Memasuki Persiapan Pengabdian_(bag 2)

Di rumahnya, tiap hari tak pernah sunyi dari tamu-tamu, jauh maupun dekat. Buat tamu yang jauh disediakan tempat menginap, jika “kamar tamu”-nya sudah penuh, maka surau yang terletak di samping rumah dijadikan “hotel Muslimin,” tempat tamu-tamunya menginap.
Banyak aku peroleh pelajaran dan pengalaman kalau di rumah Pak Mukhtar penuh dengan tamu- tamu para ulama. Tak jarang di sana berkumpul dedengkot ulama Banyumas. Kiai Raden Iskandar dari Purbalingga yang terkenal wingit berwibawa, Kiai Akhmad Bunyamin
Purwokerto yang terkenal lembut dan teliti, Kiai Akhmad Syatibi sesepuh ulama Banyumas, Kiai Adzkiya Kroya terkenal sebagai jago debat yang menjadi langganan datang ke kongres Muhammadiyah untuk mengajak diskusi tentang berbagai masalah khilafiyah. Ketika itu sedang tajam-tajamnya pertentangan antara kaum Nahdhatul Ulama dengan kaum Muhammadiyah mengenai masalah khilafiyah. Orang Nahdhatul Ulama berpendapat bahwa sembahyang harus membaca ushalli tetapi orang Muhammadiyah tidak. Orang Nahdhatul Ulama mengharuskan tiap jenasah dibacakan azan serta doa talqin pada saat dimakamkan, tetapi orang Muhammadiyah tidak. Orang Nahdhatul Ulama mengharuskan tiap orang harus berwudhu lebih dahulu sebelum memegang Al-Qur’an, tetapi orang Muhammadiyah tidak usah dengan wudhu. Bacaan tahlil menurut orang Nahdhatul Ulama, bisa sampai kepada orang yang telah meninggal jika kita kirimkan pahalanya, tetapi orang Muhammadiyah tidak demikian. Dan masih banyak lagi masalah khilafiyah yang timbul di kalangan masyarakat
ketika itu. Kiai Adzkiya ini rajin berdiskusi dengan ulama Muhammadiyah untuk mencari titik
pengertian akan duduk masalahnya menurut hukum Islam. Demikianlah tamu-tamu Pak Mukhtar. Tidak jarang beliau menyuruhku untuk menjemput Ustadz Mursyid atau Kiai Khalimi pada saat di rumah beliau penuh tamu.
Kedatangan tamu-tamu ini kecuali biasa bertamu karena rasa rindu, juga tak jarang untuk meminta advis atau petunjuk Pak Mukhtar mengenai berbagai masalah yang sedang dihadapi para kiai. Masalah perbaikan pesantren, masalah di mana bisa dibeli kitab-kitab bacaan para santri, masalah dakwah, dan kadang-kadang juga masalah timbulnya rasa tidak aman berhubung dengan sikap penguasa kolonial. Dari pertemuan-pertemuan ini, aku banyak sekali memperoleh pelajaran serta pengalaman mengenai dunia alim ulama. Suatu dunia yang banyak disangka orang luar sebagai dunia tertutup,” tetapi sebenarnya adalah dunia kita yang bebas terbuka, dunia yang menanamkan keamanan batin serta kesejahteraan hidup. Orang yang menganggap dunia ini sebagai dunia tertutup hanya
disebabkan karena orang tidak tahu di mana letak pintunya, dan terutama karena tidak bisa berbicara memakai “bahasa Santri”. Pak Mukhtar ini, aku rasa, seorang yang amat paham akan dunia kiai dan amat pandai berbicara memakai bahasa kiai. Hampir bisa dipastikan bahwa dalam 1 minggu, Pak Mukhtar hanya satu dua hari berada di rumahnya, sisanya dipergunakan untuk turne ke cabang-cabang Nahdhatul Ulama dan
mengunjungi para kiai di tempatnya masing-masing. Aku sangat beruntung bahwa aku termasuk sering diajak beliau berturne ini.
Suatu hari pada tahun 1935 aku mengikuti Pak Mukhtar mengunjungi salah satu daerah. Turun dari kereta api lalu naik dokar (delman), disambung dengan naik gerobak (pedati) yang ditarik sapi karena tak ada kendaraan lain kecuali itu. Di suatu desa, kami terpaksa harus bermalam. Di mana? Tak ada seorang kenalan pun dalam desa itu. Dicarinya sebuah langgar, kecuali untuk kami bersembahyang, juga akan dijadikan “hotel” tempat kami akan menginap. Tibalah waktu sembahyang, tetapi jamaah hanya 3 orang saja. Lepas sembahyang beliau berkenalan dengan kiai yang jadi imam tadi. Omong punya omong,
pembicaraan bertambah asyik.
Diceritakan oleh kiai itu bahwa di desanya tergolong “minus” orang beribadah, bahkan terkenal sebagai tempat rnaling. Penduduk takut keluar rumah untuk ke langgar, khawatir kalau-kalau rumahnya kemasukan pencuri. Ditanyakan kepada kiai itu, di mana rumah lurah desa. Seketika itu juga Pak Mukhtar berangkat menemui lurah. Sebenarnya aku sudah sangat letih karena perjalanan, ingin rasanya tidur saja dalam langgar. Tetapi karena mendengar di desa itu banyak maling, takut juga kalau tidur di
langgar. Mau tak mau ikut juga menemui lurah. Beruntunglah, kami bisa menjumpai lurah.
Dari pembicaraan yang panjang itu, Pak Mukhtar menegaskan kepada lurah, bahwa salah satu jalan paling penting agar desanya menjadi aman, anjurkanlah penduduk untuk rajin
beribadah. Tanggung, desa akan aman. Pengaruh serta wibawa lurah sangatlah penting, maka tiap anjuran kepada rakyat akan mudah diterima apalagi anjuran baik seperti ibadah.
Sang pencuri yang menjadi penduduk desa itu akan menjadi malu sendiri kalau menyaksikan bahwa seluruh penduduk rajin ibadah. Dia akan menghentikan pekerjaannya sebagai maling, atau pindah ke tempat lain. Inilah jalan menuju keamanan desa. Pak Lurah sangat setuju pada pikiran Pak Mukhtar ini. Kami diminta untuk bermalam di rumahnya, dan tak lupa keluarlah hidangan besar, maklum suguhan Pak Lurah. Bukan main girang hariku, apalagi perut sudah keroncongan sejak tadi!
Kami tiba di suatu tempat, menuju ke rumah seorang kiai yang menjadi pengurus Nahdhatul Ulama, setelah kami berjalan kaki hampir 5 jam dan menyeberangi sebuah sungai yang
sedang banjir. Tiba di rumah orang yang dituju, sahibulbait tidak ada di tempat. Rumah itu kosong. Kami menunggu hingga yang punya rumah datang. Lama juga hingga menghabiskan dua kali melinting rokok. Rasanya mulut ini sudah cemplang saja, haus ini tak hilang-hilang biar dipenuhi asap rokok. Tiba-tiba sahibul bait datang, kaget juga melihat kedatangan kami yang tak disangka-sangka itu. Sebenarnya kami lagi enak-enak slonjor di atas risban (rijst bank) bambu untuk melemaskan otot-otot kaki yang kecapekan. Kalau tidak sahibul bait datang barangkali perut
yang mulai lapar itu bisa dijinakkan oleh silir angin yang membelai-belai mengajak tidur.
“Kiai, jangan tanya yang lain-lain dulu! Ada nasi, nggak? Sudah lapar, nih!” kata Pak Mukhtar kepada sahibul bait.
Yang ditanya tertegun dengan menyebar senyumnya, katanya:
“Masya Allah, begini Pak. Saya ini kemari untuk singgah sebentar menengak-nengok rumah. Sudah 5 hari isteriku andon-babaran di rumah mertua karena melahirkan anak. Semua kami pindah ke sana. Jadi rumah ini cuma ada kendil dan cangkir kosong saja.
Alaaa, melas temen! (alangkah kasihan Pak Mukhtar!) Dewa sekang kayangan kok kapiran, alaa menjorang banget aku! (Tamu agung kok sampai tidak diurus, keterlaluan saya ini!)‖ Pak Mukhtar cepat-cepat merogoh sakunya, dikeluarkan uang setalen (f. 0,25) katanya:
“Lekas suruhan anak santri membeli beras dan lauk-pauk,” lalu keluarkan lagi uang f. 1,
katanya: “Ini buat tambahan biaya nyai babaran.”
Sambil menantikan selesainya masakan, sahibul bait mengundang sendiri 4 atau 5 orang lpengurus lain untuk menerima kedatangan Pak Konsul ini. Kami 7 atau 8 orang bersantap bersama-sama dengan lahapnya sekalipun hanya dengan sayur, sarnbal, dan ikan asin.
Tengah bersantap, Pak Mukhtar menjelaskan maksud kedatangannya agar di desa itu didirikan madrasah. Kita tidak memerlukan uang kata Pak Mukhtar. Kita cuma memerlukan
kayu, bambu, pasir, dan batu. Di desa ini banyak kayu, bambu, dan batu, serta pasir, tinggal diambil saja. Orang kita cukup banyak, ini merupakan tenaga-tenaga untuk mengambilnya. Buat apa uang? Orang-orang kita di sini sedikit banyak mempunyai pohon kelapa, singkong dan buah-buahan lainnya. Itu semua kita kumpulkan dengan gotong-royong, kita jual, dan hasilnya bisa kita belikan genteng dan tegel. Tidak perlu kumpulkan uang, buat apa kalau semua ini bisa kita kerahkan?
Salah seorang yang hadir berkata: “Pak, sebaiknya sehabis makan ini kita adakan rapat untuk bicarakan ini semua!” ―
Buat apa lagi rapat?‖ Jawab Pak
Mukhtar. “Kita omong-omong ini sambil makan sudah selesai persoalan. Tinggal kerja saja. Kapan dimulai?” Akhirnya semua setuju dan semua puas. Perut kenyang dan persoalan sudah terpecahkan dengan baik. ―Mari kita sembahyang,‖ ajak Pak Mukhtar. Kepada sahibul bait dikatakan: “Kiai yang membaca doa semoga usaha kita mendirikan madrasah terkabul!”
Habis sembahyang Pak Mukhtar berpamitan. Semuanya menahan beliau agar bermalam. Beliau tetap berpamitan, walaupun orang-orang tetap menahannya. Sambil berjalan
meninggalkan tempat itu beliau katakan: “Enaknya sendiri, saya kan harus mengunjungi tempat lain juga!”
Terasa kesepian juga ditinggal beberapa teman. Ya, teman mengaji, ya, teman bermain-main. Benar juga kata Kyai, teman sepengajian merupakan kawan yang muballit, sangat intim pergaulannya. Mereka sesaudara tunggal guru, dan biasanya lebih erat perhubungannya melebihi sesaudara seibu-seayah.
Suatu ketika kiai bercerita. Ada seorang kiai tengah mengajar, tiba-tiba kedatangan seorang
tamu bekas teman sepesantren, yang kemudian menjadi seorang kiai seperti dia di salah satu tempat yang jauh. Kedatangan sang tamu yang tiba-tiba ini tentu saja merupakan
suatu surprise baginya yang amat menyenangkan hatinya. Pengajian diliburkan seketika, habis, namanya orang lagi senang dan karena ingin menghormat sang tamu.
Disuruhnyalah seorang santrinya, sebut saja namanya Zaid, untuk pergi ke pasar membeli kepala kambing,
serta disuruhnya pula Zaid memasak gulai kepala kambing. Sementara itu, kiai mempersilakan tamunya mendiami kamar tamu yang khusus disediakan. Sementara kedua
sahabat yang muhallit ini ngobrol kesana kemari dengan amat asyiknya, tentu saja saling mengisahkan pengalaman dirinya masing-masing, Zaid menghidangkan suatu jamuan
istimewa, tentu saja tidak ketinggalan gulai kepala kambingnya. Amat lahaplah kedua insan ini bersantap sambil meneruskan kisahnya masing-masing, Zaid menunggui dari kejauhan kalau-kalau ada hal-hal yang harus dikerjakan, mengambil sendok atau menambah nasi dari
dapur dan sebagainya. Lama sekali kedua teman muhallit ini bersantap sambil berbincang￾bincang, ada-ada saja yang dikisahkan. Tak kering-keringnya ingatan keluar dari kepala masing-masing untuk diceritakan. Namanya teman muhallit yang sudah puluhan tahun tidak
saling berjumpa. Zaid merasa betapa lamanya mereka bersantap, tetapi hatinya disabar-sabarkan menanti, biarpun perutnya sudah merasa lapar sekali. la berharap akan bisa menikmati sisa hidangan. Namanya saja santri yang taat kepada guru, dan ia merasa berbahagia bisa menjadi khadam melayani kebutuhan kiai.
Tetapi yang membuat Zaid menjadi cemas, gulai kambing itu hampir ludes disantap kedua kiai ini. Buat menghibur diri, ia melirik mengawasi gulai, katanya dalam hati, syukurlah lidah kambing itu masih ada, mungkin bagian dialah. Baru saja berkata demikian dalam hatinya, tiba-tiba kiai bertanya kepada tetamunya “Oooh, jadi sudah 200 orang juga santrimu? sambil mencomot lidah kambing. Zaid kaget juga, tetapi dihiburlah batinnya, ah, kupingnya masih ada satu, mungkin itulah bagianku. Sang tetamu mengajukan pertanyaan kepada sahibul bait: “Ente sudah punya
menantu juga? Dan menantumu pun membantu mengajar di pesantren?” sambil mbetot kuping kambing dan dikunyahnya cepat-cepat. Zaid tambah panik juga dibuatnya,
tetapi ia tenangkan hatinya sambil menghibur diri: “Ya, tapi cungur kambing itu masih ada sebagian, itulah bagianku.” Kiai melanjutkan kisahnya: “Begini, aku ingin istriku membuka pesantren khusus buat anak-anak perempuan. Ente setuju itu?‖ sambil tangannya menyomot bagian hidung kambing idaman Zaid. Bukan main kecewa hati Zaid bahwa idaman hatinya, potongan hidung kambing itu sudah wassalam. Ia harus lebih sabarkan hatinya, dan ia melihat bahwa masih ada sisa dari gulai kepala kambingitu yang belum dijamah, yaitu mata kambing yang tinggal satu-satunya. Inilah, Insya Allah bagian ana, demikianlah ia menghibur diri. Dikira selesailah kedua kiai ini bersantap, sudah
kedengaran dahak masing-masing menandakan keduanya makan dengan lahap dan nikmat. Kiai masih mengajukan pertanyaan kepada tamunya: “Jadi sudah bulat ente pergi
naik haji tahun ini?” tiba-tiba tangan kiai hinggap di tulang-tulang kepala kambing sambil menggerayangi mata yang tinggal sebiji, dicolek-colek lalu dikirimnya ke mulut. Bukan main paniknya Zaid, ia tak sabar lagi, melompatlah ia memasuki ruangan
hidangan.
Tak bisa menahan diri lagi, ia maju menghampiri kiai sambil menyibakkan matanya, lalu katanya: “Kiai, kalau masih kurang, ini mata saya…!”
Tak tahulah aku, apakah kisah ini benar-benar terjadi ataukah fiktif karangan kiai guruku. Tetapi, ya begitulah kalau teman sudah muhallit, orang bisa lupa segala-galanya!
Beberapa orang teman karibku saru-satu meninggalkan pesantren di kampungku, untuk melanjutkan pelajaran ke pesantren lain. Ada yang meneruskan ke Tebuireng, ada yang ke Lirboyo (Kediri), ke Krapyak (Yogya), buat spesialisasi Al-Qur’an serta menghafalkannya. Ada pula yang meneruskan ke Pesantren Lirap (Kebumen), untuk memperdalam ilmu alat (nahwu-sharaf). Pesantren yang belakangan ini terkenal sebagai “gudangnya” ahli nahwu. Santri-santri di sana mengikuti jejak Imam Sibawaih, penggali suatu aliran dalam
ilmu Nahwu. Terus terang saja, aku sejak dulu memang paling terbelakang dalam bidang
nahwu, sekedar yang pokok-pokok saja cukuplah sudah buatku, tak usah ndakik-ndakik—terlampau mendalami—. Jika kebetulan datang pelajaran nahwu ini, mau rasanya lompat jendela saja. Kecuali menjemukan, otak ini rasanya jadi seperti buntu. Misalnya tentang nama “Zaid,” menurut ilmu nahwu bisa dibaca 3 macam. Zaidun, Zaidan, dan Zaidin. Perubahan dari “dun” menjadi “dan” dan “din” ini berhubung dengan
posisinya dalam rangkaian kalimat.
Contohnya: “Si Zaid datang” dalam bahasa Arabnya berbunyi: Ja’a Zaidun (di sini “dun”). “Aku melihat si Zaid” -menjadi Ra’aitu Zaidan (di sini
dibaca “dan”). “Aku lewati si Zaid” – menjadi Marartu bi Zaidin (di sini dibaca “din”). Nah begitu seterusnya. Bagaimana tidak kopyor otakku kalau harus menghafal ‘Imrithi, pelajaran
nahwu berbentuk syair dan pantun dalam bahasa Arab, lebih lagi Alfiyah Ibnu Malik? Yang juga berbentuk pantun setebal seribu bait tentang segala serba-serbi nahwu-sharaf dalam bahasa Arab, yang dibaca sambil berdendang menurut irama tertentu. Sedang menghafal bait-baitnya saja sudah setengah mati, apalagi arti dan maknanya. Ilmunya itu sendiri sukarnya bukan alang kepalang. Makanya aku sangat takjub dan kagum ketika di kemudian
hari aku dengar kabar bahwa Almarhum K.H.A. Wahid Hasyim dan K.H. Mohammad llyas ketika masih sama-sama jadi santri di Tebuireng dahulu, bukan saja hafal seluruh bait-bait Alfiyah yang 1000 dengan arti maknanya, tetapi juga mahir menghafalnya dari belakang ke muka. Dari muka terus ke belakang saja subhanallah sulitnya, bagaimana lagi kalau dari belakang ke muka?
Sebab itu, sejak dulu aku sudah menyerah kalau saja mengaji nahwu-sharaf. Tetapi kalau
pelajaran ‘Aqaid aku senang dan merasa otakku mudah terbuka. Apalagi pelajaranTarikh Islam (sejarah Islam) aku bisa memperoleh angka 9!. Begitulah. Beberapa teman karibku meninggalkan kampung halaman, pergi melanjutkan pelajaran ke berbagai pesantren yang terkenal.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: