lslam Bukan Agama Dogma

Saya memahami agama Islam bukan sebagai dogma yang harus saya telan mentah-mentah.” Demikian saya mulai menjelaskan argumentasi jawaban-jawaban saya kepada sang Muallaf. Saya pikir, dan sini pula saya ingin memulai diskusi dengan pembaca, dalam buku ini. Islam – terutama di abad -abad ke depan – harus dikembangkan dari sisi logika ilmu pengetahuan modern. Khususnya bagi mereka yang peduli terhadap perkembangan generasi Islam masa depan.

Masa depan generasi kita akan ditentukan oleh dua hal: yaitu agama dan ilmu pengetahuan. Agama menjadi sumber etika dan sebagai syariat yang memberikan tuntunan kepada manusia tentang ‘kehidupan sesungguhnya’ di balik kematian. Sedangkan ilmu pengetahuan memberikan kaidah-kaidah empirik (bisa dibuktikan pen.) dalam menjalani kehidupan di dunia. Keberhasilan generasi mendatang terletak pada : bagaimana mereka memahami kedua hal itu sebagai suatu pegangan yang bersifat interaktif dan komplernenter (saling melengkapi pen.) dalam kehidupan.

Berpegang kepada syariat saja, tanpa mempedulikan kaidah-kaidah empiris (ilmu pengetahuan) menyebabkan kita terasing dari dunia kita sendiri. Sebaliknya, berpegang kepada ilmu pengetahuan semata tanpa mempedulikan syariat agama. menyebabkan kita tidak memahami bahwa ternyata ada suatu kehidupan sesudah kematian.

Sebetulnya, ini telah diinformasikan Allah kepada kita dalarn QS. Baqarah: 201, bahwa hidup kita ini harus memadukan dua unsur, dunia dan akhirat. Dunia. identik dengan ilmu pengetahuan. dan akhirat harus berpedoman kepada syariat.

“Dan di antara mereka ada yang berdoa: ya Tuhanku berilah kami kebaikan di dunia dan berilah kami kebaikan di akhirat, serta hindarkan kami dari siksa api neraka”

Jadi, kembali kepada QS. Al Baqarah 256, maka kita harus berpegangan secara konsisten bahwa agama Islam tidak boleh dikembangkan dengan paksaan. Baik secara fisik, maupun pemikiran. Di ayat tersebut – setelah mengatakan ‘tidak ada paksaan di dalam beragama’ – Allah menegaskan : ” … karena sesungguhnya telah jelas antara kebaikan dan kesesatan … ”

Ungkapan ini, menurut hemat penulis, memberikan ‘tanda’ kepada kita, bahwa yang harus kita lakukan bukan memaksa, tetapi melalui sehuah proses penyadaran. Proses penyadaran itu, hanya bisa dilakukan lewat sebuah interaksi pemikiran baik secara personal- diri sendiri dengan alam – maupun interpersonal dengan orang lain. Hasil akhirnya adalah sebuah kesimpulan : bahwa ternyata memang ada perbedaan yang sangat jelas antara jalan kebaikan (agama Islam) dan kesesatan. Antara yang bermanfaat dan membawa mudharat. Antara kemuliaan dan kehinaan …

Yang menarik lagi, di ayat tersebut Allah juga memberikan jaminan bahwa barangsiapa tidak mengikuti jalan kesesatan, dan hanya berpegang kepada ajaran Islam, maka dia seperti telah berpegangan kepada tali yang sangat kuat dan tidak bisa putus, tidak akan terombang-ambing oleh kehidupan dunia yang penuh tipuan ini. “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Berilmu”, kata Allah, seolah- olah memberikan penegasan bahwa jaminan itu pasti benar, sebab Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: