Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (10)

Lepas sembahyang subuh, aku tugaskan Solichun dan Huseini untuk mencari Saroso dan Sonwani, keduanya pemimpin pasukan Hizbullah Magelang. Bisa dikerahkan tenaga Hizbullah yang aku tinggalkan di Kalijambe untuk membantunya. Juga pasukan Hizbullah Wonosobo. Keadaan sudah memungkinkan untuk menghimpun kembali pasukan yang terserak-serak. Aku sudah perhitungkan, dalam waktu 1 bulan mereka sudah mulai bisa dihimpun kembali dan mulai mengatur tugas masing-masing.

Setelah dua minggu meninggalkan kota, kami sudah sampai di daerah tujuan. Sebuah daerah di kaki Gunung Sumbing, daerah pertanian yang subur, dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau dengan sungai-sungainya yang jernih. Rombongan kami dipecah menjadi dua grup, satu ditempatkan di desa Sigedong, aku dan tiga orang anggota Majelis Konsul Nahdhatul Ulama di desa Kapuloga. Dua desa ini terpisah oleh jarak hanya 1 km. Terletak di perbatasan antara Kecamatan Kepil daerah Wonosobo yang di selatan dengan Kecamatan Bener masuk daerah Purworejo yang paling utara. Sebenarnya tidak jauh dari kota Purworejo, sekitar 14 km saja.

Gubernur Militer Jawa Tengah berkedudukan di sini. Staf Penghubungnya dipimpin oleh Mayor Ashari, perwira penerangan Divisi Diponegoro, dengan siapa aku mengadakan hubungan dan tukar-menukar informasi.

Dalam waktu 1 bulan, aku telah dapat menghimpun kembali pasukan-pasukan Hizbullah yang dipimpin oleh Saroso, Sonwani, Burhani, Solichun, dan menyusul kemudian pasukan yang dipimpin Nuch. Masing-masing kesatuan Hizbullah dari Magelang, Wonosobo, Kebumen, Purworejo dan Temanggung. Dengan demikian, pekerjaan sudah bisa dimulai.

Terbentuklah pimpinan inti Majelis Konsul Nahdhatul Ulama dengan tenaga-tenaga ulama: Kiai Muhammad, Kiai Jamil, Kiai Idris, Kiai Baidlowi, dan dibantu oleh ulama-ulama daerah Wonosobo.

Pada suatu hari datanglah seorang pemuda, Yusuf namanya. Ia berasal dari Lampung, tetapi lama menjadi santri di Tebuireng. Ia datang dengan membawa sepucuk surat dari KH.A. Wahid Hasyim. Entah dari mana K.H.A. Wahid Hasyim ini mengetahui bahwa aku berada di kaki gunung Sumbing. Isi suratnya memberi petunjuk apa yang harus aku lakukan setelah selesai menata keluarga dalam pengungsian. Disebutkan dalam surat itu bahwa Bung Karno-Hatta, Syahrir, H. Agus Salim, dan lain-lain pemimpin Republik Indonesia telah ditawan Belanda dan diasingkan di pulau Bangka. Pimpinan pemerintahan darurat dipercayakan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang ada di Sumatera. Dan pimpinan perjuangan bersenjata langsung dipegang oleh Pak Dirman, Panglima Besar. K.H. A. Wahid Hasyim menyebutkan pula bahwa beliau tidak menetap di suatu tempat, tetapi berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, merencanakan juga hendak mengunjungi daerah gerilya di Jawa Tengah.

Suatu malam tanggal 9 Januari 1949, aku menyelenggarakan Pertemuan Ulama di salah satu tempat di kaki gunung Sumbing. Delapan puluh lima orang ulama hadir. Setelah aku memberikan penerangan mengenai situasi dewasa itu, para ulama menetapkan kebulatannya untuk mengadakan gerakan rohani:

1. Bersama-sama umat Islam melakukan puasa yaumal-baidh, puasa sunat tiap tanggal 13,14, dan 15 bulan Islam.

2. Mengadakan gerakan Salat Hajat dan Amal Saleh.

3. Melaraskan hidup prihatin dalam suasana jihad.

4. Membantu pemerintah militer setempat dalam aksi perang gerilya.

Ketika aku sedang memimpin pertemuan ulama, datanglah Bukhari dan Yogya. Ia dari pucuk pimpinan Gerakan Pemuda Islam Indonesia. Kedatangannya membawa pesan dari Kiai Masykur, Menteri Agama, yang ketika itu berada di luar Yogya. Juga membawa pesan dari Dr. Sukiman, Menteri Dalam Negeri, agar perjuangan diperhebat. Bukhari hanya semalam di kaki gunung Sumbing, ia meneruskan perjalanan menuju kota Jakarta.

Datanglah suatu musibah pada suatu hari. Usman Pujotomo gugur di salah satu daerah gerilya ketika menyeberangi sungai yang sedang banjir. Ia ketua Masyumi daerah Kedu yang sedang dikejar-kejar Belanda. Karena aku wakil ketuanya, maka atas persetujuan teman-teman dan dukungan para ulama, aku mengambil alih pimpinan Masyumi daerah Kedu. Satu lagi tambah jabatanku. Segera aku laporkan kepada Dr. Sukiman, Menteri Dalam Negeri, yang juga ketua Masyumi pusat.

Hari-hari tidak bisa menetap dalam suatu tempat. Tugas membagi-bagi pekerjaan di antara pasukan-pasukan Hizbullah dalam daerah gerilya yang sulit jalan perhubungannya menyebabkan harus pergi berjalan kaki berpuluh kilometer tiap harinya. Jika malam telah tiba, melakukan tugas penerangan dan dakwah di masjid-masjid yang aku jumpai, siang hari meneruskan perjalanan melalui pos-pos yang sudah terbentuk.

Daerah ini menjadi sangat penting di mata Belanda, mereka tahu bahwa Gubernur Militer Republik berkedudukan di sini. Hampir tiap 3 hari melayang-layang pesawat-pesawat pengintai, dan kadang-kadang memuntahkan peluru senapan mesinnya.

Tak disangka-sangka, Pak M. Sarbini, komandan resimen dan pimpinan komando pertempuran mengambil desa Kapulogo, di mana keluargaku diam di sana, menjadi kedudukan markasnya. Dengan itu, kami sering berjumpa dan bertukar pikiran. Tidak jarang malam-malam saling bergantian menjadi juru dakwah.

Menjelang pertengahan bulan Januari 1949, datang pengangkatanku dari Menteri Agama, menjadi Kepala Kantor Agama Jawa Tengah dalam daerah gerilya. Bertambah lagi jabatan ini, mula-mula aku menolaknya dengan alasan sudah menumpuk macam-macam jabatan di daerah yang serba sulit ini. Mana buat memikirkan mencari duit untuk makan anak dan istriku. Istriku dan beberapa wanita melakukan tugas jualan di pasar-pasar daerah gerilya, tiap subuh menuju ke pasar yang jauhnya lebih dari 10 km dengan berjalan kaki. Sore mereka baru pulang, kadang-kadang hingga petang, karena tertahan oleh serangan musuh yang sedang mengadakan patroli.

Tetapi karena desakan para ulama, jabatan Kepala Kantor Agama itu akhirnya aku terima.

Suatu hari diawal tahun 1949, aku dan dua orang teman mencari kediaman Menteri Agama, yang konon berada di desa Brosot di luar kota Yogya. Ya, tetapi di mana Brosot itu? Untuk lebih mendekati kota, tempat kediaman kami berpindah ke desa Bener. Aku menumpang di rumah Kiai Mukhlas yang memimpin sebuah madrasah.

Tiga hari berjalan di daerah gerilya dan harus melintasi daerah musuh dan jalan-jalan raya yang dikuasai Belanda, akhirnya ketemu juga dengan Menteri Agama KH. Masykur. Beliau sudah pindah dari Brosot, di suatu desa yang terpencil di pedalaman Yogya. Beliau ditemani oleh Mr. Sunaryo, Sekretaris Jenderal. Dua orang temanku kecuali untuk tugas pengawalan, juga untuk menggendong dua onggokan uang Republik yang entah berapa juta rupiah nilainya. Uang itu adalah hasil setoran N.T.R. dari kantor-kantor Agama.

Kedatanganku disambut gembira oleh Menteri Agama, Sekretaris Jenderal dengan dibantu orang lain menghitung jumlah uang yang aku setorkan.

“Saudara sudah ambil bagian untuk Saudara?” KH. Masykur menanya.

“Belum! Dan aku tidak tahu kalau mendapat bagian,” jawabku.

“Mesti dapat dong!” kata KH. Masykur,

“Saudara dan pembantu saudara kan perlu duit! Kecuali kalau tidak memerlukannya. ..!” katanya.

“Ya perlu banget. Kami kan bukan malaikat, dari mana buat makan anak istri?” jawabku berseloroh.

“Saudara ini wali! Begini banyak uang Saudara bawa semuanya kemari menambah beban dalam perjalanan jauh. Saudara kan bisa mengambil dulu berapa diperlukan. Dengan demikian, bawaan jadi bertambah ringan dalam perjalanan!” kata KH. Masykur.

“Saudara bisa ambil saja berapa mau, jadi tak usah dibawa semua kemari. Asal ada surat bon!” Mr. Sunaryo menyela.

“Saya wali?” jawabku, “calon wali, sebab aku juga mempunyai anak perempuan, kelak jadi wali. Aku tak berani mengambil uang ini, aku takut kualat, ini uang negara!” jawabku ringkas.

Dua malam aku di kediaman K.H. Masykur. Masing-masing menceritakan pengalaman kami. Dalam pada itu, Menteri Agama memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana membentuk kantor-kantor agama di daerah Republik ini.

“Kemarin datang seorang kurir dari Jawa Timur, menyebutkan bahwa K.H.A. Wahid Hasyim sedang menuju kemari. Sebab itu, saya tidak bisa meninggalkan daerah ini sampai beliau datang,” kata K.H. Masykur.

“Sebelas bulan yang lalu kurir beliau telah mengunjungi aku, membawa pesan-pesan perjuangan. Orang ini memang hebat, tahu saja apa yang harus kita kerjakan. Tahu pula di mana kita berada!” jawabku.

“Beliau ini tepat untuk menjadi kepala intelejen!” sambung K.H. Masykur. Kami semua ketawa.

“Saya mendapat laporan bahwa di seluruh Jawa Timur, Tengah, dan Barat, para ulama memperhebat gerakan batin. Di mana-mana orang berpuasa sunat dan mujahadah kepada Allah SWT untuk memohon kemenangan dalam perjuangan ini. Sejak menghadapi agresi Belanda, lalu pemberontakan PKI di Madiun, lalu sekarang, para ulama kita tak putus-putusnya melakukan gerakan batin,” kata K.H. Masykur.

“Kalau sudah demikian, insya Allah pastilah Belanda akan gulung tikar. Apalagi sekarang Dewan Keamanan telah mengutuk serbuan Belanda ini. Bahkan memerintahkan Belanda mengembalikan daerah Republik kepada kita kembali,” sela Mr. Sunaryo.

“Bagaimana anak-anak Hizbullah-Sabilillah?” tanya K.H. Masykur.

“Kalau dulu kami cuma bertahan, kini di mana-mana kita menyerang Belanda. Banyak juga korban mereka, walaupun dari kita juga cukup banyak!” jawabku.

Kami meneruskan percakapan mengenai macam-macam hal, juga disinggungnya tentang kewaspadaan terhadap orang-orang PKI yang mengacau di daerah Republik.

Ketika aku akan meninggalkan tempat kediaman KH. Masykur, Sekretaris Jenderal, Mr. Sunaryo, menyerahkan setumpuk uang kepadaku untuk honorarium dan biaya jawatan dalam daerah gerilya. Uang bagianku, sebagian aku belikan beras, lauk pauk, dan pakaian anak-anakku. Dalam perjalanan kembali ke daerah kaki gunung Sumbing jadi berat juga dengan barang bawaan ini. Ketika berangkat diberati oleh dengan membawa uang, pulangnya diberati oleh barang-barang ini. Serba susah saja!

Sewaktu hendak melintasi jalan raya Purworejo-Magelang, aku melihat asap bergulung-gulung mengepul ke udara arah pinggiran kota Purworejo Aku tanyakan kepada salah seorang yang sedang berada di pos penjagaan TNI. Diberitahukan bahwa asap itu adalah api kebakaran rumah-rumah di desa Baledono, kampungku. Mendengar nama kampungku disebut, aku menanyakan, rumah-rumah siapa yang dibakar Belanda? Dijawab, rumah salah seorang pemimpin Hizbullah, ia menyebut namaku, karena Belanda tahu bahwa rumah itu sering disinggahi pemimpin-pemimpin dari Yogya.

Aku pandang lebih lama asap api yang mengepul hitam itu. Aku kenangkan nasib rumah orang tuaku yang berderet-deret, beberapa rumah pamanku, kemenakanku, dan abangku. Pastilah semuanya telah menjadi abu. Yah, beginilah risiko berjuang. Jangankan rumah, Republik kita ini sudah dibakar dan diobrak-abrik Belanda. Sambil berjalan, aku mendo‘a, sekiranya masih ada umur panjang, perkenankan ya Tuhan, kelak kami bisa membangun rumah baru di atas puing-puing reruntuhan. Kami memerlukan perumahan, ya Tuhan, perumahan kecil tempat kediaman kami dan perumahan besar ialah Republik Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: