Menjadi Guru (7)

Agama hendaklah dilaksanakan secara menyeluruh. Artinya, dikerjakan dalam gabungan antara keyakinan, pengertian, dan praktek sehari-hari. Tiap-tiap rumah tangga harus menjadi tempat untuk menghayati praktik beragama, dengan diresapi dalam suasana yang terus-menerus.

Sebenarnya tidaklah terlampau sukar, asal ada kemauan dan ketekunan dari kalangan orang tua. Kita sekarang, setelah anak-beranak, merasa sangat beruntung bahwa dahulu orang tua kita membiasakan kita semua mempraktikkan beragama dalam kehidupan sehari-hari di rumah kita masing-masing. Bahkan, kadang-kadang kita juga merasa sangat beruntung bahwa orang tua kita seperti memaksakan sesuatu kepada kita. Kita sering merenungkan sekarang, andai kata orang tua kita tidak memaksakan kita berpuasa atau sembahyang, apa jadinya kita sekarang ini?

Tetapi kita, para orang tua, bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk anak-anak kita, tanpa adanya paksaan. Kita membiasakan. Menjadikannya perbuatan yang berulang-ulang. Melatih diri dan membiasakan itu bukanlah perbuatan paksaan. Kita menyadari bahwa kita telah beragama. Kita telah yakin tentang kebenaran agama yang kita peluk. Kita juga mempunyai pengertian bahwa beragama artinya begini dan begitu. Lalu kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari, dan dalam lingkungan rumah tangga, kita biasakan untuk menjalankannya berulang-ulang. Apalagi praktik beragama itu harus dimulai sejak masih kanak-kanak. Anak-anak kita akan mengikuti apa yang menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Kalau kita hidup secara sederhana dalam praktik sehari-hari, anak-anak kita akan menjalankan pola hidup sederhana itu. Sebaliknya, kalau kita hidup dengan pola bermewah-mewah, tak mau tahu tetangga kiri kanan, maka anak-anak kita pun akan meniru pola demikian, mungkin akan lebih maju lagi.

Ambillah contoh tentang waktu makan dan caranya.

Makan bersama seisi rumah itu lebih baik. Lebih hemat dan berkah (ada perasaan bahagia). Jika anak telah banyak, tidaklah mudah untuk melakukan makan bersama. Ada yang masih sekolah, ada yang sedang pergi ke rumah temannya, ada yang lagi mengikuti kursus, dan sebagainya. Tetapi kita bisa mengambil salah satu waktu makan yang paling mungkin, bisa berkumpul semuanya. Mungkin pada waktu makan siang, atau makan malam.

Ambil saja misalnya waktu makan malam. Di saat itu, seisi rumah bisa berkumpul. Kita makan bersama. Sudah tertentu di mana tempat duduk masing-masing. Biasanya anak paling kecil duduk dekat ayah atau ibunya, lalu kakaknya dan seterusnya hingga yang paling besar mengambil tempat paling jauh dari tempat duduk ayah dan ibunya.

Sekaligus kita pergunakan waktu makan itu untuk membiasakan sopan santun dalam makan. Ayah dan ibu paling dulu mengambil tempat duduk, dan paling dulu pula meninggalkan meja makan. Tidak memulai mengambil makanan sebelum ayah dan ibu mengambilnya terlebih dahulu. Mengambil jenis lauk pauk mendahulukan yang paling dekat di depannya. Masing-masing saling mengedarkan ganti-berganti. Selama makan berlangsung, hendaklah dijaga agar suasana menyenangkan, rileks. Bicara hal-hal yang menyenangkan, ringan tetapi berfaedah. Orang tua harus segera membetulkan bila terdapat sesuatu yang tidak layak, misalnya kegaduhan, dahulu-mendahului, dan sebagainya.

Dalam kursus-kursus wall murid, selalu aku terangkan bahwa makan bersama termasuk yang dianjurkan oleh Islam. Hidangan untuk dua orang cukup dipergunakan untuk tiga orang, hidangan untuk tiga orang cukup pula untuk empat orang, dan seterusnya. Di situ letaknya arti berkah atau berkat. Dalam makan bersama, sekaligus mendidik anak-anak dan diri kita juga untuk mengenal dan membiasakan ketertiban, memperhatikan kepentingan orang lain, menikmati serta mensyukuri rezeki karunia Allah SWT, dan mempererat hubungan lahir batin sebagai satu keluarga.

Ketika usiaku 13 tahun, untuk beberapa bulan aku tinggal di rumah kakek di Cilacap. Salah satu kebiasaan yang baik dari kakek ialah membiasakan makan bersama. Beliau duduk bersanding dengan nenek di tengah-tengah dengan dikelilingi oleh paman-pamanku dan bibi-bibiku. Akulah satu-satunya cucu yang turut makan bersama. Kadang-kadang kami makan dengan tangan dan kadang-kadang memakai sendok dan garpu. Dengan demikian, terbiasakanlah kami bagaimana cara makan yang baik, apakah memakai tangan ataukah
memakai sendok dan garpu. Aku masih ingat betul bahwa paman-pamanku dan bibi-bibiku belum berani mengambil tempat duduknya masing-masing sebelum kakek dan nenek mengambil tempat duduknya. Jika saja kakek dan nenek telah mengambil tempat duduk, tetapi masih ada pamanku atau bibiku yang belum memasuki ruangan makan, maka beliau belum memulai makan. Apabila semuanya telah siap untuk memulai makan, kakek memberi nasihat secara umum, agar semuanya tepat datang di meja makan, tidak baik orang yang lebih muda usianya datang terlambat. Dan sesekali kakek atau nenek terlambat datang, maka semuanya menantikan dengan sabar. Salah seorang pamanku datang ke meja makan dengan hanya memakai singlet saja. Kakek menasihati agar ia memakai baju, kemeja, atau piama. Kami harus membiasakan berpakaian sopan di hadapan orang banyak, agar kita belajar menghargai orang lain. Tak perlu yang sebagus-bagusnya, tetapi cukuplah bila memakai pakaian yang pantas dan bersih. Lauk pauk yang berada di muka kami tidak boleh dibiarkan tetap dihadapi sendiri, tetapi haruslah diedarkan, karena orang lain juga memerlukannya. Ini merupakan pendidikan agar kita semua senantiasa mengindahkan kepentingan orang lain.

Nenek tahu kegemaran kakek kalau bersantap. Beliau membuatkan sayur opor dari kol atau kubis untuk kakek. Opor kol itu hanya dibikin sepinggan untuk kakek sendin. Karena harga kol atau kubis cukup mahal, maka nenek tidak membuatkan untuk kami semua. Tetapi kakek tahu perasaan kami. Beliau mengambil sekedar dua sendok, sisanya dibagikan untuk kami semua. Walaupun tidak banyak, tetapi kami merasa puas karena kami masing-masing dapat merasakan opor kol yang lezat itu.

Kejadian ini menimbulkan pelajaran padaku bahwa sifat orang tua selamanya ingin merasakan enak bersama-sama, tidak ingin merasakannya sendian. Sikap kakek yang demikian itu menimbulkan rasa hormat pada kami terhadap beliau. Kami juga menyadari mengapa saban-saban nenek hanya membuatkan sepinggan opor kol, pertama karena sikap hormat kepada kakek sebagai suaminya, itu kegemaran kakek, dan kedua karena menyangkut anggaran rumah tangga.

Tidak cukup biaya untuk saban-saban membuat opor kol kegemaran kakek untuk kami semua. Kol atau kubis termasuk jenis sayuran yang mahal harganya, termasuk barang lux waktu itu.

Ada hal lain lagi yang aku masih ingat betul. Aku mengharapkan memperoleh kepala ayam yang terletak jauh dari hadapanku, tetapi kedahuluan diambil oleh paman. Tentu saja aku mendongkol. Caranya paman ngeletak kepala ayam aku awasi dari jauh. Hal ini diketahui oleh kakek. Beliau memberi nasehat secara umum bahwa tidaklah sopan jika seseorang mengawasi mulut orang lain yang sedang mengunyah makanan. Melirik ke piring
orang lain saja tidaklah sopan, apalagi mengawasi gerakan-gerakan mulutnya yang sedang melakukan tugasnya.

Tengah makan bersama, kadang-kadang hanya kakek dan nenek saja yang berbicara, sesekali paman yang tertua ikut berbicara. Tetapi kami yang lain diam saja mendengarkan.

Diceritakan bahwa tetangga sebelah, tadi malam rumahnya kemasukan pencuri, beberapa barang miliknya yang berharga dibawa kabur. Ternyata, hal itu disebabkan karena suatu kelalaian, tidak meneliri pintu dan jendela, apakah telah terkunci sebelum masuk ridur. Cerita ini tentulah berkesan di hati kami agar kami lebih teliti lagi mengawasi serta memeriksa pintu-pintu dan jendela sebelum masuk tidur. Juga teringatlah aku akan pelajaran kiai di surau, sebelum tidur membaca-bacalah doa terutama Ayat Kursi, memohon kepada Allah SWT agar terlindunglah dari segala bahaya selama kami tidur. Karena Allah Maha Pelindung tak pernah lengah sedetik pun!

Kami tak berani meninggalkan meja makan, sebelum kakek lebih dahulu meninggalkannya. Ini malah kebetulan. Kami bisa sedikit meneruskan ronde kedua, atau menyomot lagi sisa tempe goreng yang tadi sudah kuincar dari kejauhan, dibiarkan tetap bertengger di atas piring cuma karena aku malu dan segan kepada kakek. Tetapi nenek menasihati, ingat si Anu belum makan, sisihkan buat dia, jangan dihabiskan! Sambil meninggalkan ruang makan, nenek berjalan sambil menggerutu: “Tadi kelihatannya sudah pada kenyang, kiranya pada tak bisa rnenggantung gigi…” . Kami saling berpandang-pandangan sambil menghabiskan tempe goreng.

Ada lagi hikmat yang penting dalam makan bersama. Kadang-kadang aku mau makan banyak-banyak. Rasanya tak ada kenyang-kenyangnya. Kalau sedang makan sendirian, pastilah selera itu dituruti sejauh-jauhnya. Karena tak ada orang lain, maka tak ada yang disegani. Akibatnya, sifat serakah dan rakus itu dileluasakan dengan bebasnya. Tetapi tidaklah demikian kalau kita makan bersama. Mau tak mau aku harus membatasi diri, mesti tahu diri, dalam istilah akhlak disebut muruah. Artinya, orang harus mempunyai sikap perwira, tahu malu. Orang tak akan menjunjung sopan santun kalau tidak karena mempunyai malu. Siapa tidak mempunyai sifat malu, maka ia akan berbuat apa saja yang dimaui hawa nafsunya. Jika anda tidak mempunyai sifat malu, silakan berbuat sesuka hati anda! demikian tantangan Nabi kita kepada orang-orang yang tak punya malu. Lagi pula, orang makan sekedar menghilangkan rasa lapar, bukan mengumbar nafsu. Makanlah yang halal, dan yang baik (sesuai dengan kadar gizi yang diperlukan), tetapi jangan berlebih-lebihan. Imam Ghazali memperingatkan orang bahwa orang mukmin makan dengan satu perut, tetapi orang munafik makan dengan tujuh perut!

Dengan makan bersama, maka dibiasakanlah kita bersikap ksatria, tahu diri, dan tahu malu. Orang yang tak tahu malu, tak tahu diri, dan tak sadar dalam mengumbar kehendak nafsunya, biasanya dinamai orang mabuk atau gila!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: