Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun ke Medan Pengabdian (3)

Nama A. Wahid Hasyim, atau lebih tepatnya Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, sudah sering aku dengar dan aku baca dalam surat-surat kabar atau majalah-majalah. Bahkan sesekali gambarnya ikut menghias di sana. Di kalangan kami, pesantren, beliau dikenal sebagai putera dari seorang ulama besar yang amat harum namanya, K.H. Hasyim Asy’ari, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang. “Putera Tebuireng” ini dikenal pula sebagai seorang kiai muda, usianya ketika itu sekitar 25 tahun.

Mula-mula hanya dikenal sebagai Ketua Bagian Pendidikan & Pengajaran pada pucuk pimpinan Nahdhatul Ulama di Surabaya. Dalam pertemuan-pertemuan yang kami adakan di lingkungan pesantren kami, tokoh muda ini dikenal pula sebagai seorang yang amat cerdas dan bijaksana, mempunyai pandangan jauh ke depan dan mempunyai cita-cita mengadakan pembaruan-pembaruan dalam lingkungan pesantren. Suatu pembaruan tetapi tidak menghilangkan esensi atau wujud pesantren dengan karakteristiknya.

Pembaruan itu cuma terbatas pada atribut yang menyangkut metode efisiensi atau kerapian menggunakan waktu belajar, atau yang menyangkut sistem organisasi pesantren, tanpa melenyapkan kepribadian pesantren itu sendiri. Sebab pesantren adalah pesantren. Dia bukan sekedar sekolah atau madrasah, bukan sekedar asrama pelajar, dan bukan pula sekedar kampus. Di sana diajarkan norma-norma yang tidak mungkin dijumpai di tempat pendidikan lain. Di sana bukan sekedar dipelajari berbagai ilmu, dan bukan sekedar melakukan berbagai ibadah, tetapi di sana diajarkan nilai-nilai yang paling mutlak harus dimiliki seseorang dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Jadi apa sebenarnya pesantren itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, aku ingin menganjurkan dan mempersilakan sebaiknya
saudara masuk saja ke pesantren untuk “nyantri,” untuk benar-benar menjadi santri, bukan untuk keperluan yang lain-lain. Insya Allah saudara akan menemukan jawabannya.

Orang yang mengirim surat kepadaku ini belum pernah aku lihat wajahnya, belum pernah berhadap-hadapan. Aku belum pernah berjumpa dengannya dan dengan sendirinya belum pernah berkenalan. Tetapi namanya telah lama menimbulkan kekaguman di hatiku, yaitu setelah sering aku mendengar tentang kepribadiannya, tentang buah pikirannya, tentang tugasnya mendampingi ayahandanya dalam mengasuh sebuah pesantren besar dan terkenal, yaitu Pesantren Tebuireng. Sesekali aku membaca karangan-karangannya dalam majalah “Berita Nahdhatul Ulama” yang dipimpin oleh K.H. Mahfuzh Shiddiq. Tulisan- tulisannya itu melukiskan betapa jauh pandangannya kedepan serta betapa luas pengetahuannya. Ditulis dengan gaya populer, ilmiah, dan dalam susunan bahasa yang bagus sekali. Dibentangkan misalnya tentang bagaimana kedudukan kita di tengah-tengah kancah perjuangan, ke mana jalan yang hendak kita tuju, manfaat apa yang bakal kita capai, tetapi juga risiko apa yang akan kita hadapi. Diuraikan secara jelas, mantap, dan sangat mengesankan.

Namanya kian harum dan dengan sendirinya menambah kekaguman ku. Sekitar tahun 1939, orang yang mengirimkan surat kepadaku ini dipilih menjadi Ketua Dewan Majelis Islam A’la Indonesia, sebuah badan federasi pucuk-pucuk pimpinan partai politik dan organisasi Islam seluruh Indonesia. Di dalamnya duduk tokoh-tokoh pergerakan Islam yang sangat terkenal di waktu itu, misalnya: Abi kusno Cokro suyoso dan Wondoamiseno mewakili PSII, Dr. Sukiman dan K.H. Abdul Kahar Muzakkir mewakili Partai Islam Indonesia, K.H. Mas Mansur dan K.H. Hajid mewakili Muhammadiyah, Umar Hubeis mewakili Al-Irsyad, Muhammad Natsir mewakili Persis, K.H. Mahfuzh Shiddiq dan K.H.M. Dahlan mewakili Nahdhatul Ulama dan lain-lain sebagai anggota. Dewan dipimpin oleh A. Wahid Hasyim sebagai ketuanya.

Orang yang begini besar dalam pandanganku ini mengirimkan surat kepadaku, bukan menjawab suratku. Aku tak pernah mengirim surat kepadanya. Surat segera aku buka, setelah aku yakin bahwa surat itu ditujukan kepadaku. Dua tiga kali aku ulang membacanya. Terbayang padaku kepribadian penulisnya kalau aku perhatikan bentuk suratnya. Kertas nya putih bersih, baris huruf-huruf ketikan nya rata, begitu rapi ketikan-ketikan nya tanpa ada salah ketik satu huruf pun, begitu jelas dan bagus letak rangkaian kata-kata pada tempatnya seolah memanggil untuk dibaca, itu semua menimbulkan kesan padaku bahwa penulisnya seorang yang mengerti keindahan seni menulis, cermat tetapi pasti dan tanpa ragu-ragu, senang berkawan dan pandai bergaul, dan lagi—inilah yang tak kurang-kurang pentingnya—pandai merawat mesin tulisnya dengan baik.

Dimulai dengan hal-hal yang biasa dalam sesuatu surat, menyampaikan salam dan mendo’akan kesehatan serta keselamatanku. Lalu meningkat kepada hal yang lebih menarik. Dikatakan bahwa beliau belum pernah melihat rupaku dan dengan sendirinya belum pernah berkenalan. Sebab itu, beliau mengajak berkenalan, dan suratnya itu sebagai perkenalan pertama. Seterusnya aku membaca bagian yang lebih menarik lagi bahkan membikin aku mongkok yaitu bahwa beliau sering membaca karangan-karanganku di majalah “Suara Ansor” dan “Berita Nahdlatul Uama,” beliau merasa tertarik. Hingga di sini aku berhenti membaca, aku hampir tak bisa menahan emosiku lantaran bangga atau “mongkok,” karena mendapat pujian dari seorang besar yang aku kagumi selama ini. Aku baca terus.

Dikatakan bahwa beliau telah mengusahakan terbitnya sebuah majalah pendidikan bernama Suluh Nahdlatul Ulama yang diasuh nya sendiri dan dibantu oleh beberapa teman. Nomor-nomor pertamanya telah terbit dan bersamaan dengan surat yang dikirimkan kepadaku itu, turut dikirimkan juga contohnya. Lalu dinyatakan bahwa alangkah senang beliau andaikata aku mau membantunya dengan mengirimkan karangan-karangan tetap, satu dan lain pertimbangan karena -kata beliau dalam surat itu—telah mendengar bahwa aku juga berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Pada akhir suratnya ditanyakan kepadaku, benarkah aku dalam waktu dekat akan pergi ke Surabaya? Jika memang benar, beliau mengusulkan bagaimana kalau aku singgah dulu di rumahnya barang sehari dua untuk nantinya pergi bersama-sama ke Surabaya. Jika aku setuju akan usulnya, dimintakan agar aku beri tahukan kepada beliau kapan aku akan berangkat, karena beliau akan menjemputku di stasiun Jombang.

Kontan aku jawab suratnya. Aku sanggupi akan mengirim karangan-karangan untuk majalahnya. Juga aku katakan bahwa memang benar aku akan pergi ke Surabaya untuk menghadiri mubarazah atau jambore Gerakan Pemuda Ansor sebagai pemimpin perutusan Jawa Tengah. Usulnya agar aku singgah dulu ke rumahnya, aku terima. Aku beri tahukan kepada beliau hari anu, tanggal sekian, aku akan tiba di stasiun Jombang.

Ketika kereta api tiba di stasiun Jombang, aku melongok dari jendela mencari orang yang menjemputku. Dalam suratnya dikatakan beliau sendiri akan menjemputku. Aku melihat seorang pemuda kulitnya keputih-putihan, tubuhnya padat berisi agak pendek, mengenakan jas berwarna gading dengan sarung putih bergaris-garis hijau lumut, memakai peci purih ala Nehru, tampak sedang mencari aku dari satu jendela ke jendela yang lain. Aku segera turun. Ketika kakiku menginjak lantai peron stasiun, orang ini menatapku sambil menyebut namaku dalam nada betulkah aku orang yang beliau jemput. Buat pertama kali aku melihat wajahnya!

Kami berjabatan tangan. Saling menyebut nama kami masing-masmg. Lama, dan erat sekali tanganku digenggamnya sambil menatap terus mukaku dengan senyumnya yang lebar. Tak putus-putusnya keluar ucapannya: Ahlan wa sahlan marhaban. . . , ahlan, . . . ahlan. . . !

Aku dibimbingnya keluar dari peron stasiun. Tanganku dipegang terus seolah-olah khawatir aku akan melarikan diri. Tangannya yang lain menjinjing koporku karena aku tak diizinkan menjinjing sendiri.

Sebuah delman miliknya yang sengaja disediakan untuk menjemputku telah menanti. Kami menuju ke rumah kediamannya di Tebuireng. Sepanjang jalan beliau bercerita macam-macam hal diselingi kisah-kisah lucu, membuat aku tidak merasakan letihnya perjalanan jauh. Suasananya jadi akrab sekali seakan-akan kami dua orang sahabat yang telah lama berkenalan. Tetapi tidak semua yang diceritakan masuk ke kepalaku. Otakku terganggu oleh perhatianku untuk mencoba “membaca” pribadi orang ini. Wajahnya yang cerah dan segar, senyumnya yang ditujukan hanya buatku, nada suaranya yang mantap dan enak didengar, semua itu aku coba untuk mem”baca”-nya. Dalam fantasiku, orang besar mestilah memperlihatkan mahal senyum, kalau bicara dihemat, perhatiannya dipusatkan kepada dirinya bukan kepada yang diajak bicara, bahkan yang diajak bicara harus memperhatikannya. Tapi dalam suasana akrab dan hangat orang yang satu ini tidak demikian. Pusat perhatiannya ditujukan kepadaku, orang kecil. Tambah jelas bagiku tentang kepribadian orang yang selama ini aku kagumi. Kesimpulanku, tidaklah sia-sia kekagumanku kepada seorang yang memang besar. Dan orang besar itu kini berada dalam jarak yang dekat sekali denganku, bahkan dalam satu delman.

Mendekati Tebu ireng khayalanku memenuhi kepala. Tergambar dalam angan-anganku tentang sebuah pesantren besar dengan para pengasuhnya yang bercita-cita besar di bawah pimpinan seorang ulama besar. Aku merasa bersyukur bahwa dalam hidupku, kuperoleh kesempatan mengunjungi Pesantren Tebuireng yang termasyhur. Walaupun tidak lama, tetapi waktu dan kesempatan yang terbatas itu akan ku manfaatkan untuk belajar dari Tebuireng sekalipun hanya dalam sehari dua.

K.H.A. Wahid Hasyim menganjurkan kepadaku, biarlah kami istirahat sejenak di rumahnya sambil membasahi kerongkongan yang sudah cukup kering. Aku akan diantarkan menghadap Hadratus Syaikh. Yang dimaksud ialah K.H. Hasyim Asy’ari. Sebutan ini lazim dipergunakan di kalangan Nahdhatul Ulama dan Pesantren Tebuireng untuk panggilan sehari-hari K.H. Hasyim Asy’ari.

Buat pertama kali aku menghadap Hadratus Syaikh. Seperti terpukau oleh sinar wajahnya yang bercahaya, memancar dari wajah orang yang sangat berwibawa. Ketika aku memberikan salam, beliau sedang duduk di atas permadani yang memenuhi ruangan tamu yang luas. Mengenakan baju “Jawa” seperri piama tak berleher, berwarna putih terbuat dari kain katun, bersarung plekat dan mengenakan serban. Beliau sedang membaca sepucuk surat. Aku heran sekali, melihat seorang tua yang usianya lebih dari 70 tahun masih dapat membaca tanpa kaca mata. Aku diperkenalkan oleh K. H. A. Wahid Hasyim.

Kedua ayah dan putera ini berbicara dalam bahasa Arab, sesekali KH. A. Wahid Hasyim menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahandanya dalam bahasa Jawa yang halus. Tetapi setelah K.H.A. Wahid Hasyim memberitahukan bahwa aku dari kalangan Pemuda Ansor, maka Hadratus Syaikh kontan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapannya denganku, walaupun telah diberitahukan bahwa aku dari Jawa Tengah. Diucapkan dengan lambat-lambat, kalimat demi kalimat, seolah-olah sambil berpikir apa yang harus dikatakan. Sejenak aku menyadari bahwa bukan karena beliau tidak paham bahasa Indonesia, melainkan karena kepribadiannya serta sifatnya yang serba hati-hati. Aku teringat sebuah kalimat hikmat dalam pelajaran di madrasah: Orang bijaksana berpikir dulu, baru berkata, tetapi orang sembrono berkata dulu, baru berpikir.

Hadratus Syaikh jelas memperlihatkan termasuk orang yang bijaksana. Tidak tergesa-gesa dalam mengutarakan buah pikirannya, jelas dalam menggunakan kata-katanya hingga sebodoh-bodoh orang akan bisa menangkap apa yang dimaksud. Bukan kalau berbicara dalam bahasa Indonesia saja beliau ucapkan dengan lambat-lambat, tetapi juga dalam bahasa Jawa dan Arab. Sesekali beliau mengajak aku berbicara dalam bahasa Arab, akan tetapi aku jawab dalam bahasa Indonesia, mengikuti jejak K.H.A. Wahid Hasyim yang sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayahandanya dalam bahasa Jawa, sekalipun Hadratus Syaikh menanyakan sesuatu dalam bahasa Arab.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: