Menjadi Guru (1)

Pada tahun 1936, ketika usiaku 17 tahun, aku sudah mulai menjadi guru. Ketika itu aku duduk di kelas terakhir di Madrasah Al-Huda. Sebenarnya belumlah guru betul. Murid-murid tidak seluruhnya memanggilku ustad, banyak juga yang memanggilku dengan namaku. Maklumlah, aku cuma sekedar musa’id, yaitu pembantu guru yang sebenarnya, Ustazd Mursyid guru yang sebenarnya dari Madrasah Al-Huda. Sudah kuceritakan di muka bahwa Ustazd Mursyid mendidik murid-murid kelas teratas menjadi guru, berhubung tiap tahun kelas bertambah. Murid kelas yang terakhir, kelas 5, baru diberi pelajaran bila kelas-kelas di bawahnya telah bubar sekolah. Tentu tidak semua murid kelas 5 dijadikan musa’id, hanya beberapa saja, 4 hingga 5 orang yang dipandang memenuhi persyaratan, dan aku termasuk
di antara 5 anak ini.

Akan tetapi ketika pada permulaan tahun 1938 aku pulang dari Solo dengan menggondol ijasah, aku benar-benar telah menjadi seorang guru. Aku mengajar di Madrasah Nahdlatul Ulama, di Islamitisch Westerse School, dan di Kulliyat al-Muallimin wa al-Muballighin. Dua macam sekolah yang belakangan ini juga bernaung di bawah asuhan Nahdlatul Ulama. Lucu juga kedengarannya kalau dipikir-pikir. Di madarasah aku dipanggil ustad, tetapi di sekolah yang berbau Belanda ini aku dipanggil meneer oleh anak-anak murid. Panggilan memang bisa mempengaruhi seseorang. Dengan panggilan ustads aku memantas-mantas diri seolah-olah betul-betul ustadz. Mengenakan kain sarung, memakai baju jas dengan leher kemeja yang dikeluarkan, dan memakai peci. Akan tetapi dengan panggilan meneer aku jadi sedikit kikuk juga. Memantas-mantas sebagai seorang meneer, aku mengenakan celana panjang berwama putih, kemeja kadang warna putih kadang biru muda dengan garis-garis kecil putih, pokoknya warna yang tidak menyolok. Tetapi celana selamanya mesti putih. Dan sepatu selamanya mesti hitam. Sudah barang tentu memakai dasi. Warna dasi pun kalau tidak hitam rnulus, setidaknya ada garis-garis yang tidak keliwat menentang mata. Meneer-meneer yang lain tidak memakai peci, tetapi aku tidak bisa tanpa peci. Di kampungku sangatlah janggal bila seorang santri tidak memakai peci. Ya, aku toh seorang meneer? Benar! Tapi aku cuma meneer-meneeran, bukan meneer 100%.

Aku bukan guru Bahasa Belanda, bahasa Belandaku cuma sepotong-sepotong, karena itu aku belajar bahasa Belanda sedikit-sedikit kepada rekan guru bahasa ini. Aku adalah guru Agama Islam pada Islamitisch Western School. Karena itu, aku mesti memakai peci. Ada juga temanku sesama guru yang menganjurkan aku untuk tak usah memakai peci, tetapi ah…, perduli amat. Biar aku dipandang janggal oleh satu dua orang, asal masyarakatku tidak memandang demikian.

Lihat saja guru-guru “Taman Siswa”, sekalipun mengajar bahasa Belanda juga banyak yang memakai peci. Apalagi di zaman itu, berpantalon (bercelana panjang) dan berpeci merupakan ciri orang pergerakan, “golongan nasionalis”, untuk membedakan dengan ambtenaar Hindia-Belanda. Ada lagi pengaruhnya bagi kebiasaanku setelah aku dipanggil ustadz atau meneer. Aku gemar merokok biar sedang berjalan pun. Tetapi setelah menjadi guru, aku berpikir, tidak pantas seorang guru merokok sambil berjalan. Sejak itu, aku tidak lagi merokok sambil berjalan. Merokok hanya pada waktu duduk. Jika hendak berjalan, rokok kumatikan. Kecuali untuk lebih memenuhi sopan-santun, pun pernapasan
bisa lebih bebas. Seorang guru lazimnya keluaran sekolah guru atau kursus guru. Tetapi aku tak pernah memasuki sekolah guru, kursus guru pun tidak. Pernah sesekali aku menghadiri guru-guru sedang dikursus, sebagai peninjau. Kalau itu, berarti aku pernah kursus guru, terserah.

Bekalku hanyalah hasratku yang besar ingin menjadi guru. Pekerjaan menjadi guru adalah sangat mulia. Mendidik dan mengajar orang lain, walaupun tak ada sangkut-pautnya dengan hubungan famili, tujuannya ingin membentuk manusia agar menjadi orang yang baik, berbadan sehat, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan jalan mendidik dan mengajar orang lain, dirinya sendiri ikut terdidik dan terajar juga.

Aku perhatikan dengan seksama cara guru-guruku mendidik anak-anak didiknya. Begitu telaten (cermat dan sabar), begitu rajin, begitu mulia cita-citanya hingga kesenangannya sendiri sering dikorbankan. Kalau aku perhatikan, anak yang tadinya berwatak kurang ajar, lambat laun menjadi anak yang tahu sopan santun. Anak yang mula-mula dungu dan bebal, lambat laun menjadi pandai dan cerdas. Semua itu lantaran hasil kesabaran dan keuletan guru yang melakukan tugasnya dengan penuh kasih sayang. Begitu ikhlas para guru mendidik dan mengajar anak-anak didiknya, mereka tidak mengharapkan apa-apa kecuali anak didiknya kelak menjadi orang yang berguna hidupnya. Mereka tak ingat lagi berapa jumlah anak-anak yang diasuhnya yang telah berhasil menjadi orang baik. Berbeda dengan orang yang menabung, sekalipun ia mengikhlaskan sebagian uangnya, namun ia ingat-ingat betul berapa jumlah yang di-“ikhlas”-kan itu. Juga berbeda dengan kaum tani yang menabur bibit, sekalipun mereka meng-“ikhlas”-kan sejumlah bibit, namun mereka mengharapkan bahwa kelak akan memetik buahnya.

Tidak demikian seorang guru, ia tak pernah mengharapkan bahwa kelak akan memperoleh imbalan jasa dari anak didiknya. Begitu ikhlas ia memberikan didikan dan ilmunya tanpa mengharapkan imbalan jasa. Bahkan ia kaget kalau satu ketika bekas anak didiknya memberikan apa-apa kepadanya. Apa ini? Kok pakai beginian segala?

Tentu tidak semua yang datang dari guru-guruku dapat aku petik sebagai bekalku memperoleh ilmu guru. Yang baik dan sesuai aku ambil, sedang menurutku tidak sesuai, aku tinggalkan. Tapi aku tak bisa menyalahkan mereka.

Memang kemampuannya cuma sampai di situ. Misalnya, pernah aku mengalami guru yang “baik” tetapi dengan “kebaikan”-nya itu, bagiku malah mbubrah aturan (merusak aturan). Ini pengalamanku ketika aku mula-mula masuk “Sekolah Arab” (istilah madrasah ketika itu). Itu terjadi sekitar tahun 1925 ketika umurku masih 6 tahun. Anak-anak sudah masuk semua ke dalam kelas, tetapi guruku tidak lekas memulai mengajar. Beliau menenangkan kelas dengan dengusnya yang keras dan panjang. Kalau anak-anak sudah agak tenang, beliau tiba-tiba menatap muka anak-anak sambil senyum lebar. Cukup lama senyum ini mengguyur kami semua.

Guruku yang baik ini lalu bertanya: “Anak-anak, nah… pelajaran apa hari ini…?” Seluruh kelas mulai gaduh. Sebagian menjawab dengan berbareng: “Dongeeengngng…, dongeeeng…!” Sebagian yang lain menjerit: “Nyanyiii!”

Pada waktu itu, mestinya pelajaran pertama bukan mendongeng atau menyanyi. Semakin gemuruhlah seluruh kelas. Guruku yang baik ini masih dengan senyumnya yang lebar menjawab: “Lho, kemarin sudah dongeng kok sekarang dongeng lagi!” Seorang teman dekatku melengking usul: “Dongeng lagi cerita kemarin!” Bukan main riuh gemuruhnya kelas. Beliau yang baik ini cepat-cepat memegang tongkatnya, dipukul-pukulkan di atas papan tulis. Beliau walaupun ke mana-mana membawa tongkat, namun seingatku belum pernah melayang ke kepala murid. Tongkat itu cuma dipukul-pukul di atas bangku atau papan tulis. Anak-anak diam semua, seluruh perhanan anak-anak ditujukan kepada guruku
yang manis ini.

Beliau lalu katakan: “Lebih baik nyanyi saja!” Kedengaran suara koor: “Hoooooo…” Aku jadi ikut penasaran, gerutuku: “Suaranya nggak enak!” Tetapi guruku yang baik ini tidak menghiraukan reaksi anak-anak. Beliau terus saja menyanyi. Llahana Ya dzal ghina…,’ lagu kegemarannya. Anehnya, semua anak-anak ikut menyanyi lagu yang sudah mereka hafal itu. Jadi ramailah seluruh kelas, ada juga beberapa anak kelas sebelah yang tiba-tiba pada datang dan ikut menyanyi …!
Demikianlah caranya menguasai kelas, begitulah caranya memikat perhatian anak-anak. Cara yang model begini tentu tidak aku tiru. Aku bisa meniru cara lain yang ditempuh oleh salah seorang ustadzku.

Anak-anak yang baru masuk kelas pada umumnya masih membawa suasana di luar. Untuk menenangkan mereka, diberikan waktu-antara sekadar untuk melupakan suasana di luar kelas, anak-anak perlu ditata persiapan mentalnya lebih dulu. Itu bisa dilakukan dengan memberikan aba-aba agar mereka berdiri untuk mengucapkan salam kepada guru. Kemudian disusul dengan membaca doa bersama dan dipimpin oleh guru.

Bisa berupa pembacaan Surat Al-Fatihah misalnya, atau janji murid. Biasanya, jika upacara ini telah selesai, maka pelajaran sudah bisa dimulai. Adakalanya kelas belum tenang betul, tetapi tidak apa, biarkan dulu anak-anak menghabiskan sisa suasana luar yang masih tertinggal. Pelajaran yang dimulai dengan mukadimah yang menarik dengan sendirinya akan memikat anak-anak hingga mereka mulai memusatkan perhatian kepada pelajaran.

Aku mendidik diri sendin dengan jalan membaca buku-buku pendidikan, buku-buku ilmu mendidik, dan ilrnu mengajar. Lebih dari separo pendapatanku sebagai guru aku belikan buku-buku tersebut. Apa yang aku pelajari dari buku-buku tersebut aku praktikkan dalam tugasku sehari-hari. Tentu tidak semuanya bisa diterapkan, akan tetapi aku bisa belajar dari pengalaman.

Cerita tentang guruku yang baik di muka itu, tidak bisa disalahkan apalagi dicemoohkan.

Beliau adalah anak zamannya. Beliau bukan keluaran sekolah guru. Sedangkan yang memperoleh pendidikan guru saja, ada juga yang memperlihatkan keanehannya dalam mendidik anak-anak didiknya. Salah seorang muridku bercerita bahwa salah seorang gurunya di “Sekolah Desa” (Sekolah Dasar 3 tahun) mempunyai kebiasaan yang aneh. Jikalau anak-anak dalam kelasnya begitu bandel sedang ia tak bisa menguasainya, maka ia jadi gregetan, blangkonnya dibanting, ia lalu berguling-guling di lantai. Karuan saja seluruh kelas meledak tertawa, jadi buah ejekan. Guru yang memelas ini tentu tidak mendapat kursus demikian ketika ia menjadi calon guru.

Cara yang dilakukan oleh kedua orang guru yang kuceritakan di muka itu, tentulah bukan sistem yang benar. Aku tak bisa meniru cara yang dilakukan oleh guru yang begitu baik yang melakukan tawar-menawar dengan muridnya, hanya karena ia hendak menjinakkan anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: