Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (6a)

Daerah Republik Indonesia walaupun secara de fakto cuma selebar daun kelor, meliputi Mojokerto-Gombong-Ambarawa-Yogya, namun di luar daerah itu, pengaruh Republik tetap bertahan. Rakyat-rakyat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusatenggara, bahkan hingga Irian Barat, mereka tidak pernah bersimpati kepada kekuasaan yang ditegakkan oleh Belanda. ―Negara-negara bikinan Belanda tidak berdaya karena hati rakyat tetap dikuasai oleh Pemerintah Republik di Yogya.‖

Yogya dipertengahan tahun 1948 menjadi kancah pertentangan politik. Kaum Republik tidak hanya mengarahkan perlawanannya kepada Belanda dan kaki tangannya, tetapi juga kepada aksi-aksi Front Demokrasi Rakyat PKI yang dipimpin oleh Mr. Amir Syarifuddin dan Alimin. Golongan Islam dan Nasionalis memandang bahwa FDR/PKI adalah agen-agen Belanda karena mereka membela mati-matian persetujuan “Linggarjati‖ dan ―Renville‖ yang menguntungkan Belanda. Membela Belanda melalui kerja samanya dengan Partai Komunis Belanda. Hari-hari penuh dengan pertentangan-pertentangan yang amat tajam, bahkan sering terjadi insiden-insiden antara anak-anak ―Laskar Rakyat/Pesindo‖ dengan ―Hizbullah.‖ Istilah ―kiri‖ yang dalam dunia politik berarti yang kerakyatan dan progresif jadi tidak populer. Orang-orang FDR/PKI selalu mengepalkan tinjunya yang kiri jika mereka memekikkan ―Merdeka‖ karena mereka menamakan dirinya golongan kiri. Kepalan tinju tangan kiri itu dibalas oleh anak-anak ―Hizbullah‖ dengan kepalan tinju tangan kanan, karena menurut norma Islam, Rasulullah Saw selalu menamakan dirinya golongan kanan (Ashab al-Yamiri), yaitu golongan yang dijanjikan Allah SWT menjadi ahli sorga. Sebaliknya orang-orang yang menjadi penghuni neraka disebut golongan kiri (Ashab asy-Syiml). Orang Islam dianjurkan oleh Nabinya, agar menyukai yang serba kanan. Makan dengan tangan kanan, memakai sepatu kaki yang kanan yang didahulukan, dan sebagainya. Sudah menjadi rahasia umum, anak-anak ―Hizbullah‖ yang sebagian terbesar berasal dari pesantren jarang-jarang menyebut golongan FDR/PKI dengan FDR/PKI, tetapi disebutnya: Ashab asy-Syiml! Ini sesuai dengan pengakuan mereka bahwa mereka adalah golongan kiri.

Ada sesuatu yang baru dan paling menarik anak-anak yang baru tiba dari pertempuran bila memasuki ibu kota Yogya. Berminggu-minggu mereka berada di medan pertempuran Gombong atau Mojokerto atau Ungaran (Semarang) karena Belanda sering melanggar gencatan senjata yang diperintahkan Komisi Tiga Negara (wakil PBB) hingga terjadi tembak menembak dan pertempuran-pertempuran lalu berkobar.

Sesuatu yang baru itu ialah: Restoran Padang. Bagi anak-anak ―Hizbullah‖ yang jawa ini tampak sangat aneh tetapi menarik, begitu banyak lauk pauk dan aneka macam diletakkan pelayan restoran di atas meja. Sepuluh piring kecil penuh lauk pauk cukup disodorkan satu tangan, hingga kedua tangannya sekaligus dua puluh piring lauk pauk disodorkan kepada tetamunya. Kita boleh pilih mana mau kita, kita ambil, kita bayar. Mana yang kita tak sukatak usah dijamah dan tak membayar.

Bagi anak-anak Jawa, hal itu adalah sangat baru, aneh tetapi menarik. Yang kedua adalah banyaknya barang-barang hasil selundupan dari daerah pendudukan Belanda. Barang-barang itu dijual sepanjang trotoar di Malioboro. Ada sisir atom, sisir dari plastik, ada kemeja, kaos singlet, kaca mata, handuk besar maupun kecil. Alhasil, barang-barang mewah di mata kaum Republiken.

Zaman itu, 1945—1950, orang-orang daerah Republik sangat menderita. Kecuali beras yang sudah habis dikuras oleh Jepang selama menduduki negeri ini, juga praktis tidak ada orang bekerja di sawah karena mereka menjadi pejuang memanggul senjata. Pakaiannya cukup hasil tenunan rakyat. Buat anggota pasukan, apakah TNI, apakah kelaskaran, tenunan rakyat itu lalu diberi warna menurut kesatuannya masing-masing dengan dicelup memakai dedaunan. Tidak mengherankan kalau warna hijau, coklat maupun kuning itu menjadi coreng-moreng jika kena hujan. Inflasi sangat meraja lela, pemerintah seperti menjalankan politik moneter tanpa aturan saja. Dan, karena daerah Republik dikenakan blokade ekonomi oleh Belanda, maka tidak ada barang impor yang masuk, kecuali hasil selundupan “tukang catut‖ yang memakai baju kaum pejuang. Ban mobil sudah menjadi ―barang akhirat‖ yang cuma dimiliki oleh golongan ―dewa-dewa.‖ Jangan heran kalau mobil kita menggunakan ban yang diisi dengan rumput-rumput karena sudah tidak bisa dipompa lagi, tambalannya melebihi bannya sendiri.

Suatu petang, aku menelusuri Malioboro dengan dua tiga teman yang baru pulang dari front Gombong Di muka penjual ―barang-barang atom,‖ aku melihat seorang lagi jongkok, ia sedang memilih sisir atom, memilih warna yang berkenan di hatinya. Aku seperti sudah kenal orang ini Tetapi mengapa ia berseragam Angkatan Laut (ALRI)? Dari jarak yang sangat dekat, aku mengenalinya, ia sahabatku. K.H.A. Fattah Yasin!

“Hee, tentara tidak boleh sisir rambut! Ini zaman perang!” tegurku bercanda.

“Ini kan di garis belakang?” sahutnya sambil menyeringai.

“Ente ALRI ni? Fattah Yasin benar-benar?” aku memang kaget betul ketemu dengannya di Malioboro

“Memangnya siapa? Fattah Yasin cuma ada satu! Mengapa?” ia tanya keheran-heranan.

“Aku dengar kabar bahwa ente sudah jadi almarhum, dibunuh Jepang ketika di penjara Jepang. Tahu-tahu sedang beli sisir atom di sini,” sahutku.

Sambil menyeringai panjang, ia tidak segera menjawab pertanyaanku. Ia meneliti pakaian seragamku, pakaian ―Hizbullah‖, dari peciku di kepala hingga sepatu larsku.

“Ente tambah ngganteng dengan seragam begini. Dari mana ini semua?” ia bertanya seperti keheran-heranan. Baju seragamku berwarna hijau lumut dari kain gabardine, dan sepatu larsku berwarna coklat dari kulit luar negeri. Itu baru aku miliki dua hari yang lalu, pakaianku yang lusuh dan banyak tambalan telah aku berikan kepada seorang supir truk sebagai imbalanku karena aku diperkenankan ikut ke Yogya.

“Dapat dari A. Kholiq Hasyim bekas Daidancho Peta yang kini ada di staf pertempuran di Malang,” jawabku,

“tentunya ia dapat dari rampasan Jepang.”

“Mulai kapan ente jadi ALRI?” aku bertanya mengalihkan ke lain percakapan.

“Begini ceritanya. Aku dipenjarakan Jepang hampir dua tahun. Ketika Jepang diserbu rakyat, aku dilarikan Jepang mau dibunuh dengan beberapa kawanku senasib di penjara. Untung segera datang pemuda-pemuda membebaskan. Setelah bebas, aku turut rombongan pemuda-pemuda tadi, mereka mendirikan ALRI di Lawang, dekat Malang. Maka jadilah aku ALRI sejak itu,” ia menjelaskan.

KH.A. Fattah Yasin ini, dulu aku kenal sebagai santri Tebuireng. Ia bersama Umar Burhan, keduanya sahabat K.H.A. Wahid Hasyim. Ketika Ansor mula-mula dibentuk, dua-duanya ikut mendirikan Ansor dan lalu duduk dalam Pengurus Besar Ansor di Surabaya. Keduanya memang arek Surabaya. Sejak itu aku berkenalan dengannya, hingga menjadi sahabat.

“Ente sudah makan? Saya lapar. Di mana kita bisa makan enak?” ia bertanya kepadaku.

“Mari kita ke restoran Padang!” Kami menuju ke restoran Padang. Makan dengan amat lahap sambil masing-masing menceritakan pengalaman kami.

“Begini, malam ini aku dipanggil Gus Wahid. Mari kita ke sana!” aku ajak dia menemui Gus Wahid.

Selesai makan kenyang-kenyang, berhari-hari bosan cuma makan nasi dengan sayur kangkung dan sepotong tempe di front Gombong, kali ini makan besar, kami menuju ke hotel ―Merdeka‖ tempat KH.A. Wahid Hasyim menginap jika kebetulan berada di Yogya.

Aku jumpai K.H.A. Wahid Hasyim sedang bercakap-cakap dengan seorang pemuda, memakai kemeja putih dengan celana berwarna gading. Rambutnya disisir rapi menyibak ke kanan dengan garis pemisah di sebelah kiri. Sepatunya putih dengan polet-polet coklat muda. Aku jadi ingat, ketika aku masih ―meneer‖ ISW, aku pun pernah punya sepatu macam yang ia pakai, tetapi tinggal kenangan saja, pada waktu aku melihat pemuda yang sedang bercakap-cakap dengan K. HA. Wahid Hasyim ini.

“Kenalkan dulu, ini Saudara Jamaluddin Malik,” K.H.A. Wahid Hasyim memperkenalkan pemuda ini dengan kami. “Ia juga anggota Ansor Cabang Gambir, Jakarta.”

Kami segera berkenalan.

“Formalnya baru berkenalan sekarang, tetapi hati kita sudah lama satu, bukan?” Jamaluddin Malik menatap aku dengan senyumnya.

“Saya sedang merundingkan dengan Jamaluddin Malik ini sebelum Saudara-Saudara datang,” kata K.H.A. Wahid Hasyim “Ia seorang seniman. Memimpin suatu rombongan sandiwara nomor satu. Ia dan rombongannya baru tiba di Yogya dari Makasar dan Kalimantan. Ia bermaksud untuk beberapa waktu ada di daerah Republik ini. Akan menetap terus di daerah ini dengan rombongan sandiwara. Tetapi saya menganjurkan, baik saja untuk sementara hari ada di daerah ini, tetapi sebaiknya ia dan rombongannya segera memasuki Jakarta, agar di daerah yang diduduki Belanda ada orang-orang Republik juga. Apa lagi dengan menggunakan rombongan sandiwara ini Belanda tidak gampang mencurigai kita. Rombongan sandiwaranya bisa dijadikan tempat bertemunya orang-orang Republik yang ada di Jakarta.”

“Tadinya anak buah saya bermaksud, bila sudah sampai di daerah Republik, rombongan akan membubarkan diri, lalu kami menerjunkan diri dalam badan-badan perjuangan. Ada yang menjadi ―Hizbullah‖, ada yang ―Barisan Pemberontakan Rakyat‖ dan sebagainya,” jawab Jamaluddin Malik.

“Saya tidak setuju dengan pikiran itu,” jawab K.H.A. Wahid Hasyim.

“Anggota kelaskaran sudah amat banyak sekali. Tetapi orang-orang pejuang yang menggunakan rombongan sandiwara dan seni pada umumnya masih kurang banyak. Padahal itu amat penting bagi suatu perjuangan besar. Dengan rombongan yang saudara pimpin, tadi saya sudah katakan, bisa dijadikan tempat bertemunya orang-orang Republiken. Hingga kita bisa kumpulkan senjata lewat usaha saudara,” ujar K.H.A. Wahid Hasyim meyakinkan.

“Mana lebih baik, kami mengumpulkan uang dana atau langsung membelikan senjata buat laskar kita?” Jamaluddin Malik bertanya.

“Maksud saudara kumpulkan uang dari dana, lalu diserahkan ke Yogya?” K.H.A. Wahid Hasyim minta penjelasan.

“Ya, begitu!” jawabnya.

“Keduanya sama baiknya. Tetapi menurut pengalaman saya, lebih baik lagi kalau sudah terkumpul uang, lalu belikan saja senjata. Di tiap-tiap garis demarkasi yang merupakan batas antara daerah pendudukan Belanda dan kekuasaan Republik telah menjadi terbiasa serdadu-serdadu Belanda menjual senjata-senjata. Mereka biasanya menyerahkan senjatanya untuk memperoleh beberapa puluh gram emas,” jawab K.H.A. Wahid Hasyim sambil memberikan petunjuk.

“Saudara Fattah, saya memang sudah mendengar bahwa ente memasuki ALRI. Itu baik sekali. Anak-anak kita jangan cuma di dalam ―Hizbullah‖ saja. Mereka juga memasuki kesatuan yang lain,” K.H.A. Wahid Hasyim mengalihkan percakapan dengan Fattah Yasin.

“Tetapi kita di mana-mana kekurangan senjata. Bagaimana memecahkannya?” Fattah Yasin menanya.

“Dulu kita tidak punya senjata sama sekali. Kita rebut dari tangan Jepang. Keadaan persenjataan kita sekarang ala kulli hal, lumayan, apa salahnya kita rebut juga dari serdadu-serdadu NICA?” K.H. A. Wahid Hasyim meyakinkan penanya. Lalu sambungnya: “Saya memang hendak membicarakannya dengan Pak Dirman, Panglima Besar!”

“Sehubungan dengan maksud Jamaluddin Malik hendak memasuki daerah pendudukan Belanda, sekarang banyak anak-anak kita di garis tapal batas hendak memasuki daerah musuh. Bagaimana pendapat kita?” aku menanya kepada KH.A. Wahid Hasyim.

“Ada dua macam golongan hendak memasuki daerah pendudukan Belanda. Pertama: golongan avonturir.; orang yang tukang foya-foya dalam hidup. Mereka memang tidak betah berada di daerah Republik yang serba miskin materiil ini, padahal di daerah pendudukan Belanda orang bisa hidup senang. Orang-orang yang kualitasnya begini tidak berguna bagi perjuangan. Biarkan saja mereka meninggalkan daerah Republik, satu ketika mereka akan tahu akibatnya. Yang kedua: memang golongan pejuang benar-benar, mereka ingin mengacau di daerah musuh. Tentu saja kita sangat tidak keberatan mereka memasuki daerah pendudukan Belanda. Cuma saja, sebelum memasukinya, harus kita uji terlebih dahulu kemampuannya berjuang, dan di sana harus disiapkan jaring-jaring kaum Republiken. Itu mudah saja, sebab pada umumnya rakyat kita di daerah pendudukan Belanda simpatinya tetap kepada Republik Yogya ini,” jawab K.H.A. Wahid Hasyim.

“Bagaimana situasi kita yang terakhir ini?” aku menanya lebih jauh

“Ada dua faktor penting yang sedang kita hadapi. Pertama: menghebatnya gerakan-gerakan orang-orang komunis. Hari-hari ini seorang gembong komunis kawakan, Muso, setelah bertahun-tahun hidup di luar negeri, akan memasuki Yogya dari negeri Belanda. Saya dengar ia akan disertai Suripno, orang yang diangkat Amir Syarifuddin menjadi wakil Republik di Praha. Sepanjang yang saya dengar, Muso akan melakukan koreksi terhadap kepemimpinan komunis di bawah Amir Syarifuddin dan Alimin. Tetapi menurut saya, ini cuma sekedar taktik komunis saja, mengingat bahwa pemimpin-pemimpin komunis sudah sangat merosot pengaruhnya di mata rakyat, akibat politik Linggarjati dan Renvillenya. Muso akan menyelamatkan cita-cita komunisnya untuk mencari simpati rakyat Itu biasa di kalangan komunis, jika perlu kawannya sendiri dikorbankan untuk meneruskan taktik perjuangannya.” K.H.A. Wahid Hasyim diam sebentar, lalu sambungnya: “Yang kedua: perundingan antara delegasi Indonesia dengan Belanda di bawah pengawasan PBB mengalami jalan buntu, perundingan jadi kandas. Baik secara analisa politik maupun firasat saya, hari-hari yang akan datang akan terjadi serangan besar-besaran, mungkin Belanda akan menduduki Yogya.”

“Kalau sampai terjadi demikian, bagaimana perjuangan ini?” bertanya Jamaluddin Malik.

“Ya, kita jadikan seluruh Indonesia daerah medan pertempuran. Secara perang total tentu tidak mungkin pada tingkat pertama, tetapi kita bisa kobarkan perang gerilya. Anak-anak kita akan memasuki daerah-daerah pendudukan Belanda terutama ―Siliwangi‖ yang hijrah ke Yogya ini akan pulang memasuki Jawa Barat. Cuma satu penyelesaian dengan Belanda, perang gerilya! Dalam sejarah yang manapun tak pernah terjadi bahwa perjuangan kemerdekaan mengalami kekalahan!” jawabnya mantap sekali.

Percakapan terhenti di sini, karena baik Jamaluddin Malik maupun Fattah Yasin berpamitan hendak menyelesaikan tugasnya masing-masing. Kami berdua dengan KH.A. Wahid Hasyim masih meneruskan berbincang-bincang di hotel ‘Merdeka’ Yogya hingga jauh malam.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: