Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun ke medan pengabdian (4)

Percakapan menjadi panjang. Hadratus Syaikh memberitahukan kepadaku bahwa surat yang tadi sedang dibacanya datang dari seorang ulama terkenal di Jawa Tengah, yang beliau telah anggap sebagai gurunya. Aku tahu sifat Hadratus Syaikh yang selalu memandang ulama seangkatannya sebagai gurunya. Ini adalah sifat tawadhu, rendah hari. Dikatakan bahwa beliau sangat sedih mengapa harus berbeda pendapat antara beliau dengan pengirim surat. Ketika itu memang sedang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum terompet dan genderang yang dipakai oleh Gerakan Ansor manakala sedang baris-berbaris atau sedang pawai. Sebagian ulama mengharamkan, tetapi sebagian besar termasuk di dalamnya Hadratus Syaikh membolehkan. Yang mengambil hukum membolehkan ini memakai alasan dan pertimbangan untuk mendemonstrasikan syi’ar Islam dalam rangka mempersiapkan kekuatan, agar musuh tidak memandang rendah kekuatan kita. Jangan dilupakan, ketika itu seluruh bangsa kita sedang menghadapi aksi mobilisasi yang diadakan oleh kaum penjajah. Hadratus Syaikh memperlihatkan kepada kami isi surat yang dibacanya, datang dari seorang ulama terkenal yang dipandangnya sebagai gurunya, dengan nada keras mengharamkan. Beliau baca suratnya dalam bahasa Arab. Beliau katakan berulang-ulang, sangat sedih, mengapa gurunya itu “memarahinya.” Maksudnya berbeda pendapat. Tetapi akhirnya dengan nada yang pasti dan mantap, beliau katakan bahwa beliau akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menginsyafkan “gurunya” itu. K.H.A. Wahid Hasyim maupun aku hanya diam menunduk, tak akan mencampuri urusan tersebut.

Biarlah diselesaikan di antara para ulama. Tetapi kuat keyakinanku, bahwa wibawa Hadratus Syaikh akan dapat menginsyafkan pihak-pihak yang mengharamkan terompet dan genderang itu. Dan ternyata memang benar. Dalam Muktamar Nahdhatul Ulama yang diadakan kemudiannya, telah diputuskan dalam sidang Syariyah yang terdiri dan hanya para alim ulama, terompet dan genderang yang dipersoalkan itu dibolehkan. Suatu sidang yang khusus dihadiri oleh ratusan alim ulama dari seluruh Indonesia, dalam mana Hadratus Syaikh mempertahankan pendiriannya. Dalam sidang tersebut pendirian beliau diuji kebenarannya dan ternyata memperoleh dukungan seluruh muktamar.

Dua hari berada di tengah-tengah Pesantren Tebuireng, aku memperoleh pelajaran yang banyak sekali.

Jikalau Hadratus Syaikh sehari-hari banyak berbicara dalam bahasa Arab—hal itu banyak juga terjadi di kalangan kiai-kiai pengasuh pesantren di mana-mana—aku telah mendapat jawabannya. Sepanjang hari pekerjaannya mengajar para santri sejak pagi buta, sehabis sembahyang subuh hingga jauh malam. Gelombang demi gelombang rombongan santri datang dan pergi mengerumuni Hadratus Syaikh untuk menerima pelajaran. Cara belajarnya, masing-masing santri menyimak kitab yang dibaca beliau, dan hampir tak ada sebuah kitab pun dalam bahasa lain kecuali bahasa Arab. Saat-saat senggang tidak mengajar, peluang waktu itu dipergunakan untuk membaca sendiri (muthala’ah) kitab-kitab yang juga berbahasa Arab. Hampir setiap hari ada saja tamu yang datang dari kalangan ulama juga. Mereka datang dengan membawa permasalahan hukum Islam untuk dimusyawarahkan, sehingga dengan sendirinya memerlukan membuka-buka kitab untuk mencari qa’idah-qa’idah atau dalil-dalilnya. Belum lagi menerima pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu hukum Islam, baik yang datang secara lisan maupun tertulis. Dalam pada itu, sekali tempo harus menulis risalah-risalah atau maklumat-maklumat mengenai masalah yang sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat yang sumbernya harus dicari dari kitab-kitab yang berbahasa Arab. Aku sampai kepada kesimpulan bahwa tidaklah mengherankan mengapa bahasa Arab itu seperti bahasa ibunya sendiri.

Maka itu, aku sering menjumpai di mana-mana bahwa para kiai—dan tentu juga termasuk K.H. Hasyim Asy’ari—merasa jadi lebih mampu dan lancar mengutarakan buah pikirannya dalam bahasa Arab. Bahasa ini telah dipandang bukan lagi bahasa asing, melainkan bahasa Islam. Aku bandingkan juga dengan sebagian para sarjana kita, terutama sarjana hukum angkatan lama yang lebih mahir berbahasa Belanda dibanding dengan bahasa ibunya.

Tetapi bahasa apa pun yang digunakan Hadratus Syaikh, beliau selalu mengucapkannya dengan perlahan-lahan, mencari rangkaian kata-kata yang mudah dimengerti oleh orang banyak. Jika masalahnya cukup berat dan memerlukan pemikiran lebih mendalam, maka kata-katanya selalu diulang-ulang supaya mudah dipahami oleh orang yang diajak bicara.

Selama dua malam aku berada di Pesantren Tebuireng, aku dapati pesantren ini seperti tak pernah tidur. Hampir 24 jam suasananya penuh dengan kegiatan-kegiatan dari 1500 orang lebih penghuninya, para santri dan guru-gurunya. Berjajar ratusan bilik yang didiami para santri, di emper-empernya selalu kelihatan kelompok-kelompok santri yang sedang menghafal pelajaran atau sedang mendiskusikan pelajarannya di antara mereka. Kelompok-kelompok lain sedang mengerumuni gurunya untuk menerima pelajaran. Kelompok Fiqh berada di sudut sana, kelompok Hadits di ruang lain, kelompok Tafsir menggerombol di tempat lainnya, begitu seterusnya. Tak terhitung jumlah kelompok-kelompok kecil yang sedang mengulang-ulang sendiri pelajaran yang baru diterima dari gurunya.

Di serambi masjid terdapat kelompok yang tengah membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an adalah suatu keutamaan, memperoleh bahagian pahala bagi siapa yang membacanya, sekalipun tidak mengerti maksudnya. Tentu saja, yang mengerti maknanya lebih banyak lagi pahalanya. Dan berlipat ganda lagi pahalanya bagi siapa yang mengamalkannya, secara semestinya.

Masjidnya terletak di tengah kompleks pesantren yang luasnya sekitar 8 ha. Mesjid itu tidak terlampau besar, kira-kira berukuran 15 X 25 m. Pada waktu sembahyang jama’ah (sembahyang bersama) bisa meluap jamaahnya hingga ke halaman seputarnya, bahkan memenuhi lorong-lorong sekeliling pesantren. Pada waktu sembahyang subuh sama banyaknya yang berjamaah itu dengan waktu-waktu yang lain. Jika tidak karena sesuatu halangan, Hadratus Syaikh sendiri yang mengimami. Dibacanya Al-Qur’an sambung-menyambung dari satu sembahyang ke sembahyang yang lain hingga tamat seluruh Al-Qur’an, dan diulang lagi dari permulaan Al-Qur’an pada sembahyang berikutnya, dan berikutnya, hingga berkali-kali Al-Qur’an ditamatkan dalam waktu sembahyang. Demikian itu berlangsung beberapa tahun.

Saat-saat bukan sembahyang jama’ah, masjid pun tak pernah sunyi dari orang-orang yang bersembahyang sunnah, sembahyang untuk keutamaan beramal. Sebagian lain mengerjakan wiridan, yaitu membaca rangkaian kalimat-kalimat suci secara tetap waktu-waktunya, dan bilangannya pun tertentu pula, sesuai dengan ijasah yang diberikan guru. Wiridan pun termasuk ingat kepada Allah SWT, (dzikir) untuk memohon arnpunan-Nya, rahmat-Nya dan ridho-Nya. Di sana sini ada juga yang tengah membaca surat-kabar atau majalah. Ada yang berbahasa Indonesia, Arab maupun Belanda (“Java Bode”-“Locomotief”).

Di salah satu sudut ada sebuah cafetaria tempat santri-santri jajan, makan, dan minum (disebut “ngopi”). Tentu saja namanya bukan cafetaria, cukup dengan “warung pondok” saja. Biasa di mana-mana, tempat “ngopi” juga tempat pertemuan, sekedar kumpul-kumpul di antara kawan sambil mengobrol dan bergurau. Adakalanya warung itu kepunyaan koperasi pesantren, ada pula yang milik “Bu Nyai” yang dipercayakan pengurusannya kepada beberapa orang santri.

Aku mencoba untuk menemukan di mana faktor kebesaran dan kemasyhuran Pesantren Tebuireng.

Terasa adanya proses pembaruan berjalan dengan bijaksana. Tidak secara mutlak, tetapi terbatas pada atribut yang bertalian dengan metode efisiensi penggunaan waktu dalam hubungannya dengan sistem belajar. Metode lama yang memang lebih produkrtf dan baik dipertahankan, sebaliknya metode baru yang ternyata tidak menghasilkan lebih baik, tidak dipakai, sekalipun namanya “modern ” Sesuai dengan perkembangan pesantren, maka faktor organisasi pesantren menjadi sangat penting. Para santri diberi kesempatan dan melatih diri untuk turut memikul tanggung jawab, karena pesantren adalah dunia mereka sendiri. Karena itu, di antara santri-santri dibentuk dewan pengurus yang membawahi kelompok-kelompok kecil menurut susunan lingkungan vertikal dan horisontal. Urusan mereka diurus sendiri di antara mereka secara musyawarah. Dalam pada itu, masalah kebersihan dan kerapian terus diusahakan peningkatannya.

Proses pembaruan itu memang tidak bisa dilaksanakan secara kilat, memerlukan waktu. Soalnya menyangkut kondisi para santri sebagai anak-anak rakyat yang terdiri dari macam-macam tingkatan atau berbeda tingkat sosial ekonomisnya. Pembaruan itu tidak menyangkut hal yang asasi, misalnya tanpa melenyapkan wujud pesantren itu sendiri sebagai lembaga yang mempunyai corak dan kultur sendin. Tempat menuntut ilmu, mempraktikkan ibadah, mempraktikkan cara bergaul sebagai anak rakyat warga masyarakat, mempersiapkan masa depan di tengah￾tengah rakyat, dan menyaring seriap yang datang baru yang belum jelas manfaatnya bagi keselamatan masyarakat.

Di pesantren ini, para santri diperkenalkan kepada kegiatan masyarakat di luar pesantren, dilatih, dan diberi kesempatan untuk terjun ke dalamnya. Tidaklah mengherankan mengapa santri-santri Tebuireng turut aktif dalam kegiatan dakwah, pendidikan, dan sosial yang sedang berjalan di dalam masyarakat. Tidaklah mengherankan bila aktivis-aktivis Nahdhatul Ulama di sekitar Jombang dan Jawa Timur pada umumnya sebagian besar terdiri dari para lulusan Tebuireng. Dan faktor kebesaran Tebuireng memang tidak bisa dipisahkan dengan kebesaran pengasuhnya, khususnya tokoh K.H. Hasyim Asy’ari. Tidak diragukan lagi bahwa ulama ini mempunyai wibawa atau haibah serta pengaruh yang besar sekali di kalangan alim ulama di Jawa Timur khususnya, dan di seluruh Indonesia pada umumnya sebagai Rais Akbar Nahdhatul Ulama. Bukan saja di kalangan Nahdhatul Ulama, tetapi juga di kalangan golongan Islam yang lainnya.

Ada satu lagi faktor Tebuireng sebagai “kiblat”-nya para ulama di seluruh Jawa pada khususnya, dan di Indonesia, pada umumnya. Tebuireng memiliki daya tarik yang kuat sekali. Ada kecenderungan di kalangan para santri dan bahkan kiai-kiai pesantren yang lain untuk bisa merasa “dekat” dengan Tebuireng. Perasaan ada sesuatu yang hanya di Tebuireng orang bisa menernukannya. Bukan sekedar pribadi Hadratus Syaikh, tetapi terutama karena tokoh besar ini dirasakan tepat sekali untuk menduduki tempat sebagai “Bapak Ulama” Indonesia.

Pernah pada suatu ketika di sekitar tahun 1935-an, pemerintah kolonial Belanda hendak menganugerahkan sebuah bintang kepada beliau. Akan tetapi dengan halus ditolaknya. Untuk jangan mendatangkan fitnah dari kaki tangan kolonial, beliau cukup menjawab dengan rendah hati:

Aku takut pada diriku sendiri akan datangnya rasa ujub dan takabur. Aku malu kepada Allah karena aku cuma hamba-Nya yang hina dina!.

Di pesantren yang mana pun dan kiai siapa pun bisa membaca Kitab Bukbari, sebuah kitab kumpulan Hadits Nabi yang paling terkenal sekali. Kumpulan itu berisi 7275 buah hadits yang shahih. Penyusunnya bernama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, lahir pada 13 Syawal 194 atau 21 Juli 810 di Bukhara. Neneknya seorang pujangga yang terkenal, Bardizbah. Sejak anak-anak ia telah yatim, menghafal Al-Qur’an dan berpuluh ribu hadits sebelum ia menginjak usia dewasa. la mengunjungi kota-kota Khurasan, Baghdad, dan Naisabur, terus ke Irak, Hijaz, dan Mesir untuk mempelajari hadits. Kitab yang terkenal dengan nama Al-Jami’ As-Shahih, atau lebih dikenal dengan Kitab Al-Bukhari, ditulisnya sejak ia berusia 16 tahun. Sebanyak 7275 buah hadits yang dihimpunnya itu merupakan pilihan dari hasil pengecekannya terhadap 1800 orang yang dianggap guru-guru ilmu hadits. Tiap selesai menulis satu hadits, ia tetap dalam keadaan suci badan dan masih berwudhu, lalu sembahyang sunnah dua rakaat untuk memohon hidayah dan ridha Allah, demikian pernah ia katakan sendiri. Dalam bulan Ramadhan, setelah sembahyang Tarawih, ia menjalankan sembahyang sunnah untuk menghafalkan sepertiga isi Al-Qur’an setiap malamnya. Seluruh dunia Islam, sejak dulu hingga sekarang, memandang Kitab Al-Bukhari sebagai kitab hadits paling otentik di antara kitab-kitab hadits lain yang termasyhur di kalangan dunia Islam.

Dikisahkan bahwa Imam Muslim (pengarang kitab hadits Shahih Muslim) yang dinilai sama, dwi tunggal dengannya oleh dunia Islam, pernah mengatakan:

Ketika aku mengunjungi Imam ‘Bukhari dikediamannya, aku katakan kepadanya, biarkan aku mencium kaki tuan Hai Raja sekalian ahli hadits!

Ya, di pesantren yang mana pun dan kiai siapa pun bisa saja membaca kitab ini. Akan tetapi, apabila K.H. Hasyim Asy’ari membaca kitab Al-Bukhari-—biasanya ditamatkan selama bulan Ramadhan—, maka berduyun-duyunlah kiai-kiai dan santri-santri dari luar daerah untuk “mondok” di Tebuireng, karena hendak mendengarkan Hadratus Syaikh membaca kitab Al-Bukhari. Memang, dari banyak sekali ilmu yang dimiliki Hadratus Syaikh, beliau paling menonjol sebagai seorang ulama ahli hadits. Orang yang pernah melihat sendiri cara Hadratus Syaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab yang terkenal ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri! Orang-orang yang belajar kitab al-Bukhari di hadapan Hadratus Syaikh merasa sangat puas, selain belajar dari guru yang terpandang, juga karena paling tidak dapat menikmati suasana bulan Ramadhan bersama K.H. Hasyim Asy’ari di pesantrennya.

Keterangan lain yang dapat aku kumpulkan tentang Hadratus Syaikh adalah mengenai tamu-tamunya dan caranya menerima tamu. Setiap hari tak pernah sepi dari kunjungan tamu-tamu yang puluhan banyaknya, bahkan kadang-kadang hingga ratusan. Bermacam-macam tingkatannya, ada kiai, santri, wali murid, pamong praja, saudagar, petani, pemuda, dan sebagainya.

Tamu-tamu ini semuanya dilayani dengan baik, sekalipun tidak pernah berjanji sebelumnya, sekalipun datang pada waktu yang umumnya orang sedang istirahat. Sekalipun ada “khadam” yang menyuguhkan minuman dan makanan, tetapi beliau sendiri yang meletakkan di muka sang tamu, bahkan kadang-kadang beliau sendiri yang mengambilnya dari “ndalem” (ruangan tengah di rumahnya), jika kebetulan “khadam” sedang mengaso.

Bahkan jika kedatangan tamu tepat di waktu makan (siang maupun malam), maka keluarlah hidangan makan. Dengan amat ramahnya tamu “diladeni” dengan kata-katanya yang menyenangkan, hingga kalau tamu itu terdiri dan banyak orang, maka masing-masing orang merasa bahwa dialah paling disayang Hadratus Syaikh. Siapa saja yang pulang dari bertamu akan merasa bahwa dirinya orang yang paling dekat di hati Hadratus Syaikh. Mereka puas, menjadi kenangan yang membahagiakan sepanjang hidupnya. Ada kalanya sang tetamu datang dengan membawa sekedar oleh-oleh, misalnya buah pepaya. Hadratus Syaikh memperlihatkan suka citanya atas oleh-oleh itu sambil berkata: “Alhamdulillah, alhamdulilah, pucuk dicita, ulam tiba! Saya sudah lama ingin buah pepaya. Alangkah bagusnya pepaya ini, alangkah nikmatnya…!” Berulang-ulang diucapkan terima kasihnya serta mendo’akan kepada si pemberinya. Padahal di kebunnya, di belakang rumah Hadratus Syaikh, ada juga pohon-pohon pepaya.

Tidak semua orang bersedia menerima tetamu, tidak semua orang gembira menerima tamu, apalagi yang tak ada janji sebelumnya, dan tidak semua orang dapat menyenangkan hati tetamu. Tetapi Hadratus Syaikh tidak masuk golongan ini. Hadratus Syaikh dalam pandanganku adalah orang besar. Andaikata beliau bukan orang alim, ini misal saja, tetapi dengan caranya menyenangkan tetamu, sedap waktu, sepanjang hari, sepanjang bulan dan tahun, tetamu selalu diterima dengan amat baiknya, maka dari ini saja beliau adalah seorang besar, seorang yang sangat layak untuk dipandang sebagai Bapak dan pengayom! Tugas sehari-harinya yang telah cukup berat dan memakan waktu, dalam usianya yang sudah 70-an tahun, padahal beliau juga merupakan pimpinan puncak dari sebuah organisasi Islam bernama Nahdhatul Ulama selaku Rais Akbarnya, bagiku tak ada lagi tara bandingannya. Sangat mengagumkan.

Menurut cerita K.H.A. Wahid Hasyim, puteranya, jika pada satu saat Hadratus Syaikh menghadapi masalah yang cukup berat sehingga tak bisa diatasi sendiri, maka orang pertama yang dimintai pendapatnya adalah K.H. Abdul Wahab Chasbullah dan K.H. Bisri Syamsuri, dua ulama besar yang masing-masing memimpin Pesantren Tambak beras dan Denanyar—tidak jauh dari Jombang. Tiga tokoh ulama besar ini merupakan tri tunggal yang masing masing mempunyai ma’iyah atau nilai kelebihan, tetapi saling memerlukan antara yang satu kepada lainnya.

Aku merasa sangat kecil sekali jika berhadapan dengan Hadratus Syaikh. Tetapi aku ingin bisa mewarisi salah satu sifatnya, walaupun sekedar yang kecil saja. Padahal aku belum pernah secara langsung menjadi muridnya. Aku belum mendapat kesempatan mondok di Tebuireng. Namun sejak itu aku lebih mantap untuk menganggap bahwa beliau adalah guruku. Aku pelajari kepribadiannya, aku renungkan buah pikirannya, dan aku hendak mengikuti garis kepemimpinannya. Sekalipun berada dalam jarak yang jauh, aku di Jawa Tengah dan beliau di Jawa Timur, namun di hatiku beliau sangatlah dekat, biarpun andaikata di hati beliau aku tidaklah dekat.

Waktu yang hanya dua hari di Tebuireng, aku berusaha untuk merekam segala yang aku lihat dan aku dengar, pada saatnya akan ku ulang penyimakannya tahap demi tahap, aku jadikan pedoman yang amat berharga pada saat aku memulai ikut terjun ke tengah medan pengabdian.

Bukankah semua orang wajib mengabdikan diri? Ya, tentu saja disesuaikan dengan kadar kemampuannya dan kesempatannya yang tersedia. Bismillah hi haulillah,dengan Nama Allah dan dengan mengharapkan pertolongan-Nya!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: