Diskusi Kecil dengan Sang Doktor Fisika

Suatu ketika, saya pernah melakukan diskusi dengan seorang doktor Ilmu Fisika yang juga seorang dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Surabaya. Dalam forum diskusi yang bertajuk Padang Makhsyar itu ia mempertanyakan, sekaligus tidak setuju dengan upaya yang saya lakukan. Dia menganggap bahwa upaya penafsiran dari sisi ilmu pengetahuan modern terhadap kandungan ayat-ayat Quran sangatlah berbahaya. Karena. katanya, ilmu pengetahuan adalah sebuah proses penemuan yang bersifat empirik. relatif. dan terus berubah menuju penyempurnaan. Maka, lanjutnya, jika kita menafsirkan Quran dari sudut ilmu pengetahuan modern, kita tidak akan pernah menemukan pemahaman yang final terhadap Al Quran.

Bahkan beliau, yang doktor Fisika Elementer lulusan Hiroshima. Jepang itu, sempat menyebut saya telah terpengaruh oleh aliran Maurice Bucalism dari Prancis, yang mencoba menafsir-nafsir firman Tuhan yang serba mutlak dengan pendekatan ilmiah yang serba relatif. Menurutnya, tidak akan pemah memuaskan, dan bahkan sangat berbahaya. Katanya, cara itu hanya akan sekedar mempesonakan masyarakat awam saja. Tidak pernah menyentuh esensi pemahaman yang sesungguhnya!

Apa jawaban saya, ketika itu? Saya menjawabnya dengan kembali bertanya kepadanya: apakah ada penafsiran Quran yang kebenarannya sejauh ini bersifat mutlak? Semutlak Firman Allah? Jawabnya: pasti tidak ada. Memang Al Quran itu mutlak kebenarannya, tetapi ketika ditafsirkan oleh seorang manusia, menjadi relatif. Ya, namanya saja tafsir. Tentu tidak bersifat mutlak. Karena, penafsiran adalah sebuah upaya untuk menggambarkan: ‘kira-kira’ maksud Tuhan – dengan firman-Nya – adalah begini atau begitu. Kenyataannya, kita tidak pemah memahami kebenaran mutlak itu dalam kadar yang sesungguhnya.

Dalam sebuah penafsiran, apa yang kita kemukakan selalu bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang ilmu kita. Seorang ahli bahasa, tentu akan menafsirkan dengan dipengaruhi oleh kemampuan bahasanya. Seorang ahli hukum, tentu juga akan dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran ilmu hukumnya. Demikian pula seorang ahli Fisika, Biologi, Matematika, dan sebagainya.

Apa yang mereka lakukan itu, tidak lebih hanyalah sebuah upaya rekonstruksi saja. Para penafsir berupaya untuk memahami “Pikiran” Tuhan. Tetapi, kalau boleh saya bertaruh misalnya, saya jamin tidak ada yang bisa memahami “Pikiran” Tuhan itu 100 persen. Jangankan seratus persen, sepersejuta persen atau seper-satu triliun pun tidak. Terlalu naif dan kalau ada orang yang mengatakan, dan mengklaim. bahwa penafsiran dia itu adalah seperti yang dimaksudkan Allah. Orang yang demikian, bisa terperosok dalam kemusyrikan, karena ‘menyamakan’ ilmunya dengan ilmu Allah.

Maka, agaknya akan lebih baik kalau kita menghargai setiap penafsiran. Tentu saja yang bermaksud baik, dan memenuhi kaidah-kaidah penafsiran yang baik dan benar. Karena sesungguhnyalah kita sedang memotret “Pikiran” Tuhan itu dari berbagai sudut pandang yang berbeda, akibat keterbatasan kita sebagai manusia. Jangan menyalahkan seseorang yang mampunya memotret ‘Pikiran’ Tuhan itu dari samping kanan atau kiri. Jangan juga menyalahkan mereka yang mampunya memotret dari atas atau bawah saja, ataupun dari muka dan belakang saja. Karena setiap kita tidak memiliki kemampuan untuk memotret-Nya dari semua sudut pandang yang ada

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: