Kisah Tiga Putera Mahkota Yang Melompati Tembok Istana

Di India, dahulu kala ada sebuah kerajaan bernama “Kapilawastu”. Kapila adalah nama seorang Brahmana yang bertempat tinggal di sana, dan Wastu artinya “tempat”. Kepercayaan masyarakat-nya, sebagian masih menganut animisme dan sebagian lagi memercayai agama Hindu. Salah seorang raja yang pernah memerintah di kerajaan itu bernama Sudodana, istrinya bernama Putri Maya. Ia mula-mula dikaruniai seorang putera. Putera inilah yang diharapkan akan menjadi penggantinya kelak. Sejak kecil puteranya itu dididik dengan ilmu pemerintahan, ilmu perang, ilmu ekonomi dan lain-lain. Tapi setelah menginjak usia remaja, putera yang sudah digadang-gadang untuk meneruskan takhta kerajaan itu ternyata berpikir lain. Segala kemewahan istana dan pangkat tertinggi yang bakal jatuh ke tangannya itu, ternyata tidak bisa membahagiakan hatinya.

Yang menjadi pusat perhatiannya justru sesuatu yang ada di seberang alam. Dia ingin tahu siapa pencipta alam semesta, ingin tahu dari mana dia datang, untuk apa dia hidup dan akan ke mana dia nanti setelah kehidupan ini berakhir. Dan pada suatu malam yang sepi, ketika semua orang tidur nyenyak, putera raja itu memanjat tembok istana yang tinggi dan menghilangkan diri ke tengah hutan, untuk mencari petunjuk. Besoknya keluarga istana menjadi gempar karena putera raja menghilang. Diadakanlah percarian sampai berbulan-bulan, tetapi sia-sia.

Tidak lama sesudah itu lahirlah putera kedua. Putera ini pun diperlakukan seperti putera pertama karena diharapkan akan menjadi pengganti raja. Tetapi Sudodana harus kecewa untuk kedua kalinya setelah puteranya itu menginjak remaja. Rupanya hidayah Allah masuk ke dalam hati kedua putera raja itu sehingga keduanya memilih kebahagiaan akhirat dan meninggalkan kebahagiaan dunia.

Kemudian lahirlah putera ketiga sang raja pada malam purnama Sidi. Putera yang ketiga ini benar-benar dipersiapkan untuk menjadi pengganti. Dibuatkan istana khusus yang sangat luas lengkap dengan kolam renang, taman bunga, taman buah-buahan dan lain-lain yang dianggap perlu. Gedung tempat kesenian sengaja dibuatkan pula supaya putera yang ketiga ini tidak menghilang seperti kakak-kakaknya. Putera ketiga ini sejak kecil dididik dengan ilmu pemerintahan, ilmu perang dan ilmu-ilmu lain yang dianggap penting untuk dikuasai seorang raja. Putera inilah yang bernama “Sidharta Gautama”.

Setelah remaja, ia merenung sambil memandang sekeliling tembok yang tinggi itu. Kepada wazir yang mendampinginya, ia bertanya, “Paman wazir, apakah dunia hanya seluas ini saja?”

“Dunia ini sangat luas, Tuanku,” jawab si wazir tanpa menunjukkan sikap menggurui, “adapun yang di tembok keliling ini hanyalah sebagian kecil dari bumi yang luas ini. Tetapi tuanku jangan menginginkan yang di luar sana karena yang di luar itu jelek. Tempat inilah yang sangat indah dan megah.”

“Meskipun yang di luar dikatakan jelek, tetapi saya tidak pernah melihat bagaimana rupanya yang jelek itu,” Sidharta menjawab dengan penuh kesungguhan. Rupanya, rasa ingin tahu sudah menyelimuti hatinya, tidak bisa ditawar dan ia pun meminta,

“Ajaklah saya keluar, mintakan izin dari ayah saya.”

Raja Sudodana diberi tahu, dan ia pun mengizinkan puteranya untuk dibawa keluar istana kerajaan. Tapi raja menekankan kepada si wazir agar jalan-jalan anaknya itu cukup sebentar saja. Terlalu lama di luar sangat berbahaya. Gerbang istana pun dibuka. Bertepatan dengan itu, seorang tua yang sudah bungkuk melintas di hadapan putera raja. Sidharta Gautama merasa heran karena baru kali itu saja dia melihat orang tua yang sudah bungkuk, katanya,

“Kenapa orang ini bungkuk?”

“Karena dia sudah tua,” jawab si wazir dengan cepat.

“Apakah setiap orang akan menjadi tua dan bungkuk seperti orang ini?”

“Ya, kalau umurnya panjang maka orang itu akan menjadi tua dan bungkuk seperti orang ini.”

“Ayah mengurung saya dalam istana sehingga saya tidak tahu bahwa saya nanti akan menjadi orang tua,” Sidharta berbicara sendiri.

Mendengar keluhan itu Wazir menjadi khawatir, takut kalau-kalau Sidharta Gautama lari. Remaja itu pun cepat-cepat dibawa masuk kembali dan segera saja pintu gerbang dikunci. Putera raja dibawa ke gedung kesenian, dihibur dengan kesenian-kesenian yang indah agar melupakan kesan yang dilihatnya di luar istana tadi. Tetapi Sidharta mulai merenung memikirkan dirinya, alam semesta, siapa penciptanya.

Satu tahun kemudian, ia bertanya lagi kepada wazir,

“Bagaimana keadaan di luar sekarang, samakah dengan yang dahulu?”

“Tentu saja lain, Tuanku,” jawab si wazir.

“Kalau begitu ajaklah saya keluar.” Seperti satu tahun ke belakang, raja mengizinkan anaknya dibawa keluar istana tetapi hanya sebentar. Begitu pintu gerbang dibuka, melintaslah di hadapannya seorang penderita penyakit cacar sedang dipapah seseorang.

“Kenapa orang ini begini?” tanya Sidharta kepada orang yang memapah si sakit.

“Dia sedang sakit,” jawabnya singkat.

“Apakah semua orang bisa sakit seperti orang itu?”

“Ya, semua orang bisa sakit.”

Sidharta pun bergumam, “Salah ayah saya mengurung saya dalam istana sehingga saya tidak tahu bahwa saya bisa sakit seperti itu.”

Mendengar ucapan itu wazir merasa khawatir. Segera ia membawa putera raja masuk dan mengunci pintu gerbang. Sidharta Gautama dibawa ke gedung kesenian, dihibur supaya melupakan kesan yang tadi.

Satu tahun kemudian, Sidharta Gautama minta dibawa keluar lagi. Pintu gerbang dibuka, dan bersamaan dengan itu, tepat di hadapannya melintas beberapa orang yang sedang mengusung mayat dengan tandu. Ia bergegas melihat mayat dan bertanya,

“Siapakah orang ini? Apakah semua orang akan mati seperti ini ?”

“Ya, setiap orang yang sudah tiba ajalnya akan mati juga,” jawab seorang di antaranya.

“Salah ayahanda mengurung saya dalam istana sehingga saya tidak tahu bahwa diri saya akan mati,” demikian Sidharta bergumam.

Seperti yang sudah-sudah wazir segera membawa Sidharta masuk istana dan menghiburnya di gedung kesenian. Tetapi kali itu ia tidak bisa ditipu dengan kesenangan-kesenangan dunia. Ia terus berpikir dan berpikir mencari siapa pencipta alam semesta, untuk apa manusia hidup dan akan ke mana manusia sesudah matinya.

Pada waktu tengah malam, di mana semua orang sudah tidur nyenyak, ia memanjat tembok istana yang tinggi. Di luar istana ia mencari tempat yang sunyi untuk bertahannus dan bertafakkur memohon petunjuk dari yang kuasa. Di sana ia mendapat wahyu dari Allah untuk menyampaikan agama tauhid kepada seluruh kaumnya. Karena ia mengajarkan agama yang bertentangan dengan keyakinan orang pada zaman itu, ia ditentang keras oleh kaumnya. Tetapi berkat kesabarannya, akhirnya kaumnya mulai sadar akan kebenaran agama yang dibawanya. Agama yang disebarkannya pun semakin lama semakin berkembang.

Tetapi sayang, setelah ia meninggal cukup lama, agama tauhid yang dibawanya diselewengkan orang-orang menjadi agama penyembah berhala, senasib dengan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim di Makah yang diubah menjadi agama syirik oleh orang-orang di belakangnya. Begitu pula dengan nasib agama “Zoroaster” di Persia yang dijadikan agama syirik.

Ajaran Sidharta Gautama terdiri dari tiga bagian, yaitu: 1). tauhid dan akidah, 2). fiqh dan syari’at, dan 3). Akhlak.

Setelah 400 tahun meninggal, ajaran-ajarannya sudah banyak diubah orang sehingga yang asli tinggal sedikit saja. Ajaran itu dibagi menjadi tiga, dan itulah yang dinamakan “Tripitaka”, artinya tiga keranjang, karena memang ajarannya dibagi menjadi tiga.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: