Menjadi Guru (8)

Seorang wali murid mengajukan pertanyaan mengenai kelakukan anaknya tentang sembahyang. la ingin anaknya menjalankan sembahyang dengan baik. Ya, orang tua mana yang tak ingin melihat anaknya rajin sembahyang, tepat pada waktunya, dan tertib. Tetapi kenyataannya tidaklah selalu demikian. Mereka sering membolos, sembahyang hanya kalau diperintah, itu pun harus beberapa kali.

Aku katakan kepadanya dalam kursus wali murid, bahwa inilah salah satu tugas penting orang tua dalam mendidik watak dan rohani anak-anaknya.

Menjalankan sembahyang adalah penting sekali. Itu merupakan salah satu pelaksanaan beragama dalam kehidupan sehari-hari. Sembahyang itu adalah tiang agama, jika tiang tidak kuat, akan terancam dan bahkan robohlah seluruh bangunan.

Hubungan manusia dengan Al-Khaliq dilakukan menurut cara-cara yang ditentukan oleh Al-Khaliq, bukan oleh cara yang dikehendaki oleh manusia. Demikian pula waktu-waktunya, ditetapkan oleh Al-Khaliq, bukan oleh kapan manusia sempat melakukannya.

Ada yang memberikan perumpamaan bahwa sembahyang laksana sedang menghadap, bertandang, atau sowan kepada Allah SWT. Bertandang tanda kesetiaan, untuk melaporkan diri, untuk berdialog, dan juga untuk menerima perintah. Bacaan-bacaan dalam sembahyang merupakan do’a-do’a dan pernyataan prasetia seorang hamba di hadapan Al-Khaliqnya. Kalimat-kalimatnya, kapan diucapkan, dan berapa jumlah bilangannya, semuanya telah ditentukan.

Kalau kita menghadap seorang pembesar, misalnya kepala negara, apalagi kalau yang wajib, maka waktunya ditetapkan oleh kepala negara, dan bukan oleh kapan kita sempat melakukannya. Kepala negaralah yang menetapkan hari-hari kapan kita bisa diterima, bukan kapan sempat kita dan kepala negara mesti harus menerima kita. Demikian pula soal waktu, pihak istanalah yang menetapkan berapa lama itu dilangsungkan, pakaian apa yang harus dikenakan, dan bagaimana gerakan-gerakan yang harus kita lakukan, berdiri sekian meter, melangkah berapa kali langkah, ucapan-ucapan apa yang boleh disampaikan, dan sebagainya. Semua itu, pihak istanalah yang menetapkan, dan bukan semau kita. Segalanya telah ditetapkan secara protokoler sesuai dengan tata cara istana.

Itu kalau kita menghadap pembesar.

Bagi kita, sembahyang lebih dari cuma sekedar bertandang.

Bagi kita, Allah SWT lebih dari pembesar Dia Al-Khaliq. Dia Rabb al-‘Alamin, Tuhan Seru Sekalian Alam.

Tugas orang tua mendidik anak-anaknya agar menjalankan sembahyang karena kesadaran merasa berkewajiban. Menjalankan kewajiban memang berat. Oleh sebab itu, memerlukan pendidikan dan latihan sejak kecil, sejak masa kanak-kanak. Latihan itu menjadi kebiasaan yang terus menerus. Ada suatu peribahasa kita: Alah bisa karena biasa! Peribahasa klasik ini ternyata sangat ampuh, mempunyai bekas yang amat kuat.

Seorang ibu menghampiri anaknya yang kecil ketika bangun pagi. Disongsongnya dengan secercah senyum di pagi yang cerah, dielukan dengan ucapan selamat pagi:

“Kau sudah bangun, manis?” sambutnya ramah.

“Mari kutolong mandi!” ibu menghampiri pelan sambil hendak menanggalkan baju anaknya.

―Tak mau mandi, tak mau…..” katanya manja dan masih tetap berbaring dengan malasnya.

“Udin mesti mandi, biar lekas besar, lekas pandai!” ibu membujuk.

“Tak mau ah! Emoh mandi, masih mengantuk!” jawab Udin sambil membalikkan punggung seenaknya.

“Biar Ibu memandikan Udin. Kalau sudah mandi, badan terasa segar dan tidak ngantuk lagi.” Ibu membangunkannya sambil mulai melepas pakaiannya.

“Udin mau pipis dulu, dong!” sambil mulai bangun lalu berdiri. Ibu menolong membuka seluruh pakaian anaknya, dituntunnya pergi ke kamar mandi.

Udin mulai mandi, ditolong ibunya.

Hari demi hari peristiwa semacam itu akan terulang, dan orang tua dengan amat rajin membimbing dengan kata-kata yang menyenangkan, menginsyafkan arti penting mandi, dan membancu menyelesaikan bagaimana cara mandi yang baik. Menggosok gigi, mengguyur seluruh badan dengan air hingga rata, digosoknya sekujur badan dengan sabun, dibersihkan dan lalu dikeringkan dengan handuk. Maka selesailah mandi.

Peristiwa demikian berlangsung tiap pagi dan sore, tiap hari, tiap minggu, berbulan-bulan lalu menjadi kebiasaan sehari-hari, pagi dan sore. Kini telah timbul suatu kesadaran di hari anak bahwa mandi adalah suatu keharusan hidup secara wajar. Kita tidak lagi merengek dengan manja dan harus dibujuk untuk mandi, tetapi begitu ia bangun dari tidur ia akan teriak “Ibu, mandi!” Manakala usia telah bertambah dan kesadaran sudah dimiliki, ia tidak lagi berteriak memanggil ibunya, tetapi ia terus saja pergi ke kamar mandi. Semua ini, hasil dari kebiasaan lantaran bimbingan dan penginsyafan. Mengenai menyisir rambut, mengenakan pakaian, pergi sekolah, melakukan pekerjaan, membantu orang tua di rumah, dan sebagainya, berjalan dengan tertib pada waktunya,tanpa dipaksa lagi, segalanya dikerjakan dengan keikhlasan, kesadaran, dan rasa tanggungjawab.

Demikian pulalah halnya dengan sembahyang. Dengan melalui pendidikan membiasakan diri bersembahyang, maka anak-anak akan menjalankan sembahyang dengan baik, tertib, dan tepat pada waktunya. Dan yang tak kurang-kurang pentingnya adalah contoh dari orang tua. Artinya, orang tua sendiri mestilah menjalankan sembahyang dengan tertib dan tepat pada waktunya. Sejak usia 3 tahun anak mulai dibiasakan bersembahyang. Dimulai dengan perkenalan tentang gerakan-gerakan sembahyang: Takbir, sujud, ruku. Begitu juga tentang kalimat-kalimatnya yang pendek:

Allahu Akbar, Bismi Allahi ar-rahmani ar-rahim, Ushalli fardha al-maghribi, dan sebagainya.

Paling tidak, dalam sehari sekali anak-anak dibiasakan sembahyang bersama, misalnya waktu maghrib. Waktu itu dimungkinkan anak-anak sudah berkumpul semua di rumah, demikian pula ayah dan ibunya. Waktu maghrib diambil untuk memberikan kesan di hati sanubari anak-anak bahwa waktu petang adalah waktu yang tidak pantas bila anak-anak masih berkeliaran di luar rumah tak menentu, maka patut sekali mereka sudah berada di dalam rumah.

Teringat padaku, di kalangan supir-supir ada sebuah pomeo bahwa waktu maghrib saatnya setan-setan pada gentayangan di jalan raya,karena itu, mereka lebih berhati-hati mengemudikan mobilnya. Orang tua-tua kita dahulu (biar mereka tidak menjalankan sembahyang) selalu memanggil-manggil anaknya yang masih bermain-main di luar, bila waktu maghrib telah riba. Orang tua-tua menamakan waktu tersebut: sande kola, waktu peralihan dari siang ke malam hari.

Bagi mereka yang menjalankan sembahyang adalah sudah jelas, memanggil anak-anaknya untuk bersembahyang bersama. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak sembahyang, baik karena tidak memeluk agama Islam maupun karena sebab lain, adalah untuk mendidik anak-anaknya agar menghormati waktu orang yang sedang sembahyang. Bagi seorang muslim, dengan sendirinya merasa berkewajiban untuk menciptakan suasana agama dalam lingkungan rumah tangganya. Dan sembahyang adalah tiang agama.

Menjalankan sembahyang bersama di antara anggota keluarga mempunyai kesan sangat mendalam di lingkungan keluarga, kesan ini akan mempunyai pengaruh dalam perjalanan hidup.

Orang yang menjalankan sembahyang akan merasa terikat moril, bahwa ia akan memperlihatkan sikap hidup yang terhormat, layak, dan berkepribadian. Semakin sering bersembahyang, kian mendarah daginglah ikatan moral itu, hingga dengan sendirinya akan merasa malu memperlihatkan sikap hidup yang tidak senonoh.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa sembahyang akan membentuk watak pribadi yang luhur dan mulia, tanpa paksaan dan tanpa larangan orang lain. Inilah yang dinamai menanamkan disiplin pribadi. Sembahyang bersama, di mana ada ayah, ibu, kakak, dan adik berkumpul bersama-sama, akan menimbulkan sikap solider sebagai satu keluarga yang seia-sekata, suatu unsur amat penting dalam pembinaan keluarga yang bahagia.

Jika waktu maghrib telah tiba, salah seorang anak diserahi azan. Mendengar seruan azan ini seluruh keluarga berkumpul dalam suatu ruangan khusus untuk sembahyang, mushala di rumah.

Kita ini kadang-kadang berbuat hal-hal yang aneh. Jika kita membikin rumah kediaman, kita sediakan ruangan khusus untuk tidur, untuk makan, untuk mandi, untuk tamu, untuk duduk￾duduk, untuk masak-memasak, dan untuk menunaikan hajat. Kita beri nama: kamar tidur, kamar makan, kamar mandi, kamar tamu, ruangan duduk, dapur, dan wc. Tetapi untuk sembahyang? Tidak disediakan ruangan khusus untuk sembahyang, padahal ini paling mutlak, tempat kita bersujud kepada Allah SWT. Tidak mengherankan kalau kita sembahyang di sembarang tempat, asal saja. Dan bila kebetulan ada tamu dan tiba waktunya untuk sembahyang, kita jadi kelabakan setengah mari mencari tempat yang pantas menurut pandangan tamu. Bukan pantas menurut pandangan Allah.

Coba, kalau kita mempunyai ruangan khusus buat sembahyang di rumah, alangkah nikmatnya ibadah ini. Bila waktu maghrib telah tiba, salah seorang anak kita melakukan azan. Kita semua kumpul di mushala kita. Ayah menjadi imam sembahyang, ibu, kakak, dan adik menjadi makmum. Dengan khusyuknya, sembahyang kita tunaikan. Kita dengarkan dengan seksama bacaan imam yang merdu suaranya dalam irama sorgawi. Kita ikuti gerakan-gerakan imam dengan patuh karena kita ingin memperoleh sembahyang dengan nilai yang baik. Selesailah sembahyang maghrib. Kita merasakan sesuatu yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kita merasa bahagia. Padahal itu semua tidak memakan waktu lebih dari 6 menit saja. Tidak lama, cuma 6 menit! Sayangkah kita dengan waktu hanya 6 menit? Padahal itu untuk menghadap Tuhan Seru Sekalian Alam, untuk menyatakan rasa terima kasih karena kita diberi hidup dan penghidupan!

Selesai sembahyang, kita masih duduk barang sejenak. Kita lakukan wiridan, membaca rangkaian kalimat-kalimat suci untuk ditanamkan dalam had sanubari kita.

Astaghfiru Alllaha al-‘azhim, “aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung!” (Dalam sehari, kita tentu pernah berbuat dosa kepada-Nya).

Alladzi la ilaha illa huwa al-hayyu al-qayyum wa atubu ilaihi, “Dialah Tuhan yang tiada Tuhan kecuali Dia. Allah Yang Mahahidup dan Mahategak Berdiri untuk selama-lamanya. Sebab itu, aku hanya memohon tobat kepada-Nya”.

Allahumma anta as-salam wa minka as-salam wa ilaika ya’udu as-salam, fa hayyina rabbana bi as-salam wa adkhilna jarmata daraka dara as-salam tabarakta rabbana wa ta ‘alaita ya dza al-jalali wa al-jamali wa al-kamali wa al-qahhari wa al-ikram. “Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan, dan dari-Mulah datangnya selamat sejahtera, dan kepada-Mu pula tempat kembali segala kesejahteraan. Sebab itu, Ya Tuhan kami, mohon diberi kami hidup dengan selamat sejahtera. Dan bila tiba saatnya kami Engkau panggil, mohon ditempatkan di sorga-Mu, tempat yang penuh segala kesejahteraan. Mahasuci Engkau Tuhan kami, Dzat Yang Maha-luhur. Ya Tuhan kami yang memiliki segala Keagungan, Keindahan, dan Mahasempurna. Engkau Maha Tak Terkalahkan, lagi Mahamulia!”

Membaca Subhana Allah (Mahasuci Allah) 33 kali. ‘Diikuti Al-hamdu li Allah (Segala puji bagi Allah, Hanya Allah Yang Maha Terpuji) 33 kali. Diakhiri AllahuAkbar (Allah Maha Besar) 33 kali. Sebagai penutup wiridan ini, baca doa sekehendak kita, apa yang akan kita mohonkan.

Semua ini tidak memakan waktu lebih dari 5 menit.

Tentu akan lebih utama lagi jikalau wiridan itu lebih panjang dari sekedar di atas. Dan dengan dibaca bersama-sama akan menimbulkan pengaruh batin yang berfaedah sekali dalam suasana yang khidmat. Sejenak kita melepaskan ingatan duniawi karena kita sedang menghubungkan rohani kita dengan ikatan ukhrawi.

Dengan membiasakan sembahyang bersama ini, anak-anak akan selalu terlatih untuk menanamkan suatu kesadaran bahwa arti hidup tidak sekedar makan dan minum. Ada suatu tugas suci bagi yang bernama manusia dalam menjalani hidup. Maka anak-anak telah dibentuk wataknya untuk memiliki cita-cita luhur, dan mereka akan sadar apa sebenarnya rahasia hidup ini, dan apa tujuannya.

Dengan didikan watak ini, pastilah mereka akan menjadi manusia yang mengkhidmahkan (mengabdikan) hidupnya untuk cita-cita luhur bagi bangsanya. Insya Allah!

Di antara anak-anak kita, tidaklah semuanya patuh menjalankan sembahyang. Ada yang taat dan patuh menjalankan tepat pada waktu-waktu sembahyang, tetapi ada pula yang selalu minta disuruh dulu, itu pun berkali-kali diperintah. Pada umumnya anak-anak perempuan lebih patuh daripada anak laki-laki. Tetapi bagaimanapun juga,kunci selamanya di tangan orang tua, terutama ayah.

“Sudah sembahyang belum?” dengan pertanyaan dan teguran ini, anak akan sadar bahwa dirinya diperhatikan ayahnya mengenai sembahyangnya.

Adakalanya masih saja belum melakukan sembahyang karena macam-macam alasan. Bisa juga karena masih capek, adakalanya memang malas.

“Jika sudah mengaso, pergilah sembahyang!” ini merupakan suatu kelonggaran yang diberikan orang tua kepada anaknya, tetapi tetap dengan anjurannya untuk bersembahyang.

“Kalau mau main sepak bola, sembahyanglah dulu!” dengan anjuran ini anak akan merasa, sungguhpun main sepak bola itu penting, tetapi sembahyang jauh lebih penting lagi. Bisa juga diartikan sebagai perangsang sebelum pergi main sepak bola atau pergi dengan temannya.

Alhasil, bagaimanapun juga, membiasakan sembahyang ini sangatlah penting artinya dalam menumbuhkan kesadaran anak-anak tentang keharusan sembahyang sebagai seorang pemeluk agama. Dengan membiasakan, maka akan menjadi terbiasa, dan kelak akan menjadi watak sebagai seorang yang taat bersembahyang disebabkan karena kesadaran sendiri. la akan merasa tidak enak sendiri kalau tidak sembahyang. la tidak mau berbuat dosa. Dan, dimulai dari kesadaran tentang sembahyang, pada akhirnya ia akan menjaga kelakuannya sendiri dalam pergaulan umum, apa-apa yang boleh dikerjakan dan apa-apa yang tak boleh dilakukan. Di sini, ia akan mempraktikkan sendiri bagaimana melakukan agama dalam kehidupan sehari-hari. la ingin menjadi manusia yang baik segala-galanya atas keinsyafannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: