Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (1)

Minggu-minggu pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan adalah hari-hari yang penuh dengan ketegangan. Indonesia yang mula-mula berwajah cerah penuh tawa, mendadak berubah menjadi Indonesia yang garang meradang menantang, dan berjuang. Jepang hendak menjadikan Indonesia barang inventaris yang harus diserahterimakan kepada Sekutu. Jepang sebagai negara yang kalah perang diharuskan menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia bekas jajahannya.

Minggu-minggu pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan adalah hari-hari yang penuh dengan ketegangan. Indonesia yang mula-mula berwajah cerah penuh tawa, mendadak berubah menjadi Indonesia yang garang meradang menantang, dan berjuang. Jepang hendak menjadikan Indonesia barang inventaris yang harus diserahterimakan kepada Sekutu. Jepang sebagai negara yang kalah perang diharuskan menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia bekas jajahannya.

Tetapi kita tidak sudi dijadikan barang warisan. Kita sudah merdeka. Sebab itu, kita menentang perbuatan Jepang. Keamanan dan ketertiban di Indonesia adalah urusan kita sendiri, kita yang berdaulat di negeri sendin. Sebaliknya, kita memandang Jepang-Jepang sebagai tawanan perang Sekutu yang harus kita serahkan kepada Sekutu, dan kita bertanggung jawab atas keamanan di negeri ini. Bila Sekutu datang ke negeri ini, dia tidak lagi akan menjumpai Indonesia sebagai jajahan Jepang, tetapi sebagai suatu Negara Merdeka yang berhak memerintah dirinya sendiri.

Jepang tidak mau menyadari kenyataan bahwa Indonesia telah merdeka. Dia masih beranggapan bahwa kemerdekaan Indonesia baru akan diberikan oleh Jepang bila perang selesai dan Jepang di pihak yang menang. Tetapi bangsa Indonesia telah matang untuk berpikir bahwa Jepang tidak akan menang dalam peperangan, Jepang akan dikalahkan. Sebelum Jepang menjadi taklukan Sekutu, kita siap untuk merdeka. Dan, begitu Jepang menyerah kepada Sekutu, begitu kita menemukan detik-detik yang paling tepat untuk merdeka. Detik-detik di mana terdapat kekosongan kekuasaan. Jepang sudah menyerah, dan sekutu belum tiba di Indonesia. Inilah saat paling tepat untuk memproklamasikan Kemerdekaan, yaitu 17 Agusuts 1945, bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1365.

Peta yang sudah bubar segera menghimpun tenaganya kembali. Hizbullah masih dalam  keadaan utuh, mulai di pusatnya di Jakarta hingga daerah-daerah. Serentak pemudapemuda Indonesia menjadikan dirinya ―Laskar Kemerdekaan‖ yang mewajibkan dirinya membela Kemerdekaan dan mempertahankannya dengan pengorbanan apa pun. Serdadu-serdadu Jepang harus kita lucuti senjatanya. Kita memerlukan senjata. Sebagai tentara yang dalam keadaan kalah perang, mereka kita hantam dan tangsi-tangsi mereka kita serbu. Senjata di tangan Jepang harus menjadi milik kita.

Mulai dari Jakarta, pusat perjuangan kemerdekaan, hingga ke pelosok-pelosok tanah air, suasananya sangat panas, mendidihlah semangat bertempur melawan Jepang. Kita berada dalam situasi siap-siapan, di mana-mana kita jumpai pemuda-pemuda dalam keadaan siap. Komando Siap! menggema di mana-mana.

Begitu cepat slogan-slogan kemerdekaan merata di seluruh tanah air. Sepanjang jalan, pada tembok-tembok terpancang semboyan-semboyan kemerdekaan dalam bahasa Inggris, yang mengandung arti bahwa kita telah merdeka, dan sanggup membelanya dengan pengorbanan apa pun. Di mana-mana terpancang semboyan Merdeka atau Mati! Gerbong-gerbong kereta api juga penuh dengan coreng-moreng semboyan kemerdekaan dalam bahasa Inggris, hingga dalam waktu beberapa hari di seluruh tanah air, terutama di kota-kota, penuhlah semboyan-semboyan kemerdekaan menghiasi dinding-dinding rumah, jembatan, pabrik, dan bahkan pohon-pohon, pokoknya di mana saja asal bisa terbaca dengan mudah dengan huruf-huruf yang berwarna menyolok dan dalam kalimat-kalimat yang singkat dengan nada berjuang. Kepentingannya, bila nanti Sekutu datang kemari, dia akan melihat suatu kenyataan bahwa Indonesia benar-benar telah merdeka oleh hasratnya hendak merdeka. 

Aku pulang dari Jakarta dengan kereta api yang padat berisi pemuda-pemuda dengan wajah-wajah garang. Orang-orang tua pun bersemangat pemuda, mereka berbicara dengan semangat mau mati saja kalau kemerdekaan ini sampai menjadi urung. 

Tiba di stasiun Kroya, aku turun. Aku jumpai temanku seorang Hizbullah. Namanya Kiai Mu’awwam.

Kiai ini pernah dilatih Jepang dalam suatu Latihan Ulama di Jakarta. Seperti halnya ulama-ulama yang lain, selain dilatih tentang semangat Jepang (Bushido), beliau juga dilatih kemiliteran. Sejak tahun 1943, Jepang mengadakan Latihan Ulama dan Latihan Guru Madrasah seluruh Indonesia yang bertempat di Jakarta. Mereka dilatih 1 bulan, lalu diikuti oleh latihan berikutnya secara gelombang demi gelombang. 

Ketika diadakan latihan kemiliteran, kira-kira 100 orang ulama dipecah menjadi 2 pasukan. Yang satu menjadi pasukan yang membela benteng, sedang satunya, pasukan yang menyerang benteng. Kiai Mu‘awwam menjadi komandan pasukan yang membela benteng. 

Ketika pasukan yang menyerang masih dalam jarak yang cukup jauh, Kiai Mu‘awwam memberi perintah kepada anak buahnya agar beristirahat, duduk-duduk sambil merokok, dan mengobrol sesama kawannya. Alasannya, toh musuh‖ masih jauh. Begitu terdengar suara hiruk-pikuk pasukan penyerang telah mendekati benteng, Kiai Mu‘awwam segera memberikan aba-aba bersiap. Pasukannya diberi perintah, bila pasukan penyerang telah mendekati benteng-nya, segera saja menyerah dan angkat tangan. Maksudnya, agar kaum penyerang merasa senang hatinya karena susah payah dan jauh-jauh menyerang, biarlah mereka menang, dan dengan demikian latihan perang segera bubar.

“Buat apa cape-cape! Orang tua-tua disuruh bertempur‘. Ini Jepang harus diakali!” katanya.
“Kalau dua pasukan kiai-kiai yang orang tua-tua ini saling bertempur, bisa jadi gotongan nantinya. Sebab itu saya akali, biarlah pasukan saya menyerah saja, biar lekas bubar!,
“Bagaimana halnya dengan pemuda-pemuda Hizbullah di Purwokerto?” aku bertanya.
“Pemuda-pemuda kita, sebagian bergabung dengan pemuda-pemuda Peta mendirikan Tentara Keamanan Rakyat‖ (TKR),‖” jawab Kiai Mu‘awwam, “tetapi Hizbullah tetap utuh. Kemarin dahulu telah merebut senjata Jepang, hasil serbuan kita ke Butai Jepang. Pemuda-pemuda Hizbullah kini sebagian telah memiliki senjata.

“Menyerbu dengan bambu runcing di tangan?” aku menanya.

“Ya, dengan bambu runcing!” jawabnya. “Bambu runcing di tangan orang pemberani lebih ampuh daripada mitraliur di tangan orang yang gemetar ketakutan. Jepang dalam keadaan ketakutan menghadapi pemuda-pemuda yang tengah berang dengan tekad mati syahid! 

Aku tiba di Magelang di saat pemuda-pemuda sudah siap hendak menyerbu Butai Jepang yang menjadi gudang senjata. Ketika menjelang ashar, pemuda dan rakyat berhasil menurunkan bendera Jepang di atas Gunung Tidar yang dijaga kuat oleh pasukan Jepang. Tetapi Jepang-Jepang tidak berdaya menghadapi serbuan rakyat yang gagah berani, bahkan senjata mereka dilucuti. Mereka melawan, namun peluru-peluru Jepang tidak mampu membendung serbuan rakyat yang bagaikan air bah tak mau dicegah-cegah. Jepang-Jepang berhasil menjadi tawanan rakyat dan senjata-senjata berpindah tangan, menjadi milik pemuda-pemuda. 

Semangat pemuda dan rakyat di Jakarta yang bertahan dalam Rapat Umum di Ikada di hadapan serdadu-serdadu Jepang dengan bayonet terhunus, mendorong pemuda-pemuda di daerah-daerah untuk lebih berani menghadapi serdadu-serdadu Jepang. Tidak sekedar bertahan, tetapi menyerang mereka dan merebut senjata yang masih di tangan. Betul juga ucapan Kiai Mu‘awwam bahwa: bambu runcing di tangan orang pemberani, lebih ampuh daripada karaben dan mitraliur di tangan orang yang sedang gemetar ketakutan. Itulah saat paling tepat untuk memperoleh senjata, merebut dari tangan Jepang sendiri. Seorang militer di seluruh dunia mempunyai kode dan etik yang sama bahwa senjata di tangan samalah artinya dengan nyawa. Jika senjata direbut orang, berarti nyawanya telah direnggut. Pasti akan dibela sampai mati, tetapi kalau jiwa sudah menjadi kerdil karena kalah perang, segala kode dan etik tidak akan berlaku bagi orang yang sedang kalah. 

Pesantren-pesantren telah berubah menjadi markas-markas Hizbullah. Pengajian telah berubah menjadi latihan menggunakan senjata, entah karaben, mitraliur, ataupun granat tangan. Seperti ada yang memberi komando, di mana-mana berdiri barisan pendamping Hizbullah namanya Barisan-Sabilillah yang terdiri dari orang-orang yang sudah bukan pemuda lagi. 

Sebagai pemimpin Hizbullah, aku bingung juga menghadapi begitu banyak pasukan. Tiap pesantren mendirikan pasukan Hizbullah, tiap kiai mempunyai pasukan Sabilillah. Bagaimana mengatur manusia begini banyak? Apalagi semuanya minta mati syahid. Aku katakan, aku tidak memerlukan orang-orang untuk mati. Yang aku perlukan manusia-manusia yang hidup untuk berjuang membela kemerdekaan dan mengisinya.

Mulai aku atur pembagian pekerjaan. Pertama-tama menyusun pasukan pengangkut, yaitu orang-orang yang diserahi mengatur transportasi.

Ketika sudah tampak gejala-gejala Jepang akan kalah, K.H. A. Wahid Hasyim pernah, datang ke Magelang, dilihatnya bahwa banyak pemuda-pemuda kita bekerja di bengkel-bengkel mobil milik militer Jepang. Beliau menganjurkan agar pemuda-pemuda kita belajar mengemudikan kendaraan. Sebab, di zaman perjuangan yang memuncak segera dalam suatu revolusi, siapa lebih dahulu menguasai alat-alat pengangkutan, dia akan memperoleh kesempatan pertama untuk menyusun kekuatan. 

Hizbullah Magelang memiliki truk-truk yang dirampas dari Jepang ketika rakyat Magelang merebut senjata Jepang. Dengan alat pengangkutan ini lebih mudah memindah-mindahkan pasukan Hizbullah serta mengangkut bahan makanan yang dikumpulkan oleh ibu-ibu Muslimat di mana-mana. Semua laskar rakyat selain harus mencari senjata, juga masing-masing harus cari makan sendiri. Ibu-ibu Muslimat menjadikan masjid-masjid sebagai tempat mengumpulkan bahan makanan serta dapur umum.

Kami menduduki dua buah gedung besar yang terpisah antara satu dengan lainnya dalam jarak kurang lebih 700 m. Keduanya bekas kediaman perwira tinggi Jepang. Yang satu kami gunakan untuk Markas Hizbullah dan yang lain untuk Markas Sabilillah.

Aku menggunakan sebuah kamar untuk tempat tinggal ku, sedang lainnya untuk anggota staf dan pasukan. Walaupun resminya gedung markas, tetapi pada waktu-waktu sembahyang berubah menjadi mushalla besar. 

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: