Industri Teknologi Digital 2

Internet Industri (Industrial Internet)

Pengguna internet akan mencapai sekitar tiga miliar manusia pada tahun 2025. Internet Industri memiliki wadah konsorsium yang beranggotakan perusahaan inovator teknologi, penguasa pasar global, universitas, peneliti, dan organisasi pemerintahan. Konsorsium Internet Industri memiliki tujuan mempercepat pertumbuhan industri internet dengan mengidentifikasi, merakit, menguji, dan mendorong penggunaan praktik baik; mengoor- dinasikan inisiatif ekosistem untuk mengoneksikan dan mengintegrasikan obyek-obyek dengan orang, data, dan proses dengan menggunakan arsitektur bersama, pengoperasian bersama, dan standar terbuka yang dapat mengarah pada terwujudnya bisnis secara transformasional. Konsorsium ini memiliki misi ingin berperan dalam mewujudkan perubahan global dengan menyediakan Internet of Things yang dapat dipercaya yang mana sistem global dan alat-alat dapat dikoneksikan secara aman dan dapat dikontrol sehingga dapat memberikan layanan yang spektakuler. (www.iiconsortium.org)

Organisasi ini telah memiliki anggota dari 30 negara dan 4.000 ahli. Konsorsium ini memiliki impian mengoneksikan segala sesuatu melalui Internet of Things. Pada tahun 2020 benda-benda yang terkoneksi ke internet diperkirakan 7 x jumlah penduduk dunia. Konsorsium ini menjadi wadah kerja sama dalam pengembangan Industrial Internet of Things (IIoT) pada tataran pasar global. (Richard Mark Soley, iiconsortium.org). IIoT merupakan sensor-sensor yang saling terkoneksi bersama instrumen dan alat-alat jaringan lain dalam aplikasi komputer industri. Melalui interkonektivitas tersebut memungkinkan terjadinya pengumpulan data, pertukaran data, dan analisis sehingga dapat meningkatkan kualitas produk, efisiensi, dan memberi masukan terhadap perbaikan sistem produksi. (wikipedia.org)

Di dalam konsorsium ini terbuka keanggotaan antara lain dari industri aeronautika, pertanian, perumahan dan infrastruktur, energi dan aplikasinya, perawatan kesehatan, manufaktur, transportasi dan logistik. Selain itu juga organisasi yang bergerak di bidang teknologi horisontal antara lain seperti konektivitas, strategi bisnis baru, analisis industri, pengoperasian bersama, dan keamanan. IIoT didukung teknologi keamanan siber, komputasi awan, teknologi mobile canggih, komunikasi mesin ke mesin, cetak 3 dimensi, robotik canggih, big data, internet of things, identifikasi gelombang radio (RFID), dan kecerdasan buatan.

Masyarakat 5.0 (Society 5.0)

Mayumi Fukuyama (2015) menjelaskan bahwa tujuan dari Masyarakat 5.0 (Society 5.0) adalah mewujudkan masyarakat yang bahagia sepenuhnya dalam hidupnya. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan teknologi eksis untuk mencapai kebahagiaan penuh tersebut dan tidak untuk kemakmuran bagi sebagian masyarakat. Agenda pembangunan Masyarakat 5.0 ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat di era teknologi canggih yang berpusat pada peranan penting manusia (human- centric) — baik dalam pembangunan ekonomi maupun pemecahan tantangan sosial — sehingga masyarakat dapat menikmati kehidupan yang berkualitas yaitu kehidupan yang aktif dan nyaman. Gambar 1.2 menunjukkan perkembangan peradaban masyarakat yang dikelompokkan menjadi 5 tahap yaitu Tahap Masyarakat Berburu (Hunting Society), Tahap Masyarakat Agraria (Agrarian Society), Tahap Masyarakat Industri (Industrial Society), Tahap Masyarakat Informasi (Information Society), dan Tahap Masyarakat Cerdas Canggih (Super smart Society) atau tahap Masyarakat 5.0. (Fukuyama, 2018).

Perkembangan masyarakat tahap 1 merupakan masyarakat berburu; tahap 2 masyarakat agraris; tahap 3 masyarakat industri; tahap 4 masyarakat informasi; tahap 5 masyarakat super cerdas.

Tantangan yang dihadapi Jepang antara lain penurunan jumlah angka kelahiran yang pada saat yang bersamaan terjadi peningkatan masyarakat usia tua; penurunan jumlah tenaga kerja produktif dan peningkatan biaya jaminan sosial (social security). Tenaga kerja produktif yang pada tahun 2018 mencapai 77 juta orang akan turun menjadi 53 juta orang pada tahun 2050. Di sisi lain, jumlah anggaran jaminan sosial akan mengalami pening- katan dari 120 triliun yen pada tahun 2015 menjadi 150 trilliun yen pada tahun 2025 seiring dengan bertambahnya jumlah masyara- kat usia lanjut. Dari segi aset sosial (social capital), sebagian besar infrastruktur dasar dibangun sebagai bagian dari program pembangunan skala besar pada era pertumbuhan ekonomi tinggi dari tahun 1950 sampai 1970. Lima puluh tahun kemudian, sebagian besar infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, jaringan pipa air mengalami kerusakan dan diperkirakan memerlukan biaya 190 triliun yen untuk perbaikan dalam kurun waktu 50 tahun dari tahun 2011 sampai 2060.

Strategi pertumbuhan Masyarakat 5.0 meskipun dicetuskan oleh Jepang akan tetapi harapan Jepang juga bisa berlaku di negara lain karena strategi tersebut berkaitan dengan kebijakan Persatuan Bangsa-Bangsa tentang Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Lima bidang strategis yang menjadi prioritas yaitu perpanjangan usia harapan hidup secara sehat, merealisasikan revolusi mobilitas, penyediaan mata rantai pasok generasi baru, pembangunan dan pengembangan infrastruktur dan perkotaan yang menyenangkan, dan teknologi keuangan (FinTech). Dari prioritas program strategis tersebut muncul program seperti: sistem cerdas di bidang pertanian dan makanan, sistem peringatan bahaya sedini mungkin, sistem pembelajaran dalam jaringan, pemberdayaan wanita, sistem cerdas pada jaringan listrik, sistem cerdas dalam pembangunan gedung/sarana publik, ekosistem inovasi global, kota cerdas, penggunaan data meteorologi dan data pengamatan, penggunaan penginderaan jarak jauh dan data oseanografi (smart agriculture and smart food, early warning system, e-Learning system, empowerment of woman, smart grid system, i-construction, global innovation ecosystem, smart cities, utilization of meteorological and other observation data, utilization of remote sensing and oceanographic data). Teknologi inti yang mendasari yaitu Big data, Internet of Things, Artificial Intelligence, Robot, Drone, Sensor, 3D Printing, Sharing, On Demand, Mobile, Edge, Cloud, 5G, Virtual Reality, Augmented Reality, Mix Reality.

Teknologi tersebut diaplikasikan pada Financial Technology, Research & Engineering Technology, Tourism Technology, Automation Technology, Transportation Technology, Urban Technology, Education Technology, Sports Technology, Home Technology, Media Technology, Advertising Technology, Health Technology, Care Technology, Bio Technology, Food Technology, Legal Technology, Job Technology, Civic Technology, Government Technology.

Kota Cerdas (Smart Cities)

Gerakan pembangunan Smart Cities ingin menata populasi penduduk di dunia yang terus bertambah ke dalam tata kelola kehidupan keseharian yang berbasis teknologi canggih. Diperkirakan sekitar 70% penduduk dunia akan tinggal di perkotaan pada tahun 2050 (Mohanty, Choppali, Kougianos, 2016). Tingginya penduduk di perkotaan juga berimplikasi pada tingginya konsumsi energi dan sumber daya alam yang juga berdampak pada kerusakan lingkungan, polusi dan perubahan iklim. Pembuatan kota cerdas (smart cities) menjadi strategi untuk mengatasi permasalahan sebagai dampak dari urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di perkotaan. Program kota cerdas dapat mengurangi konsumsi energi, konsumsi air, emisi karbon, efisiensi transportasi, dan sampah di perkotaan. Kota cerdas meliputi infrastruktur cerdas (smart infrastructure), transportasi cerdas (smart transportation), energi cerdas (smart energy), perawatan kesehatan cerdas (smart healthcare), teknologi cerdas (smart technology), didukung dengan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology) dan teknologi baru seperti Internet of Things dan Big Data.

Di Asia Tenggara (Southeast Asia), sepertiga penduduk tinggal di perkotaan tetapi mereka menyumbang dua per tiga dari pendapatan domestik bruto negara. Hingga tahun 2030 jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan di Asia Tenggara diperkira- kan bertambah 90 juta penduduk. (McKinsey&Company, 2018). Urbanisasi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, memiliki ekses munculnya permasalahan seperti keterbatasan tempat tinggal, infrastruktur, dan layanan publik. Pembangunan kota cerdas di Asia Tenggara bisa mengurangi fenomena emisi gas rumah kaca sebesar 270.000 kilo ton per tahun; menyelamat- kan kehidupan 5.000 orang dari kecelakaan lalu lintas per tahun; demikian pula masalah kebakaran dan tindak kriminal bisa dikurangi dan memiliki sistem respon emerjensi yang lebih cepat. Sistem transportasi cerdas dapat menghemat waktu 8 juta orang per tahun. Sistem cerdas untuk perawatan kesehatan dapat mengurangi beban penyakit dan meningkatkan kualitas kese- hatan masyarakat. Dengan meningkatkan kualitas kawasan menjadi lebih produktif maka akan membuka kesempatan kerja. Efisiensi dari sistem perumahan dan konsumsi energi bisa mencapai $16 miliar per tahun (McKinsey & Company, 2018).

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: