling mendesak, saling berteriak. Terlepaslah rasanya dari siksaan menanti. Aku terus lari menuju pulang, ingin segera tiba di rumah.
Sebenarnya, sejak pagi aku malas benar pergi sekolah, sejak Ibu memberi tahu bahwa lepas dzuhur, sepulang dari sekolah, Ayah akan mengantarkan aku rnasuk madrasah atau “sekolah Arab” istilahnya waktu itu. Makanya penat benar aku menghitung waktu, menit-menit itu berjalan seperti merangkak, lambat sekali. Lekaslah hari menjadi siang, lekaslah datang waktu dzuhur, supaya lekas aku diantar Ayah rnasuk madrasah. Sudah berminggu-minggu aku memohon Ayah, agar dimasukkan madrasah yang baru saja dibuka di kampungku, Sukaraja. Madrasah baru itu diasuh Ustadz Mursyid.
Nama madrasah itu bagiku sangat mentereng. “Madrasah Al-Huda Nahdhatul Ulama.” Bukan saja mentereng, tapi sangat aneh. Di kampungku biar telah ada 3 – 4 buah madrasah- atau tepatnya “sekolah Arab” – tapi satu pun tidak ada yang diberi nama. Cukup disebut saja “sekolah Arab” Karangbangkang atau “sekolah Arab” Kebonkapol. Artinya, “sekolah Arab” yang terletak di kampung Karangbangkang ataupun di kampung Kebonkapol. Tapi satu ini bukan main kampiunnya, punya nama yang mentereng, “Madrasah Al-Huda Nahdhatul Ulama.” Bukan main!
Selalu saja Ayah dan Ibu berbincang-bincang mengenai permohonanku memasuki madrasah yang jempolan ini. Bukan lantaran Ayah tak setuju, apa lagi anti. Beliau sendiri orang pesantren dan fanatik “sekolah Arab.” Soalnya menyangkut uang pembayaran Madrasah Al-Huda yang 25 sen sebulannya, padahal umumnya “sekolah Arab” cuma 3 sen sebulan. Itu bukan uang pembayaran, sekedar grabagan. Yang menyebabkan Ayah jadi musykil, di mana lagi dicari uang 25 sen tiap bulan, belum lagi yang 10 sen uang bayaran sekolahku di waktu pagi, Sekolah ongko loro. Aku dengarkan ketika Ayah menjelaskan kepada Ibu, jadi kalau anak ini pagi sekolah ongko loro dan siang sekolah Madrasah Al-Huda, kita harus sediakan tiap bulan uang pembayaran 35 sen. Dari mana lagi uang mestidicari? Hingga di sini pembicaraan terhenti, Ibu cuma bisa melongo.
Memang benar, sudah berminggu-minggu aku memohon Ayah masuk Madrasah Al-Huda. Permohonan ini sudah meningkat menjadi tuntutan dan desakan. Kalau perlu, biarlah aku keluar saja dari sekolah ongko loro untuk meringankan beban Ayah. Tapi Ibu selalu menasihati, kau baru di kelas 3, tak baik kalau keluar, biarlah teruskan hingga tamat kelas 5.  Aku setuju kau masuk madrasah, bagaimana caranya biarlah Ibu bicarakan dengan Ayah  kalau nanti ia lagi cerah.
Pernah aku lakukan mogok makan di rumah (meski diam-diam aku makan juga di rumah bibi), agar tuntutanku masuk madrasah dikabulkan Ayah. Walaupun aku tahu juga bahwa  uang madrasah 25 sen tiap bulan itu bagi Ayah merupakan masalah besar. Tapi, teman-temanku sebaya sudah banyak yang masuk Madrasah Al-Huda. Pukul 12 pulang dari sekolah ongko loro, pukul 2.30 pergi ke Madrasah Nahdhatul Ulama Al-Huda. Aku tak  mau ketinggalan dengan teman-teman yang lain. Biarlah risiko aku tanggung. Biasanya, sepulangku dari sekolah, sehabis makan siang dan shalat dzuhur, ada sedikit waktu bermain dengan teman-teman. Kalau tidak main sepak bola, main layang-layang atau cari ikan di sungai. Jika waktu ashar tiba, aku pergi membawa dua ekor kuda peliharaan Ayah  untuk dimandikan di sungai. Habis ini memotong-motong rumput dan rendeng buat  makanan kuda. Ayah memiliki dua ekor kuda penarik delman mencari muatan penumpang.
Kadang-kadang delman disewa penumpang ke Banyumas atau Purwokerto. Hasilnya, tiap hari rata-rata sekitar 50 sen kotor, dari keringat dua ekor kuda. Itu aku tahu dari laporan Ayah kepada Ibu tiap kali memberikan penghasilan delman. Jika aku jadi masuk Madrasah  Al-Huda, biarlah aku korbankan waktuku bermain-main, akan kupergunakan untuk tugas  rutin memandikan kuda dan memberi mereka makan sebelum aku berangkat ke madrasah. Jarak kurang lebih 1 1/2 km dari rumah ke Madrasah Al-Huda, kalau perlu biarlah aku  tempuh dengan berlari-lari.
Betapa asyiknya kalau aku lagi melamun menjadi murid Madrasah Al-Huda. Nyatanya, Ayah dan Ibu masih saja berbincang-bincang jadi tidaknya aku dimasukkan Madrasah Al-Huda.  Dongkolku bukan main kalau si Muslim, temanku mengaji petang di Langgar Kiai Khudori  menghiburku dengan katanya, enakan kita tak usah masuk Madrasah Al-Huda, biar kita bisa  puas bermain-main.
Lama kucium tangan Ibu, keduanya, berganti-ganti tatkala di suatu pagi beliau memberi  tahu, semalam Ayah sudah mengambil keputusan, hari ini, Rabu siang lepas dzuhur, aku  akan diantar Ayah menghadap Ustadz Mursyid memasuki Madrasah Nahdhatul Ulama Al- Huda. Aku ingat betul hari itu hari Rabu, karena Ayah pernah katakan, belajar mengaji  sebaiknya dimulai pada hari Rabu. Biasanva, menjelang berangkat sekolah dekat pukul 7,  Ibu memberi aku uang saku satu sen sebagai pengganti sarapan pagi. Pagi itu aku katakan  dengan amat sopan, biarlah Ibu tak usah memberi aku uang jajan. Seolah-olah merupakan  imbalan kelembutan hati Ibu yang berhasil menaklukkan hati Ayah. Mau aku tak usah masuk  sekolah sehari saja untuk membantu-bantu Ibu di rumah, atau disuruh apa saja sebagai  imbalan jasa Ibu yang telah berhasil melunakkan hati Ayah. Tapi Ibu menyuruhku berangkat  saja ke sekolah, toh waktu ke Madrasah Al-Huda masih cukup lama. Lepas pulang dari sekolah.
Nama Madrasah Al-Huda dan permmpinnya Ustadz Mursyid amadah kuat berkesan di hatiku. Al-Huda, artinya petunjuk Allah, siapa tidak menggandrungi ini? Semua orang memerlukan petunjuk jalan, siapa saja. Dari tukang becak sampai antariksawan. Dari wong  cilik sampai Bapak-Bapak Pemimpin. Dan kalau memperoleh petunjuk Allah, mana bisa  sesat jalan? Dalam fantasiku, angan-angan masa kanak-kanak, dari Al-Huda aku akan  memperoleh suatu petunjuk bagaimana naik jenjang menjadi orang. Aku tak pernah  berkhayal menjadi orang besar, hanya Ibu sering menanamkan pengertian padaku, “Jangan mau jadi orang yang sengsara, padahal orang bodoh paling sengsara hidupnya,” demikian kata-kata Ibu yang paling membekas.
Sejak lama, secara diam-diam aku jatuh simpati kepada Ustadz Mursyid. Hati ini sudah jadi satu dengan beliau, walaupun aku belum menjadi rnuridnya. Kenal pun padaku beliau sama sekali tidak. Aku mencintainya bahkan mengaguminya. Belum pernah rasanya aku melihat seorang lelaki segagah beliau. Beliau mempunyai kegemaran sport jalan kaki. Langkah kakinya pasti, kuat, dan tegap menambah kejelasan tubuhnya yang atletis. Kulitnya kuning
langsat menambah pancaran wajahnya yang cerah dan segar. Suatu kombinasi yang harmonis dari profil seorang pria yang ganteng dan gagah. Sesekali beliau lewat di muka rumahku dengan mengayuh sepeda balap “Hima,” sambil menganggukkan kepala membalas orang-orang yang menabik kepada beliau. Alangkah laki-lakinya orang ini! Aku memperoleh banyak informasi tentang tokoh yang aku kagumi ini. Begini ceritanya:
Di sebelah rumahku ada warung tukang gunting rambut namanya Abdulbasir. Seperti lazimnya kota-kota kecil di mana-mana, tempat tukang gunting rambut selamanya menjadi markas tukang-tukang ngobrol dari segala macam lapisan. Orang senang parkir di sana berjam-jam mengobrol dan mendengarkan obrolan. Saling tukar-menukar informasi. Banyak juga berserakan koran-koran basi dan majalah-majalah. Ada di sana harian ‘Pemandangan”
pimpinan M. Tabrani. Ada pula koran Melayu-Tionghoa “Sin Po” dan “Matahari”. Jangan kaget, ada juga harian politik yang radikal (tentu membacanya sembunyi-sembunyi) namanya “Indonesia Berjoang” entah siapa pengasuhnya tak ingat lagi. Majalah tua pun tak kurang-kurangnya berserakan cli bangku bambu panjang. Ada majalah Islam populer “Panji-Islam” pimpinan Z. A. Achmad dan Medan. Ada juga majalah politik “Mustika” seingatku asuhan H.O.S. Cokroaminoto. Tapi ada juga sebuah majalah yang sudah kumal dan tak karuan lagi lembarannya yang paling digemari tukang-tukang parkir itu, namanya “Fikiran Rakyat” dari Bandung. Seingatku, majalah yang belakangan ini asuhan Ir. Sukarno dan Gatot Mangkupradja. Aku masih ingat betul, tiap orang yang akan menyentuhnya lebih dulu
menjenguk keluar jendela sambil menanyakan “Ada polisi lewat apa tidak?” Pemandangan di sekeliling tukang gunting rambut itu masih kuingat betul, karena saban kali aku suka menyelinap di sana sebagai bocah yang turut parkir. Aku senang sekali berjam-jam menyelinap di sana. Tentu saja kalau pekerjaanku memberi makan kuda Ayah dan membersihkan kandangnya telah aku rampungkan.
Suasana di sekeliling tukang gunung rambut sekitar tahun 1929-an itu masih segar dalam ingatanku. Bahkan orang-orang yang jadi langgananku parkir di sana masih kuingat betul. Abdul Fattah, guru “sekolah Arab” yang pandai menggesek biola, pemegang peran utama kalau lagi main gambus. Abu Suja’i, pemain rodad dan tukang penatu yang paling banyak “omong politik.” Achmad Syuhada, pemain sepak bola “back dalam” pengagum Kiai Abdul
Wahab Chasbullah. Muhammad Akhsan, tukang gunting rambut keliling yang juga suka parkir di sana, ia pendebat yang kritis dan jenaka. Kalau kelompok tukang-tukang ngobrol ini sudah berkumpul, biasanya Abdulbasir (sahibul bait), menjadi moderatornya. la bijak dan banyak senyum, pantas pandai mengemong.
Dari orang-orang ini aku banyak belajar, dan dari mereka pula aku memperoleh informasi tentang Ustadz Mursyid.
Mula pertama orang di kampungku cuma mengenal namanya Mas Mursyid, pemuda tampan dari Solo yang diambil menantu seorang hartawan (saudagar batik) di kampungku. Orang cuma mengenalnya sebagai pemain sepak bola yang hebat. Dalam tiap pertandingan, klub mana saja Mas Mursyid berada, hampir bisa dipastikan mesti menang. Permainannya sportif, tenang, dan tangguh. Tempatnya hampir selamanya dipasang sebagai gelandang tengah, menjaga benteng di belakang dan membagi bola kepada penyerang. Jika gawang bisa diselamatkan dari serangan musuh adalah berkat ketangguhan Mas Mursyid, si palang pintu. Sebaliknya kalau saja bisa mencetak gol ini disebabkan karena operan yang diberikan Mas ini. Alhasil orang Solo satu ini merupakan favorit, kesayangan orang Sukaraja, kampungku.
Adapun pekerjaannya sehari-hari rnendampingi istrinya berjualan batik di pasar, melayani pembeli. Tukang jual batik di pasar terkenal orang-orang yang paling pandai memikat pembeli. Orang yang lalu-lalang begitu banyak di pasar bisa diketahui siapa-siapa di antara mereka bakal jadi pembeli. Naluri pedagang batik terkenal tajam, seperti radar. Lirikan mata orang yang lewat di muka kiosnya bisa dibedakan yang mana lirikan pembeli dan yang mana cuma lirikan lewat saja. Kalau sudah menemukan lirikan yang bermakna, mereka tidak membiarkan pembeli ini berlalu. Macam-macamlah daya tariknya. Pura-pura pinjam geretanlah, tanya keselamatan anak-istrinyalah, pendek kata, macam-macam pertanyaan yang akrab. Pembeli yang telah hinggap di kiosnya, dipeluknya dengan mesra, diperlihatkan betapa halus kualitas batiknya, biar bukan tulis dia katakan tulis halus. Cuma tidak dijelaskan saja bahwa batik cap juga tulis, cuma tulisannya pakai canting selebar 20 cm. Memang tulis, masak batik dibordir? Dirayunya calon pembeli, bahwa batik ini hasil babaran Raden Ayu Anu. Lihat saja betapa kuat soganya, betapa halus morinya, betapa lebarnya kain ini seperti sawah dan panjangnya seperti jalan raya…!
Aneh dan mengherankan, Mas Mursyid sebagai pedagang batik tidak banyak tingkahnya. Dia orang lugu, melayani calon pembeli secara wajar. Dia tak pandai mengobral omong. Apa adanya. Batik cap dikatakan cap dan batik tulis dikatakan tulis. Bahkan kalau terdapat cacat, misalnya di sebelah pinggir tidak rata gambar dan motifnya disebabkan karena kemungkinan terlipat lilinnya hingga pecah, dia katakan terus terang pada calon pembelinya. Karena Mas Mursyid tak pandai memikat calon pembeli dengan mengobral omongan, tidak heran kalau kiosnya selalu sepi. Waktu yang lengang ini dipergunakan Mas Mursyid untuk membaca kitab. Bukan kitab sembarang kitab, apalagi buku roman, tetapi kitab Agama Islam. Istilahnya muthala ‘ah Kitab. Bayangkan, alangkah ganjilnya orang Solo ini. Pemain sepak bola yang jempolan, tetapi kok muthala’ah kitab…! Betul-betul orang ajaib, misterius!
Muthala’ah kitab kok di tengah pasar. Begitu ujar banyak orang.
Tiap bulan sekali di Sukaraja diadakan Pengajian Khusus. Itu terjadi pada tahun 1928-an. Pengajian untuk para kiai. Orang awam yang bukan golongan kiai boleh saja hadir sebagai pendengar. Dari hampir seluruh daerah Banyumas, para alim-ulama datang menghadiri Pengajian Khusus ini. Mereka masing-masing membawa kitab yang sudah disepakati. Kitab Tafsir Al-Baidlawi, kitab Hadits Al-Bukhari, kitab Ikya al-‘Ulum ad-din,dan kitab tasawuf Al-Hikam, adalah serangkaian kitab-kitab besar yang punya daya hidup. Apalagi kalau dibaca di hadapan berpuluh-puluh kiai, semuanya membuka halaman-halaman kitab yang lagi dibaca, semua menyimak dengan amat seksama. Sedikit saja salah membacanya, misalnya “Al-hamdu” (akhiran”u”) dibaca “Al-hamda” (akhiran “a”), hoo,… hoo bisa pecah suara koor menyalahkan, serentak memberikan koreksi. Sebab salah baca akhiran ini bisa menimbulkan kesalahan tentang makna, akhiran itu menentukan fungsi kata yang dibaca, bisa berfungsi pelaku, bisa penderita, bisa pula kata sifat dan sebagainya. Salah arti ini bisa menimbulkan konklusi yang fatal tentu saja. Makanya, kalau cuma “setengah kiai”, jangan coba-coba memberanikan diri membaca di muka kiai-kiai, keringat dingin bisa mengucur!
Di antara kiai yang hadir dan ikut menyimak, adalah Kiai Raden Iskandar. Jenggotnya yang lebat hitam mengkilat dipeliharanya dengan baik, dengan baju jas tutup berwarna purih bersih menambah jernih wajahnya yang dihiasi goresan hitam di keningnya, pertanda orang ini mempunyai bekas banyak bersembahyang, atsar as-sujud. Pecinya yang hitam selalu dilekuk bagian depan sedikit ke bawah, model peci H.O.S Cokroammoto, menambah wibawa. Ini kiai paling teliti menyimak, kalau saja terdengar salah baca, kontan beliau koreksi. Tidak cukup hanya menunjukkan di mana letak kesalahan bacanya, tetapi beliau akan jelaskan sedikit panjang letak kesalahan tadi. Ada kiai lain, namanya Kiai Ahmad Bunyamin. Orangnya tenang sekali, wajahnya kehitam-hitaman tetapi sangat bersih dengan tanda atsar as-sujud di keningnya pula. Kegemarannya memakai jas tutup warna putih dengan leher tinggi, berkain batik halus. Beliau menyimak tiap kitab suci yang sedang dibaca sambil menunduk seolah-olah menelusuri huruf demi huruf. Selalu menunduk dalam menyimak. Tapi jika saja beliau menegakkan kepala, orang menjadi paham bahwa ada sesuatu kesalahan telah terjadi. Seperti otomatis saja, tiap kali Kiai Ahmad Bunyamin menegakkan kepalanya, suasana hening menjadi terganggu dengan timbulnya sedikit berisik, dengan demikian kiai yang sedang membaca kitab jadi sadar bahwa terjadi sesuatu kesalahan. Satu lagi kiai yang bertubuh kecil, duduknya paling depan. Namanya Kiai Zuhdi. Ini orang terkenal sebagai kiai paling radikal. Kalau saja terjadi kesalahan baca, kontan saja beliau teriak nyaring “Huuuuuuuut, stop, stop!” Kalau mental tidak kuat-kuat benar, orang bisa jadi kelabakan dibuatnya.
Dengan demikian, tidaklah mudah mencari seorang kiai yang dipandang paling jempolan di antara mereka. Harus yang paling alim, benar-benar telah teruji kedalaman serta keluasan ilmunya, dan tentu saja dengan sendirinya yang paling berwibawa. Terpilihlah pada suatu hari dari antara 70-an orang kiai pengunjung Pengajian Khusus ini, seorang ulama yang tua segala-galanya, yakm Kiai Haji Akhmad Syatibi. Beliaulah sesepuh ulama. Beliau terpilih sebagai Guru dalam Pengajian Khusus itu yang dibebani membaca Tafsir Al-Baidlawi, Hadits Al-Bukhari, dan al-Hikam. Bukan sembarang kitab bacaan biasa, itu tergolong kitab- kitab referensi.
Mula-mula Kiai Akhmad Syatibi menolak dengan gigih, alasannya cuma: “La, la, kula mboten saged, Laaa” (saya tidak bisa kok). Lama sekali tawar-menawar, tetapi karena didaulat secara aklamasi, beliau lalu terima. Hanya dengan syarat. Syaratnya ialah: minta didampingi oleh 4 orang kiai, masing-masing Kiai Raden Iskandar, Kiai Akhmad Bunyamin, Kiai Zuhdi, dan… Kiai Mursyid, alias Ustadz Mursyid, alias Mas Mursyid!
Orang heran Mas Mursyid menjadi pendamping Kiai Akhmad Syatibi!
Kehadirannya dalam Pengajian Khusus ini saja sudah menimbulkan keheranan. Hadir bukan sebagai “tukang nguping,” tetapi hadir sebagai kiai yang ikut mengaji. Datang dengan membawa kitab-kitab besar yang menjadi balagh dalam pengajian kiai itu. Duduk dalam deretan kiai-kiai terkemuka di depan. Baru belakangan diketahui, bahwa kehadirannya memang diminta oleh Kiai Akhmad Syatibi. Agaknya di seluruh daerah Banyumas hanya Kiai Akhmad Syatibi yang mengetahui bahwa Mas Mursyid adalah sebenarnya seorang ulama. La ya’rif al- ‘ulama illa al- ‘ulama, tak ada yang mengerti ulama kecuali hanya ulama.
Jadi tidak mengherankan kalau banyak orang bertanya-tanya kehadiran Mas Mursyid, apalagi dengan ditunjuknya sebagai pendamping Kiai Akhmad Syatibi. Yang paling heran tentulah klub tukang gunting rambut Abdulbasir. Suatu ketika yang tak mudah dilupakan pada saat Kiai Akhmad Syatibi membaca dalam Pengajian Khusus sebulan sekali. Seperti biasanya, kampungku jadi kebanjiran alim-ulama dari hampir seluruh daerah Banyumas. Tiap ulama yang hadir sedikitnya membawa pengiring 3-5 orang. Bayangkan kalau yang hadir 70-an ulama.
Belum lagi masyarakat Sukaraja yang berduyun-duyun ikut membanjiri pengajian ini sebagai peninjau. Suasananya jadi seperti ada kongres. Masyarakat bertambah hidup, dan syiar Islam lebih dinamis dibuatnya.
Dengan beberapa teman aku menyelinap di sana. Kehadiran anak-anak tentu saja bukan bermaksud hendak ikut mengaji Tafsir At-Batdlawi, itu kan kajian para kiai. Kami datang sekedar mau menonton kiai-kiai pada ngaji. Daya tangkapku terhadap pengajian sekadar daya tangkap anak-anak seusia 9 tahun. Tetapi setelah aku menginjak dewasa, pengalamanku ketika anak-anak ini lalu diperlengkapi dengan hasil pertumbuhan usia dan informasi kiri kanan tentang dunia ulama, hingga akhirnya aku bisa membuat kesimpulan tentang tokoh-tokoh yang aku kagumi, khususnya tentang Ustadz Mursyid.
Kadang-kadang dalam Pengajian Khusus itu, Kiai Akhmad Syatibi menjumpai kemusykilan tentang isi kitab yang sedang dibaca. Saat-saat demikian beliau lalu tertegun sejenak. Pandangannya ditaburkan kepada 4 orang kiai pendampingnya. Tapi pandangan pertama tak jarang ditujukan kepada Ustadz Mursyid sambil menanyakan “Bagaimana yang ini, Kiai?” Atau kalau saja kebetulan terjadi sedikit keraguan dalam mengartikan isi kitab yang
dibacanya, Kiai Akhmad Syatibi memalingkan pandangannya kepada Ustadz Mursyid sambil katanya: “Bukan begitu, Kiai?” Yang ditanya tegas saja jawabannya: Inggih leres mekaten, memang benar demikian! Saat demikian sering membuat orang yang cuma mengenal Ustadz Mursyid sebagai pemain bola jadi melongo, saling memandang satu sama lain, apa-apaan ini?
Pukul 12 waktu dzuhur pengajian selesai. Minuman dihidangkan. Masing-masing kiai cepat-cepat mengeluarkan slepen dari kantong bajunya. Slepen itu sejenis kantong penyimpan tembakau yang dibuat dari anyaman daun pandan halus dengan ukuran rata-rata 15×10 cm. Di dalamnya disimpan kecuali tembakau, daun jagung kering dan lain-lain perlengkapan merokok komplit. Jangan lupa, rokok orang Banyumas, tentu pakai kemenyan dan klembak.
Buat rata-rata orang Banyumas, tanpa kemenyan dan klembak, bukan rokok. Kiai Raden Iskandar dan Kiai Akhmad Bunyamin masing-masing mengeluarkan slepennya komplit dengan klembaknya sebesar tinju, maklum bonggol klembak. Kiai Akhmad Syatibi biasanya melinting rokoknya ukuran cabe rawit saja, tapi Kiai Zuhdi ukuran rokoknya sebesar ibu jari. Kalau ditegur orang, rokoknya kok gede amat kiai, maka kiai yang satu ini (orangnya kecil tapi suaranya menggeledek) kontan menjawab: “Buat pukul setan!”
Ustadz Mursyid juga keluarkan slepennya dari kantong bajunya. Orang mengira tentu beliau akan keluarkan tlekem, yaitu sejenis tempat tembakau berupa kotak kecil biasanya terbuat dari logam putih, suatu kebiasaan golongan priyayi jika menyimpan perlengkapan rokoknya. Tetapi tidak! Ustadz Mursyid tidak menggunakan tlekem. Padahal orang Sukaraja dan Banyumas pada umumnya memandang Ustadz ini golongan priyayi, habis beliau kan orang
Solo! Ustadz Mursyid tidak mengeluarkan tlekem. Beliau keluarkan juga slepennya seperti orang-orang lain. Biasanya, golongan priyayi atau cabang atas, merokok tembakau “shag warning,” atau kalau tembakau biasa tidak pakai kemenyan dan klembak, tetapi cengkeh. Di dalam tlekem itu tersimpan juga gunting kecil mungil alat untuk memotong cengkeh kecil-kecil. Ustadz Mursyid tidak merokok tembakau “warning,” tapi tembakau biasa, tembakau Kendal atau Kedu. Tidak juga cengkeh, tetapi kemenyan dan klembak komplit. Salah seorang memberanikan diri menanyakan: Kerso klembak menyan? (Doyan juga klembak dan kemenyan?) Dengan senyum beliau menjawab: Kulo rak tiyang Banyumas (Saya ‘kan orang Banyumas juga!) Beliau tidak lagi merasa dirinya orang Solo. Beliau bukan orang asing di Banyumas. Beliau telah jadi orang Banyumas, telah manunggal sebagai orang Banyumas. Orang Banyumas merokok klembak, beliau juga merokok klembak. Padahal orang-orang yang mengenalnya dari dekat, ketika mula-mula beliau datang dari Solo kebiasaannya merokok cengkeh dan sesekali merokok putih atau tembakau “shag warning.” Setelah tinggal di Banyumas, beliau berbaur ke dalam kebudayaan Banyumas, hidup dengan tradisi Banyumasan. Kadang-kadang agak berlebihan kalau beliau bicara juga memakai dialek Banyumasan. Padahal orang Solo bahasa Jawanya bandek, halus, dan mempesonakan. Sebaliknya dialek Jawa-Banyumas pego dan kasar pating mbleketuk.
Kalau orang Solo bilang: kowe arep nyang ngendi Mas? Maka orang Banyumas akan mengatakan: Lha rika sih arep nang ‘ndi lhah. Makanya kalau Ustadz Mursyid berusaha untuk berbicara dengan dialek Banyumasan, orang jadi melihatnya sangat memelas, sudah halus kok mau jadi orang kasar. Saking kepinginnya manunggal jadi orang Banyumas.
Sejak peristiwa-peristiwa yang sering dijumpai dalam Pengajian Khusus itu, orang di kampungku tidak lagi memandang Mas Mursyid cuma pemain sepak bola. Semacam promosi jabatan atau peningkatan fungsi yang amat cepat sekali. Pengajian Khusus ini sebenarnya lebih mirip dengan diskusi besar untuk memecahkan berbagai masalah sehari-hari dalam masyarakat. Di sana kiai-kiai kelihatan bobot dan pamornya masing-masing. Kini beliau terpandang sebagai ulama, sebagai kiai. Orang tidak lagi memanggilnya dengan Mas Mursyid, tetapi Kiai Mursyid. Kadang-kadang Kiai Mas Mursyid. Tapi di kalangan anak-anak muda terutama para muridnya, lebih senang memanggilnya Ustad Mursyid. Beliau kan Ustadz, guru madrasah. Kalau kiai kan cuma guru mengaji di surau. Begitu alam pikiran anak-anak muda. Setelah dipromosikan jadi kiai, Ustadz Mursyid tidak lagi main sepak bola. Beliau merasa dunianya telah berganti. Demikian pula teman-teman bermain sepak bola menjadi kikuk juga bermain bola dengan kiai.
Aku ingin cepat sampai di Madrasah Al-Huda ketika diantar Ayah menghadap Ustadz Mursyid. Untuk diserahkan menjadi muridnya. Macam-macam pikiran di benakku membuat takut menghampiri madrasah ini. Macam-macamlah pertanyaan di kepala. Bagaimana kalau aku berhadapan dengan orang yang selama ini amat kukagumi, amat kucintai. Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaannya? Konon tutur katanya halus, padahal aku anak Banyumas, bukan anak Solo. Yang paling memenuhi pikiranku, bagaimana kalau aku diuji oleh Ustadz Mursyid? Semua anak yang masuk Madrasah Al-Huda dites dulu kepandaiannya, maksudnya tentu saja untuk memudahkan guru, di mana atau di tingkat mana anak tersebut ditempatkan. Aku memang sedikit-sedikit telah mempunyai kepandaian mengaji, tetapi sekedar pelajaran yang diberikan oleh Ayah dan pengajian di surau di malam hari. Kitab Al-Qur’an dan Barzanji sudah aku khatamkan, ditambah Kitab Sajznah setengah jalan. Kalau diingat-ingat, mengaji dengan Ayah paling susah. Sedikit saja Ayah membelalak, kontan saja aku gragapan, jadi serba salah. Kian dibenarkan Ayah kian tak bisa jalan. Rasanya jadi buntu. Sesekali Ayah menghardik dan katanya: “Matamu di mana?” mulutku tidak lagi bisa mengeluarkan suara, cuma air mataku yang membanjiri kedua pipiku. Ayah biasanya lalu menasehati lembut, lain kali pikiranmu pusatkan pada pengajian, jangan yang lain. Sudah cukup hari ini sekian. Aku malah tidak bisa beringsut dari tempat duduk. Baru aku meninggalkan tempat duduk setelah Ayah menanyakan: “Mau apa duduk di sisiku terus di situ? Sana bantu Ibumu!‖
Aku diterima menjadi murid Madrasah Al-Huda! Itu tahun 1929-an.
Selama Ustadz Mursyid bercakap-cakap dengan Ayah, aku pusatkan perhatianku pada ustadz ini. Wajahnya cemerlang, bahasanya sopan dan banyak senyum. Jelas benar keningnya sangat bersih dengan atsar as-sujud yang agak kehitam-hitaman, menandakan orang ini banyak melakukan sembahyang. Aku seperti terpukau oleh suatu kemusykilan. Apakah aku sedang berhadapan dengan seorang ulama ataukah seorang ndoro Mantri Guru? Beliau mengenakan blangkon dan baju beskap lurik. Teringat aku cerita anggota klub tukang gunting rambut Abdulbasir, bahwa kerika itu kaum pergerakan sedang melancarkan suatu gerakan swadesi. Semua orang yang mencintai tanah air dianjurkan memakai pakaian tenunan hasil kerajinan rakyat. Baju lurik dan peci lurik. Orang yang sedang asyik berbicara dengan Ayah ini menimbulkan pertanyaan di kepalaku., ini orang apa. Blangkonnya mengingatkan aku kepada ndoro Mantri, bajunya mengingatkan aku kepada kaum Pergerakan National, tetapi yang sudah jelas orang ini pemimpin Madrasah Al-Huda, bahkan seorang ulama terkenal.
Aku tak sanggup lagi berpikir mengenai teka-teki yang rumit ini. Aku bulatkan seluruh perhatianku bahwa aku diterima menjadi murid Ustadz Mursyid. Aku menjadi tilmidz Madrasah Al-Huda Nahdhatul Ulama. Habis perkara. Aku harus jadi murid yang baik, rajin dan senang belajar. Apalagi kalau diingat uang pembayarannya tiap bulan 25 sen. Uang sebanyak ini buatku adalah perkara besar yang hampir saja aku urung masuk Madrasah Al-Huda kalau saja tak ada peranan penting dari diplomat Ibu terhadap Ayah.
 



diambil dari: Guruku Orang-orang dari Pesantren Oleh KH. Saifuddin Zuhri (Menteri Agama I)

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: