Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (2)

Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju ke Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua ―gunung penganten‖ Sundoro Sumbing. Kedua gunung ini merupakan lambang kemakmuran rakyat daerah Karesidenan Kedu karena di sana seluruhnya sawah dan ladang jagung, kubis, kentang, tembakau, dan sayur-mayur lainnya. Di sanalah gudang makanan untuk daerah Kedu.

Laskar adalah tentara partikelir, adapun TKR (Tentara Keamanan Rakyat) adalah tentara resmi Republik Indonesia.

Serentak saja di mana-mana lahir badan kelaskaran, serentak bangkitnya semangat merebut senjata di tangan Jepang untuk membela dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Di antaranya yang paling terkenal adalah: ―Hizbullah‖ di bawah pimpinan Zainul Arifin, ―Barisan Sabilillah‖ di bawah pimpinan KH. Masykur, ―Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia‖ di bawah pimpinan Bung Tomo, ―Barisan Banteng‖ di bawah pimpinan Dr. Muwardi, ―Laskar Rakyat‖ di bawah pimpinan Ir. Sakirman, ―Laskar Pesindo‖ di bawah pimpinan Krissubanu, dan masih banyak lagi.

Sudah beberapa hari ini baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju ke Parakan. Ada yang menggunakan truk-truk, dan kereta api.

Tetapi yang berjalan kaki pun tidak kurang-kurangnya. Kereta api hampir dipenuhi dengan badan-badan kelaskaran. Sejak dari Surabaya di sebelah Timur, dari Cirebon di sebelah Barat, dan Yogya di sebelah Selatan. Laskar-laskar yang ribuan itu membanjiri kota kawedanaan Parakan. Para kepala stasiun sering dibikin pusing oleh desakan laskar-laskar dan rakyat yang meminta kereta api istimewa untuk menuju ke Parakan. Jika saja permintaan dan desakan mereka tidak diindahkan, stasiun bisa diserbu rakyat yang telah sangat berang dengan bambu runcing di tangannya. Mau tidak mau, kepala-kepala stasiun harus menyusun formasi kereta api luar biaya untuk memberangkatkan mereka menuju Parakan. Bisa dibayangkan, betapa kacau balaunya perjalanan kereta api dengan frekuensi yang tak bisa dihitung setiap harinya.

Di Parakan, berdiam seorang ulama berusia sekitar 90 tahun. Namanya Kiai Haji Subeki. Aku mengenal beliau dengan baik karena bila aku datang ke Parakan sebagai Komisaris Daerah Ansor untuk mengadakan kursus-kursus Ansor di Parakan, beliau selalu turut hadir mendengarkan ceramah dan kursus yang aku berikan. Pernah beliau katakan padaku bahwa sekitar tahun 1850 ketika sisa-sisa bekas anak buah Pangeran Diponegoro menjadi buronan Belanda, beliau masih kecil, yang digendong oleh kakeknya berlari-lari menyembunyikan diri dari sergapan serdadu-serdadu Belanda.

Ketika Jenderal Mansergh, panglima Sekutu di Surabaya memberi ultimatum kepada rakyat Surabaya berhubung dengan terbunuhnya Jenderal Mallaby, pecahlah pertempuran Surabaya yang dahsyat dan bersejarah hingga lahirlah ―Hari Pahlawan‖ 10 November. Rakyat Surabaya dengan senjata seadanya memberikan perlawanan terhadap serangan Sekutu (Inggris) yang berpangkalan di kapal-kapal perang mereka dan menyerbu ke kota Surabaya.

Hampir bersamaan dengan itu, rakyat Semarang juga mengadakan perlawanan terhadap serdadu Sekutu yang mendarat memasuki kota Semarang. Lahirlah pertempuran di Jatingaleh, Gombel, dan Ambarawa antara rakyat dengan serdadu Sekutu (Inggris). Anak-anak ―Hizbullah‖ dan ―Sabilillah‖ dari Parakan bergabung sesama rekannya dari seluruh daerah Kedu berangkat ke pertempuran, baik Surabaya maupun Semarang, dan Ambarawa.

Didorong oleh semangat ―Jihad fi Sabilillah‖ untuk mempertahankan tiap jengkal Tanah Air, dan didasarkan atas kasih sayang kepada anak-anak dan cucu-cucunya, Kiai Subeki memberikan bekal berupa doa kepada anak-anak ―Hizbullah‖ maupun ―Sabilillah‖ Parakan. Sebelum mereka berangkat ke pertempuran, sambil berbaris dengan bambu runcingnya masing-masing, mereka diberkahi oleh Kiai Subeki dengan doanya:

Bismi Allahi,

Ya Hafidzu, Allahu Akbar!

Dengan Nama Allah,

Ya Tuhan Maha Pelindung, Allah Maha Besar!

Ternyata, setelah memperoleh doa dari Kiai Subeki, anak-anak ini mempunyai kebulatan hati yang tak tergoyahkan menuju pertempuran, dan mempunyai ketabahan untuk bertawakal kepada Allah Saw dengan keberanian serta keikhlasan.

Demikianlah tiap anak-anak Parakan hendak berangkat menuju pertempuran, mereka meminta doa Kiai Subeki.

Lama-lama datanglah laskar dan TKR lain daerah yang hendak menuju ke pertempuran, mereka singgah terlebih dahulu ke Parakan untuk meminta berkah dan doa Kiai Subeki. Pernah Panglima Besar Sudirman dengan anak buahnya pun singgah dulu ke Parakan untuk meminta berkah dan doa Kiai Subeki sebelum menuju ke Ambarawa dan lain-lain pertempuran.

Demikianlah dengan amat cepatnya, orang berduyun-duyun datang ke Parakan untuk meminta doa Kiai Subeki, hari demi hari jumlah pengunjung kian banyak dan lalu membanjir.

Aku pernah juga datang kepada Kiai Subeki untuk mengantarkan Mr. Wongsonagoro ketika itu Gubernur Jawa Tengah.

Pada suatu hari, aku mengantarkan tiga tokoh yang aku sudah lama kenal, yakni K.H.A. Wahid Hasyim, Zainul Arifin, dan K.H. Masykur untuk menjumpai Kiai Subeki. Ketika itu, di rumahnya telah penuh berjejal para tetamu, dan kota Parakan yang kecil jadi tidak bisa lagi memuat begitu banyak orang yang membanjir.

Kiai Subeki dengan didampingi oleh KH. Nawawi dan K.H. Mandur, pemimpin ―Sabilillah‖ daerah Kedu meminta kami masuk ke kamar tidurnya.

―Ya Allah, mengapa begini banyak jadinya orang pada datang kepada saya?‖ demikian Kiai Subeki membuka percakapan dengan air mata yang menggenang.

―Mereka memohon doa kepada Bapak!‖ KH. A.Wahid Hasyim menyambut.

“Ya, mengapa kepada saya?‖ beliau menangis dengan isaknya. Lama kami semua diam. Di luar terdengar gemuruh orang berduyun-duyun membanjiri halaman Kiai Subeki.

―Coba tengok di luar! Mereka terus datang dan datang. Begini banyak orang membanjir kemari tanpa henti, siang maupun malam!‖ Kiai Subeki sambil memandang ke luar dari jendela kamar tidurnya.

―Mereka memerlukan ketabahan hati dan tidak salah niat, karena itu, mereka memohon doa kepada Bapak sebagai seorang ulama yang patut dimintai berkah dan doanya,‖ KH.A. Wahid Hasyim menenangkan hatinya.

―Tetapi mengapa mesti kepada saya. Mengapa tidak kepada Kiai Dalhar Watucongol, atau Kiai Siraj di Payaman, atau Kiai Hasbullah di Wonosobo?‖ Kiai Subeki seperti dalam keadaan penasaran.

Zainul Arifin yang sejak tadi seperti sedang mengamati Kiai Subeki dan berusaha untuk membaca wajah ulama tua ini, membisikkan padaku dengan katanya:

―Alangkah ikhlasnya orang ini!‖ Aku manggut saja.

―Saya tidak menyuruh mereka datang! Tanyakan kepada Kiai Nawawi dan Kiai Mandur ini!‖ sambil menunjuk kepada dua kiai yang duduk di sebelahnya.

―Bukan begitu?‖ tanya Kiai Subeki ditujukan kepadaku.

―Memang mBah tidak mengundang mereka, tetapi mereka atas kehendak sendiri datang kepada mBah. Tentu mBah tidak akan keberatan sekedar mendoakan,‖ jawabku sambil melegakan hatinya. Aku biasa memanggil beliau dengan mBah.

Kiai Subeki lalu diam agak lama, membetulkan kancing bajunya yang longgar hendak terbuka. ―Jadi saya harus bagaimana, kiai?‖ tiba-tiba beliau bertanya kepada K.H.A. Wahid Hasyim.

―Apa yang Bapak lakukan itu sudah benar. Bapak telah memberikan mereka doa, dan mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan. Mereka jadi bertambah berani dalam perjuangan. Ini faktor yang sangat penting. Bapak sebagai orang yang berusia cukup tinggi doanya makbul, apalagi Bapak sebagai seorang ulama,‖ jawab KH.A. Wahid Hasyim.

―Apakah doa yang saya bacakan itu sudah betul?‖ Kiai Subeki melanjutkan pertanyaannya.

―Betul sekali! Bukan begitu Kiai Masykur?‖ jawab K.H.A. Wahid Hasyim sambil berpaling kepada K.H. Masykur.

―Memang benar, doa itu betul sekali. Lagi pula amat mudah untuk dihafal bagi rakyat awam,‖ jawab K.H. Masykur.

―Kecuali doa, apa lagi yang Bapak berikan kepada mereka?‖ Zainul Arifin bertanya.

―Biasanya saya berikan nasehat ringkas saja. Luruskan niat untuk mempertahankan Agama, Bangsa, dan Tanah air, ingat selalu kepada Allah SWT. Jangan menyeleweng dari tujuan, apalagi berbuat maksiat Dan kuatkan persatuan kita. Jika mereka akan pulang, saya minta beramai-ramai membaca Kalimah Syahadat,‖ jawab Kiai Subeki dengan tekanan suara yang mantap sekali.

Kami keluar dari kamar tidur Kiai Subeki. Di luar orang berdesak-desakan menanti kiai yang amat dikagumi ini, sementara iring-iringan di belakangnya terus mendesak minta maju untuk lebih dekat dengan Kiai Subeki.

Ketika KH. A. Wahid Hasyim hendak meninggalkan Parakan untuk menyinggahi Yogya, beliau berpesan kepadaku agar aku sering-sering ada di Parakan, agar kewaspadaan lebih dipertinggi. Sudah bukan rahasia lagi bahwa spion-spion Belanda tersebar di mana-mana, mereka adalah agen-agen NICA.

Aku masih berada di Parakan, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Dengan Kiai Ali, cucu Kiai Subeki, dan Kiai Mandur, ketua Barisan ―Sabilillah‖ aku musyawarahkan tentang hari-hari mendatang bagi Parakan. Kiai Subeki telah berusia lanjut, 90 tahun lebih. Sungguhpun badannya masih tegap dengan kerangka tulang-tulangnya yang masih kuat, namun kalau setiap hari, sejak pagi hingga jauh malam harus menghadapi puluhan bahkan ratusan ribu manusia yang semuanya minta berjumpa dengannya, tentu akan sangat mengganggu kesehatannya. Aku usulkan, agar beliau tidak usah selalu menghadapi secara langsung orang-orang yang datang meminta berkah dan doa ini. Itu bisa dilakukan oleh kiai lain, misalnya: Kiai Nawawi dan Kiai Mandur, keduanya masih termasuk adiknya, atau Kiai Ali. Adapun mBah Subeki cukup berdiri sesekali di sampingnya. Karena orangnya besar dan tinggi, dari jarak jauh akan mudah dilihat orang banyak.

Seruan ―Allahu Akbar‖ terus menggema di lorong-lorong jalan di kota kecil Parakan. Laskar-laskar perjuangan membanjiri kota di kaki ―gunung penganten‖ Sundoro Sumbing ini. Dataran tinggi yang udaranya sejuk, di hari akhir-akhir ini menjadi hangat dan bahkan terasa panasnya karena semangat tinggi yang berkobar-kobar dari orang-orang yang siap sedia ―mati syahid‖. Mereka datang membanjiri Parakan untuk men-―Sabilillah‖-kan bambu runcing dan karaben-karaben mereka dengan doa Kiai Subeki.

Siang maupun malam mereka membanjiri Parakan. Keletihan karena menempuh perjalanan jarak jauh di zaman ―republik‖ yang penuh dengan 1001 macam kesulitan tidak mereka hiraukan. Mereka menjadi puas, sangat puas setelah pulang dari Parakan. Hatinya menjadi tenteram dalam semangat tinggi untuk bertempur melawan musuh yang hendak merobek-robek Republik Indonesia. Mereka telah mencari sesuatu, dan sesuatu itu telah mereka temukan.

Dengan bambu runcing, karaben, golok-golok, dan mitraliur yang telah di- ‖Sabilillah‖-kan di Parakan, jiwa mereka menjadi teguh, berangkat ke pertempuran-pertempuran untuk membela dan mempertahankan tiap jengkal tanah air. Mereka menjadi sadar untuk apa mereka pergi ke medan pertempuran, dan mereka pun sadar pula untuk tujuan apa mereka ini mengikhlaskan pengorbanannya, bukan cuma tenaga dan hartanya, tetapi jika perlu juga nyawanya sekalipun.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: