Generasi Z dalam Pusaran Industri Teknologi Digital

Meminjam istilah klasifikasi generasi yang dikemukakan Jon Stewart (cnn.com tanggal 1 September 2020), dengan merujuk dari berbagai publikasi popular, penduduk yang lahir tahun 1946-1964 mendapat sebutan Generasi Baby Boomers (masa angka kelahiran yang tinggi); penduduk yang lahir tahun 1965-1979 mendapat sebutan Generasi X; penduduk yang lahir tahun 1980- 1996 (kadang kala disebut tahun 2000) mendapat sebutan Generasi Millenial (Generasi Y); penduduk yang lahir tahun 1997 (kadang kala disebut tahun 2000) – sekarang mendapat sebutan Generasi Z. Generasi Z juga memiliki sebutan sebagai generasi post Millenial” (pasca Milenial), iGen (Generasi yang lahir di era internet), Zoomers, Gen Tech, Net Gen, Neo Digital Native.

Ciri menonjol Generasi Z, menurut penelitian Fray dan Parker (2018) mereka lebih senang melanjutkan sekolah daripada masuk ke dunia kerja (www.pewsocialtrends.org/). Generasi Z sejak kecil sudah terbiasa memproses informasi dengan cepat akan tetapi juga mudah beralih perhatian ke informasi lain sehingga mereka cenderung kurang bisa fokus. Sebagai ilustrasi, aplikasi popular seperti Instagram, Tik Tok, dan WhatsAp dapat mengalir informasi dengan deras. Meskipun kurang bisa fokus, Generasi Z memiliki kebiasaan “multi tasking” (dapat mengerjakan beberapa kegiatan secara bersamaan), misalnya sambil menulis di laptop sesekali membuka WhatsAp, video call, buka video. Kebiasaan hidup dengan internet juga membuat Generasi Z memiliki cara pandang yang lebih global. Generasi Z juga lebih suka bekerja mandiri serta menyimpan informasi pribadi. (Kusumapradja, 2020. www.cosmopolitan.co.id/).

Generasi Z Indonesia dibesarkan dalam keadaan rerata penghasilan keluarga yang lebih baik dibanding generasi Milenial ataupun Generasi X sebelumnya. Di sisi lain, Generasi Z Inndonesia dihadapkan pada tantangan global yang lebih menantang dan lebih dinamis. Misalnya, gelombang besar Massive Open Online Course (Kursus Daring Terbuka dan Masif) semakin hari semakin banyak menawarkan ribuan kursus Daring dari perguruan tinggi terkemuka di dunia. Berbagai platform seperti Open EdeX, Coursera, Udemi, Udacity telah menawarkan paket pelatihan gratis dan telah diakses dari mancanegara di dunia. Hal ini memiliki makna bahwa sekarang ini telah terbuka peluang untuk menguasai pengetahaun dan keterampilan yang bermutu sangat tinggi karena dikembangkan oleh perguruan tinggi papan atas di dinia; transfer pengetahuan dan keterampilan menjadi makin massif; dan dengan demikian di masa yang akan datang masyarakat dunia samakin cerdas baik yang berada di negara maju maupun lainnya. Akan tetapi, di sisi lain, peluang tersebut juga bisa menjadi sumber kesenjangan bagi masyarakat Indonesia dibanding masyarakat di negara berkembang lainnya karena umumnya materi yang ada dalam MOOC tersebut disampaikan dalam bahasa Inggris.

Tantangan Generasi Z Indonesia juga berasal dari perkembangan teknologi OER (Open Education Resources) atau Sumber Belajar Terbuka yaitu adanya gerakan masyarakat internasional yang mengembangkan sumber belajar dengan Hak Cipta terbuka seperti Creative Common. Dengan adanya gerakan OER ini maka Generazi Z dapat mengakses secara bebas ratusan juta sumber belajar bebas hak cipta yang bisa dibaca online dan banyak juga yang bisa diunduh secara gratis/bebas hak cipta; baik yang berupa e-book, e-jurnal, media audio, media audio visual, film, animasi, laboratorium maya, dan sumber belajar lainnya. Sekali lagi, tantangannya sama dengan MOOC, sebagian besar isi OER dalam bahasa Inggris.

Di masa yang akan datang, Generasi Z akan menghadapi sistem data kompetensi yang terbuka diakses oleh masyarakat umum. Kehadiran teknologi Blockchain ada yang sudah mulai menawarkan jasa penerimaan dan penyimpanan data sertifikat keahlian dari masyarakat sehingga ketika pasar kerja membutuhkan keahlian tertentu mereka bisa mengakses ke Blockchain dan akan mendapatkan informasi dari semacam bank sertifikat kompetensi dari masyarakat umum/global. Hal ini akan mendorong munculnya informasi kompetensi keahlian yang makin terbuka, banyak jumlahnya, bersifat internasional cakupan pemiliknya.

Keberadaan sekolah tidak bisa lepas dengan dinamika perkembangan masyarakat. Sekolah mengantarkan anak didik untuk terjun ke masyarakat setelah selesai mengikuti rangkaian program yang dikelola secara sistematis di sekolah. Guru berada pada posisi sentral dalam menyiapkan masa depan peserta didik. Dengan demikian guru sewajarnya mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat sehingga dapat secara antisipatif-proaktif menyiapkan peserta didiknya. Salah satu dinamika kuat dalam kehidupan masyarakat yaitu adanya rencana bisnis strategis dari negara-negara yang menjadi pelaku utama dalam bisnis internasional. Berikut ini disampaikan gambaran rencana strategis negara-negaara pelaku usaha yang produknya akan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat serta mempengauhi suasana kerja masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: