Menjadi Guru (4)

Bermain-main

Bermain-main secara seenaknya atau rileks adalah penting bagi dunia anak-anak dalam pertumbuhan rohani, jasmani, dan pikiran. Tidak baik jika anak-anak terus menerus berada dalam suasana terikat oleh ketegangan belajar dan di hadapan orang tua. Mereka memerlukan pelemas saraf. Itulah bermain-main. Di sana mereka juga menjalani fitrah atau naluri manusiawi hidup secara berkawan karena manusia memanglah makhluk berkawan. Anak-anak diberi kebebasan waktu untuk bermain-main, tetapi terbatas waktunya serta diawasi bentuk permainannya agar tidak menjurus kepada perbuatan yang tak senonoh. Dalam bermain-main, anak-anak akan memperoleh pengalaman bagaimana menghadapi sifat tiap-tiap orang (kawannya) sebab di antara kawan-kawannya terdapat anak yang baik, kurang baik, tidak baik, yang pintar, yang pandai, dan yang bodoh.

Dari kawan-kawannya yang memiliki sifat-sifat baik (jujur, berani, dan pandai), anak-anak akan memperoleh pelajaran yang baik dan mungkin akan menirunya. Menghadapi kawannya yang pintar (tetapi jahat), ia akan mencari akal bagaimana mengalahkannya.

Dalam bermain itulah anak-anak bisa memperoleh pengalaman sangat berharga unruk hidupnya di masa depan. Tetapi juga sebaliknya, dari bermain, anak-anak akan memperoleh pengaruh yang tidak baik. Di sinilah pentingnya pengawasan orang tua terhadap permainan anak-anaknya. Yang sudah jelas, dari bermain-main, anak-anak akan memperoleh perkembangan rohani dan jasmani, dan bahkan kecerdasan, jikalau mereka memperoleh jenis permainan yang baik dan kawan yang baik pula. Maka, sekali lagi, para orang tua seyogyanya memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bermain-main, dalam jangka waktu yang tertentu, dan tetap di dalam pengawasan orang tua.

Adakalanya orang tua amat sayang kepada anaknya. Tak diizinkan anaknya bermain-main sesama kawan-kawannya. Macam-macam timbul kekhawatiran di hatinya.

“Jangan ikut-ikut mandi di sungai, nanti kau tenggelam!” katanya. “Buat apa memanjat pohon, nanti kau jatuh” begitu jawabnya ketika anaknya hendak memetik buah mangga di depan rumahnya. “Aduh Nak, nanti kau sakit kalau hujan-hujanan!” ketika dilihatnya sang anak main hujan-hujanan dengan kawan-kawannya. Orang tua yang demikian ini bukan memperkembang pendidikan anaknya, dia bukanlah memberikan kasih sayang secara tepat. Dia sebenarnya telah mematikan inisiatif dan kreasi anaknya. Akibatnya, sang anak menjadi orang yang serba takut. Takut hidup, dan takut menempuh risiko. Tidak mempunyai semangat juang. Sang anak akan menjadi orang yang manja hidupnya hingga tidak memiliki daya ketahanan menghadapi kesulitan hidup. Biarkan anak mandi di sungai, asal belajar dulu berenang, waspada terhadap datangnya bahaya banjir, dan sebagainya. Biarkan anak memanjat pohon, asalkan berhati-hati, injaklah dahan yang kuat, pegang erat-erat dahan di sampingnya. Ingatkan bahwa banyak semut rangrang (serangga) yang sengatannya gatal, dan sebagainya. Biarkan sesekali anak-anak main hujan-hujanan agar dia mempunyai daya tahan, asal jangan terlampau lama.

Kita selalu mengharapkan anak-anak kita akan hidup bahagia di kemudian han. Untuk itu, kita bersedia berbuat apa saja (dalam arti yang baik tentu). Akan tetapi kita tidak tahu qadla dan takdir Illahi. Manusia hanya bisa merencana, Tuhan yang menentukan. Untuk menjalani hidup bahagia dan enak, semua orang akan bisa menjalaninya tanpa belajar dan tanpa latihan (sungguhpun untuk ini diperlukan juga persiapan mental dan latihan). Akan tetapi yang sudah terang, untuk menjalani hidup serba susah dan serba kekurangan, benar-benar diperlukan persiapan mental dan latihan-latihan. Untuk itu, anak-anak kita latih hidup menderita, kita biasakan percaya kepada diri sendiri. Kelak jika mereka (na’udzubillahi) hidup susah, mereka telah terlatih dan telah mempunyai persiapan kesabaran, dan tak akan berputus-asa. Akan tetapi jika di kemudian hari mereka mengalarm nasib baik hidup serba enak, mereka tidak akan lupa daratan dan akan menjadi orang yang dermawan karena telah tahu benar, alangkah tidak nyamannya hidup susah itu.

Salah seorang guruku, K.H.A. Wahid Hasyim, pernah menceritakan:

Pada suatu hari datanglah bertamu salah seorang sahabatnya bernama Kiai Abdullah Ubad dengan membawa seorang puteranya berusia kira-kira 3 tahun. Dihidangkanlah minuman teh 3 cangkir, satu untuk Kiai Abdullah Ubaid, satu untuk puteranya, dan satu lagi untuk sabibul bait, tuan rumah. Terjadilah pembicaraan antara ayah dan anak. Sang anak meminta agar ayahnya mengambilkan minuman. Dijawab, agar ia mengambil sendiri karena minuman berada di dekatnya. Sang anak tetap meminta ayahnya yang mengambilkan karena takut kalau-kalau cangkir terjatuh lalu pecah.

Ayahnya tetap menyuruh ia mengambil sendiri sambil membesarkan hatinya bahwa kalau memegangnya hati-hati Insya Allah tidak akan jatuh. Sang anak masih menawar lagi agar diambilkan ayahnya karena tehnya panas. Kiai Abdullah Ubaid menenangkan hatinya agar bersabar beberapa saat karena teh akan dingin dengan sendirinya. Selama pembicaraan antara Kiai Abdullah Ubaid dengan puteranya, K.H.A. Wahid Hasyim hanya berdiam diri, tidak ikut campur tangan.

Dari sekelumit peristiwa sederhana ini, K.H. A. Wahid Hasyim mengatakan kepadaku bahwa Kiai Abdullah Ubaid merupakan sebuah contoh dari seorang ayah yang pandai mendidik puteranya. Sejak usia kira-kira 3-4 tahun puteranya sudah ditanamkan rasa percaya kepada diri sendiri dan mulai diajarkan tentang arti bersabar. Bersabar dalam arti tetap menjaga etiket seorang tamu yang kurang pantas menuangkan air teh di atas piring hanya karena ingin agar teh yang masih panas itu segera menjadi dingin. K.H.A. Wahid Hasyim tidak saja memandang Kiai Abdullah Ubaid sebagai seorang pendidik, tetapi sekaligus seorang pemimpin yang memberikan jalan keluar kepada puteranya dengan menyuruhnya sedikit bersabar karena teh dengan sendirinya akan menjadi dingin dan mudah untuk diminum oleh anak-anak. K.H.A. Wahid Hasyim dan tamunya saling melepaskan senyumnya setelah dilihat bahwa akhirnya sang anak bisa minum sendin tanpa bantuan orang lain. Kedua￾duanya puas dengan hasil pendidikan kilat ini, dan tak kurang-kurang puasnya adalah sang anak sendiri yang ternyata dengan amat mudahnya bisa menghilangkan rasa hausnya dengan kemampuan sendiri.

Kisah sederhana ini amat penting artinya bagi seorang guru maupun bagi seorang ayah atau ibu. Kepada anak harus ditanamkan kepercayaan pada dirinya sendiri, dimulai dari pekerjaan-pekerjaan yang kecil dan mudah. Guru maupun orang tualah yang harus membangkitkan semangat berani berbuat sambil diberikan petunjuk agar dapat dikerjakan dengan baik. Suatu ketika anak kita jatuh dari sepeda. Kita cepat-cepat memberikan reaksi sambil berteriak: “Aku sudah bilang, jangan naik sepeda, nanti jatuh!” Cara demikian tentu amat salah. Naik sepeda tidak merupakan larangan, bahkan seharusnya tiap-tiap anak bisa naik sepeda. Yang penting harus kita peringatkan kepada anak, kalau berhati-hati, misalnya jangan ditambah kecepatannya kalau hendak membelok, niscaya tidak jatuh. Kadang￾kadang kita lihat seorang ayah atau ibu melarang anaknya berlari-lari sambil katanya: “Jangan lari-lari nanti jatuh!” Ini tentu tidak baik pengaruhnya bagi anak-anak. Kepandaian lari adalah sangat penting. Bagaimana kalau pada suatu hari orang harus cepat-cepat lari untuk menghindarkan suatu bencana yang sekonyong-konyong datang, padahal ia tak pandai lari, hanya karena waktu kecil dilarang lari oleh orang tuanya. Ucapan orang tuanya: “Jangan lari-lari nanti jatuh” akan menanamkan pengertian pada jiwa anak bahwa berlari sama dengan jatuh. Sebab itu, ia tak akan lari untuk selama-lamanya. la tak ingin belajar lari karena dalam bayangannya, lari sama dengan jatuh, sedangkan jatuh sama dengan sakit.

Selama hidupnya akan menjadi orang yang lembek, tidak mempunyai semangat juang, tidak memiliki keberanian memasuki perlombaan dalam hidup, tidak akan berani menghadapi suatu perjuangan apa pun yang bersemboyankan: Siapa cepat, ia dapat! (dalam arti yang baik).

Pendidikan membina watak dalam tingkat pendahuluan seperti yang dikemukakan di muka, lalu diperkembangkan dengan jalan bermain-main di antara sesama kawan-kawannya, akan menyebabkan pertumbuhan rohani dan jasmani bahkan pikiran yang sangat berguna.

Ketika aku masih kanak-kanak, aku biasa memanjat pohon sawo yang cukup tinggi di sebelah rumah ayah, untuk memetik buah sawo yang sudah tua. Sebelum naik ke pohon, ayah menasehati agar aku berhati-hati dan menganjurkan tidak usah memanjat hingga puncaknya. Naikilah dahannya yang kuat-kuat saja yang mampu menahan berat badanmu. Yang ada di puncak biarlah ayah yang memetiknya, katanya. Aku jadi bersemangat memanjat pohon ini. Pekerjaan ini sekaligus menimbulkan rasa bangga di hatiku karena aku telah bisa menyelesaikan pekerjaan yang “besar” sekaligus merasa bangga pula karena aku bisa membantu pekerjaan ayah. Dan akhirnya, setelah buah sawo selesai dipetik dan dicuci, lalu dijual ke warung sebelah rumahku. Dari hasilnya, ayah memberi hadiah 5 sen. Sebenarnya tanpa hadiah pun aku telah merasa berbahagia. Tentu bertambah kebahagiaanku karena dengan 5 sen hadiah dan ayah itu, aku bisa menyimpan uang jajan buat 3 hari.

Pengalamanku bermain-main dengan teman-temanku di waktu kanak-kanak amat besar sekali manfaatnya untuk hari kemudian. Aku biasa memandikan dua ekor kuda milik ayah di sungai. Jika kuda telah kumandikan dan sudah bersih, aku mengambil kesempatan untuk berkejar-kejaran sambil berenang-renang di sungai. Hal ini bukan saja mendidik semangat bertarung, tetapi juga rasa tanggung jawab atas keselamatan sendiri. Aku harus bisa menang dalam pertarungan kejar mengejar ini, tetapi aku juga harus menjaga keselamatanku sendiri, karena aku tengah berada di permukaan air, salah-salah aku bisa tenggelam sendiri.

Setelah aku menjadi dewasa, aku mengalami sendiri bahwa hidup dalam masyarakat memanglah bertanding semangat berkejar-kejaran, tetapi tetap harus menjaga keselamatan din sendiri. Aku senang pergi ke kebun tebu pada musim menebang batang tebu tiba (magas istilah di kampungku). Aku dan teman-teman memungut bonggol/batang tebu yang sengaja dibiarkan oleh para pekerja ondernemeng tebu. Sebagaimana diketahui, batang tebu itu diangkut dengan lori untuk dibawa ke pabrik gula. Kami anak-anak memungut bonggol-bonggol tebu itu, kami bakar dengan daun-daun tebu yang kering, dan kalau sudah cukup matang, masya Allah bukan main manisnya air tebu yang hangat-hangat itu. Biasa, di tengah kebun tebu itu berdiri satu dua orang sinder Belanda yang mengawasi pekerja-pekerja melakukan tugasnya. Sinder-sinder itu didampingi oleh mandor-mandor bangsa kita. Aku melihat perbedaan yang menyolok antara sinder dan mandor di satu pihak dengan para pekerja di lain pihak.

Mandor-mandor itu, apalagi sinder, pekerjaannya cuma mengawasi, berjalan hilir-mudik sambil memegang tongkatnya, sedang pakaiannya tetap bersih walaupun di tengah sawah. Tetapi para pekerja itu pekerjaannya menebang batang-batang tebu, mengikatnya dengan tali, mengangkatnya ke atas pundaknya, dibawanya ke atas lori atau gerobak, bekerja sambil setengah lari keringatnya membasahi seluruh tubuhnya dan pakaiannya compang-camping. Aku dengar bahwa upah mereka hanya 4 sen sehari. Padahal para mandor gajinya sekitar 15 rupiah sebulan atau 50 sen sehari.

Dari apa yang aku lihat itu, aku memperoleh kesimpulan bahwa yang membuat perbedaan penghasilan antara dua makhluk ini hanya terletak pada kepandaian atau ilmu. Yang satu berpendidikan, sedang yang lain tidak. Aku tidak berhasil mengetahui berapa gaji tuan-tuan sinder Belanda itu karena tak seorang pun yang tahu. Yang terang, pastilah jauh lebih besar! Seperti langit dengan dasar sumur (tidak cukup cuma dengan bumi, tetapi masih masuk lagi ke dalam sumur.)

Maka dalam kursus wali murid itu, aku tegaskan bahwa sangatlah penting memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bermain-main sesama kawannya. Tugas orang tua hanyalah mengawasi agar sifat bermain-mainnya itu tidak membahayakan keselamatan mereka serta pertumbuhan pendidikannya.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: