Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun ke Medan Pengabdian (1)

Zaman beredar, banyak perubahan terjadi, membawa akibat positif dan negarif. Tidak selamanya arus modernisasi membawa kebaikan, Kalau saja dunia ini didiami orang-orang yang sepaham dengan kita, alangkah enaknya hidup ini. Tetapi tidak demikian. Jauh-jauh dari pesantren dikumandangkan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya dijadikanlah kamu cuma satu ummat saja. Tetapi Dia hendak mengujimu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Sebab itu, berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kamu akan kembali, lalu diberitahukan kepadamu tentang apa-apa yang kamu perselisihkan.” (Al-Maidah 48).

Benar, bahwa pesantren mempunyai daya tahan menghadapi segala arus yang masuk. Ada semacam pembendung terhadap anasir yang merusak, suatu kekuatan pembendung yang terjadi dengan sendirinya dan unsur-unsur yang dimiliki pesantren. Semacam jaringan refinery atau filter yang menyaring apa yang boleh masuk dan apa yang harus berhenti di gerbang pesantren. “Adapun buih yang kotor itu akan lenyap sebagai sesuatu yang tak berharga, tetapi unsur yang bermanfaat bagi manusia akan tetap mengendap di bumi…,” demikianlah Allah memberikan perumpamaan dalam Al-Qur’an (Ar-Ra’d 17).

Benar, bahwa di dalam pesantren para santri dibentengi dan diberi daya kekuatan. Dilatih untuk menjalani cara hidup dengan segala tradisinya yang baik. Akan tetapi pada saat para santri meninggalkan pesantrennya untuk mengurangi kehidupan yang sebenarnya di luar tembok pesantren, mereka sendiri harus tahu bagaimana terjun di tengah-tengah pergolakan masyarakat, harus pandai menimbang mana yang boleh dan mana yang tak boleh. Mereka memang harus membawa mission pesantren, tetapi mereka harus pula menyadari bahwa masyarakat bukanlah seluruhnya pesantren.

Di tahun itu, menjelang 1939-an, dalam masyarakat Indonesia sedang bergejolak berbagai aspirasi golongan, ada yang bergelombang naik, ada yang riak-riaknya cuma datar saja. Ada yang tujuannya sama, cuma lain iramanya, tetapi juga ada yang saling bertentangan satu dengan lainnya. Dunia pesantren tidak lagi hanya mementingkan denyut aspirasi orang-orang dalam lingkungan dindingnya, tetapi turut melangkah ke luar menyertai saudara-saudara yang senasib dan sepenanggungan. Pesantren bukan hanya berfungsi semacam benteng yang diam di tempat, akan tetapi juga berfungsi semacam “benteng stelsel”-nya de Kock ketika menghadapi Perang Diponegoro. la ikut mengambil peranan sebagai benteng yang bergerak.

Pesantren Tebuireng dengan tokoh-tokoh Nahdhatul Ulama yang berkerumun di sana menempati kedudukan sebagai “kiblat”-nya pesantren-pesantren di seluruh Indonesia, setidak-tidaknya di seluruh Jawa. Nama-nama K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. Mahfuzh Shiddiq, dan lain-lain, merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai nilai sejarah yang besar.

Pesantren satu dengan lainnya lebih erat memperkokoh persatuan, kerjasama, dan
mengikat solidaritas lebih kuat. Sebagai seorang pemuda yang mulai menginjak alam dewasa, aku bersama pemuda-pemuda santri menyediakan diri selaku pelaksana-pelaksana cita-cita, sambil membuka lebar-lebar mata dan telinga terhadap pergolakan zaman.

Pengaruh Hitler menganeksasi dan mencaplok Eropa, negeri Belanda, serta hijrahnya pemerintah Belanda ke Inggris, tak terkecuali lebih mengobarkan semangat nasionalisme bangsa kita pada umumnya. Gema Pergerakan dan semangat nasionalisme berkumandang lebih luas. Kaum pesantren memandang bahwa semangat kebangsaan ini merupakan mukadimah dari perjuangan kemerdekaan Tanah Air, yang oleh dunia pesantren dipandang sebagai conditio sine qua syarat mudak mencapai Izzul Islam wal Muslimin (kebahagiaan dan kejayaan Islam serta umatnya).

Hanya bedanya, jikalau kaum nasionalis memakai
“bahasa” politik, maka Pesantren memakai “bahasa” Islam. Berbeda bahasa tetapi maksud
dan tujuan sama. Mahfuzh Shiddiq, A. Wahid Hasyim, dan Muhammad Ilyas sebagai kiai-kiai muda, tidaklah asing namanya di kalangan pesantren. Mereka ini merupakan kurir-kurir K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H.A. Wahab Chasbullah membawa pesan-pesan untuk dunia pesantren.

Aku masih ingat ketika seorang kiai muda bernama Abdullah Ubaid datang di kampungku sebagai utusan K.H. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdhatul Ulama. Begitu melihat kiai muda ini
mengenakan sarung palekat berwarna hijau garis-garis putih, kontan semua pemuda santri
di kampungku menyerbu toko-toko dan pasar mencari sarung plekat hijau bergaris-garis
putih. Sarung model Abdullah Ubaid, begitu disebut orang. Demikian pula ketika pada suatu hari K.H. Mahfuzh Shiddiq datang dengan mengenakan peci putih ala Nehru, kontan saja santri-santri menyerbu tukang-tukang jahit minta dibuatkan peci ala Mahfuzh Shiddiq. Orang tak akan sekeranjingan ini jika tidak karena tersentuh jiwanya untuk mendukung ide-ide yang dikampanyekan.

Pesan-pesan yang disampaikan kepada dunia pesantren ditanggapi dengan positif dan
antusias. Pesan Tebuireng itu pada umumnya berisi anjuran agar pesantren tidak mengambil sikap pasif terhadap kebangkitan masyarakat, tetap merupakan mata rantai dari kebangkitan seluruh alim ulama. “Perkokoh persatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka, kadang-kadang suatu kebatilan mencapai kemenangan disebabkan mereka bersatu dan
terorganisasi. Sebaliknya, kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai-berai dan saling bersengketa.”
Demikianlah antara lain kata Rais Akbar dari Pesantren Tebuireng. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dari lingkungan kita kalau kita tidak memeliharanya. Sirna dari lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Yang senang melihat kita tetap tegak berdiri hanyalah kita. Di sini letak arti dari suatu perjuangan. Dan, untuk
perjuangan ini, kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tak ada lagi.”

Demikianlah antara lain pesan-pesan Rais Akbar Hasyim Asy’ari yang disampaikan dalam Bahasa Arab, bahasa yang lebih mudah diresapi dan dinikmati oleh dunia pesantren.

Baik yang memberi pesan, maupun yang menyampaikan dan yang menerimanya, mereka adalah bukan orang asing, mereka mempunyai aqidah dan khittah yang sama, ibarat radio memiliki gelombang yang cuma satu. Suatu pesan dari hati nuraninya sendiri, untuk kepentingan dunianya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: