Menjadi Guru (3)

Selalu saja menjadi semboyan kuat dalam benakku bahwa tugasku sebagai guru, cumalah: menjadikan murid-muridku bertubuh sehat, pandai dan berakhlak. Tetapi untuk melaksanakan satu baris kalimat ini tidaklah mudah dalam praktik sehari-hari.

Boleh dibilang hampir 100% murid-muridku terdiri dari anak-anak rakyat. Jangan dilupakan artinya: Rakyat jajahan! Kita masih hidup di bawah kekuasaan politik maupun ekonomi dan sosial penjajah “Hindia Belanda.” Mereka adalah anak-anak petani kecil, buruh kecil, pedagang kecil, dan segala yang serba kecil. Kecil ukurannya tetapi besar jumlahnya.

Sebagai anak-anak rakyat yang kecil, mereka miskin, kekurangan makan, dengan sendirinya kekurangan kalori. Mereka selain berbadan lemah, juga umumnya berpenyakitan. Malaria, sakit mata, kudis, cacingan, hampir menjadi penyakit umum di kalangan murid-muridku. Di sinilah musykilnya tugas seorang guru dalam mendidik jasmani anak didiknya. Seorang guru secara resminya bukanlah pejabat departemen sosial atau kesehatan. Masalah tersebut di atas pada umumnya dan dengan sendirinya adalah bidang urusan kepamongprajaan. Tidaklah mungkin seorang guru menggantikan tugas orang tua murid memberikan kadar makanan yang mencukupi syarat-syarat gizi yang baik, sekalipun pada tingkat serendah-rendahnya.

Guru tidak mungkin menyediakan hidangan sehari-hari empat sehat lima sempurna bagi murid-muridnya. Akan tetapi, seorang guru wajib memberikan didikan jasmani kepada mund-muridnya agar mereka bertubuh sehat dan kuat. Pelajaran gerak badan mesti harus diadakan. Jadi bagaimana? Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Pelajaran olah raga atau gerak badan mesti dilaksanakan karena hal itu termasuk bidang pendidikan. Tentu saja, anak-anak yang lemah jasmaniah atau berpenyakitan tidak diikutsertakan.

Anak-anak golongan ini dipecahkan masalahnya dengan wali murid atau dengan pamong praja setempat. Gerak badan atau olah raga diberikan kepada anak-anak yang secara minimal memenuhi syarat-syarat kekuatan tubuh.

Untuk sekadar menambah gizi anak-anak, aku adakan pembagian sepiring bubur kacang ijo bagi seluruh kelas, yang diambilkan dari salah satu warung yang dekat dari madrasah dengan biaya dari kas madrasah.

Janganlah dilupakan, seorang guru di zaman itu harus bisa memegang seluruh mata pelajaran. Jika dalam suatu kelas terdapat 12 mata pelajaran, di antaranya pelajaran olah raga dan menyanyi, maka seorang guru dalam kelas itu harus bisa memegang seluruh mata pelajaran tersebut, termasuk olah raga dan menyanyi. Dalam pada itu, seorang guru kadang-kadang mewakili rekannya sesama guru jika yang belakangan ini berhalangan masuk.

Oleh sebab itu, seorang guru praktis harus bisa mengajar seluruh kelas. Pokoknya, guru di zaman tempo doeloe harus bisa menjadi manusia serba bisa!

Kewajiban guru meminta ketekunan dan kesabaran. Tiap malam, kadang-kadang hingga jauh malam, masih membolak balik buku-buku hasil pekerjaan anak-anak. Kalau murid dalam kelasnya berjumlah 40 anak, maka 40 buku pekerjaan anak-anak itu harus diteliti semuanya, diperiksa benar salahnya untuk kemudian diberikan nilai. Pekerjaan yang memenatkan ini harus dilanjutkan dengan mempelajari kitab-kitab pedoman guru untuk membuat rencana jalannya seluruh mata pelajaran buat hari esoknya. Hingga jauh malam ia masih membuat rencana kasar jalannya pelajaran keesokan harinya, buku apa yang dijadikan pedoman, dari bab apa hingga apa, mencarikan perumpamaan-perumpamaan untuk memudahkan pengertian anak-anak murid. Kadang-kadang hingga larut malam, seorang guru baru bisa tidur. Padahal tiap hari, sejak pagi hingga petang ia harus mengajar tidak hanya satu sekolah, tetapi merangkap hingga dua sekolah. Aku bahkan merangkap 3 sekolah, satu di waktu pagi, satu di waktu siang, dan satu lagi di waktu petang. Dua kali
dalam seminggu masih memberikan pelajaran pada kursus pemuda di waktu malam. Hari libur (hari Jum’at bukan Ahad) umumnya dipergunakan untuk kursus guru atau rapat guru. Sebulan sekali menghadiri “Kursus Wali Murid” untuk menjalin kerjasama antara guru dan orang tua murid di dalam memajukan pendidikan anak-anaknya.

Oleh karena guru itu harus digugu lan ditiru (jadi cermin tauladan) terutama di mata murid-muridnya, maka guru seharusnya tidak boleh berpenyakitan, tak boleh kekurangan makan, harus cekatan, dan bersih, pokoknya mestilah kelihatan gagah, jempolan! Ia harus menjadi ikutan. Untuk itu, memerlukan tingkat hidup yang layak. Untuk itu, harus berpenghasilan cukup. Padahal rata-rata guru madrasah di zaman itu hanyalah memperoleh penghasilan 5 hingga 6 rupiah sebulan, itu pun kalau murid-murid membayar uang sekolah dengan baik.

Dari hasil uang pembayaran sekolah murid-murid, 70% dibagi untuk seluruh guru-guru, 10% untuk pemeliharaan gedung sekolah, 15% untuk alat-alat belajar, dan 5% untuk dana sosial (kas pengurus).

Maka dengan penghasilan yang ala kadarnya, aku harus bisa memelihara kesehatan tubuhku, berusaha untuk bisa makan sehari-hari dengan pedoman: empat sehat lima sempurna.

Tentu tidak bisa dilakukan sehari-hari makan empat sehat lima sempurna itu. Aku juga mengambil olah raga untuk memelihara kesehatan jasmani. Tentulah olah raga yang tidak keluar biaya. Misalnya, main sepak bola atau berenang di sungai. Untuk membeli pakaian? Pakaian itu termasuk jenis yang mahal harganya. Di zaman penjajahan, berpakaian yang agak layak itu sudah merupakan suatu kemewahan hidup. Tidak pernah aku mempunyai sepatu lebih dari satu pasang. Celana tidak lebih dari dua, dan mempunyai dua helai dasi itu sudah termasuk “royal” dan mewah. Tetapi guru harus tampak necis dan berpakaian layak dan sopan. Di sinilah “seni”-nya hidup sebagai guru. Kurang, tetapi harus bisa cukup!

Memiliki sepeda termasuk suatu kemewahan. Tetapi mana bisa tanpa sepeda kalau harus merangkap-rangkap mengajar di berbagai sekolah? Tak usah yang baru, sepeda bekas pun jadi. Ya, sepeda bekas pun harganya paling murah sepuluh rupiah. Bukan yang merk Releigh atau Fongers tentu, cukup sepeda kampungan bikinan tukang bengkel sepeda.

Melalui pengurus madrasah, kami para ustadz mengadakan “Kursus Wali Murid” sebulan sekali. Maksud dari pada kursus itu tak lain dan tak bukan untuk mempererat hubungan antara guru dan wali murid serta mengadakan pembagian tugas dalam mendidik anak-anak mereka. Kami para guru hanya mempunyai waktu sangat terbatas dalam mendidik anak-anak mereka. Dalam sehari cuma sekedar 3 hingga 5 jam. Sisa waktu yang lebih panjang adalah saat anak-anak tidak berada di madrasah, yaitu di rumah mereka masing-masing. Di situlah tugas orang tua murid.

Cara pendidikan yang diberikan oleh orang tua murid kepada anak-anak mereka haruslah sejalan dengan yang kami berikan di madrasah. Artinya, sebagai upaya memelihara tujuan pendidikan. Memang, kami para ustadz juga menyadari bahwa tidak semua wali murid mampu memberikan pendidikan sepanjang artinya menurut ilmu pendidikan.

Misalnya, pada umumnya para wali murid kurang mampu memberikan pendidikan otak, mengajar berbagai ilmu pengetahuan. Namun dalam segi lain, misalnya menjaga kesehatan tubuh, dan terutama pendidikan rohani atau akhlak, maka orang tua murid mernpunyai peranan yang sangat penting, bahkan kadang-kadang menentukan.

Sebagai contoh, orang tua murid harus memberi perhatian terhadap hasil pendidikan anak-anaknya yang mereka peroleh dari madrasah. Tiap hari, misalnya pada waktu makan bersama perlu ditanyakan bagaimana pelajaran anak-anak hari itu. Anak sehabis makan dipersilakan menceritakan salah satu pelajaran. Walaupun tidak usah mendalam dan tak usah mengambil waktu banyak, cukup memberi kesan pada anak bahwa ia harus lebih bertanggung-jawab terhadap pelajarannya di madrasah.

Tugas lain dari wali murid ialah mengatur keseimbangan waktu bagi anak anaknya. Pada garis besarnya waktu itu dibagi menjadi 4 macam. Pertama: waktu bermain-main, kedua: waktu membantu pekerjaan orang tua, ketiga: waktu untuk belajar, dan keempat: waktu istirahat (tidur).

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: