Memasuki Persiapan Pengabdian (bag 3)

Aku sudah hampir menyelesaikan pelajaranku di Madrasah Al-Huda dan pesantren lain di kampungku. Bukan saja aku sudah mulai jadi “ustadz” kecil yang mengajar di kelas yang lebih rendah tingkatannya, bahkan aku sudah mulai mengajar di berbagai kursus pemuda pada hari-hari tertentu. Aku mulai banyak membaca buku-buku. Aku bisa mengetik sekalipun cuma dengan “sistem dua jari” dan aku gemar membaca majalah dan surat kabar. Oleh sebab itu, aku memberanikan diri menjadi koresponden harian “Pemandangan” dan “Hong Po” keduanya terbit di Jakarta. Berita-berita yang aku kirim dimuat juga, dan dari hasil coba-coba ini, aku menerima tiap bulan sekitar f 2,50 sebagai honorariumku.

Aku mengalami kemasygulan juga dalam hari. Soalnya, anggapan di kampungku, seorang pemuda biar sudah tergolong moncor sekalipun, jika belum pergi belajar ke daerah lain, dia masih dianggap “kampungan.” Karena itu, aku ingin keluar daerah, biar tidak dikatakan “kampungan.” Pikir punya pikir, aku mengambil ketetapan hati untuk pergi ke Solo. Pertimbanganku macam-macam. Solo, selain kota besar, di sana, ketika itu merupakan pusat kegiatan Islam, juga kegiatan pergerakan nasional dan pusat… jurnalis (Yournalist-wartawan). Di sana berkedudukan “Perdi,” Persatuan Jurnalis Indonesia. Aku memang tertarik akan tugas-tugas kewartawanan, di samping hasratku untuk memperdalam pengetahuan Islam secara menyeluruh. Nama-nama Sudaryo Cokrosisworo, M. Tabrani, Mr. Sumanang, Parada Harahap, dan gembong wartawan lainnya sangat besar bagiku.

Gampang nya cerita, dengan diplomasi sangat panjang, akhirnya Ayah dan Ibu merestui. Itu waktu tahun 1937 ketika usia ku 18 tahun.

Tiba di Solo, gambaran ku hampir menjadi kenyataan. Aku merasa bahwa di sana aku akan banyak memperoleh kesempatan untuk meneruskan cita-cita. Aku melihat pemuda-pemuda santri sama gagah nya dengan pemuda-pemuda yang bukan santri. Mereka ganteng- ganteng, apalagi kalau lagi “nyolek” (berdandan). Padahal aku cuma pemuda desa! Aku masuki Madrasah “Mamba’ul ‘Ulum” yang sangat terkenal itu, aku diterima di kelas 8, kelas yang tertinggi. Maklumlah, “Mamba’ul ‘Ulum” yang aku masuki ini bagian yang sore nya, bagian paginya kelas sebelas lah yang tertinggi. Karena aku datang bukan pada tahun permulaan pelajaran, aku tak bisa diterima di bagian paginya, tak ada kelas yang kosong. Aku hanya 2 bulan saja memasuki “Mamba’ul-Ulum” ini. Aku keluar dari sana karena aku merasa bahwa pelajaran yang aku hadapi sudah pernah aku pelajari di kampung ku. Aku masuki Madrasah “Salafiyah” bagian yang sore nya karena bagian paginya sudah penuh tak ada kelas yang kosong. Aku diterima di “Salafiyah” bagian sore ini di kelas yang tertinggi, kelas 3.

Aku cuma satu bulan di sana, lalu keluar, juga alasanku, pelajaran yang kuhadapi sudah pernah aku pelajari di kampung. Aku masuki saja berbagai kursus. Kursus Yournalist aku masuki, kursus-verkooper juga aku masuki. Pertimbanganku, pengetahuan verkooper penting bagi seorang mubaligh untuk bisa mencari “pemasaran” buat menghidangkan Islam kepada masyarakat. Harus mengerti kondisi masyarakat, jiwa masyarakat, organisasi, approach, dan sopan santun. Itu sebabnya aku masuki kursus vcrkooper.

Aku menghadiri ceramah pastur dan pendeta Kristen, karena aku ingin tahu apa itu agama Kristen. Aku datangi ceramah-ceramah “kebatinan” dan “klenik” karena aku juga ingin tahu apa dan mau ke mana mereka itu. Aku kunjungi juga tabligh-tabligh Muhammadiyah, karena aku ingin melihat bagaimana cara mereka bertabligh. Aku kunjungi juga ceramah-ceramah “Pemuda Muslimin Indonesia” (PSII) karena aku teringat di kampungku, Pemimpin Utama H.O.S Cokroaminoto membina kader-kader PSII, aku ingin tahu gambaran kira-kira bagaimana kader PSII ini. Tetapi aku hampir tak pernah mengunjungi tabligh-tabligh Nahdhatul Ulama.

Aku melihat bahwa Nahdhatul Ulama di Solo ketika itu tergolong paling lemah di antara organisasi-organisasi Islam, maksudku di kota Solo. Aku merasa bahwa yang aku akan bisa temukan dalam tubuh Nahdhatul Ulama Solo ini tak jauh dari yang ada di kampungku, bahkan di kampungku lebih maju dan semarak kegiatan-kegiatannya.

Dalam pada itu, aku diterima memasuki Madrasah “Al-Islam” Solo di kelas yang tertinggi, yaitu kelas IV. Hanya 4 bulan aku belajar di sana karena ketika itu menghadapi ujian terakhir (akhir tahun pelajaran), dan aku lulus ujian dengan memperoleh ijasah tanda lulus dan tamat belajar. Aku segera pulang ke kampung. Aku pikir, buat apa lama-lama di Solo, toh kunci-kunci yang aku perlukan sudah aku peroleh. Orang belajar kalau diikuti kemauan hati, kapan saja tak ada habisnya (bisa lama sekali). Yang penting asal kunci-kuncinya sudah tergenggam. Lagi pula bagi Ayah memang terasa berat sekali membiayai aku setiap bulan f 2,50. Dengan kiriman pos wesel setiap bulan sejumlah itu, hidup di kota Solo terasa berat sekali. Menurut kalkulasi, belajar di Solo ketika itu baru bisa agak bernapas kalau kirimannya setiap bulan f 5,-. Tetapi bagaimanapun juga, aku telah bisa menyelesaikan cita-citaku belajar di Solo. Dan… yang paling penting bagiku, aku telah menggondol ijasah. Aku akan bisa katakan kepada orang sekampungku: “Nih, 13 bulan aku di Solo, pulang dengan mengantongi ijasah”.

Terasa adanya suatu perubahan sangat besar pada sikap orang sekampungku sejak aku pulang dari Solo. Bukan hanya di lingkungan teman-teman, tetapi juga guru-guruku para kiai dan juga Pak Mukhtar, Konsul Nahdhatul Ulama. Usiaku ketika itu menginjak 19 tahun, tetapi rasanya aku sanggup dan mampu berbuat apa saja.

Dengan restu Ustadz Mursyid dan Pak Mukhtar, aku rnendirikan sebuah sekolah (bukan madrasah), namanya: “Islamirisch Westerse School” dalam lingkungan Nahdhatul Ulama. Di kampungku, Muhammadiyah mempunyai sebuah sekolah “H.I.S. m/d Qur’an,” dan di Purwokerto orang Kristen sudah lama memiliki “H.I.S. m/d Bijbel.” Karena itu, apa salahnya kami mendirikan “I.WS.” tadi. Salah seorang teman R. Sunarko menjadi direktur dan aku salah seorang gurunya. Aku dirikan “Kulliyatul-Mubalighin” dan “Kulliyatul-Mu’alimin” di mana pemuda-pemuda dididik menjadi mubaligh dan guru (ustadz). Aku menjadi direkturnya dan guruku Kiai Akhmad Syatibi menjadi Guru Agamanya.

Aku kembangkan kegemaran ku menulis. Aku suka merenung jika aku lihat ratusan bahkan ribuan kitab-kitab dalam dalam bahasa Arab. Aku pikir bahwa Islam tetap terpelihara sejak 14 abad yang lain disebabkan antara lain karena hasil karya pengarang-pengarang besar. Aku ingin juga menjadi pengarang. Tapi bagaimana? Tak banyak kesempatan yang terluang bagiku. Pekerjaan menjadi guru macam-macam madrasah dan sekolah serta kursus-kursus banyak sekali meminta ketekunan dan waktu. Membuat rencana pelajaran, mengisi rencana jalannya pelajaran sehari-hari, menyusun metode, membaca buku pedoman pelajaran, memeriksa pekerjaan murid, memperhatikan watak anak-anak mund, menghubungi wali-wali murid, menghadiri kursus-kursus guru, dan masih banyak lagi. Kadang-kadang guru juga merangkap pengurus madrasah, mengurus kesejahteraan guru, mengurus keuangan, ruangan belajar, dan lain-lain.

Tetapi aku ingin menjadi pengarang. Ya, tetapi bagaimana? Untuk menjadi pengarang, seseorang harus memiliki ilmu segudang, harus banyak sekali ilmu yang dimilikinya. Biar ada bakat, kalau stock ilmu tidak banyak, kalau kesempatan waktu tidak ada, lalu mau apa? Untuk sekedar menyalurkan keinginan ini, aku sering juga menulis, sekedar artikel-artikel untuk disiarkan. Ini bukan lagi zamannya stensilan agar-agar seperti yang beberapa tahun aku kerjakan membantu Pak Mukhtar. Sebab itu, aku teruskan membantu harian-harian. Aku teruskan menjadi koresponden surat kabar “Pemandangan” dan “Hong Po,” bahkan akhirnya aku menjadi pembantu “Antara.” Kantor berita nasional milik kita satu-satunya ini, di zaman itu, masih merangkak-rangkak, setengah mati kalau harus bersaing dengan kantor berita kolonial Belanda “Aneta.”

Sesekali aku menulis untuk suatu Majalah Nasional Populer “Pesat,” pimpinan suami-istri Sayuti Melik dan Trimurti. Dan aku menjadi pembantu tetap Majalah “Berita Nahdhatul Ulama” dan “Suara Ansor” keduanya dari Surabaya. Dan dalam pada itu, aku dipilih menjadi “Komisaris Daerah Pemuda Ansor” Jawa Tengah Selatan, mewilayahi Karesidenan Banyumas, Kedu, dan Yogya. Guru-guruku seperti Ustadz Mursyid, Kiai Akhmad Syatibi, Kiai Khudori, Kiai Akhmad Bunyamin, Kiai Khalirni, dan lain-lain amat besar sekali jasa mereka dalam mengantarkan aku ke pintu persiapan pengabdian kepada masyarakat. Bahkan beliau-beliaulah yang membinaku sejak dari jenjang paling permulaan.

Teringat pada masa lampau, kadang-kadang di antara guru-guruku mengajar begitu rupa, seperti ridak menempuh suatu sistem mengajar. Caranya menguraikan kadang-kadang tidak mengertikan, hingga sering keluarlah kekurang-ajaranku menyangka, jangan-jangan sang guru sendiri tidak paham isi kitab yang sedang dibacanya. Sering kali kiai membaca kitab dengan bersandar pada tiang masjid dan menghadap ke Barat, sedang kami para santri duduk seenaknya di belakang kiai. Jadi kiai membelakangi kami. Di antara kami banyak juga yang menyimak kitab sambil berbaring-baring. Suara kiai lambat-lambat kedengarannya, putus-putus, udara dingin waktu subuh menyelimuti kami yang sudah kekurangan tidur, maka sambil menyimak kitab seperti dibuai-buai suara kiai yang kadang tak jelas antara kedengaran dan tidak. Kadang-kadang kami terbangun dan ketiduran oleh silau cahaya matahari yang menjilat ruangan masjid, sedangkan kiai sudah tidak ada, sudah pulang ke rumahnya!

Di belakang hari. aku baru menemukan arti dari ayat-ayat atau fasal-fasal dalam kitab, sambil kataku dalam hati: Oo, jadi begini artinya yang dahulu dimaksud oleh kiai dalam bacaannya! Barulah kami para santri menyadan bahwa inilah faktor keikhlasan yang murni dari kiai. Begitu ikhlas kiai mengajar, begitu rela hati kiai mendidik kami para santri, sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahun, ya, sampai kapan saja kami maui, waktu belajar tak mengenal batas berapa puluh tahun kami maui, kiai tetap rnelayani dengan ikhlas hati, tanpa dibayar sepeser pun.

Guruku, Kiai Marodi dari Purworejo, pernah berpesan kepada para santri agar memiliki kesabaran di samping keikhlasan kalau kelak kami menjadi kiai. Beliau ceritakan pengalamannya sehari-hari. Ketika hendak memasuki masjidnya dilihatnya air dalam bak untuk cuci kaki bagi siapa yang akan masuk masjid, ternyata kosong. Tentu akibat seorang yang mempunyai giliran tugas mengisi air lalai, beliau sendiri mengambil timba lalu menimba air dari sumur untuk mengisi bak ini. Dilihatnya tikar dalam masjid tak ada di tempat, mungkin dipinjam santri dan belum dikembalikan ke tempatnya.

Beliau pulang ke rumah untuk mengambil tikar lain sebagai gantinya. Dinantikannya saat untuk azan sembahyang. belum juga tampak jama’ah datang. Beliau sendiri yang azan, lalu puji-pujian melagukan kalimat-kalimat suci sambil menantikan sembahyang dimulai : Karena tak ada yang datang, beliau sembahyang sendirian.

Selesai sembahyang, sambil wiridan (membaca serangkaian bacaan-bacaan tertentu lazim dibaca sehabis sembahyang), kedengaran suara orang mandi. Dilihatnya, ternyata ada orang mandi dari bak air yang baru saja beliau isi. Seenaknya saja mandi dari bak air yang sudah penuh. Suatu malam yang sudah larut, pintu rumahnya diketuk orang, seorang tetangga memberi tahu bahwa anaknya sakit keras, oleh sebab iru dimintakan air (yang sudah dibacakan doa-doa oleh kiai). Sang tamu tidak membawa gelas, maka kiai sendiri yang meminjami gelasnya. Ini semua pengalaman beliau ketika baru saja membuka pesantrennya yang terletak jauh di pedalaman desa, dan penduduk masih sangat asing dengan agama. Sebab itu memerlukan kesabaran dan keikhlasan. Tanpa ini semua, orang akan “kapok” jadi kiai, apalagi tidak menerima bayaran. Memang, tidak seorang kiai pun mengharapkan bayaran uang dari manusia. Tugasnya yang memerlukan kesabaran dan keikhlasan iru dikerjakan karena dorongan rasa tanggung jawab memikul kewajiban. Satu-satunva harapan “bayaran” adalah keridaan dari Allah Subhanahu wa Ta’alla.

Seorang kiai membuka pesantrennya di suatu desa jauh di pedalaman, jauh dari kota, jauh dari keramaian, masyarakat sekelilingnya asing pada agama, bahkan cenderung memusuhinya, Berjudi, bersenang-senang, gembayakan merupakan kegemaran sebagian besar penduduknya. Bahkan kadang-kadang menjadi sarang pencuri, rakyat hidup tidak aman.

Alat-alat kekuasaan (kolonial) tidak menjangkaunya. Ini merupakan suatu keberanian luar biasa. Kekuatan mental bahkan fisik dan jiwa, juga ketabahan. Ibarat seorang polisi, la datang memasuki sarang buaya, sendirian tanpa senjata di tangan. Senjatanya cumalah keikhlasan, kesabaran, dan keberanian, di samping tawakal kepada Allah SWT.

Tetapi hampir tak pernah terjadi dalam sejarah, seorang kiai membuka pesantrennya, lalu mengalami kegagalan, lalu menutup pesantrennya dan ditinggalkannya desa tempat beliau menetap. Bahkan sebaliknya, ibarat pohon, pesantrennya tumbuh dengan subur, berangsur-angsur menjadi pohon yang rindang tempat orang banyak berteduh dari kepanasan dan kehujanan. Pohon itu lambat laun berbuah, dan buahnya dinikmati bersama seisi desa. Ini memakan proses yang lama. Di samping memerlukan ketekunan dan kesabaran, juga memakan waktu. Tidaklah mengherankan, mengapa umumnya para kiai juga orang-orang yang sangat mengenal watak manusia dan bagaimana bergaul dengannya.

Apakah dia seorang kiai “besar” ataukah “kecil,” baik tentang kadar bobotnya maupun pesantrennya yang dia pimpin, mereka memiliki karakter yang sama. Hidupnya hanyalah untuk mengabdi, mengabdi kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia. Seorang santri bercita-citakan ingin menjadi kiai seperti gurunya. Jika ia berhasil menjadi kiai, ia menggunakan pola hidup gurunya, mengabdi kepada Allah SWT dan kepada masyarakat.

Mereka ingin semua orang menjadi sahabatnya, syukur mengikuti jejaknya, tetapi sekurang-kurangnya janganlah memandang menjadi musuhnya. Hidup bermusuhan adalah tidak enak, merisaukan dan mengganggu ketenangan batin. Jika datang suatu masalah baru yang dipandang merugikan agama, mereka ukur dulu “kekuatan”-nya. Jika dapat, ditolaknya dengan cara yang baik. Tetapi kalau merasa tidak mempunyai kekuatan, mereka akan ambil sikap diam untuk menjaga kemungkinan datangnya fitnah. Ibarat seorang tabib, jika dapat ia akan mengobati si sakit, tetapi kalau tak dapat, mengusahakan agar orang lain tidak ketularan penyakitnya.

Seorang kiai pekerjaannya sehari-hari seperti rutin saja. Mengimami sembahyang lima kali sehari. Mengajar para santri dari subuh hingga jauh malam, dengan istirahat untuk waktu makan dan muthala’ah. Beliau sendiri harus membaca kitab-kitab untuk menambah pengetahuannya sendiri, di samping untuk persiapan pelajaran bagi santri-santrinya. Dalam pada itu, menerima tamu-tamu. Seorang kiai sehari-harinya dikunjungi tetamu, datang dari dekat maupun dari jauh, kadang-kadang bermalam beberapa hari. Segala lapisan tamu datang. Ada orang tua santri yang hendak menengok anaknya sambil bil-barkah menghadap kiai. Ada kawannya sesama kiai yang datang membawa kemusykilan hatinya untuk meminta petunjuk. Ada petani yang meminta petunjuk berhubung panennya gagal. Ada pedagang yang minta nasehat karena sedang menderita kemalangan.

Ada suami istri yang sedang goncang rumah tangganya. Ada pamong praja yang meminta nasehat berhubung dengan masalah keamanan. Ada calon lurah yang mengharapkan do’anya agar ia terpilih menjadi lurah. Ada santri yang menghadap berhubung kehabisan biaya. Dan masih banyak lagi tetamu yang harus diterima setiap saat, pagi, siang maupun malam.

Umumnya, tetamu ini datang dalam waktu yang ia bisa dan berkesempatan untuk datang, tidak dipertimbangkan apakah kiai yang hendak didatangi itu dalam keadaan siap menerimanya atau tidak. Tetapi para kiai akan menerima tetamunya dengan tangan dan hati terbuka, kapan saja. Walaupun tak ada janji sebelumnya, kiai mengambil sendiri minuman dan makanan untuk sang tamu, beliau melayani tamunya dengan senang hati. Membuat suasana demikian rupa agar tamunya merasa kerasan berada di dekatnya dan puas dengan hasil kunjungannya.

Padahal kalau dipikir-pikir, begitu banyaknya tetamu yang datang, sedikit sekali yang datang dengan membawa kabar gembira. Sebagian besar datang dengan kemusykilan-kemusykilan yang membikin penat kepala. Bukankah ini memerlukan suatu kekuatan mental dan karakter yang luar biasa? Di saat-saat sunyi sepi, jauh malam hari, pada saat orang sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, kiai tengah melakukan sembahyang malam, meletakkan dahinya sujud ke Hadirat Ilahi, lama sekali sujudnya, mengadukan kepada Allah SWT tentang kehinaan dirinya serta kedaifannya, mengagumi Keagungan Ilahi, mengharapkan ampunan-Nya dan memohon pertolongan-Nya…!

Buatku, semua ini merupakan sumber studi bagi melatih diri memiliki sifat-sifat kepemimpinan, jika orang hendak memasuki persiapan untuk mengabdi kepada masyarakat. Tak sangguplah rasanya aku untuk menjadi kiai, walau kiai format kecil sekalipun. Paling-paling barangkali kalau cuma jadi khadam kiai!

Banyak di antara teman-temanku bercita-cita, kelihatannya cuma sederhana saja. Kelak ia akan menjadi ustadz, memimpin suatu madrasah kecil-kecilan saja tingkat Ibtidaiyah, setingkat SD. Syukur bisa Tsanawiyah, tingkat menengah. la mengingini seorang istri yang bisa menjadi guru, ustadzah, untuk mendampinginya di madrasah. Jika dapat istrinya berpendidikan guru, Mu’allimat. Zaman itu belum lazim main pacar-pacaran, sebab itu, cuma menyerahkan saja keinginannya kepada orang tua. Orang tuanyalah yang memantas-mantas, gadis mana kira-kira yang layak menjadi calon menantunya. Bahkan kadang-kadang untuk mengutarakan isi hatinya, ingin mempersunnting calon istri idamannya, tak ada keberanian baginya. Maka orang tua dengan sesama orang tualah, calon besan, yang saling mengambil inisiatif memperjodohkan anaknya masing-masing.

Cita-citanya, jika sudah menjadi ustadz dan didampingi istrinya, cukuplah andaikata dapat membuka sebuah toko buku untuk nafkah sehari-hari. Bila anaknya atau anak-anaknya lahir, akan dimasukkan sekolah merangkap madrasah di siang hari, dan malam, biarlah dididik sendiri di rumah. Akan dilatihlah anak-anaknya bersembahyang dengan baik, mengerti dari bacaan-bacaan sembahyang, dapat meresapi arti sembahyang serta taat mengerjakannya. Akan dilatihlah anak-anaknya dengan didikan akhlak sesuai dengan ajaran Islam. la akan tanamkan di dada anak-anaknya bahwa kelak mereka akan mengarungi suatu kehidupan dalam masyarakat. Hanya orang pandailah yang mengetahui kunci rahasia hidup, kunci kebahagiaan hidup. Tetapi kepandaian saja, artinya cuma pintar saja tidak menjamin seseorang mencapai kebahagiaan hidup. Faktor akhlak sangatlah penung. Banyak contoh-contoh, biar orang pengetahuannya sundul langit, tetapi karena tidak memiliki akhlak yang mulia, hidupnya tak bahagia. Tetapi itu saja belumlah cukup. Ada lagi faktor lain di luar kemampuan dan kekuasaan manusia, yaitu yang dinamakan keberuntungan nasib.Faktor ini cuma berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Sebab itu, orang mestilah memperdekatkan diri kepada Allah, untuk memperoleh keridhaan-Nya, untuk memperoleh taufik dan hidayah-Nya. Cita-cita di atas kelihatannya amat sederhana. Tetapi berapa banyak orang yang berhasil mencapainya? Jangankan cita-cita yang lebih rnuluk dari itu. Dalam mempersiapkan diri memasuki pintu pengabdian, masihlah banyak ilmu dan pengalaman harus dikumpulkan di tangan. Mestilah lebih banyak lagi belajar kepada masyarakat, belajar dari orang-orang baik yang sukses maupun yang gagal. Masyarakat memang pusat pengabdian. Tetapi masyarakat juga tempat belajar. Bahkan masyarakat adalah universitas paling sempurna. Kapan saja, dan untuk siapa saja!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: