Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun ke Medan Pengabdian (2)

Van der Plas’ juga mengirimkan pesan-pesan. Akan tetapi pesan-pesannya merupakan pesan untuk kepentingan dunia luar pesantren, dan asing bagi aspirasi pesantren. Oleh sebab itu, pesan-pesan Van der Plas paling-paling cuma “di dengar” tetapi tak pernah bisa diterima. Misalnya, mengenai kejahatan fasis-nazi Hitler dan sekutunya yang menduduki negeri Belanda. Buat telinga pesantren, pesan ini tidak menyentuh hatinya. Bagi pesantren, Belanda yang katanya salah satu blok “demokrasi,” selama ini tidak pernah memperlihatkan kedemokrasiannya, sebab itu, tak terdapat apa-apanya yang bisa dibela. Pesan Van der Plas hanya menimbulkan tertawaan dunia pesantren, karena pesan yang “iba-hati” dan memelas ini datang pada saat Belanda sedang dirundung kesedihan, pada saat memerlukan bantuan pesantren. Padahal selama ini pesantren tak lepas-lepas dari kerugian serta kebencian.

Kebencian penjajah sebagai yang dimanifestasikan oleh Belanda kolonial dan kaki tangannya ditanggapi oleh sikap kebencian pesantren kepada Belanda. Benci dilawan benci dan kecurigaan ditanggapi dengan kecurigaan pula. Sebagai contoh bisa dikemukakan tentang sikap ulama-ulama tua mengharamkan dasi dan pantalon. Ada suatu kaidah dalam ilmu hukum Fiqh yang mengatakan: ‘Al-Hukmu yaduru ma’al ‘illah, wujudan wa ‘adaman,” artinya, kepastian hukum sesuatu tergantung faktor penyebabnya, bila ternyata ada sebab, maka tetaplah hukum, sebaliknya jika tak terjumpai sebab, maka tidak jatuhlah hukum.

Sebagai misal tentang hukum memakai dasi yang diharamkan ulama. Sebabnya haram lantaran menyerupai Belanda. Sedangkan Belanda dipandang sebagai kolonial yang kafir. Dan, menyerupai si kafir teranglah haram. Maka untuk tidak menyerupai si kafir, datanglah sebuah fatwa ulama, pakailah peci bilamana memakai dasi karena pada umumnya tidak ada Belanda memakai peci. Itu sebabnya, mengapa dulu para kiai mengharamkan juga berbahasa Belanda karena akan menyerupai dan bermental Belanda. Tetapi kemudian, bilamana belajar bahasa Belanda untuk kewaspadaan terhadap tipu muslihat Belanda, maka hukumnya menjadi boleh, dengan berdalil: “Man ‘arafa lughati qaumin amina min syarrihim,” siapa yang paham bahasa-bahasa asing akan terhindar dari tipu muslihat mereka.

Kadang-kadang sikap radikal ini membawa kerugian bagi dunia pesantren. Mereka tidak ikut “menikmati” kultur yang didatangkan kaum penjajah. Orang lain mahir berbahasa Belanda sedang sebagian besar kaum santri tidak. Orang bisa mengambil manfaat dari peradaban yang datang menyertai penjajahan, kaum santri apriori menolaknya. Berhubung dengan itu, banyak di kalangan bangsa kita sendiri yang mencemoohkan sikap pesantren ini. Padahal sikap yang diambil dunia pesantren mempunyai latar belakang untuk keselamatan kebudayaan santri kita, dan untuk membendung pengaruh kolonial Belanda yang tujuannya bukan saja mencapai keuntungan kultur mereka, tetapi juga politik dan ekonomi mereka. Apa boleh buat, dunia pesantren menjadikan dirinya laksana sebatang lilin yang memberi terang alam sekeliling, walaupun dirinya sendiri hancur luluh menjadi korban.

Tetapi tidak semua kaum pergerakan mencemooh sikap “kolot” ulama dan dunia pesantren pada umumnya. Mereka menyadan bahwa sikap itu mempunyai latar belakang yang aspeknya sangat luas. Maka tidaklah heran jikalau seorang tokoh pergerakan nasional kita, Dr. Setia Budi (Douwes Dekker) pernah mengatakan yang kurang lebih demikian: “Jika tidak karena sikap kaum pesantren ini, maka gerakan patriotisme kita tidak sehebat seperti sekarang.” Kata-kata itu diucapkan ketika meletusnya Revolusi 17 Agustus 1945.

“Kami ingatkan saudara-saudara akan kata-kata Sayyidina ‘Ali karramallahu wajhahu: “Inna Allaha lam yu’ti ahadan bil firqati khairan la min al-akbirin,” Allah tak akan pernah memberikan keuntungan dan kemuliaan kepada siapa pun melalui perpecahan, tidak kepada umat terdahulu tidak pula kepada generasi yang terakhir.

Demikian pesan Rais Akbar Hasyim Asy’ari. Pesan itu diakhiri dengan sebuah seruan: “Faya, ayyuba al-ulama wa as-sadatu al-atqiya min abli as-sunnati wa al-jama ‘ati ahli madzahibi al-aimmati al-arba ati! Antum qad akhadztumu al-‘uluma min man qablakum wa man qablakum min man qablahu hi at-tishali as-sanadi ilaikum, wa tandburunan man ta’khudzuna dinakum. Fa antum khazanatuha wa abwabuha. Wa la tu’tu al-buyuta ilia min abwabiha. Fa man ataha min ghairi abwabiha summiya sariqan! Artinya dalam bahasa kita demikian: “Wahai saudaraku para ulama, para orang-orang ahli taqwa, saudara-saudaraku dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, yang memegang teguh imam-imam dari Empat Madzhab! Saudara-saudara telah menuntut ilmu dari guru-guru sebelum kita, dan mereka menuntutnya dari guru-guru sebelumnya, dan sebelumnya, sambung-menyambung merupakan mata rantai hingga sampai pada saudara-saudara. Saudara-saudara telah menuntut ilmu secara hati-hati dan guru-guru yang jelas dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, saudara-saudara laksana pengawal hawnah ilmu dan bahkan pintunya. Saudara-saudaralah khazanah Islam dan pintu memasukinya. Seharusnyalah orang jangan memasuki perumahan Islam, kecuali melalui pintu-pintunya. Sebab, siapa saja yang memasuki rumah tidak melalui pintu, biasanya disebut pencuri!

Pada suatu hari, dalam tahun 1939, aku menerima sepucuk surat. Benar-benar sepucuk surat buatku. Kalau saja itu cuma surat biasa, buat apa dijadikan suatu peristiwa penting? Bukankah biasa seseorang menerirna sepucuk surat? Ya, buat apa diceritakan di sini kalau saja tak mengandung hal luar biasa karena dan disebabkan oleh sepucuk surat itu? Memang benar, menerima sepucuk surat adalah hal yang lumrah, tetapi jangan lupa surat macam apa dan dari siapa? Sepucuk surat bisa merupakan sesuatu yang bagiku benar-benar luar biasa dalam sejarah hidupku, disebabkan nama pengirimnya dan isinya. Coba bayangkan, andaikata, ya, ini misal saja, andaikata pada suatu hari tanpa disangka-sangka saudara menerirna sepucuk surat dari Presiden, disebutkan dalam surat itu bahwa saudara dipanggil menghadap beliau pada hari anu, tanggal sekian, untuk dilantik menjadi menteri. Nah, apakah saudara tidak akan menganggap bahwa peristiwa menerima sepucuk surat itu hal yang penting, bahkan sangat penting dalam sejarah hidup saudara, dan oleh sebab itu, tentu pada suatu ketika akan diceritakan sebagai kejadian penting. Kalau aku jadi saudara, pastilah kejadian itu akan kuceritakan pada kesempatan yang baik kepada siapa pun, mungkin tidak Cuma sekali.

Begitulah, surat yang aku terima itu tertulis di bagian si pengirimnya, nama A. Wahid Hasyim, Tebuireng Jombang.

Sejenak aku tertegun, beberapa lama aku terdiam, kuamati sekali lagi nama si pengirim dalam sampul surat itu. Tak salah alamatkah ini? Baru yakin setelah berulang-ulang aku baca alamatnya. Benar, dialamatkan kepadaku, namaku ditulis di sana dengan jelas, ejaannya pun tepat.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: