Makna Barokah

Alkisah, seorang sahabat Nabi bernama Tsa’labah termasuk istrinya, walaupun hidupnya sangat miskin. Dalam hati sangat ingin, kapan kapan menjadi orang kaya, sebab sudah tidak betah lagi bila berlama tetap miskin.
 
Waktu dia mengajukan hal ini kepada Nabi, beliau menasehatinya agar tidak perlu menjadi orang kaya, sebab resiko dan cobaannya cukup berat. Biarlah tetap miskin, asal dekat dengan Allah, itu lebih baik. Belum tentu jika menjadi kaya, lebih baik hidupnya, bahkan mungkin malah lupa, paling tidak teledor ibadahnya. Tetapi dasar Tsa’labah, ambisinya untuk menjadi kaya telah terlanjur menggebu-gebu. Sebab menurut visi dan pengamatan Tsa’labah, menjadi orang kaya itu enak, terpandang, dihormati, disegani, bergengsi dan seterusnya dan sebagainya.
 
Berkali-kali Tsa’labah datang menghadap kepada Nabi, mohon agar dido’akan menjadi orang kaya. Sudah jemu menjadi orang miskin. Nabi terus menasehati, demi kebaikan hidup Tsa’labah sendiri. Tetapi karena dia terus nekad dan mendesak terus, akhirnya Nabi menuruti kehendaknya, dengan wanti-wanti, jika sudah menjadi orang kaya, ketahanan mental untuk tetap beribadah agar tidak goyah. Ta’labah sanggup, bahkan disertai janji yang muluk-muluk. Jika sudah kaya nanti begini, begitu, demikian dan serangkaian janji dan kesanggupan yang lain.
 
Atas berkat do’a Nabi, akhirnya Tsa’labah yang semula rajin beribadah, tak pernah meninggalkan sholat berjamaah dan sholat jum’ah bersama Nabi, sedikit demi sedikit imannya mengalami erosi, runtuh sekeping demi sekeping. Karena terlalu sibuk mengurusi hewan ternak dan kekayaan lainnya yang datang membanjir. Akhirnya Tsa’labah putus hubungan dengan Allah, sampai akhirnya meninggal dalam keadaan tidak Islam. Naudzu billahi min dzalik…
 
###
Karunia Tuhan, nikmat dan rahmat Allah kepada Tsa’labah yang berupa harta yang melimpah justru membawa bencana dan petaka bagi hidup dan kehidupan Tsa’labah. Tegasnya, bagi Tsa’labah kekeyaan tidak membawa Berkah dalam hidupnya.
 
Karena itu Rasulullah saw melarang orang mencari-cari jabatan. Sebab jika orang memperoleh jabatan karena mengusahakannya dengan berbagai cara, Allah akan membiarkan orang itu dengan jabatannya, tidak akan tahu menahu dengan orang itu dan tidak akan membantunya. Tetapi apabila seorang menduduki sesuatu jabtan tanpa diminta, maka Allah akan membantu dan selalu membimbingnya. Demikian pesan Rasulullah.
 
Karena itu alangkah beratnya versi hidup yang dijalani oleh Nabi Sulaiman As. Hanya karena restu Allah semata Nabi Sulaiman mampu menerima anugerah yang demikian hebatny. Jabatan (sebagai Raja dan Rasul), ilmu yang luas dan kekayaan yang melimpah yang semuanya membawa berkah dalam kehidupan beliau.
 
Hidup yang berkah adalah hidup yang tenang yang hanya dapat dicapai dengan syukur dan qana’ah, mencukupkan apa yang ada sambil terus berusaha dengan cara yang halal. Kuncinya sederhana, rezeki halal yang disyukuri disertai qana’ah, sebagai kekayaan rohani yang tak ternilai harganya.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: