Menjadi Guru (2)

Sudah menjadi kelaziman bahwa sebelum anak-anak memasuki ruangan kelasnya masing-masing untuk menerima pelajaran, mereka akan menggunakan waktu di luar kelas itu untuk menikmati suasana bebas. Hal itu sangat baik bagi pertumbuhan rohani dan jasmani anak-anak. Mereka akan mempergunakannya untuk bermain-main, berkejar-kejaran atau bercanda. Aku bahkan senang melihat anak-anak menggunakan waktu bebasnya dengan sebaik mungkin. Bahkan tiap guru sebaiknya ikut mendorong agar waktu bebas itu dipergunakan sebaik-baiknya.

Guru tinggal mengawasi agar sifat permainan anak-anak itu tidak melampaui batas, artinya, disesuaikan dengan waktu dan tempat yang umumnya terbatas. Main layang-layang misalnya, tidaklah tepat dilakukan pada jam-jam istirahat, selain karena waktunya tidak mengizinkan, juga karena tempatnya akan mengganggu anak-anak yang melakukan jenis permainan lain.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa anak-anak masih dipengaruhi oleh suasana di luar kelas, apalagi jika baru masuk kelas pada jam pelajaran yang pertama. Mereka masih dipengaruhi oleh suasana di rumahnya, atau di perjalanan ketika menuju ke sekolah.

Suasana bebas itu biasanya masih akan dibawa ke ruang kelas bila pelajaran akan dimulai. Guru yang bijaksana tentu menyadari bahwa itulah waktu peralihan antara suasana bebas dengan suasana resmi untuk siap menerima pelajaran. Menghadapi saat demikian, aku bisa menempuh dua cara. Kedua-duanya bersifat untuk menurunkan suhu atau temperatur kebebasan untuk bersiap-siap memasuki suasana belajar.

Cara pertama, aku lakukan dengan jalan menyiapkan anak-anak menjadi dua barisan sejajar di muka pintu masuk. Aku perhatikan tiap-tiap anak, barangkali terdapat hal-hal yang kurang senonoh. Misalnya, apakah mereka mengenakan pakaiannya dengan sopan, atau tentang kebersihan badan mereka, kuku, rambut, muka, dan sebagainya. Jika segalanya telah cukup tertib, barulah anak-anak dipersilakan masuk kelas, ini baru merupakan tahap pertama yang akan disambung dengan tahap kedua bila mereka telah memasuki kelas. Cara demikian bisa mengatasi suasana peralihan antara alam bebas di luar kelas dengan alam belajar di dalam kelas.

Cara kedua ialah mempersiapkan kondisi anak-anak siap menerima pelajaran. Aku tidak segera duduk di kursi, tetapi menghampiri barang dua atau tiga anak yang kurang tertib duduknya dengan diberi nasihat seperlunya. Dengan demikian, suasana peralihan sudah dapat dijembatani, dan mulailah pelajaran. Guru yang bijaksana akan pandai mencari kata pendahuluan yang memikat perhatian anak-anak. Menguraikan pendahuluan dengan berdiri, atau berjalan sedikit mondar-mandir dan diselingi dengan duduk di atas meja terdepan, bukan duduk di atas kursi guru, akan lebih menolong daya tarik anak-anak untuk segera terpikat perhatiannya kepada guru. Seterusnya pelajaran sudah bisa dimulai.

Menghadapi anak yang bandel, banyak cakap, dan banyak ringkah, tentulah tidak usah dengan membanting blangkon atau pecinya sendiri, apalagi dengan cara berguling-guling di atas lantai. Hal ini akan menjatuhkan martabat seorang guru di mata murid-mundnya. Anak yang bandel tidak akan menjadi baik. Bahkan ia ingin agar guru yang gregetan itu menjadi permainannya. la telah mempunyai kartu untuk sesekali memaksa sang guru membanting blangkonnya dan berguling-guling di atas lantai. Aku pernah juga mempunyai satu dua orang murid yang bandel, senang menggoda kawannya, membuat onar dalam kelas, dan senang bicara tak sopan atau kotor. Ada beberapa cara kutempuh. Anak yang bersangkutan dipanggil ke muka kelas, diberi nasihatdan peringatan seperlunya. Atau menahan dia pada jam mengaso untuk sekali lagi diberi nasihat dan peringatan. Atau dengan jalan aku panggil ke rumah. Aku tanyakan kepadanya, apakah cukup aku sendiri yang menasihati ataukah biar aku serahkan kepada orang tuanya untuk dinasihati? Ada lagi dengan cara lain.

Anak itu aku dekatkan di hatiku. Aku panggil ke rumah untuk membantu pekerjaanku yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Misalnya, aku ajak menyertai aku ke pasar membeli bibit tanaman dan dia kusuruh menemani aku menanam bibit itu di halaman rumahku. Menyertai aku membersihkan halaman rumahku. Pokoknya aku dekatkan dengan hatiku dan kuinsyafkan bahwa aku sangat sayang kepadanya. Maka, dengan jalan demikian, pada umumnva aku berhasil menjadikan dia anak yang tidak membandel lagi. Memang tidak bisa sekaligus, itu memerlukan sedikit waktu dan kesabaran.

Ada sementara guru yang memanjakan murid yang pandai dengan jalan mendekatkan di hatinya secajra menyolok. Guru ini memperlihatkan sayangnya kepada murid tersebut. Itu memang seharusnya sebagai penghargaan atas kepandaiannya. Memuji kepadanya di muka kelas agar disaksikan oleh murid-murid yang lain sudahlah cukup sebagai tanda menghargai kepandaiannya. Asal jangan berlebihan. Juga terhadap murid yang baik, yang tertib, dan berdisiplin. Akan tetapi, terhadap murid yang membandel pun bisa diperlakukan serupa. Msalnya, perlihatkan bahwa guru menyukai anak tersebut. Yang tidak disukai adalah perangainya yang membandel itu. Maka aku suruh anak yang membandel ini untuk membantuku, mengumpulkan buku pekerjaan anak-anak, membantu membersihkan papan tulis, dan lain-lain pekerjaan yang mempunyai kesan bahwa aku dekat kepadanya. Dengan demikian, dia akan merasa malu sendiri kalau terus-menerus mernbikin jengkel hatiku lantaran kebandelannya.

Pokoknya, keberhasilan tugas seorang guru terletak pada dirinya sendiri. la seharusnya mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain (murid). Di Jawa Tengah, guru diartikan: digugu lan ditiru. Artinya: digugu, dipercaya omongannya. Ditiru, diambil contoh segala perbuatannya. Memang demikian. Seorang guru yang baik ialah jika omongannya didengar dan dipercayai, demikian pula segala tindak lakunya dijadikan panutan oleh murid-muridnya. Kewibawaan seorang guru terletak pada tutur katanya dan perbuatannya sendiri.

Buku-buku yang pernah aku pelajari menerangkan bahwa kewajiban seorang guru adalah mendidik murid-muridnya. Arti mendidik mencakup pengertian tiga perkara. Mendidik jasmani mund-murid, agar mereka memiliki tubuh yang sehat, ringan kaki, cekatan, dan riang gembira. Mendidik otak murid-murid, agar mereka memiliki kecerdasan berpikir dan mempunyai ilmu pengetahuan sesuai dengan tingkat usianya.Dan pendidikan rohani murid￾murid, agar mereka memiliki perangai atau akhlak yang mulia, benar kata-katanya, jujur perbuatannya, mengabdi kepada Allah SWT, dan berbakti kepada orang tuanya dan bangsanya.

Kalau dikaji lebih mendalam, maka tujuan pendidikan, sekalipun dirumuskan dengan kalimat-kalimat yang panjang, namun dapat diringkaskan menjadi: membentuk manusia! Ini mengandung makna yang luas sekali. Manusia tidaklah sekadar orang. Ada ucapan seorang ahli pikir yang mengatakan: sebegini banyak orang di dunia, tetapi sedikit saja yang bernama manusia. Ucapan ini bisa kita perkecil terbatas pada sekeliling kita sehari-hari bahwa sebegitu banyak orang-orang sekeliling kita, tetapi tidak semuanya pantas disebut manusia!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: