Menjadi Guru (6)

Waktu istirahat (tidur)

Mengapa soal istirahat dan tidur aku mintakan perhatian dari para wali murid? Bukankah soal itu perkara paling mudah? Sepintas lalu memang benar. Semua orang bisa istirahat, maksudku: bahwa istirahat suatu perkara yang bisa dilakukan semua orang. Begitu pula soal tidur. Tetapi soalnya tidak hanya demikian. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan berhubungan dengan istirahat dan tidur.

Pengalamanku, ketika aku masih kanak-kanak boleh dibilang aku tak pernah tidur di waktu siang. Pagi hingga pukul 12 sekolah “Ongko-Loro” (sekolah dasar negen), pukul 2.30 hingga pukul 5 sore sekolah madrasah. Pukul 6 hingga 9 petang mengaji di surau. Waktu yang kosong dari itu semua, aku pergunakan untuk bekerja membantu orang tua, untuk bermain-main dengan teman-teman, dan untuk istirahat (tidur). Karena tak pernah tidur siang, maka sesekali aku ketiduran karena sangat mengantuk (habis begadang malam hari, misalnya, salah seorang teman disunat). Jika melihat aku ketiduran di waktu siang, maka ayah atau ibu mengira aku sakit.

Istirahat bukan sekedar berdiam diri, tak membuat gerakan-gerakan. Kadang-kadang aku merasa penat setelah berjam-jam belajar di rumah, misalnya membaca dan menghafal. Karena rasa penat ini, aku berhenti belajar, buku ditutup. Aku hampiri sepedaku, aku bersihkan dia. Penat membersihkan sepeda, aku mengambil sapu membersihkan lantai di rumah. Aku rasakan bahwa berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, merupakan istirahat juga. Atau aku berbincang-bincang dengan ibu atau simbok (pembantu), itu pun merupakan suatu istirahat. Atau aku mengambil air, menimba di sumur untuk mengisi kamar mandi. Pengalaman masa kanak-kanak ini, aku terangkan kepada wali murid, agar meletakkan arti istirahat dalam makna yang berfaedah bagi kesehatan dan pertumbuhan jiwa anak-anaknya.

Salah satu kegemaranku ketika masih kanak-kanak ialah tidur di surau atau di masjid. Di sana banyak teman-teman, terasa adanya kehidupan yang bebas. Bercanda, membual, dan berdebat hingga jauh malam. Jika perut merasa lapar dan di kantong tak ada uang, maka pergi beramai-ramai mencari mangsa. Pohon mangga atau jambu milik tetangga menjadi sasaran utama. Pernah, suatu malam karni berlima menghampiri sebatang pohon jambu milik seorang Arab, yang tak jauh letaknya dari masjid tempat kami tidur. Dua orang temanku memanjat pohon jambu, kami bertiga menunggui di bawah. Kami bersekutu menggasak jambu tuan Arab ini. Malang bagi kami, pemilik jambu keluar dari rumahnya langsung menghampiri kami sambil setengah teriak:

“Begini malam curi jambu. Hayo turun!”

“Jambu yang matang sudah aku petik semua tadi siang. Kalau mau jambu jangan petik yang di pohon, itu masih mentah. Nanti aku ambilkan di rumah,” demikian katanya.

Karuan saja, kami semua jadi merasa malu. Tuan Saleh Bauzir (pemilik pohon jambu), kenal betul kepada kami semua. Kami tinggalkan pohon itu, dan tentu saja kami malu menerima tawarannya yang murah had itu.

Memang, tidur di masjid terasa bebas sekali. Kami bisa pergi ke mana saja, pergi iseng untuk periang-riang. Sekali waktu kami mencari sasaran… anjing milik Babah Cu Kao. Kami, anak-anak Kauman, terkenal sebagai tukang mengganyang anjing. Kalau satu ketika seekor anjing masuk kampungku, Kauman, jangan harap dia bisa selamat. Berpuluh-puluh anak-anak siap dengan batu di tangannya, mengepung anjing yang sial itu dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri. Dalam waktu tidak lama, anjing dibikin wassalam. Kami semua merasa puas seperti habis mayoran, pesta-pora. Itu kalau siang hari, anjing masuk Kauman mencari algojo-algojo. Tapi kalau malam hari, anak-anak yang mencari anjing untuk diganyang sampai mampus.

Demikianlah akibatnya jika anak-anak tidur di masjid, anak-anak tidak terkontrol apa yang diperbuat. Masjid dijadikan markas untuk acara ngelayap.

Oleh sebab itu, Ayahku paling keras melarang aku tidur di masjid. Ayah paling tahu apa yang diperbuat oleh anak-anak kalau tidur di masjid. Sesekali aku tidur di masjid tanpa izinnya, aku bisa diguyur air satu ember hingga basah kuyup. Kadang-kadang memang, Ayah memberi izin aku tidur di masjid kalau misalnya kebetulan ada perayaan Mauludan (peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad Saw) atau malam Idul Fitri. Itu pun dengan nasihatnya, wanti-wanti agar aku tidak ngelayap. Ayah melarang sangat, aku ikut-ikutan membunuh anjing. Apa salahnya anjing hingga dibunuh?

“Kena jilatan anjing memang najis mughalladhah. Tetapi anjing itu sendiri tidak berdosa,” kata Ayah.

“Kan mengandung najis, Ayah?” kataku.

“Kalau karena mengandung najis, nah, dalam perut
ayah ini ada kotoran yang juga najis. Apakah ayah harus dilempari dengan batu?” balas Ayah dengan pertanyaan yang mematikan alasanku. Aku diam mengaku salah.

Oleh sebab itu, dalam pertemuan wali murid aku tekankan, sebaiknya anak-anak dibiasakan tidur di rumahnya sendiri. Sesekali boleh saja tidur di rumah teman, tetapi harus dititipkan kepada tuan rumah, dan anak-anak dinasihati agar memelihara kesopanan dan sebagainya. Itu pun tidaklah sering-sering. Dan sebagai imbalannya, teman-temannya sesekali tidur juga di rumahnya. Dengan demikian, akan terjalin juga persahabatan antara sesama orang tua.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: