Kisah Nabi Shalih As

“Hei, Shalih! –Sebagai tanda benar-benar utusan Gusti Allah Ta’ala– Coba kau keluarkan dari batu Kaibah ini: Onta elok dan hamil lebih sepuluh bulan” pinta Junda’ bin ‘Amr pemimpin kaum Tsamud pada Nabi Shalih Alayhis-Salam, sebelum mereka mengikrarkan masuk agama Allah.
Lalu, Nabi Shalih melakukan shalat dua rekaat, berdoa pada Rabbnya, dan tiba-tiba dari dalam batu, seperti halnya hewan melahirkan, muncullah onta sesuai pesanan Junda’. Anehnya, seakan onta itu tidak bertulang. Dan yang lebih mencengangkan. Dihadapan banyak orang. Onta hamil itu langsung melahirkan!
Barulah pemimpin kaum Tsamud dan pengikutnya itu menyatakan keimanan.
“Ini onta Allah,” pesan Nabi Shalih, “pintaku, biarkan ia meminum air sumur kalian sehari. Lalu dihari berikutnya gantian kalian yang mengambil air (Sehari untuk onta dan sehari untuk kaum Tsamud)”.
Dan begitulah. Pada awal-awalnya berjalan lancar. Masyarakat mengambil air sumur sehari, dan hari berikutnya ganti onta Nabi Shalih yang meminumnya. Namun, sekali minum. Onta ajaib ini menghabiskan air sumur sampai tetes terakhir.
Kebiasaan onta tidak menjadi masalah bagi kaum Tsamud. Sebab merekapun mendapatkan untung banyak. Karena, setelah meminum air. Susu onta itu laksana mata air! Keluar terus sesuai yang mereka kehendaki. Sampai-sampai kaum yang diceritakan dalam surat wa-Syamsi Wa Dhuhaha ini menyimpan bergentong-gentong susu onta itu.
Masalah mulai timbul ketika memasuki musim panas. Waktu merasa kepanasan, onta Nabi Shalih lari keluar gua. Entah kenapa hewan-hewan lainnya jadi kabur dan berlari menuju dalam gua. Begitupula waktu musim dingin. Sang onta berlari mendekam di dalam goa, dan hewan lain yang sebelumnya menghangatkan diri di dalam goa, lari tunggang langgang ke luar goa dan menghadapi cuaca dingin di sana. Itu menyebabkan hewan-hewan ternak kaum Tsamud tidak nyaman dan sakit-sakitan.
Kejadian itu, membuat para pemiliknya geram. Hingga muncullah salah satu orang terburuk di masa awal, yakni Qudaar bin Salif yang membunuh onta mulia itu.
Apakah si keji Qudaar membantai makhluk mulia itu dengan inisiatifnya sendiri?! Jawabnya adalah tidak!
Adalah nenek tua bernama ‘Unayzah yang membujuknya. Apa pasal?! Sebab ia punya onta, sapi, dan kambing banyak yang tersakiti dengan adanya onta Nabi Shalih.
Ibarat jual beli. Qudaar yang punya pangkat mulia serta jadi “pendekar” dikaumnya, tidak mau mengeksekusi dengan gratis. Ia di iming-imingi harta terindah di dunia, yakni putri ‘Unayzah yang terkenal cantik-cantik. “Kalau kau mau membunuh onta itu. Aku akan memberikan salah satu putriku. Terserah kau pilih yang mana” bujuk si nenek celaka.
Berangkatlah Qudaar dengan menghunus pedangnya. Ia menanti di balik pohon. Dan ketika onta Nabi Shalih lewat. Ia tebaskan pedang itu ke lehernya. Darah segar menyembur dari leher onta mulia tersebut. Tapi, sebelum tewas, ia sempat bersuara keras memperingatkan anaknya yang mengekor di belakangnya. Langsung onta kecil itu lari menuju gunung Shanwa yang terjal dan sulit di daki.
Dilain tempat. Nabi Shalih mendapatkan khabar dari pengikut setianya. Bahwa sang onta telah disembelih! Segera Beliau bergegas menemui kaumnya. Namun, mereka malah menjawab: “Hei Nabi Allah. Yang membunuh itu adalah si Fulan. Kami tidak berdosa.”
“Baik!,” jawab Nabi Shalih, “Ingat! Apakah kalian bisa menemukan anaknya? Kalau bisa, mungkin Allah akan menghilangkan adzab dari kalian.”
Takut adzab datang. Mereka beramai-ramai mencari anak onta yang melarikan diri. Tahu keberadaannya di puncak gunung Shanwa. Waktu akan mengambilnya. Tiba-tiba Allah mewahyukan pada gunung Shanwa untuk menjadi lebih tinggi hingga burung tak mampu menggapainya. Dan merekapun gagal memenuhi permintaan terakhir Nabi Shalih.
Onta disembelih hari rabu. Keesokan harinya, yakni kamis. Wajah kaum Tsamud yang membangkang mulai menguning. Tanda adzab mulai menyerang. Hari jum’ah, wajah mereka merah. Hari sabtu, menjadi hitam. Dan dihari minggu. Terdengar suara gelegar dilangit yang merontokkan jantung mereka!
Lalu, empat ribu orang yang masih beriman dengan Nabi Shalih, berbondong-bondong mengungsi ke daerah baru. Namun sayang. Baru saja sang Nabi hadir dan menapakkan kakinya di tanah baru itu, Beliau wafat. Karenanya tanah itu dinamakan Hadramaut (Baru saja hadir, ternyata telah dijemput kematian)
Wallahu A’lam bis-Shawab.
Kisah diatas, diterjemah dari Kitab Hayatul Hayawannya Imam Daamiiri bab an-Naaqah dengan penyesuaian bahasa.
Jadi, Iman itu pelik. Yang jelas diperlihatkan mukjizat saja, masih ada yang ingkar. Dan diantara mereka yang tidak percaya, pasti berusaha menghancurkan kebenaran. Kalau tidak mampu sendiri, maka akan menghasut dan memprofokatori orang lain yang mampu dan beringas. Ketika bencana tiba barulah menyesal.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: