Memasuki Persiapan Pengabdian_(bag 1)

Seperti proses produksi dan marketing dalam dunia usaha, kira-kira begitulah salah satu peranan dari kehidupan pesantren. Santri-santri baru pada datang bermunculan, diproses jadi anak-anak terdidik, dipompa otaknya dengan ilmu, dibentuk karakternya dengan membiasakan latihan diri, lalu memasuki alam marketing untuk meninggalkan pesantren, memasuki kehidupan masyarakat guna mengabdi kepadanya. Tak ada batas berapa lama waktu menghabiskan dalam pesantren. Itu tergantung kemampuan serta kematangan mental santri-santri. Ada yang dalam waktu singkat telah jadi orang, meninggalkan pesantren, lalu jadilah ia kiai atau ustadz di kampungnya, bahkan tidak sedikit yang pada akhirnya tampil menjadi pemimpin terkemuka dalam masyarakat. Tetapi juga ada—mungkin banyak—santri-santri yang menghabiskan waktu sangat lama dalam suatu pesantren, namun “belum juga jadi-jadi.” Ada seorang teman bekas kawanku di pesantren dulu, pada satu ketika aku jumpai ia menjadi pelayan hotel, gugup juga ia ketemu aku, entah ada perasaan malu barangkali, sambil seolah-olah seperti menyesali diri ia katakan padaku: Kalau aku tahu cuma bakal jadi pelayan hotel, mengapa aku dulu besar di pesantren! Aku memaklumi perasaannya, namun aku besarkan hatinya: “Mengapa begitu? Pelayan hotel pun pekerjaan penting. Dan kau tentu bukan sembarang pelayan. Kau toh bisa jadi “kiai”-nya para pelayan hotel,” demikian kataku menghiburnya. la lalu ceritakan padaku, bahwa memang benar, ia diserahi tugas pemeliharaan rohani di kalangan karyawan hotel oleh direksi, ia jadi kiai juga di kalangan mereka.

Tak ada ruginya belajar di pesantren. Kalau ia kelak jadi tukang sayur, biarlah ia jadi kiainya tukang-tukang sayur. Kalau ia kelak jadi sopir, biarlah ia jadi kiainya sopir-sopir. Jika ia kelak jadi direktur atau jenderal sekalipun, ia toh akan menyesuaikan dirinya sebagai kiainya para direktur dan kiainya jenderal-jenderal. Jelas, tak ada ruginya mengecap pendidikan dalam pesantren.

Proses kemajuan zaman serta perkembangannya berangsur-angsur memasuki dunia pesantren. Semangat dan kebangkitan nasional serta politik juga memasuki kehidupan pesantren. Surat-surat kabar dan majalah mengalir juga ke sana dengan segala kumandangnya. Sebagai suatu segi kebudayaan, tentu pesantren memiliki daya tahan dalam menyaring segala arus yang masuk ke dalamnya.

Alam pesantren terkenal bebas dan demokratis. Tetapi di sana, usaha pembinaan mental dan spirit, ketahanan dan kemauan berdiri sendiri amatlah kuat. Sebab itu, benar juga kalau dikatakan bahwa pesantren adalah suatu subkultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa.

Ketahanannya membuat pesantren tidak mudah menerima sesuatu perubahan yang datang dari luar, karena pesantren memiliki suatu benteng tradisi tersendiri. Tradisi kerakyatan dalam mengabdi kepada Allah SWT, dan menyebar kebaikan di tengah-tengah masyarakat.

Setiap orang yang baru datang ke dalam pesantren diterima dengan baik sebagai anggota keluarga pesantren, tanpa purba sangka apapun. Biarpun ada intel-intel untuk menyelidiki kehidupan santri-santri. Dunianya sangat terbuka, siapa saja boleh masuk tanpa kecurigaan. Inilah agaknya yang dinamakan semangat lillahi Ta’ala.

Suatu peristiwa, terjadilah suatu hal yang menyangkut pesantren kami. Kiai kami dipanggil Tuan Wedono. Tentu seluruh pesantren diliputi suasana prihatin.

Kiranya menyangkut masalah tuntutan umat Islam tentang biaya pemotongan korban ternak. Pada hari-hari raya Idul Adha, umumnya orang memotong binatang ternak sebagai korban. Pemerintah kolonial
menetapkan suatu peraturan bahwa untuk pemotongan korban ini dikenakan biaya sejumlah uang. Umat Islam keberatan karena ini menyangkut urusan ibadah. Masa untuk beribadah dipungut biaya, lain halnya kalau pemotongan hewan itu untuk dijual sebagai mata pencaharian. Umat Islam menuntut pembebasan biaya. Dalam pada itu, tersiar benta bahwa Perhimpunan Nahdhatul Ulama menolak maksud pemerintah Hindia Belanda hendak
memberi subsidi kepada pondok-pondok pesantren dan madrasah-madrasah. Alasannya
bahwa pesantren dan madrasah adalah media pendidikan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka layak jika untuk beribadah orang mesti menerima subsidi, dibayar.

Kedua masalah di atas ini dianggap oleh kekuasaan Hindia Belanda sebagai aksi politik terselubung, anti pemerintah kolonial. Ini merupakan masalah politik. Dan pesantren
dipandang oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai laboratorium kegiatan politik menentang
kekuasaan kolonial. Itu sebabnya mengapa kiai kami dipanggil Tuan Wedono.

Sejak peristiwa itu, di kalangan para santri timbul keheran-heranan, karena ketika kiai kami dipanggil tuan Wedono untuk diverhoor, di sana ada seorang pejabat yang mendampingi Wedono itu, yaitu orang yang selama ini kami kenal sebagai salah seorang “santri” yang
berbulan-bulan mondok di pesantren kami. Baru kami menyadari bahwa “santri” tersebut salah seorang alat P.I.D. Pantaslah ia tiba-tiba kabur meninggalkan pesantren. Agaknya, si
P.I.D. ini dikirim majikannya untuk menyelidiki dunia pesantren, dan sampai di mana hubungannya dengan Nahdhatul Ulama.

Sudah berhari-hari kami dibuat surprise dengan datangnya H.O.S. Cokroaminoto di kampung kami. Pemimpin yang sedang tenar-tenarnya ini menetap di kampungku, Sukaraja, kira-kira dua tahun begitulah (tahun 1930-an). Baru aku memaklumi bahwa beliau
mendirikan kader-voorming menggembleng pemuda-pemuda. Puluhan pemuda datang dari
Sumatra Barat, Jawa Barat, bahkan ada yang datang dan Gorontalo. Mula-mula aku heran mengapa tak seorang pun pemuda dari kampungku memasuki kelompok mereka. Baru
kemudian kami menyadari bahwa mereka khusus pemuda-pemuda dari kalangan Syarikat Islam. Padahal sebagian terbesar pemuda-pemuda dan santri-santri di kampungku berada dalam naungan Nahdhatul Ulama. Ada juga yang Muhammadiyah, tetapi cuma sedikit
sekali, hampir terbatas dalam lingkungan salah satu keluarga.

Pengaruh gerakan nasional ketika itu ditandai oleh kampanye serta aktivitas “Partai Indonesia” (Partindo) dan “Pendidikan Nasional Indonesia.” Pengaruhnva merembes juga ke kampung kami, dan kumandangnya juga memasuki pesantren-pesantren kami. Nama-nama Ir. Sukarno, Drs. Muhammad Hatta, Mr. Sartono, Gatot Mangkupraja sangat terkenal. Gambar-gambar mereka menghiasi kamar santri-santri, demikian pula brosur-brosur mereka mengalir ke pesantren. Santri-santri sering mendiskusikan masalah-masalah imperialisme-kapitalisme, non-kooperasi, selfhelp, di samping masalah-masalah fa’il-naibul fa’il anwa’uz-zakat, mad wajib muttashil, dan kajian di pesantren.

Pada kami para santri, terutama yang sudah dewasa, timbul suatu kesadaran, alangkah masih banyaknya ilmu dan pengalaman yang harus kami peroleh. Bukankah kami tidak akan menjadi santri buat selama-lamanya? Satu saat kami harus terjun ke tengah-tengah
masyarakat mengembangkan kesantrian kami ke dalam kehidupan bangsa kita pada umumnya.

Salah seorang guru kami yang tak akan kami lupakan selama-lamanya adalah Raden Haji Mukhtar. Beliau lain dari yang lain. Dalam pesantren-pesantren atau madrasah-madrasah, atau dalam kesempatan pengajian umum dan perayaan-perayaan han-hari besar Islam, kiai yang satu ini tidak pernah menguraikan hal-hal yang langsung bersifat ‘ilmiah-agamis. Kalau
kiai-kiai yang lain selalu saja membentangkan masalah-masalah puasa Ramadhan, tentang berapa macam ilmu yang wajib dipelajari, tentang Sunnah Rasulullah dan sebagainya, tidak demikian dengan Raden Haji Mukhtar ini. Beliau menguraikan tentang hal-hal yang
“duniawi,” selalu cuma itu saja. Tentang pengumpulan beras tiap-tiap keluarga satu sendok makan tiap hari, dikumpulkan seminggu sekali dan dipool di salah satu pengurus. Hak orang yang memberikan dana beras satu sendok makan ini sewaktu-waktu meninggal dunia atau
salah seorang keluarganya, ia akan memperoleh kain kafan, dan jenasahnya akan dihormati
beramai-ramai sesama warga, dan seterusnya akan dibacakan qulhu sekian ratus kali oleh sekian anggota. Timbul pikiran di kepalaku, bagaimana ngurusnya? Atau diuraikan pentingnya wali murid menyerahkan tiap-tiap orang satu pohon kelapa, yang penghasilannya diperuntukkan guna menjamin penghidupan guru-guru madrasah yang mendidik anak-anak mereka. Dianjurkan tentang pentingnya persatuan agar kita kuat. Pekerjaan berat akan terasa lebih ringan jika dikerjakan secara persatuan. Dianjurkan pula agar kita hidup bergotong-royong. Selagi masih ada warung milik orang kita seharusnyalah kita membeli keperluan sehari-hari ke sana. Selagi masih ada pedagang dari orang kita, kita jual hasil bumi kita kepadanya. Selagi masih ada penatu orang kita, kita cucikan pakaian kita kepadanya. Kalau kita membutuhkan seorang tukang, misalnya untuk memperbaiki rumah kita yang rusak, selagi masih ada tukang orang kita, serahkan pekerjaan itu kepadanya. Tetapi ingat, kedua belah pihak harus saling jujur, boleh dipercaya, dan tidak menyalahi
janji.

Baru kemudian aku tahu bahwa Raden Haji Mukhtar ini adalah seorang konsul Nahdhatul Ulama yang giat melaksanakan instruksi-instruksi dari pusat, dari Hoofd Bestuur Nahdhatul Ulama. Baru aku mengetahui bahwa semua itu dalam rangka kampanye suatu
gerakan Mabadi Khaira Ummah, langkah pertama pembinaan umat yang berkarakter baik. Penggalangan kekuatan umat! Konsul adalah koordinator cabang-cabang, tiap cabang pada umumnya terletak di tiap kabupaten. Raden Haji Mukhtar mengkoordinir 13 cabang yang tersebar di Karesidenan Banyumas, Kedu, dan Yogya. Jadi boleh dibilang kegiatan Nahdhatul Ulama seluruh daerah Jawa Tengah bagian Selatan ini, dikoordinir dari kampungku, Sukaraja, kota kewedanan.

Raden Haji Mukhtar lebih terkenal dengan sebutan Pak Mukhtar, sekalipun di waktu itu tahun-tahun 1930-an belum lazim seorang pemimpin dipanggil atau disebut dengan panggilan “Bapak.” Kecuali Raden Haji Mukhtar. Orang memanggilnya sehari-hari dengan
Pak Mukhtar, begitu saja. Bahkan kadang-kadang cuma disebut saja “Bapak,” tetapi semua orang paham bahwa yang dimaksud adalah Raden Haji Mukhtar, Konsul Nahdhatul Ulama.

Seorang Kiai di kampungku, Guru Tharikat “Naqsyabandiyah” bernama Kiai Raden Haji Rifa’i. Dalam tugas sehari-hari memimpin para muridnya yang ribuan jumlahnya tersebar di
pelosok-pelosok, beliau didampingi oleh Pak Mukhtar. Urutan nasabnya Pak Mukhtar masih paman dari Kiai Raden Haji Rifa’i. Satu lagi yang penting dicatat di sini, Pak Mukhtar ini juga salah seorang anggota Regentschaap-Raad, dewan perwakilan rakyat kabupaten di zaman itu. Tetapi beliau juga pendamping Guru Tharikat “Naqsyabandiyah”! Aku sangat beruntung menjadi seorang anak yang dekat dengan Pak Mukhtar ini. Biasa, aku disuruh-suruh membantu beliau. Mencarikan delman jika beliau akan berangkat turne mengunjungi daerah-daerah yang dekat. Atau disuruh mengirimkan uang dengan wesel ke kantor pos.

Beliau langganan surat kabar “Pemandangan” dan karena itu, tiap
bulan harus mengirimkan uang langganannya ke Jakarta lewat pos. Kadang-kadang aku disuruhnya membantu mengetik surat-suratnya. Aku bisa mengetik, jangan lupa aku kan juga murid Kiai Khalimi yang mengajar keterampilan. Dari Pak Mukhtar ini aku belajar membuat instruksi-instruksi stensilan. Zaman itu belum ada kita-kita ini memiliki mesin stensilan atau roneo. Pak Mukhtar mengajarkan stensilan dengan agar-agar. Ya, agar-agar
yang biasa kita makan sebagai kue lezat. Dibuatlah agar-agar (tanpa guk) di atas talam. Aku menulis surat, apakah namanya maklumat ataukah instruksi, di atas kertas dengan memakai tinta cina atau tinta stempel (stempel ink).Tulisan ini namanya copy. Copy aku letakkan di atas agar-agar dalam talam. Tulisan akan tertinggal di atas agar-agar. Ambil kertas kosong, letakkan pelan-pelan di atasnya, lalu angkatlah dia, maka jadilah sebuah stensilan. Kalau mau baik 40 lembar. Praktis, murah dan sangat modern di zaman itu. Semua ini aku peroleh dari bimbingan Pak Mukhtar.

Umurku sekitar 14 tahun ketika pada suatu hari aku diajak Pak Mukhtar ke Mandiraja dekat Banjarnegara. Ada rapat Nahdhatul Ulama di sana. Aku tak tahu jelas apa sifat rapatnya. Yang aku ingat betul, banyak sekali pengunjungnya, para kiai dan santri-santri. Senang benar aku nderek Pak Mukhtar naik kereta api ke Mandiraja itu. Aku mendapat tugas
membaca Al-Qur’an dalam rapat itu, diam-diam aku jadi qari’ juga. Maklumlah aku masih anak-anak, tak begitu paham pidato-pidato, nasihat-nasihat cuma aku tangkap sepotong-sepotong. Tertidurlah aku di tengah-tengah pidato-pidato itu. Aku dibangunkan dari tidurku oleh Pak Mukhtar karena makanan dan minuman dihidangkan. Pertemuan bubar sudah jauh malam. Pak Mukhtar dan beberapa kiai masih bercakap-cakap dengan seorang berpakaian perlente, pakai blangkon dan baju putih bersih. Orang ini banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh Pak Mukhtar. Jawaban-jawaban Pak Mukhtar ditulis dalam buku besarnya. Lama orang ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Ketika kami pulang ke pondokan, aku memberanikan diri bertanya kepada Pak Mukhtar, siapakah orang tadi.
Beliau menjawab: “Dia P.I.D.”! Aku tanya lagi, P.I.D. itu apa? Dijawab: “Utusan Kanjeng Gupermen”! Aku masih belum mengerti.

Hubungan Pak Mukhtar dengan para kiai sangatlah erat. Terjalin suatu ikatan saling harga-menghargai, saling memerlukan. Dalam pandangan ulama, Pak Mukhtar adalah tameng, alat pelindung jika dirasakan datangnya suatu ancaman, terutama dari kalangan penguasa kolonial. Pak Mukhtar adalah “juru bicara” para kiai untuk menjelaskan keinginan-keinginan serta keberatan-keberatan ulama terhadap berbagai masalah yang datang dari
pihak penguasa. Beliau pandai berbicara tentang isi hati para kiai dengan memakai “bahasa” kaum penguasa. Begitu sebaliknya, bicara tentang keinginan-keinginan penguasa yang memang objektif dan positif dengan memakai “bahasa” kiai dan santri.

Beliau adalah seorang pengayom serta pribumi yang baik, yang berdiri atas suatu prinsip untuk kemajuan dari Islam serta umatnya. Ketika beberapa kiai di Kebarongan (Banyumas) dan Wonosobo dimajukan ke muka pengadilan kolonial fasis Jepang, karena dituduh melakukan gerakan di bawah tanah
melawan Jepang, Pak Mukhtar tampil di pengadilan mendampingi K.H.A. Wahab Chasbullah selaku pembela. Dengan memakai jas lurik kotak-kotak lembut dengan sarung plekat berwarna sama dengan sorbannya, beliau membacakan pidato pembelaan di muka ketua pengadilan. Suaranya besar sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. Pidatonya jelas, pasti, dan meyakinkan. Puluhan kiai yang diseret ke muka pengadilan fasis Jepang akhirnya dapat diselamatkan, kecuali dua orang kiai yang tak berhasil diselamatkan karena
hakim ketua menjatuhkan vonis hukum mati.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: