Menjadi Guru (5)

Membantu pekerjaan orang tua

Kecuali bermain-main, anak-anak penting sekali dibiasakan bekerja membantu orang tuanya di rumah. Membantu pekerjaan orang tuanya di sawah jika ia seorang petani, membantu pekerjaan di toko jika ia bertoko, membantu pekerjaan bengkel jika orang tuanya mempunyai perusahaan bengkel. Alhasil, pekerjaan apa saja dari usaha orang tuanya di rumah.

Tentu harus diingat bahwa tujuannya sekedar mendidik anak-anak agar mencintai pekerjaan, bukan memperlakukannya sebagai pekerja atau buruhnya. Maka haruslah diingat pula waktu buat belajar, waktu bermain-main, dan waktu istirahat (tidur). Dengan membantu pekerjaan orang tua, dimasukkan juga sikap mental bahwa: usaha paling mulia adalah hasil usaha atau buah tangannya sendiri. Kelak anak-anak akan mempunyai pandangan bahwa bekerja adalah perbuatan mulia. Sebaliknya menganggur bukan saja tidak baik akan tetapi merupakan benalu atau parasit dalam masyarakat. Kelak mereka akan mempunyai pendirian bahwa semua pekerjaan (asal halal) adalah perbuatan utama dan akan menghargai setiap pekerja. Pekerjaan mencangkul di sawah walaupun bergelimang dengan lumpur, atau tukang di bengkel sekalipun bajunya berlumuran minyak, adalah pekerjaan mulia. Sebaliknya, pekerjaan menipu atau korupsi, sekalipun dikerjakan di atas meja tulis yang mengkilap, adalah hina.

Ketika aku masih kanak-kanak, aku biasa membantu pekerjaan Ayah memelihara dua ekor kuda. Aku biasa memotong rumput untuk dicampur dengan jenangan dedak (katul) buat makanan kuda. Aku juga membersihkan kandang kuda, membuang kotoran kuda, serta melicinkan lantai kandangnya. Hidungku sampai kebal terhadap bau yang tak sedap dari kotoran kuda. Tak pernah kuanggap hina pekerjaan ini, karena aku telah bisa membantu pekerjaan ayah. Dan kawan-kawanku pun tak ada yang mengolok-olok aku dengan pekerjaanku itu.

Ibu biasa membatik kain dengan tangannya sendiri (bukan dengan cap tetapi dengan tulisannya sendiri). Kadang-kadang Ibu membatik miliknya sendiri untuk kemudian dibabar (diproses menjadi kain batik jadi), kadang-kadang atas pesanan orang sekedar membatik saja (tidak diproses menjadi kain batik jadi) dengan memperoleh upah.

Aku biasa membantu Ibu membuat garis-garis di atas mori dengan pensil agar batikan tulis Ibu menjadi lurus-lurus menelusuri garis-garis pensil, atau aku mengantarkan hasil batiknya kepada pemesan untuk menerima pula pembayaran harganya. Pernah suatu ketika aku minta maaf kepada Ibu agar aku jangan disuruh demiklan. Alasanku karena aku malu harus menunggu menerima uang dari pembayaran pihak pemesan. Kalau sekedar mengantarkan saja aku mau. Tetapi Ibu menasehati aku agar aku mau melakukannya. Ibu katakan, kalau nanti aku menerima uang pembayarannya, maka Ibu bisa membeli beras buat makan kami semua seisi rumah, dan bahkan bisa membayar uang sekolah. Lagi pula, demikian kata Ibu, itu uang kita sendiri, hak kita, kita bukannya meminta-minta!

Maka, membiasakan membantu pekerjaan orang tua akan menimbulkan keinsyafan member! imbalan jasa kepada orang lain yang telah berbuat baik kepada dirinya. Tidak ada orang tua yang mengharapkan imbalan jasa dari anak-anaknya. Tetapi kewajiban orang tua mendidik anak-anaknya agar mereka mempunyai rasa berkewajiban memberi imbalan jasa kepada orang lain, karena hal demikian merupakan suatu keharusan dalam pergaulan hidup. Jikalau kepada orang yang paling berjasa dan paling dekat hubungannya (yaitu orang tua) tidak merasa berkewajiban untuk menghargai dan memberi imbalan jasa sebagai tanda berterimakasih, betapa pula terhadap orang lain yang tidak sedekat orang tuanya? Hal itu sangat berbahaya, karena bisa menumbuhkan sifat ananiyah atau ego sentris, yang hanya menonjolkan rasa akunya.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: