Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (7)

Suasana ibu kota Yogya diliputi oleh kemarahan rakyat terhadap PKI dan Belanda. Yang belakangan ini terus-menerus melanggar gencatan senjata dan melakukan insiden-insiden di tapal batas. Korban banyak yang jatuh dari kedua belah pihak. Yogya diliputi oleh awan yang gelap, penuh tanda tanya bagaimana keluar dari kegentingan yang kian memuncak. Suatu hari, aku diajak K.H.A. Wahid Hasyim menengok Pak Dirman, Panglima Besar. Sudah beberapa hari beliau sakit yang berat.

“Saya sakit, Mas Wahid…” Pak Dirman sambil berbaring mengulurkan tangan kepada K.H.A. Wahid Hasyim.

“Semoga lekas sembuh!” sambut K.H.A. Wahid Hasyim.

“Apa kabar Saudara?” Pak Dirman memalingkan pandangannya kepadaku dan tangannya kusalami.

“Apa sakitnya Mas Dirman?” tanya K.H.A. Wahid Hasyim.

“Paru-paruku. Kata dokter, tinggal satu yang berfungsi,” Pak Dirman menjawab sambil batuk-batuk. Kami semuanya diam, amat terharu aku melihat Panglima Besar yang sedang berbaring. Badannya bertambah kurus saja, dan kelihatan pucat karena kekurangan tidur. Beliau melayangkan pandangannya kepadaku sambil katanya:

“Sudah lama kita tidak saling ketemu. Apa masih memimpin Hizbullah?”

Pak Dirman kelewat sibuk, aku tidak sampai hati mengganggu Pak Dirman. Dan aku masih bersama anak-anak ―Hizbullah,” jawabku. Aku dan Pak Dirman telah lama berkenalan, sejak sebelum Jepang datang. Kami berasal dari satu daerah, Banyumas, dan sama-sama menjadi guru sekolah swasta. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Mas, tetapi sejak beliau menjadi Panglima Besar, rasanya panggilan Mas itu tak begitu sedap lagi. Sejak itu aku memakai panggilan Pak kepadanya. Mula-mula beliau keberatan atas perubahan ini, tetapi aku katakan, biarlah demikian, soalnya wajar saja. Aku berpikir, yang harus menghormati seorang pemimpin, mula-mula hendaklah kawannya sendiri.

“Mas Wahid, saya kira Mas baik sekali kalau datang lagi kepada Bung Karno, untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya dewasa ini. Kemarin dahulu saya katakan kepada beliau tentang persoalan kita dengan Belanda. Janganlah hendaknya pemerintah meremehkan kemungkinan Belanda melakukan serbuan ke Yogya. Saya seorang militer, saya menghargai pandangan politik pemerintah, akan tetapi pandangan secara militer juga hendaknya dipertimbangkan,” Pak Dirman memulai dengan pembicaraan tingkat berat. Karena yang perlu menanggapi masalah berat ini KH.A. Wahid Hasyim, maka aku ingin menjadi seorang pendengar saja.

“Saya sudah ketemu Bung Karno, juga Bung Hatta. Saya bisa mengerti politik diplomasi dari pemerintah, akan tetapi diplomasi tanpa kekuatan militer hampir tak ada gunanya. Sebab itu, menurut saya, biarkan saja kalau terjadi pertempuran-pertempuran antara Belanda dan anak-anak kita, agar Belanda menyadari bahwa kita juga mempunyai kemampuan tempur. Kekuatan militer kita berangsur-angsur lebih dibanggakan, hal itu perlu bantuan moril dari kaum diplomat kita,” demikian K.H.A. Wahid Hasyim

“Yang sudah lama saya khawatirkan, kini benar-benar terjadi. Orang-orang komunis menusuk dengan belati di punggung kita, ketika kita sedang menghadapi Belanda. Yang saya pikirkan, bila sewaktu-waktu Belanda menyerbu ke Yogya, kekuatan militer kita jangan tercerai berai. Itu sebabnya saya perintahkan kepada Markas Besar untuk mempercepat penghancuran terhadap pemberontakan PKI di Madiun. Alhamdulillah, Tuhan merahmati perjuangan kita,” Pak Dirman berhenti bicara, air matanya mulai menggenang. Kami semua terharu.

Aku sudah cukup lama duduk menyertai dua orang penting ini. Yang satu Panglima Besar dan satunya penasihatnya. Barangkali akan ada pembicaraan yang hanya berdua saja boleh tahu, maka aku permisi akan keluar sebentar dengan alasan akan telepon.

Aku berada di kamar ajudan untuk mengadakan pembicaraan telepon dengan K.H. Masykur, Menteri Agama. Aku katakan kepada beliau bahwa ada sebuah pesan dari K.H.A. Wahid Hasyim agar beliau menanti di Hotel Merdeka.

Aku kira-kirakan bahwa pembicaraan empat mata sudah selesai. Aku segera masuk ke ruang tidur Pak Dirman, di mana beliau menerima kami sambil berbaring sejak tadi. Ternyata pembicaraan empat-mata tinggal ekornya saja. Aku cuma menangkap pembicaraan K.H.A. Wahid Hasyim, beliau berjanji setelah menjumpai Presiden akan segera menemui Pak Dirman lagi di rumahnya.

Kami berpamitan. Pak Dirman memegang tanganku lama ketika kami bersalaman. Beliau minta didoakan semoga lekas sembuh, dan meminta aku sering-sering datang. Aku sanggupi dengan ucapan Insya Allah! Tiba di Hotel Merdeka, KH. Masykur telah menanti kami di sana.

“Sampeyan ini Menteri Agama atau Ketua Markas tertinggi Sabilillah?” tegur K.H.A. Wahid Hasyim setelah melihat K.H. Masykur, wajahnya sedikit cemberut. Aku sudah sangat paham akan watak KH.A. Wahid Hasyim ini, tandanya sedang sedikit jengkel terhadap ulah sementara kaum politisi yang kurang menyadari situasi yang sebenarnya. Salah satu sifat KH.A. Wahid Hasyim ini sangat mudah bertoleransi kalau masalahnya mengenai soal yang menyangkut pribadinya, tetapi kalau sudah mengenai prinsip, apalagi yang erat hubungannya dengan perjuangan Islam, kalau orang hendak mengurangi Hak Allah, beliau bisa bersikap ‘kaku’ tak mudah ditawar-tawar. Agaknya beliau sangat terpengaruh oleh sifat Rasulullah Saw:

Wa ya’fu ‘an adz-dzanbi idza kana fi haqqihi wa sabahihi, wa idza dhuyyi’a haq Allahi lam yaqum ahadun li ghadhabihi.

Rasulullah sangat mudah memaafkan seseorang, jika soalnya menyangkut urusan pribadinya, akan tetapi kalau orang meremehkan hak Allah, maka tidak seorang pun berani menegakkan kepalanya karena melihat kemarahan Rasulullah Saw.” Melihat gelagat ini KH. Masykur cuma ketawa saja.

“Sampeyan ini Menteri Agama atau Ketua Markas tertinggi Sabilillah?” K.H. A. Wahid Hasyim mengulangi pertanyaannya.

“Dua-duanya, ya Menteri Agama, ya Ketua Markas tertinggi Sabilillah, mengapa?” jawabnya sambil masih berkekeh-kekeh dengan tawanya. Rupanya beliau juga sangat paham akan sifat K.H.A. Wahid Hasyim.

“Kalau sampeyan Menteri, silakan berunding terus dengan Belanda sampai Belanda memperoleh kesempatan mempersiapkan dirinya untuk menggempur Republik kita. Tetapi kalau sampeyan orang Sabilillah, sampeyan harus melihat gelagat ini sebagai politik mengulur-ulur waktu dari Belanda untuk akhirnya mereka menyerbu Yogya”, jawabnya, sudah mulai reda dengan jengkelnya.

“Kiai Masykur ini aku kira, menganut aliran selagi masih bisa berunding, kita juga mau berunding. Tetapi kalau perundingan menemui jalan buntu, siap untuk bertempur!” aku menyela.

“Ya, tetapi orang-orang yang tengah berunding di Kaliurang mengikuti saja pikiran Belanda dan Komisi Tiga Negara, berunding terus sampai kapan, sedang Belanda terus mengadakan penumpukan kekuatan militernya untuk menyerang Republik. Aku yakin, Belanda dalam beberapa hari ini akan menyerbu Yogya!” sambut K. H.A. Wahid Hasyim dengan semangat sekali.

“Jadi baiknya bagaimana menurut sampeyan?” bertanya K.H. Masykur.

“Belanda terus-menerus menuntut Republik membersihkan daerah yang ia kuasai, agar kaum Republiken tidak satu orang pun masih ada di daerah pendudukan. Sedang Belanda terus saja menyebar orang-orangnya menyelusup ke daerah Republik. Belanda berkali-kali melanggar gencatan senjata, terus saja menembaki anak-anak kita di garis batas kita sendiri, maka kita harus bersikap tegas. Hentikan perundingan. Kita adakan mobilisasi kekuatan untuk bertempur. Kalau seluruh daerah Indonesia berkobar pertempuran, tanggung Belanda akan gulung tikar. Semua kaum militer kita berpikir demikian!” K.H.A. Wahid Hasyim diam sebentar, pandangannya menembus jauh ke muka, tentu sedang memikirkan masalah yang besar dan sangat pelik ini.

Sukar untuk dilukiskan betapa penanggungan yang sedang dialami rakyat Indonesia dewasa itu. Meskipun mereka menderita lahir batin, namun sebagai pejuang, mereka bersyukur karena Allah SWT melimpahkan ketabahan dalam menderita. Meskipun mereka sedang berjuang habis-habisan menghadapi musuh-musuh dari luar dan musuh dari dalam yang sangat berat, namun mereka ikut merasakan penderitaan saudara-saudaranya bangsa Arab yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan Palestina, sebagian tanah airnya, dari kaum pendatang yang merampas tanah tumpah darahnya, suatu bangsa yang menamakan dirinya Israel.

Sudah hampir setahun, umat Islam Indonesia melakukan Qunut Nazilah dalam tiap-tiap sembahyangnya 5 kali sehari. Suatu do‘a yang lazim dilakukan dalam sembahyang bila sedang menghadapi suatu kegentingan dan bencana. Qunut Nazilah itu sebagai pernyataan protes dan semangat sependeritaan bangsa Indonesia terhadap bangsa Arab sejak PBB pada tahun 1947 meresmikan berdirinya suatu negara baru yang menamakan dirinya Israel dengan dua bidan raksasa yaitu Amerika dan Soviet Rusia. Rakyat Indonesia mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar memperjuangkan supaya Dewan Keamanan PBB meninjau keputusannya tentang berdirinya Israel.

Sejak bangsa Arab berjuang untuk kemerdekaan Palestina, Pengurus Besar Nahdhatul Ulama pada tanggal 12 November 1938, telah meminta kepada seluruh partai dan organisasi umat Islam di Indonesia serta kepada Pucuk Pimpinan ‘Warmusi’ (Wartawan Muslimin Indonesia) di Medan, agar umat Islam memberikan sokongan materiil dan moril kepada pejuang-pejuang Palestina dalam memerdekakan tanah air mereka. Juga menganjurkan Qunut Nazilah untuk dibacakan tiap-tiap sembahyang 5 kali seharinya. Berhubung dengan anjuran Qunut Nazilah ini, maka pada tanggal 27 Januari 1939, KH. Machfuzh Shiddiq, Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dipanggil oleh Hoofdparket Belanda di Jakarta, untuk diberi tahu bahwa Pemerintah Hindia Belanda melarang digerakkannya Qunut Nazilah untuk pejuang Palestina.

Dalam perang Dunia I, bangsa Arab telah berjuang melawan Turki karena mencita-citakan kemerdekaan Palestina. Amatlah tidak masuk di akal, mereka berjuang melawan sesama saudara seagama (Turki) untuk akhirnya membiarkan tanah airnya dirampas Yahudi yang sama sekali asing segala-galanya. Amatlah mengherankan bahwa PBB membenarkan Yahudi merampas Palestina dengan alasan karena di mana-mana Yahudi diusir. Amatlah zalim suatu bangsa yang diusir dari Jerman, dari Cekoslowakia, dari Italia, dan dari mana-mana lalu mengusir bangsa Arab Palestina dari tanah tumpah darahnya sendiri.

Bangsa Arab Palestina yang terusir dari tanah airnya, hidup terlunta-lunta penuh derita lahir dan batin. Suatu ketika pasti mereka akan menuntut balas untuk menghapus segala deritanya. Mereka yakin bahwa simpati akan datang dari seluruh dunia.

Bangsa Indonesia yang sedang mengalami ancaman musuh yang hendak merobek-robek kemerdekaannya, mengenangkan tragedi Palestina. Bahwa jikalau Yahudi memperoleh kemenangan karena bayonet di tangannya, demikian pula halnya dengan Belanda, maka yakinlah kita, suatu ketika bila bayonet telah menjadi tumpul karena datangnya keadilan dan pertolongan Tuhan, maka bayonet itu tak akan bisa berbicara lagi, kemenangan segera berganti dengan kekalahan… Insya Allah.

Hari itu memasuki pertengahan bulan Desember 1948. Yogya Ibu Kota Republik Indonesia diliputi oleh situasi yang sangat mencekam penuh tanda tanya. Hari-hari dengan gerakan-gerakan militer baik TNI maupun laskar-laskar perjuangan melakukan gerakan pemindahan pasukan. Yogya yang sehari-harinya penuh dengan pemuda-pemuda berpakaian seragam, di hari akhir-akhir menjadi sangat kurang laskar yang mondar-mandir sepanjang Malioboro. Yogya dalam situasi politik yang kemelut tetapi tertekan.

Kami, dari pimpinan Hizbullah-Sabilillah diperintahkan untuk pulang ke daerah kesatuannya masing-masing, mempersiapkan serta memindahkan pasukan-pasukan yang diperlukan.

Aku tinggalkan Yogya seperti dalam keadaan gundah, tetapi aku tidak tahu apa yang bakal terjadi. Hanya firasatku mengatakan, pertebal iman dan pertinggi daya juang sambil bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: