Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (3)

Bulan November 1945 telah menaungi persada tanah air dengan mendung perjuangan. Di Surabaya berkobar pertempuran-pertempuran antara rakyat dengan tentara Sekutu. Di sekitar Jakarta berkecamuk pertempuran rakyat melawan Sekutu dan NICA yang membonceng di belakangnya. Bahkan di Bandung, serangan mulai dilancarkan oleh serdadu Sekutu. Di mana-mana pekik ―Merdeka‖ gegap gempita diselingi gema suara takbir ―Allahu Akbar‖. Suatu pembangkitan jiwa berjuang yang memandang semua yang ada harusdikorbankan, kecuali cuma iman di dada. Dengan iman ini, tanah air akan dibersihkan dari noda dan bencana penjajahan.

Sejak Sekutu mendarat di Semarang, mereka menggempur daerah Republik. Kekuatan rakyat yang tak berimbang menyebabkan Semarang jatuh di pelukan Sekutu (Inggris) dan Jepang sebagai pucuk penyerangnya. Kemudian mereka menduduki Ambarawa dan Magelang. Suatu malam 20 November 1945.

Kota Magelang diliputi malam yang mencekam, sunyi dan sangat mencekam. Kami, anak-anak ―Hizbullah‖-―Sabilillah‖ membuat pertahanan di belakang Masjid-Jamik Kauman Magelang. Jarak antara masjid dengan markas Sekutu yang menggunakan gedung Seminari-Katolik tidak lebih dari 300 m. Malam itu sepi sekali, walaupun belum jam 10, radio pemberontakan, antara kedengaran dan tidak sayup-sayup pidato menggelora dari Bung Tomo memberi instruksi, membakar semangat, dan sesekali diselingi oleh seruan ―Allahu Akbar‖ berkali-kali.

Kami sedang menantikan berkumpulnya para kiai. Kira-kira 300 kiai dari seluruh pelosok daerah Kedu aku kumpulkan di rumah Saroso, pemimpin ―Hizbullah‖ Magelang yang terletak 50 m dari masjid.

Mas Wahab, pemimpin ―Sabilillah‖ Magelang yang aku tugaskan menjemput Kiai Mandur dari Temanggung datang dengan mengiringkan beberapa kiai, di antaranya Kiai Mandur sendiri. Beberapa menit aku berunding dengan M. Sarbini, komandan TKR Magelang, mengenai penyerbuan terhadap markas Sekutu di kota Magelang. Bung Tomo, pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia masih berada di Mertoyudan, 4 km dari selatan Magelang. Ia bersama anak buahnya. Ia kirim pesan kepadaku bahwa ia akan hadir dalam pertemuan kiai-kiai yang akan dilangsungkan malam itu. A. Yani, juga salah seorang komandan TKR Magelang memberitahukan padaku bahwa antara ―Hizbullah-Sabilillah‖ dan TKR harus ada koordinasi dalam penyerbuan terhadap markas Sekutu. Aku sanggupi itu, bahkan aku nyatakan bahwa komando pertempuran selamanya di tangan TKR. ―Hizbullah-Sabilillah‖ siap melaksanakan komando TKR.

300 kiai-kiai, malam itu berunding mengenai persiapan penyerbuan ke markas Sekutu, setelah aku jelaskan hasil perundinganku dengan M. Sarbini dan A. Yani. Mereka mendukung gagasan untuk mentaati komando TKR dalam penyerbuan.

Jam 24.00 wib, pertemuan selesai. Situasinya sangat gawat dan mencekam. Beberapa ulama terpilih menyediakan diri untuk mendekati markas Sekutu, mengitari gedung yang sangat kokoh itu dengan suatu gerakan batin. Aku segera beritahukan kepada pimpinan TKR. Sementara itu, beratus kiai yang lain malam itu melakukan gerakan mujahadah dengan diiringi pembacaan Hizbul Bahar, doa Hizbur Rifa‘i. Beberapa anak ―Hizbullah‖ yang telah terlatih, aku siapkan untuk sewaktu-waktu datang komando serbu dari TKR.

Kira-kira jam 04.00 menjelang Subuh, dua orang anak ―Hizbullah‖ yang melakukan tugas penyelidikan melaporkan bahwa markas Sekutu yang menempati gedung Seminari Katolik, ternyata telah kosong. Ada terdapat beberapa orang serdadu Gurkha (Sekutu) yang masih tertinggal, mereka dalam keadaan sakit.

Aku dengan beberapa teman pimpinan ―Hizbullah‖ meyakinkan laporan tersebut. Tiba di depan markas Sekutu, aku jumpai M. Sarbini dan A. Yani serta beberapa kiai. Ternyata benar laporan itu. Markas Sekutu telah kosong, ditinggalkan oleh serdadu-serdadu Inggris Gurkha dan Jepang. Mereka mengundurkan diri menuju Ambarawa.

Maka, pagi harinya dilakukan gerakan pengejaran menuju Ambarawa. Pertempuran berkobar di sekeliling kota Ambarawa, antara tentara Sekutu dengan rakyat yang berjuang. Pertempuran itu berkobar lebih dari 5 jam.

Menjelang waktu ashar, aku bersama Kiai Mandur, pemimpin ―Sabilillah‖ daerah Kedu, Kiai Haji Jamil, pemimpin ―Sabilillah‖ Purworejo, dan Solichun, salah seorang anggota stafku, dengan dilindungi oleh satu regu ―Hizbullah‖ memasuki kota Ambarawa. Kami merupakan orang-orang pertama yang memasuki kota yang dipertahankan oleh Sekutu.

Dalam keadaan hujan yang lebat sekali, aku memasuki kota Ambarawa yang telah menjadi reruntuhan puing-puing akibat gempuran kanon TKR. Jalan-jalan penuh dipasangi barikade, penghalang-penghalang agar anak-anak Republik tidak mudah mencapai pusat-pusat kota. Kiri kanan tampak gedung-gedung yang hangus akibat kebakaran. Kota itu sunyi sekali, penduduk telah lama mengungsi.

Di muka sebuah rumah yang telah menjadi reruntuhan, aku menjumpai seorang wanita Cina dalam keadaan tidak berpakaian. Ia duduk sambil berusaha untuk menutupi bagian badannya dengan kedua tangannya. Ia sedang menangis sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Tetapi tangisnya diselingi oleh tawanya berbahak-bahak, lalu menangis lagi. Nangis dan tertawa silih berganti.

“Inilah akibat perang!” kataku kepada Kiai Mandur. Kiai Mandur memberikan baju jas hujannya.

“Bagaimanapun juga, ia anak manusia. Manusia adalah saudara sesama manusia,” sambil katanya kepadaku.

Aku tinggalkan Ambarawa yang telah kembali ke pangkuan Republik Indonesia setelah kita rebut dengan derita dan air mata. Beberapa regu ―Hizbullah‖ aku beri instruksi untuk tetap berada di Ambarawa sampai ada perintah lebih lanjut. Mereka bersama anggota laskar lain bersatu dalam komando Tentara Keamanan Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: