Madrasahku Cuma Langgar

Madrasah Al-Huda terletak di kampung Sukaraja Wetan, tak jauh dari pendopo kawedanan (rumah kediaman Wedana). Dia tidak berbentuk gedung yang lazim disebutgedung sekolah. Tidak seperti gedung Madrasah Mamba’ul ‘Ulum yang terkenal megah yang terletak di belakang Masjid Jami’ Purwokerto. Madrasah Mamba’ul ‘Ulum ini didirikan atas prakarsa beberapa alumni Mamba’ul ‘Ulum Solo, yang masyhur itu, dengan pihak Kepengalon (kalangan pegawai penghulu Masjid) yang berada di belakangnya. Aku memang sudah lama mendengar kemajuan madrasah ini, ingin rasanya masuk menjadi murid di sana. Tapi bagaimana, kecuali jauh letaknya, 10 km dari rumahku, konon uang sekolahnya mahal, 50 sen sebulan. Salah seorang ustadznya – beberapa waktu kemudian -bernama Muhammad Bakhrun, yang ketika sekitar tahun 1950-an menjadi Panglima Divisi Diponegoro di Semarang.
Tetapi madrasahku ini, Madrasah Al-Huda cuma menempati sebuah langgar milik Mbah Haji Abdul Fattah.
Langgar ukuran luasnya sekitar 9×12 m, agak jauh masuk ke dalam dari jalan raya. Sebagai langgar tentu saja berfungsi mushala untuk tempat sembahyang, sesekali untuk tempat mengaji anak-anak belajar turutan dan al-Qur’an.
Setelah diketahui orang banyak bahwa Mas Mursyid ternyata seorang kiai atau ustadz, banyak orang membuatkan sebuah madrasah baginya, dan langgar Mbah Haji Abdul Fatah ini mendapat kehormatan menjadi gedungnya. Langgar itu sudah agak tua, dindingnya setengah tembok dengan lantai mester (semen putih) bukan tegel. Zaman itu rasanya belum ada tegel masuk langgar. Atapnya dari seng, hingga kalau hujan datang, curahan air hujan dari langit membuat bising anak-anak yang sedang belajar. Di dalamnya dibuat petak-petak dengan pemisah ruangan satu dengan yang lainnya menjadi tiga ruangan atau tiga kelas begitu. Tak ada bangku tempat kami duduk, kami para murid cuma duduk di atas lantai dengan menghadapi meja panjang ukuran pendek dan masing-masing meja dihadapi 3 orang anak. Karena harus duduk di atas lantai, tanpa alas tentu saja, kami harus cuci kaki lebih dulu sebelum memasuki gedung madrasah. Maklumlah cuma ada 3 padasan (pancuran air dari tanah liat) maka tidak heran anak-anak saling berebut duluan. Menurut peraturan, masing-masing anak harus menimba air dua timba dari sebuah sumur yang tak jauh letaknya dari padasan-padasan itu, tapi anak-anak seenak saja cuci kaki sebelum menimba dua ember.
Kami duduk di bawah, artinya di atas lantai langgar. Ustadz duduk di atas kursi untuk memudahkan tugasnya mengawasi anak-anak. Maklumlah, tiga kelas itu seluruhnya cuma beliau sendiri yang mengajar. Bayangkan, satu sekolah dengan tiga kelas dengan murid lebih dari 100 anak, tetapi gurunya cuma satu, yakni Ustadz Mursyid sendiri.
Belakangan aku baru mengerti teknik mengajar Ustadz Mursyid. Tiga kelas itu diberikan pelajaran yang berbeda sifatnya. Kalau kelas 1 sedang diberikan pelajaran uraian lisan, maka kelas 2 diberikan pelajaran menulis, dan kelas 3 diberi pelajaran menyalin. Dengan demikian beliau dapat menguasai dan memimpin pelajaran seluruh sekolah dalam waktu yang bersamaan, dan anak-anak tidak bisa liar karena langsung diawasi guru. Jangan coba-coba anak bisa lolos dari pengawasan ustadz, karena dari tempat beliau duduk, pandangannya bisa meliputi seluruh sekolah, maksudku seluruh kelas. Apalagi beliau sesekali berdiri dan berjalan di muka kelas mondar-mandir.
Madrasah ini, sekalipun cuma langgar biasa, benar-benar amat menyenangkan. Aku merasa telah menjadi bagian dari padanya. Aku merasa satu dengannya karena ada perasaan bahwa dia adalah milikku. Banyak hal-hal yang bagiku merupakan masalah baru. Ustadz Mursyid memberikan disiplin yang aku rasakan bukan sesuatu yang dipaksakan. Disiplin itu ditanamkan berangsur-angsur dalam bentuk kisah dan dongeng, cerita dan nasehat,
terutama dalam bentuk perbuatan sehari-hari.
Dikisahkan bagaimana Nabi Sulaiman alaihis salam dipersilakan memilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, salah satu dari 3 perkara. Ilmu, kerajaan, dan kekayaan harta benda. Nabi Sulaiman memilih ilmu pengetahuan. Apa sebab, karena dengan ilmu pengetahuan maka akhirnya Nabi Sulaiman memperoleh kerajaan (kekuasaan) dan kekayaan harta benda.
Dikisahkan pula bahwa suatu ketika Nabi Besar Muhammad Saw memasuki pintu masjid dan didapatinya setan sedang bertengger di sana. Nabi Muhammad Saw menegurnya: “Hai iblis!, apa kerjamu di sini?” Dijawab: “Aku hendak masuk masjid untuk menggoda laki-laki itu yang tengah sembahyang, agar sembahyangnya jadi rusak. Tapi aku takut kepada itu lelaki yang sedang tidur.” Nabi lalu mendesak bertanya lagi: “Hai iblis! Mengapa kau tak takut kepada lelaki yang sedang sembahyang padahal ia sedang dalam ibadah dan munajat kepada Tuhan. Tapi kau bahkan takut kepada lelaki yang sedang tidur itu, padahal ia sedang dalam lalai?” Jawab setan: “Laki-laki yang tengah sembahyang itu orang bodoh tak berilmu, aku mudah sekali menggodanya serta merusak sembahyangnya. Tapi lelaki yang sedang tidur itu, ia seorang alim berilmu. Kalau saja aku menggoda lelaki yang sedang sembahyang serta merusak sembahyangnya, aku khawatir lelaki yang sedang tidur itu jadi bangun lalu tiba-tiba membetulkan sembahyang orang itu,” demikian jawab setan. Makanya, Nabi Besar Muhammad Saw pernah mengatakan: “Tidur orang alim lebih baik dibanding ibadahnya orang bodoh.”
Aku berpikir, tidur orang alim yang berilmu adalah diperlukan bagi kesehatannya dan untuk memulihkan kembali tenaganya. Kisah-kisah yang diceritakan Ustadz Mursyid demikian mengesankan, dan itu merupakan suatu kesadaran berdisiplin. Itu aku rasakan benar, aku tak pernah merasa malas pergi ke madrasah. Aku ingin memperoleh ilmu, aku ingin pandai. Teringat kembali nasehat-nasehat Ibu, bahwa orang bodoh paling sengsara.
Disiplin belajar di madrasah tentu tidak datang sekaligus. Ustadz Mursyid menanamkan di dada kami para muridnya secara rileks tapi pasti dan meyakinkan. Ditanamkan dalam bentuk cerita, atau semboyan-semboyan yang dihapalkan tiap murid.
Suatu hari seorang kiai di kampungku meninggal dunia. Ustadz Mursyid mengumpulkan kami murid-murid untuk bersembahyang gaib serta menghadiahkan Surat Al-Fatihah dan doa. Beliau menyebut-nyebut kebaikan almarhum. Dikatakan kepada kami agar kami prihatin atas meninggalnya orang-orang alim. Kata Nabi Besar Muhammad Saw:Maut al-‘alim maut al-‘alam, artinya: kematian orang alim atau ulama merupakan kematian sebagian alam, kematian masyarakat. Sebab itu anak-anak harus jadi orang alim, jadi orang yang berilmu, jadilah ulama. Kalau dalam masyarakat ini banyak orang beribadat, sebabnya karena hasil kerja ulama. Kalau banyak pemimpin yang baik juga karena hasil kerja ulama. Orang hartawan yang dermawan juga disebabkan karena anjuran ulama. Bahkan para
pahlawan mau mengorbankan nyawanya untuk cita-cita mulia juga disebabkan karena anjuran dan hasil kerja ulama. Ketika aku telah duduk di kelas tertinggi di madrasah, ustadz menanamkan pandangan kemasyarakatan yang jauh jangkauannya. Ditanamkan kepada kami yang sudah jadi kadernya akan pentingnya kedudukan orang pandai, orang berilmu atau ulama. Ditanamkan suatu pengertian bahwa soko guru unsur kehidupan tegaknya suatu negara ada 4 perkara, pertama: ‘ilmu al-‘ulama (ilmunya alim ulama), kedua: ‘adl al-umara (adilnya penguasa), ketiga: sakhawat al-aghniya’ (kedermawanannya orang-orang kaya), dan keempat: do’a al-fuqara (do’a restunya orang-orang melarat).
Tetapi sebaliknya, Ustadz Mursyid menekankan salah satu sabda Nabi Besar Muhammad Saw yang artinya:
“Kelak akan datang suatu masa di mana sebagian umatku akan menjauhi ulama. Jika ini terjadi, maka Allah SWT akan menurunkan tiga macam percobaan, pertama: hasil usaha penghidupannya tidak ada berkah, kedua: timbulnya kekuasaan yang zalim, dan ketiga: meninggal dunia tanpa iman.”
Terasa benar bahwa Ustadz Mursyid memberikan bekal kepada murid-muridnya yang dianggap sudah cukup dewasa untuk membawa suatu tugas dalam hidupnya di masyarakat. Dengan demikian anak-anak murid menemukan suatu
kesadaran untuk secara berdisiplin mempelajari agama secara tekun dan bertanggung jawab, dengan mengamalkan ilmunya untuk disumbangkan kepada masyarakat.
Di mata kami para murid, Ustadz Mursyid bukan cuma sekadar Guru. Beliau juga pemimpin dan seorang bapak.
Sebagai guru atau ustadz, beliau adalah pengajar dan sekaligus pendidik. Sistem pengajarannya bagiku adalah hal yang sama sekali baru. Waktu belajar dari pukul 2.30 hingga pukul 5 sore dengan waktu istirahat di tengah-tengahnya yang sekaligus juga dipergunakan untuk sembahyang ashar berjama’ah, ustadz jadi imamnya. Setiap hari ada 3 macam pelajaran yang satu dengan yang lainnya berbeda dalam satu minggu. Dan seluruh mata pelajaran itu,
Ustadz Mursyid sendirilah yang mengajar. Sekaligus diajarkan pula tentang tata krama atau sopan santun dalam pergaulan. Beliau ingin memperlihatkan bahwa anak-anak santri juga tahu aturan. Ketika jumlah kelas telah meningkat dari 3 menjadi 5 kelas (kelas tertinggi), maka kami murid-murid kelas yang lebih tinggi dipilih untuk
membantu mengajar, musa’id, bagi kelas yang lebih rendah. Dengan demikian Ustadz Mursyid tidak lagi sendirian mengajar 5 kelas. Tentu saja bagi musa’id-musa’id ini diberikan pelajaran tambahan, kursus guru. Kami diberikan kursus tentang dasar-dasar ilmu mendidik dan mengajar. Pelajaran pedagogi dan metode ini diberikan sehabis pelajaran usai atau kadang-kadang di waktu malam di rumahnya. Dengan demikian secara bertahap Madrasah
Al-Huda menghasilkan “ustadz-ustadz” baru dari kalangan pelajar sendiri. Ibarat menggoreng daging dengan minyak yang melekat pada lemak atau gajihnya sendiri. Inilah yang membuat kami para murid merasa betah belajar di madrasah ini, karena suatu perasaan bahwa kami telah menjadi bagiannya. Tujuan kami belajar hanyalah agar kami kelak bisa menjadi pengajar. Tujuan kami dididik agar kelak bisa mendidik orang lain, di samping mendidik diri sendiri. Tiap santri bercita-cita ingin jadi kiai. Tiap tilmidz atau murid bercita-cita ingin jadi ustadz. Jadilah guru terlebih dahulu sebelum kau jadi pemimpin, demikian Ustadz Mursyid menekankan kepada kami. Seorang pemimpin hakekatnya adalah seorang guru juga!
Suatu ketika madrasah kami pindah tempat dari sebuah surau atau langgar menempati gedungnya yang baru dibangun. Gedung ini dibangun secara gotong royong di kalangan orang-orang tua murid, setelah dirasakan langgar Kiai Abdul Fatah tidak lagi bisa menampung mund-murid. Setelah dirasakan pula oleh wali-wali murid bahwa anak-anak mereka perlu memperoleh tempat belajar yang lebih layak. Aku masih ingat bagaimana Ayah longgar hatinya mengeluarkan uang sumbangan Rp2,50, tidak sesusah ketika harus menyediakan 25 sen bakal uang pembayaran bulananku. Bukan karena ekonomi Ayah sudah mantap, dari dulu sama saja, tetapi beliau menyadari bahwa tak ada jalan lain kecuali harus menyediakan uang seringgit kalau ingin anaknya sekolah terus di Madrasah Al-Huda. Agaknya beliau telah merasakan bahwa amatlah besar hasil dari ilmu yang aku peroleh dari madrasah ini. Padahal aku baru duduk di kelas 3 belum kelas 5, kelas yang tertinggi dalam Madrasah Al-Huda.
Satu kenyataan bahwa Ustadz Mursyid telah berhasil menjadikan masyarakat merasakan bahwa madrasahnya adalah milik seluruh masyarakat. Bahwa masyarakat melekat menjadi satu dengan pesantrennya. Dengan demikian maka masyarakat mempunyai keberanian serta kemampuan untuk memikul segala keperluan madrasah ini, termasuk mendirikan gedungnya yang baru dengan 5 lokal. Sebetulnya kalau di sini dikatakan masyarakat adalah kurang tepat Gedung itu cuma dipikul sendiri oleh para wali murid secara gotong royong.
Gedung ini adalah kebutuhan kami sebab itu kami sendirilah yang harus memikulnya, demikian kesadaran para wali murid. Orang tidak mengandalkan siapa-siapa. Jangan harap orang lain mau memikulnya. Harus kami sendin. Tak ada sedikitpun mengharapkan bantuan pemerintah, sebab pemerintah ketika itu adalah pemerintah jajahan, alat kekuasaan kolonial. Semangat dan kesadaran bergotong-royong ini tidak datang begitu saja, jika tidak karena para wali murid merasa satu dengan Madrasah Al-Huda, lebih tegasnya dengan Ustadz Mursyid.
Bagaimana tidak merasa satu, karena Ustadz Mursyid secara tetap selalu mengadakan pertemuan dengan wali murid, bahkan tiap sebulan sekali diadakan kursus wali murid. Para wali murid merasa benar bahwa bukan cuma anak-anaknya yang dididik tetapi juga bapak-bapaknya. Mereka menyadari, kepentingannya diperhatikan oleh Ustadz Mursyid, maka kepentingan Ustadz Mursyid juga diperhatikan.
Sebenarnya tidaklah tepat kalau pendirian gedung ini dikatakan kepentingan Ustadz Mursyid. Gedung dengan seluruh perlengkapan belajarnya bukanlah menjadi milik Ustadz Mursyid. Itu milik masyarakat termasuk para wali murid. Ustadz Mursyid sendiri membentuk Badan Pengurus Madrasah yang terdiri dari para wali murid, dengan demikian jelas bahwa gedung dengan seluruh alat perlengkapan madrasah adalah milik wali murid sendiri, milik masyarakat. Ustadz Mursyid tidak menguasai gedung tersebut dan tidak akan mewariskan kepada anak-anaknya sebagai barang warisan.
Belajar dalam suatu gedung yang baru tentu lebih menyenangkan. Betapa megahnya gedung ini, seluruhnya tembok yang dikapur putih, sejuk dan bersih. Betapa licin lantai ubinnya, betapa enak duduk di atas bangku dengan meja tulisnya yang dipelitur halus. Tentu yang menimbulkan rasa senang belajar dalam gedung baru ini lantaran rasa bangga bahwa gedung madrasah ini milik kami sendiri, bukan milik siapa-siapa. Bagaimana tidak milik kami, bukankah kami sendiri yang berhari-hari mengambil sendiri batu-batu dan pasirnya dari Kali Pelus, sebuah sungai tempat kami mandi dan berenang terletak kira-kira 150 m dari madrasah kami.
Ketika pendirian gedung akan dimulai, kami anak-anak murid melakukan kerja bakti mengambil batu-batu dan pasir dari Kali Pelus. Anak-anak berdiri berderet-deret laksana seekor naga yang melingkar-lingkar mengikuti jalur turun naik ke sungai, menggotong batu dan pasir, diangkat dan diangkut dari tangan ke tangan hingga sampai ke tempat bangunan gedung.
Kerja gotong royong ini menyenangkan, kami lakukan pada hari Jum’at, yaitu hari kami tidak masuk madrasah. Jum’at adalah hari Minggunya madrasah. Kerja bakti selama kita-kira dua jam tiap Jum’at ini menimbulkan perasaan mengabdi, bangga, dan senang. Betapa tidak? Bukankah ini termasuk amal jariah yang pahalanya akan kami terima hingga setelah mati pun masih memperoleh devisa-akhirat? Pahala yang tak putus.
Apalagi hari Jum’at, suatu hari yang amal baik seseorang diberi pahala 10 kali lipat. Lagi pula yang membuat kami senang kerja bakti ini, Ustadz Mursyid pun ada di tengah kami, tidak cuma menjadi mandor atau tukang mengawasi, tapi beliau pun ikut mengangkat batu dan pasir. Kami memberanikan diri agar ustadz tidak usah ikut mengangkat batu dan pasir, biarlah kami saja anak-anak. Tapi beliau tak mau, jawabnya: “Memangnya cuma kamu saja yang mau pahala?” Masih segar dalam ingatan kami, Ustadz pernah katakan bahwa batu dan pasir yang kami letakkan untuk amal saleh kelak akan menjadi saksi kami di akhirat. Batu dan pasir itu akan menjaga di depan pintu neraka jahanam untuk mencegah penyumbangnya yang akan dimasukkan neraka oleh malaikat Malik, direktur neraka! Lagi pula, kami merasa berdosa kepada Ayah kami masing-masing. Mereka telah memberikan uang gotong royong masing-masing Rp2,50,- bahkan ada yang Rp5,- padahal nantinya kamilah yang akan menikmatinya. Benar-benar suatu pencerminan dari suatu solidaritas antara mund, guru dan wali murid. Sedikit pun tak ada bantuan dari luar, apalagi yang namanya bantuan pemerintah.
Ketika kami telah menempati gedung madrasah yang baru, ada semacam perasaan aneh menyelinap dalam hari kami murid-murid. Yaitu rasa kasihan pada langgar yang selama dua tahun kami tempati sebagai gedung madrasah. Selama dua tahun langgar itu selalu cerah dan berkumandang. Anak-anak berkerumun di sekitarnya, menghafal pelajaran, bermain-main, bercanda, dan tentu saja berkerumun di sekeliling tukang jual soto dan es.
Tapi kini dia senyap, lengang, dan sangat memelas. Beberapa anak mengambil prakarsa untuk menjadikan langgar itu rendevous tempat berkumpul manakala kami menghapal pelajaran atau sekedar ngobrol saja. Tapi fungsinya sebagai mushala tetap terpelihara baik. Kecuali penduduk sekitarnya yang melakukan sembahyang 5 waktu, Ustadz Mursyid pun tetap menjadikannya tempat sembahyang ashar berjama’ah bersama anak-anak pada waktu jam
istirahat.
Ada suatu ajaran Nabi Besar Muhammad Saw yang berbunyi:
“Man lam yasykur an-nasa lam yasykur Allaha”, siapa tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tak
berterimakasih kepada Allah. Ajaran ini dipraktikkan Ustadz Mursyid dalam memperlihatkan prestasi anak-anak murid setelah menempati gedung baru, sebagai tanda terima kasih kepada para wali murid.
Tiap menjelang penutupan akhir tahun pelajaran, diselenggarakanlah malam perayaan. Kami namakan Lailatul Haflah atau Imtihan. Karena sifatnya perayaan, dengan sendirinya menjadi malam suka ria. Gedung dihias, lampu terang benderang dengan menyalakan petromaks beberapa buah. Seluruh wali murid diundang hadir, demikian juga tamu-tamu undangan lainnya, beberapa kiai dan ustadz dari macam-macam pesantren dan madrasah.
Anak-anak yang hasil nilainya pada kuartal terakhir tergolong baik, malam itu tampil memperlihatkan kepandaiannya. Ada yang berdiskusi di muka umum, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan ada pula yang memperlihatkan kemahirannya berpidato dalam bahasa Arab atau Indonesia. Tentu saja pada saat-saat demikian dipergunakan juga oleh anak-anak untuk jual-tampang atau bergaya. Dengan sendirinya dipakailah baju dan sarung sebagus-bagus yang dirnilikinya, kalau perlu biarlah meminjam teman.
Dengan persetujuan pengurus madrasah, pada malam demikian disediakan sekadar hadiah-hadiah bagi anak-anak yang nilainya bagus. Penampilan demikian dengan sendirinya merupakan dorongan yang menimbulkan fantasi di kalangan anak-anak, hingga lahirlah daya cita kelak ingin menjadi orang yang mempunyai arti hidupnya dalam masyarakat. Tentu saja terbatas dalam bentuk pemikiran anak-anak yang sedang berkembang angan-angannya. Para wali murid kelihatan sangat bangga menyaksikan hasil anak-anaknya.
Aku masih ingat betul lamunanku ketika itu, kapankah aku jadi orang seperti Ustadz Mursyid ini. Jadi orang yang
mempunyai prestasi dan dihormati.
Ketika aku telah duduk di kelas yang terakhir, ustadz selalu menanamkan kesadaran, bahwa janganlah merasa sudah cukup apalagi puas dengan pendidikan yang diperoleh dari Madrasah Al-Huda. Ilmu itu sangat luas, maha luas. Apalagi ilmu Allah. andaikata seluruh batang pohon di seluruh daratan ini dijadikan pena dan seluruh samudera dan lautan dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah, tidaklah nanti akan mampu menulisnya sekalipun ditambah lagi pena dan tinta sebanyak itu lagi. Imam Syafi’i, pencipta Madzhab Syafi’i, pernah merenung, sebanyak itu beliau menelusuri ilmu dari satu negeri ke negeri yang lain dan dari satu guru ke guru yang lain, beliau telah mempelajari ratusan buku karya-karya gurunya, namun beliau mengambil keputusan bahwa beliau semakin tak tahu apa-apa, ingin mencari dan mencari, menambah dan menambah.
Lihat saja sejarah orang-orang besar, orang-orang yang sukses, mereka tak pernah mandek, terus maju dan maju, terus menggali dan mencari. Di bidang apa pun. Demikianlah, semua orang alim selamanya merasa dirinya masih belum apa-apa, ilmunya masih sak lugut kolang-kaling, belum apa-apa. Orang yang berilmu selamanya merasa
dirinya masih bodoh, hanya orang bodohlah yang merasa dirinya sudah pintar. Yang membuat kesadaran demikian karena peranan ilmu. Orang pintar mengetahui bahwa ilmu itu maha luas, sebab itu ia menyadari bahwa yang ia miliki belum apa-apa. Sebaliknya orang bodoh, karena tak ada ilmu ia menyangka bahwa ilmu sudah habis, sebab itu merasa dirinya sudah jempolan. Orang berilmu tak pernah merasa kenyang dengan ilmunya, ia akan terus mencari dan menambah. Dua perkara orang tak pernah merasa kenyang, mau tambah terus. Dua perkara itu ialah ilmu dan harta. Orang yang benar-benar berilmu tak pernah merasa cukup dengan ilmu yang ia miliki. Demikian pula orang kaya, la tak akan pernah puas dengan kekayaannya, akan mencari dan menambah terus uangnya hingga menemui
ajalnya dalam gelimang harta laksana semut mati dalam genangan air gula.
Carilah ilmu dan hikmat di mana saja dia berada, demikian nasihat Ustadz Mursyid kepadaku. Nasihat ini tidak hanya ditujukan kepadaku, tetapi juga kepada murid-muridnya yang lain, dan bahkan kepada dinnya sendiri.
Selang beberapa tahun, kira-kira pada tahun 1940-an, aku diserahi memimpin lembaga pendidikan, namanya Kulliyat al-Mubalighin wa al-Mu’alimin, semacam kursus penataran mubaligh dan guru. Di antara pengikut kursus terdapat juga Ustadz Mursyid. Demikian pula dalam kursus-kursus Pemuda Ansor yang aku diserahi memimpinnya, Ustadz Mursyid ikut menjadi peserta yang jarang absen. Ini aku yakin bahwa kehadirannya bukan karena apa, beliau ingin memperlihatkan cara menghargai orang lain sekalipun orang lain itu anak didiknya sendiri. Ketika pada suatu kesempatan aku memohon agar beliau yang memberi pelajaran atau fatwa-fatwa dalam kursus tersebut, dengan rendah hati beliau menolak “Dahulu memang saudara murid saya, apa salahnya kini aku jadi murid Saudara?”
Demikian jawabnya tawadhu. Suatu sikap kejujuran, kepemimpinan, dan kebapakan yang jarang kita jumpai. Dengan sikap ini martabat beliau ridak menjadi rendah, bahkan semakin tinggi dalam pandangan masyarakat.
Hampir 7 tahun, aku meninggalkan kampung halaman karena aku diserahi memimpin pasukan Hizbullah di daerah Kedu (Magelang), setelah proklamasi kemerdekaan. Suatu hari dalam suasana perang kernerdekaan melawan Belanda, aku mendapat berita bahwa Ustadz Mursyid gugur ditembak Belanda dalam agresi kolonialnya di Banyumas pada tahun 1947. Beliau gugur sebagai pahlawan-syuhada. Gugur dalam tugasnya memimpin Barisan
Sabilillah melawan kaum penjajah.
Tiada upacara dalam pemakaman kepahlawanan ini, situasinya sedang dalam kancah revolusi. Tiada bintang jasa disematkan di dada Ustadz Mursyid, juga tidak di dada keluarganya. Tetapi yang sudah pasti, Insya Allah segala bintang kebesaran serta kemuliaan kini diterima beliau di Sorga jannatan Na’im, di sisi Allah Yang Maha Kekal. Beliau telah memulai rintisan dengan baik, menjalankan proses perkembangannya dengan baik, dan mengakhiri khidmah baktinya dengan baik pula, dengan husnul khatimah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!.



 

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: