Majikanku Bernama Allah

Agama Majusi adalah agama penyembah api. Agama ini berkembang di Persi pada zaman dahulu. Induk api pujaan mereka padam ketika Rasulullah Saw. berusia tujuh bulan di dalam kandungan. Sebelumnya, selama 3.064 tahun, induk api itu tak pernah padam.

Pada zaman tabi’in, di kota Bashrah, hiduplah seorang ulama besar yang bernama Imam Hasan al-Bashri. Pada awalnya ia adalah seorang budak milik sahabat Nabi yang terkenal sebagai katib wahyu dan penulis mushaf pada zaman Sayyidina Usman, Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit memerdekakan Hasan karena budaknya itu memiliki otak yang sangat cerdas dan perilaku yang sangat baik. Lebih-lebih orangnya gagah. Sebelum dimerdekakan, Hasan dididik oleh Zaid bin Tsabit sehingga menjadi seorang ulama besar. Dialah ulama terbesar di Bashrah yang mempunyai banyak murid yang alim-alim antara lain, Imam Malik bin Dinar, Rabi’ah al-Adawiyah, dan lain-lain.

Pada suatu hari ketika sedang memimpin pengajian di sebuah masjid, datanglah kepadanya seorang pendeta Majusi. Pendeta Majusi itu sudah menghabiskan waktu 30 tahun untuk menyembah api. Setelah itu barulah ia mempertimbangkan keyakinannya dengan menguji tuhan yang disembahnya; ia memberikan telunjuknya untuk dijilati lidah api pujaannya. Dan telunjuknya itu pun terbakarlah. Sejak waktu itu si pendeta merasa bahwa tidak ada faedahnya menyembah api, keyakinannya terhadap agama Majusi luntur seketika.

Ia datang kepada kakaknya dan berkata,

“Kakak, tidak ada gunanya kita menyembah api. Api itu bukan Tuhan. Aku sudah mencoba memegangnya tetapi ternyata tanganku dibakarnya. Di dunia saja, tidak ada gunanya kita menyembahnya apalagi nanti di hari akhirat. Dia tidak bisa menolong kita. Marilah kita tinggalkan saja agama Majusi ini. Menurut saya, yang paling benar akidahnya adalah agama Islam.”

Kakaknya marah oleh karena ajakan yang menurutnya konyol itu. Ia tetap yakin pada api pujaannya. Si pendeta pun pulang kemudian mengajak istrinya masuk Islam dan bersama-sama meng￾hadap Imam Hasan Bashri di masjid Jami’ Bashrah.

Imam Hasan dan semua jama’ah menerima kedatangan pasangan suami istri itu dengan rasa gembira. Setelah diajari rukun iman, dituntunlah keduanya membaca dua kalimat syahadat. Para jama’ah diminta oleh Imam Bashri untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dua muallaf itu agar keduanya bisa tetap mengikuti pengajian dan beribadah tanpa susah-susah mencari rezeki. Dalam tempo sebentar saja, terkumpullah sumbangan berupa sandang, pangan ataupun uang. Imam Hasan Basyri hendak menyerahkan sumbangan tersebut kepada si mantan pendeta, tetapi muallaf itu malah berkata,

“Tuan Imam, saya dan istri saya menyembah api selama 30 tahun, tidak mengenal Allah sebagai Tuhan kami sebenarnya. Tetapi meskipun demikian, Allah selalu bermurah hati memberikan kepada kami bekal yang cukup sehingga kami bisa hidup. Apakah sekarang setelah kami menyembah (mengenal) Dia, kami akan disengsarakan?”

“Tentu saja tidak,” jawab Imam Hasan dengan senyum yang menenteramkan, “malah sekarang Allah mencintai kalian berdua karena sudah mengenali dan menyembah-Nya.”

“Kalau demikian, bagikanlah rezeki ini kepada orang yang membutuhkannya karena kami masuk dengan hati tulus, bukan karena mengharapkan bantuan dari saudara-saudara sesama Islam. Kami yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. Hanya saja, kalau bisa berikan kami tempat tinggal, meskipun jelek, supaya kami tidak susah membuat rumah.”

Pasangan muallaf itu pun diberi sebuah rumah yang sederhana yang tidak terlalu jauh dari masjid. Pada suatu hari—kebetulan hari itu adalah hari Rabu, istrinya bertanya,

“Kenapa kita tak pernah makan setelah masuk Islam?” Sang suami coba memberi ketenangan,

“Sabarlah, saya akan pergi mencari rezeki. Tunggu saya di rumah.”

Muallaf itu segera pergi ke pasar dengan maksud menjual tenaganya. Tetapi pakaiannya yang seperti orang mau ke masjid membuat seorang pun tak ada yang menyuruhnya bekerja.

Ketika itu dia berpikir, daripada menjual tenaga kepada orang lebih baik menjual tenaga kepada Allah saja. Dia pun pergi ke masjid, i’tikaf dan terus beribadah sampai selesai shalat Isya, kemudian pulang. Istrinya sangat berharap dibawakan makanan, akan tetapi suaminya pulang dengan tangan hampa, sedikit pun tak ada rezeki yang dibawanya.

“Mana rezeki yang dibawa pulang?” tanya istrinya.

“Saya sudah bekerja pada seorang yang sangat kaya,” jawab si suami tanpa kesan main-main,

“tetapi orang itu berjanji akan memberikan saya upah besok.” Maksud si suami, ia bekerja untuk Allah yang Mahakaya dan upahnya besok di akhirat.

Besoknya, dia pergi lagi ke pasar. Tetapi karena tidak ada seorang pun yang menyuruhnya bekerja, ia kembali ke masjid dan beribadah sampai selesai Isya. Sewaktu dia pulang, istrinya bertanya lagi,

“Mana rezeki yang akan dimakan, atau mungkin majikan tempatmu bekerja ingkar janji?”

“Tidak. Majikanku sangat kaya dan sangat jujur. Sabarlah, insya Allah besok saya akan diberi upah.”

Besoknya lagi, hari Jum’at, ia pergi lagi ke pasar kemudian langsung ke masjid untuk beribadah. Sementara itu, di rumahnya, sang istri baru mengerjakan shalat Zhuhur ketika daun pintu rumahnya diketuk seseorang. Dia membukakan pintu. Seorang laki-laki tampan berpakaian putih berdiri dengan membawa talan ditutupi kain sutra. Laki-laki itu berkata,

“Saya disuruh oleh majikan untuk mengantar upah suamimu bekerja selama tiga hari. Terimalah ini!”

Talan yang diterima wanita itu terasa sangat berat, karena itu ia menaruhnya terlebih dulu di dalam rumah, dan setelah itu keluar lagi untuk mempersilakan tamunya masuk. Tetapi tamu itu sudah hilang. Dia cari ke sana ke mari, bahkan jejaknya pun tidak didapatinya, tak ada bekas seolah habis disapu angin. Wanita itu sangat heran dari mana datangnya orang itu, karena dalam tempo sebentar saja dia sudah hilang. Kemudian dia masuk, membuka kain penutup talan, dan silaulah matanya oleh cahaya seribu uang emas yang berkilauan. Dia mengambil uang itu satu buah kemudian pergi ke toko emas untuk menukarkannya dengan uang yang lebih kecil. Tukang emas yang ditemuinya terkagum-kagum dengan uang yang dibawanya,

“Seumur hidupku menjadi tukang emas, tidak pernah aku menjumpai uang emas seindah ini. Ini jelas bukan emas dunia. Saya tidak mampu membayarnya. Meskipun saya tukar dengan semua harta benda saya, termasuk toko dan rumah saya, belum akan sebanding.”

Wanita itu berkata, “Berikan saja saya seribu uang dinar biasa!” Maka, dengan senang hati pemilik toko emas itu memberikan dia seribu dinar.

Wanita itu pergi ke pasar membeli segala kebutuhan rumah tangga. Sisa uangnya masih banyak. Di sepanjang jalan dia bisa bersedekah kepada fakir miskin. Sewaktu suaminya pulang, ia sangat heran karena melihat rumahnya tampak lebih megah dari biasanya. Ketika di jalan, kebetulan dia menemukan tumpukan pasir. Dibukalah sorbannya kemudian diisinya dengan pasir itu dengan maksud apabila nanti istrinya meminta oleh-oleh, bungkusan pasir itulah yang akan diberikannya.

Tetapi sampai di halaman, dia melihat rumahnya sudah mewah. Bungkusan pasir itu tak jadi dibawa ke rumah, ditaruhlah di halaman. Dia pun masuk ke dalam rumah. Melihat apa yang dilakukan suaminya, istrinya bertanya, “Bungkusan apa itu, kenapa ditaruh di halaman?”

Dia menyuruh istrinya mengambil bungkusan itu. Setelah dibuka, ternyata isinya bukan pasir melainkan beras gandum yang sangat bagus. Dia sendiri heran dan berkata kepada istrinya, bahwa yang dibungkusnya tadi adalah pasir, bukan beras gandum.

Tetapi begitulah Allah Yang Mahamurah mengubah pasir menjadi beras supaya bisa dimakan. Istrinya menceritakan bahwa tadi siang ada orang yang datang membawakan talan berisi uang emas seribu dinar, tetapi orang itu hilang seketika dan tidak meninggalkan jejak.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: