Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (6)

Tanggal 18 September 1948, Front Demokrasi Rakyat alias PKI mengadakan pemberontakan di Madiun. Pemberontakan terhadap kekuasaan Republik Indonesia di bawah pimpinan Sukarno-Hatta.

Sejak Muso datang ke Indonesia, situasi politik mendadak menjadi panas sekali. Apa yang beberapa hari kami percakapkan di hotel ―Merdeka‖ Yogya, tidaklah meleset.

Muso datang dari Praha setelah bertahun-tahun berada di Moskow. Ia dibawa oleh Suripno, seorang komunis yang diangkat Amir Syarifuddin menjadi wakil Republik Indonesia untuk Cekoslowakia. Lewat negeri Belanda, Suripno datang ke Yogya untuk keperluan ―konsultasi‖. Keadaan yang lazim, seorang diplomat Indonesia berkonsultasi dengan pemerintah pusat. Demikian pula, Suripno, datang untuk keperluan ―konsultasi‖. Ia disertai seorang ―sekretarisnya,‖ ternyata ―sekretaris‖ ini ialah Muso.

Begitu datang, ia melihat, lalu ia berbuat. Mula-mula ia merebut pimpinan FDR/PKI dari tangan Alimin-Amir Syarifuddin. Ia menamakan dirinya perlu mengadakan koreksi terhadap kepemimpinan lama yang dikatakan salah, menjerumuskan Indonesia ke bawah penjajajahan terselubung dari BelandaIa.

Ia melakukan kampanye besar-besaran dengan rapat-rapat umum dan pemogokan-pemogokan, menghasut rakyat agar tidak mentaati Pemerintah, yang katanya telah menjual tanah air kepada Belanda. Padahal sejarahnya adalah sebaliknya. Komunis bukanlah komunis kalau tidak memutar-balikkan keadaan, jika perlu mengadakan pemalsuan sejarah.

Sejarahnya dimulai dari Partai Sosialis ketika masih dipimpin oleh Syahrir-Amir Syarifuddin membuat persetujuan Linggarjati pada saat kaum Republik sedang bertempur melawan agressi Belanda. Dengan persetujuan tersebut, berlakulah gencatan senjata. Tetapi gencatan senjata ini tidak pernah ditaati kaum Republik karena Belanda selalu melanggar persetujuan. Akibat perlawanan politik dari ―Masyumi‖ PNI, maka jatuhlah pemerintahan yang dipimpin oleh Partai Sosialis ini. Mereka pecah, Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia, dan Amir Syarifuddin meneruskan Partai Sosialisnya yang bergabung dengan unsur-unsur kiri lainnya. Berdirilah Front Demokrasi Rakyat dengan pimpinan Amir Syarifuddin yang menciptakan persetujuan Renville. Akibat perlawanan rakyat yang menentang total kebijaksanaan Amir Syarifuddin, maka bubarlah Pemerintahan Front Demokrasi Rakyat. Mereka lalu bergabung dengan PKI melakukan oposisi terhadap Kabinet-Hatta. Di saat itulah Muso datang mengambil alih pimpinan FDR/PKI dan meneruskan oposisinya terhadap Pemerintah Republik Indonesia. Lalu memberontak!

“Saudara-saudara boleh pilih: Ikut Sukarno atau Muso” demikian antara lain pidato Bung Karno, Presiden Republik Indonesia.

Dengan satu kalimat ini, maka tidaklah sulit bagi rakyat untuk menentukan pilihannya. Tentu memilih Sukarno sebagai Presiden yang syah, artinya, ikut di pihak Pemerintah Republik Indonesia. Presiden memerintahkan kepada seluruh alat-alat kekuasaan Negara dan badan￾badan kelaskaran untuk menghancurkan kaum pemberontak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Pasukan saudara kini mengambil kedudukan di mana?” bertanya Zainul Arifin, pemimpin Markas tertinggi ―Hizbullah‖ pada suatu hari di Yogya.

“Pasukanku berada di tapal batas antara Solo-Madiun dan bergabung dengan anak-anak Munawir dari Solo,” jawabku.

“Bagaimana hubungannya dengan pasukan-pasukan ―Siliwangi‖?” ia meneruskan pertanyaannya.

“Kami diperintahkan supaya mengambil kedudukan di belakang pasukan-pasukan Siliwangi yang memegang komando menyerbu Madiun. Batalion Umar dan Kemal mungkin sudah mendekati kota Madiun,” jawabku.

“Pasukan Wahib Wahab apa sudah menghubungi saudara? Anak-anak Jawa Timur sudah saya beri perintah khusus ,” tanya Zainul Arifin.

“Wahib Wahab sudah kirim kurir padaku, ia ingin gerakan kita berbareng, agar kami nanti memasuki Madiun dalam waktu yang hampir bersamaan. Kami merencanakan bertemu di Madiun,” jawabku.

“Gambarannya bagaimana?” ia mendesak.

“Aku dan anak-anah ―Hizbullah‖ merencanakan masuk lewat Ngawi, sedangkan anak-anak Wahib Wahab memasuki Madiun dari jurusan Nganjuk. Dengan demikian akan memudahkan Siliwangi melakukan pengejaran dari selatan Madiun,” jawabku.

Aku laporkan bahwa menjelang pemberontakan PKI di Madiun, K.H.A. Wahab Chasbullah, Rais Aam Nahdhatul Ulama mengadakan Latihan Ulama di Ngawi. Aku baru pulang dari Ngawi 3 hari sebelum pecah pemberontakan PKI.

Ketika Latihan Ulama dibubarkan karena sudah selesai, tidak ada yang mengerti bahwa PKI mengadakan pemberontakan di Madiun. Padahal jarak Ngawi—Madiun dekat sekali. Para peserta latihan pulang ke daerahnya masing-masing.

K.H.A Wahab Chasbullah pulang ke Jombang dengan naik kereta api. Perjalanan ke Jombang ini harus melewati Madiun. Ketika telah mendekati Madiun, beliau baru mengerti bahwa di Madiun ada pemberontakan PKI, tetapi beliau sudah terlanjur berada dekat stasiun Madiun. Agar orang tidak mudah mengenali siapa beliau, terpikir oleh beliau untuk menghilangkan identitasnya. Sorban dilipat dimasukkan ke dalam tasnya. K.H.A. Wahab Chasbullah berhasil ‘berdiplomasi’ dengan salah seorang di stasiun untuk memperoleh peci hitamnya. Peci hitamnya dikenakan. Dengan peci hitam ini, orang tidak mudah mengenali K.H.A. Wahab Chasbullah. Maka, selamatlah beliau tiba di rumahnya, di Jombang. Jika saja PKI mengenali K.H.A. Wahab Chasbullah, pastilah beliau dijadikan tawanan golongan ‘kakap’ yang besar, dan entah bagaimana nasib selanjutnya. Tetapi syukur alhamdulillah, Tuhan tetap melindungi beliau!

Hanya kira-kira 2½ bulan pemberontakan PKI dapat ditumpas.

Sebuah pesantren di daerah Madiun, kalau tidak salah Pesantren Takeran, merupakan pesantren pertama yang dijadikan sasaran pengganyangan oleh PKI. Beberapa santri menjadi korban dan pesantren dibakar. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sasaran utama bagi PKI adalah orang-orang Republiken, pegawai pemerintah, dan laskar-laskar Hizbullah-Sabilillah, Barisan Banteng, Barisan Pemberontakan, dan lain-lain yang pro pemerintah Yogya.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: