Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (8)

19 Desember 1948, hari Minggu.

Jam 9 pagi aku di rumahku di depan Markas Hizbullah Purworejo, seberang alun-alun. Aku sedang berkemas-kemas untuk berangkat ke Madiun karena panggilan KH. Dahlan ketua pengurus besar Nahdhatul Ulama yang ketika itu berkedudukan di Madiun.

Seperempat jam kemudian aku mendapat laporan yang menyebutkan bahwa Yogya telah dibom pesawat-pesawat terbang Belanda. Anakku, Fahmi dan Ida, bersorak kegirangan karena mendengar deru pesawat terbang yang begitu keras. Aku keluar dari rumah, kiranya dua pesawat terbang rendah sekali. Aku perhatikan ekornya, ternyata pesawat terbang Belanda. Dua pesawat terbang ini menyebarkan surat-surat selebaran. Dari pamflet yang dipungut anakku, aku baca isinya: bahwa pasukan Belanda telah memasuki daerah Republik dan menuju ke Yogya. Diminta agar penduduk tetap tinggal tenang jangan gelisah, pangreh praja supaya bekerja terus seperti biasa. Segenap pasukan bersenjata supaya jangan melawan dan menyerahkan senjatanya kepada Belanda. Siapa yang melawan akan dihukum berat. Para alim ulama supaya ikut memelihara ketenteraman dan keamanan. Surat selebaran itu ditandatangani oleh panglima besar Belanda, Jenderal Spoor.

Sudah beberapa hari listrik seluruh kota mati, dengan sendirinya penduduk tidak bisa mengikuti keadaan lewat radio. Radio transistor ketika itu belum ada di daerah Republik. Kereta api tidak selalu jalan, dengan demikian, surat-surat kabar jarang datang. Tidaklah heran jika penduduk tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Surat selebaran Belanda diterima dengan ragu. Hubungan telepon putus hingga tidak bisa berhubungan dengan Yogya.

Aku memanggil teman-teman dari Majelis Konsul Nahdhatul Ulama dan pimpinan Hizbullah-Sabilillah. Kami bermusyawarah, membicarakan situasi yang sedang terjadi.

Memang sudah kami rencanakan, jika terjadi serbuan Belanda dan Yogya diduduki musuh, kami akan mengadakan perang gerilya. Keluarga harus diungsikan. Sudah aku tentukan tempat-tempat mana harus dijadikan tempat pengungsian sementara sebelum kami menata dan memperkokoh kekuatan. Banyak orang yang hendak mengungsi ke daerah Yogya, mereka merasa lebih aman berada di sana. Tetapi aku berpendirian lain.

“Kami menunggu perintah Saudara, sekarang!” kata Solichun, pemimpin Hizbullah Purworejo.

“Kita ungsikan dulu keluarga kita, keluarga dari pimpinan teras ini. Tentu akan banyak keluarga lain yang akan turut serta. Tidak apa, nanti kita pencar menjadi kelompok-kelompok kecil. Dalam perang gerilya, kelompok itu tidak boleh besar, lebih kecil lebih baik. Adapun anak-anak pasukan dipindahkan ke tempat-tempat yang agak jauh dari kota, juga dalam formasi yang kecil saja!” jawabku bersikap perintah.

Zaman genting tidak boleh ada musyawarah yang bertele-tele. Pemimpin mesti tegas dengan perintah-perintahnya.

“Berapa besar rombongan keluarga kita harus kita ungsikan?” bertanya Haji Jamil, pemimpin Sabilillah.

“Nantinya paling banyak 5 keluarga, untuk sementara biar saja orang lain mengikuti kita. Mereka perlu ketenangan hati, mereka merasa tenang bila bersama kita,” jawabku.

“Apakah kita menuju ke daerah Yogya?” bertanya Kiai Muhammad dari Majelis Konsul Nahdhatul Ulama.

“Sementara, ikuti arus orang banyak menuju daerah Yogya. Kalau kita menuju ke daerah yang telah kita sepakati, niscaya orang-orang akan mengikuti kita, dan ini tentu akan menyulitkan sekali. Daerah yang kelak menjadi tujuan kita yang sebenarnya tentu tidak bisa menampung begitu banyak orang-orang,” jawabku, lalu aku sambung. “Belanda tentu tahu bahwa orang-orang akan menuju ke daerah Yogya. Di tengah jalan nanti, kita diam-diam menyimpang mendekati daerah tujuan kita. Belanda tentu mengira kita juga menuju ke daerah Yogya. Kalau Belanda mengejar kita, ini pasti karena mereka tahu siapa kita, maka hal itu akan sangat menyusahkan rakyat biasa yang nanti akan menjadi beban kita juga. Ini akan menyulitkan siasat perang gerilya,” aku memberi ketegasan.

“Apakah tujuan kita tetap Ngrimun?” Solichun menanya.

“Begini, kita ikuti arus orang banyak sampai di desa Karangjati. Pada saat orang banyak menyimpang menuju daerah Yogya, kita naik sedikit ke bukit Caok. Kita bisa beberapa hari di sana sambil melihat situasi kota yang kita tinggalkan. Sementara menunggu situasi, kalau aman, kita tetap di Caok. Abang kita, Kiai Abu, mempunyai kebon singkong yang luas, buat kita merupakan gudang makanan sementara. Tetapi kalau keadaan di sana tidak aman, kita teruskan naik ke gunung Ngrimun, di sana ada Kiai Idris yang telah berusia 100 tahun. Beliau menantikan kedatangan kita,” jawabku.

“Kita akan mengambil kedudukan Majelis Konsul dan pimpinan Hizbullah di mana? Tetap di daerah ini atau daerah Magelang?” Kiai Muhammad bertanya.

“Kita akan berkedudukan di suatu daerah antara Purworejo-Magelang-Wonosobo. Daerah itu baik sekali untuk perang gerilya. Daerah pegunungan, udaranya sejuk, banyak sungai, dan daerahnya sangat subur dengan bahan makanan. Lagi pula tidak jauh dari Yogya,” jawabku.

Aku perintahkan agar kita mulai berangkat dengan tugas yang telah ditentukan. Situasinya tidak memungkinkan untuk berunding panjang-panjang. Ketika orang-orang hendak bubar, Solichun bertanya:

“Keluarga Saudara bagaimana. Berangkat sekarang atau nanti?”

“Sekarang saja ikut Saudara, aku belakangan. Nanti aku segera menyusul.” jawabku

Istriku dan 3 anakku: Fahmi 6 tahun, Ida 4 tahun, dan Anis 2, serta seorang pembantu ikut mereka menuju ke Karangjati. Aku dan adikku Huseini, tetap di rumah, banyak hal yang harus aku selesaikan.

Pukul 4 sore aku tinggalkan rumahku. Aku mengenakan jas hujan dan mengantongi sepucuk pistol FN di kantong jas hujan. Yang menjadi masygul adalah bagaimana buku-buku 2 lemari penuh, semua buku penting. Dibawa tentu tak mungkin, mana di zaman perang ada orang membawa buku-buku. Aku tak sanggup berpikir lagi, dengan bantuan adikku, lemari buku kami putar balikkan menghadap ke dinding. Untuk sementara, jika Belanda memasuki rumahku tentu tidak pertama kali tertarik oleh pandangannya melihat dua lemari buku. Aku ajak Huseini adikku menyertai aku keluar rumah. Tetapi ia menolak. Ia anggota Hizbullah, ia sanggup menjaga rumahku sendirian. Kalau terjadi apa-apa, ia mudah saja berpindah dari satu halaman rumah ke halaman yang lain, katanya. Soal makanan bagaimana, ia jawab: Akh, itu soal gampang. Ada siang ada makan! Ia kupesan, jika ada apa-apa menyusul aku di suatu tempat Aku beritahukan peta perjalananku dalam gerilya. Tidak aku tulis, tetapi aku suruh ia menghafal di luar kepala. Ini cara militer dalam perang, kataku.

Aku keluar rumah dengan sepedaku, tidak lupa aku tenteng mesin tulisku, aku pikir tentu ada gunanya dalam perjalanan.

Aku singgah sebentar ke Kabupaten untuk menemui Pak Bupati Muritno. Tetapi beliau baru ½ jam meninggalkan Kabupaten. Ada pesan untukku agar aku menyusulnya ke suatu tempat yang sudah kami sepakati beberapa hari yang lampau.

Baru 150 m aku naik sepeda, kedengaran suara tembakan mitraliur, gencar sekali. Aku kayuh sepeda lebih cepat, aku berpikir Belanda tentu sudah semakin dekat di belakangku. Kota amat sepi, di beberapa tempat asap mengepul karena bumi hangus. Kedengaran suara menggelegar, pertanda jembatan sudah dihancurkan, dibumihanguskan juga. Ketika suara mitraliur kian menggencar tambah dekat, aku turun dari sepeda, aku pikir, naik sepeda tidak ada gunanya. Ada sebuah warung tukang menjahit yang pintunya masih terbuka. Warung milik anggota Ansor. Aku titipkan sepedaku kepadanya, aku katakan kalau terjadi apa-apa jangan hiraukan sepeda itu. Rumahku pun sudah aku ‘tawakalkan’ kepada Allah SWT, apalagi cuma sepeda.

Baru beberapa langkah, kedengaran tembakan dari jarak dekat sekali di belakangku. Kanan kiri rumah dan toko-toko Cina. Aku ingat cerita ‘Tao An Tui’ tentara orang-orang Cina yang membela Belanda di mana-mana, padahal ketika itu aku di tengah-tengah rumah dan toko-toko Cina. Aku segera merogoh kantong jas hujanku, pistol FN aku genggam, entah siapa nanti yang dulu, menembak atau ditembak. Aku masuk ke jalan kampung, dari lorong ke lorong karena di belakangku dalam jarak beberapa puluh meter saja Belanda telah berada di pusat kota.

Aku menuju rumah orang tuaku di tepi kota untuk melihat-lihat apakah masih ada anggota keluargaku yang belum mengungsi. Benar juga, aku dapati pintunya belum terkunci, agaknya mereka sudah lari dengan terburu-buru karena Belanda sudah memasuki kota. Aku masuk ke dalam rumah, kiranya abangku Solichun masih ada di dalam.

“Mengapa belum pergi?” aku menanya tergesa-gesa.

“Begini banyak kain batik terceceran, sedang saya masukkan lemari,” jawabnya.

Orang tuaku mempunyai perusahaan batik, agaknya meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Aku menemani Solichun dan membantunya memasukkan beberapa ikat kain batik ke dalam lemari. Yang lain-lain aku singkirkan di bawah kolong tempat tidur.

Kami tinggalkan rumah, sambil memandang sejenak. Batinku berkata: Begini nasibnya dunia. Akhirnya harta benda juga ditinggalkan begitu saja. Aku titipkan keselamatan rumah kepada Allah SWT, aku tawakal kepada-Nya.

Suara tembakan senapan maupun mitraliur semakin gencar dan dari jarak yang dekat sekali. Belanda tentu telah di jalan besar yang cuma 100 m dari rumah orang tuaku. Batinku mengatakan, tentu mereka masih tetap berada di atas mobil pansernya. Dalam gerakan militer memasuki suatu kota, serdadu selamanya tetap dalam kendaraan bajanya, belum berani turun dari kendaraannya. Tembakan-tembakan itu hanya untuk membikin gentar dan takut penduduk. Sebab itu, aku mengambil jalan dari rumah ke rumah, jalan menuju ke sungai. Belanda toh belum akan membuntuti aku, dan aku bisa terlindung dari muntahan peluru.

Aku percepat jalan karena hujan sekonyong-konyong turun membasahi bumi.

Waktu sudah maghrib ketika aku tiba di Karangjati, tempat keluargaku diungsikan. Hujan masih turun, bahkan tambah deras. Sekonyong-konyong adikku Zainuddin memberitahukan bahwa anakku Fahmi terpisah dari rombongannya. Agaknya ia ikut rombongan orang-orang yang hendak meneruskan perjalanan ke daerah Yogya. Suasana panik dan begitu banyaknya gelombang pengungsi menyebabkan Fahmi lepas dari pengawasannya.

Lemas aku mendengar anakku tercecer. Beruntung aku bisa mengatasi emosiku. Hatiku kutata dengan tenang. Aku ambil keputusan: sembahyang maghrib dulu. Nanti kami bicarakan bagaimana mencari Fahmi. Aku sembahyang khusyuk sekali. Rasanya, ketika itu aku sembahyang dengan sekhusyuk-khusyuknya selama ini. Aku mengadu kepada Allah, begini banyak orang sengsara dengan tiba-tiba, begini biadabnya Belanda yang menipu Republik dengan perundingan untuk memalingkan perhatian para pemimpin kita akan persiapan mereka menggempur Republik yang masih amat muda ini.

Pukul 9 malam, aku berunding dengan teman-teman untuk mengatur rombongan. Benar juga dugaanku, hampir semua orang ingin menyertai aku dalam suatu rombongan. Mana bisa dalam siasat perang gerilya dengan rombongan besar? Lagi pula nantinya tidak akan mengurusi perlawanan terhadap musuh, tetapi disibukkan oleh urusannya orang-orang mengungsi. Aku tetapkan kerja kilat. Rombongan besar kita pecah. Keluarga sekian ditempatkan di beberapa rumah penduduk, sekian keluarga lagi ditempatkan di rumah-rumah penduduk yang lain. Begitu seterusnya hingga rombongan kami sekitar 5 keluarga menuju ke tempat tempat yang telah kami rencanakan. Mula-mula ke gunung Caok, lalu ke Ngarimun bila keadaan mengharuskan.

Tiba-tiba seorang Hizbullah datang melapor dengan menuntun anakku Fahmi. Ia diketemukan dalam arus orang-orang yang malam itu akan meneruskan ke daerah Yogya. Waktu ditanya mengapa anak itu sendirian, jawabnya bahwa ia terpental dari rombongannya karena arus orang banyak. Ia menerangkan identitasnya bahwa ia adalah anakku, segera saja anak Hizbullah membawanya ke tempatku karena ia telah tahu di mana aku saat itu berada.

Seketika itu juga aku sujud syukur untuk menyatakan syukur dan terima kasihku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena pertolongan-Nya. Aku usap kepalanya sambil bersyukur.

Terkenang dua tahun yang lalu ketika ia masih berumur 4 tahun. Ia ikut ibunya menghadiri Muktamar Nahdhatul Ulama di Purwokerto naik truk menempuh jarak 120 km sambil kehujanan, hingga dalam muktamar anak kecil ini menderita influenza. Doaku, semoga pengorbanannya tidak akan sia-sia.

Aku cuma 3 malam di Karangjati, ternyata tidak aman. Jarak hanya 2 km dari kota Purworejo sungguh sangatlah berbahaya. Belanda telah menguasai Gunung Menjangan, sebuah bukit di tepi kota yang tangguh, dan dari sana Karangjati yang berada di kakinya amat mudah untuk dimuntahi peluru mortir dan mitraliur. Selain itu, Belanda telah membebaskan tahanan-tahanan PKI dari penjara, dan begitu banyaknya mata-mata musuh yang tersebar di tempat pengungsian, dengan sendirinya merupakan ancaman keselamatan kami. Aku tidak bisa berada di tengah-tengah pengungsi yang begitu banyaknya.

Datanglah seorang Hizbullah bernama Abdulkadir yang aku sudah lama kenal, ia nyaris ditangkap rakyat karena roman mukanya memang mirip seorang Belanda Indo. Ia menceritakan bahwa ia ditangkap Belanda dan dipukuli, karena Belanda tahu ia anggota Hizbullah. Ditanyai di mana aku berada serta nama-nama dari teman-temanku 20 orang. Ia menyatakan tidak tahu, ia dipukuli terus. Ia mendapat akal, bahwa ia sebenarnya tahu di mana aku berada, karena itu minta diizinkan akan mencariku, dan bila telah menemui di mana persisnya aku berada, ia akan datang lagi melaporkan kepada Belanda. Ia dilepaskan, lalu datang mencariku dan menemuiku di Karangjati. Ia menganjurkan bahwa sebaiknya aku meninggalkan Karangjati mencari tempat yang lebih aman.

Malam itu aku tak bisa meninggalkan Karangjati. Malam buta dengan 25 orang di antaranya para wanita dan anak-anak, melalui tebing yang curam karena hujan dan menyeberangi sungai yang banjir, tentu tidaklah mungkin. Jika berjalan menggunakan penerangan lampu, kecuali akan membangkitkan keinginan para pengungsi untuk menyertai aku, juga bisa ketahuan pos Belanda di jalan besar yang hanya 800 m jauhnya. Aku tangguhkan hingga habis sembahyang subuh esok harinya.

Semalaman aku tak bisa tidur. Badan amat letih dan kepalaku penat sekali. Di malam yang dingin dan gelap, aku sembahyang hajat, sembahyang untuk mohon sesuatu kepada Allah SWT. Entah berapa kali rakaat demi rakaat aku selesaikan, namun aku tak puas-puasnya. Pikiran ini melayang ke mana-mana. Pada sujud yang terakhir, aku tak kuat menahan rasa iba di dada penuh haru dengan peristiwa yang baru aku alami. Tak kuasa aku menahan tangisku, aku melolong mengadukan halku kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Istriku dan beberapa orang terbangun dari tidurnya, mereka menanyakan apa yang terjadi. Abangku, Kiai Abu, menyalakan lampu. Aku masih dalam sujud dan isakku belum reda.

“Jangan ganggu dia! dia ini sedang munajat kepada Allah!” seru Kiai Abu dan menenangkan orang-orang yang gaduh. Aku habisi sembahyangku, tetapi aku masih duduk sehabis salam. Aku masih menundukkan kepalaku sambil isakku mulai reda. Aku adukan kepada Allah SWT begitu banyak orang-orang yang sengsara, dibuat menderita secara tiba-tiba. Orang-orang ini menyelamatkan diri dalam keadaan daif sekali, wanita-wanita, orang-orang jompo, dan anak-anak. Rumah dan harta bendanya yang mereka kumpulkan sekian lama mereka tinggalkan, mereka tinggalkan begitu saja. Mereka sangat mencintai Republik yang masih muda ini dan sebab itu, mereka tidak sudi hidup dalam kekuasaan Belanda. Ya, Tuhan! bukankah ini suatu pengorbanan amat mulia? Tapi kalau keadaan begini berlarut-larut hingga berjalan lama, apakah orang-orang ini memiliki ketahanan dan ketabahan? Lalu bagaimana nasib perjuangan yang suci ini?

Pagi harinya, ketika matahari mulai merekahkan sinar hidup membentang di cakrawala yang panjang, aku dan rombongan 25 orang telah tiba di Ngrimun.

Suatu gunung penuh hutan dikelilingi oleh tebing-tebing yang curam. Rumah-rumah penduduk tidak lebih dari 10 buah, satu dan lain terpisah oleh jarak yang orang hanya sanggup mendengar bila kita teriak dengan suara nyaring. Tak ada sawah tak ada padang, cuma hutan dan kayu-kayuan dan pohon aren yang dipetik kolang-kalingnya setahun sekali. Penduduk bisa menebang pohon aren untuk diambil pati gelangnya, dijual ke pasar Purworejo atau Loano untuk dibelikan beras. Tetapi sejak 4 hari Belanda menduduki kota-kota, pasar-pasar mati seketika. Sebab itu, hasil pati gelangnya menjadi makanan pokok penduduk sejak itu.

Kiai Haji Idris menerima kedatangan kami dengan amat gembira. Beliau sudah berusia lanjut, 100 tahun kurang lebih, tetapi panca indranya masih berfungsi dengan baik. Kami ditempatkan di langgarnya yang sudah tua, dan orang-orang perempuan di rumahnya.

“Beberapa hari yang lalu, saya bermimpi ketemu dengan guru saya ketika di Makah hampir 70 tahun yang lampau. Dalam mimpi itu, guru saya memberikan sehelai kain sarung yang baik sekali sambil pesannya agar aku menerimanya dengan baik-baik,” kata Kiai Idris sambil menundukkan kepalanya.

“Apa arti ta‘bir mimpi itu, Mbah?” aku memberanikan diri bertanya.

“Arti ta‘birnya?… Nah, sekarang ini, kedatangan Tuan-Tuan kemari…!” jawabnya sambil membagi senyumnya kepada kami semua.

Kami semua merasa sangat bahagia dapat menjumpai seorang ulama yang begitu lanjut usianya. Orang macam begini tentu tidak bergelimang dengan dosa dalam hidupnya, sehari-harian hanya mujahadah kepada Allah SWT. Pakaian hanya selembar sarung dengan baju Jawa dari kain mori yang tak berleher, dan kopiah putih di atas kepalanya. Makanan? Hanya apa yang ada di sekitarnya. Sambil bersantap pagi, sarapan dodol gelang dengan teh panas dan gula Jawa, kami berbincang-bincang dari hal keselamatan kami sampai kepada suasana diusir Belanda dari kota.

“Saya senang sekali Tuan-Tuan ada di sini, saya jadi tidak kesepian. Tapi maaf seribu maaf, di sini di gunung yang sepi, sangat jauh bedanya dengan di kota, seperti bumi dengan langit,” kata Kiai Idris.

“Kami sangat berterima kasih karena Mbah sudi menerima kedatangan kami yang ngrepoti ini,” sambung Kiai Muhammad, orang yang paling tua dari rombongan kami.

“Ooh, sama sekali tidak ngrepoti saya. Tuan-Tuan tidak merepoti apa-apa, malah saya yang sangat berterima kasih bahwa tuan-tuan sudi kemari,” jawab Kiai Idris.

“Kami datang seperti perampok saja, Mbah. Datang-datang minta makan, lagi pula pakaian kami aneh-aneh begini,” kata Kiai Jamil, orangnya berwatak keras tetapi penuh tanggung jawab. Bekerja serba cekatan.

“Akh tidak! Tuan-Tuan adalah pemimpin saya, sedang dalam perjuangan yang berat. Teringat saya ketika masih kecil ikut ayah berlari-lari dikejar dan mengejar Belanda. Ayah termasuk prajurit Pangeran Diponegoro, murid Kiai Imam Rafi‘i, pemimpin pesantren Bagelen yang menjadi mertua Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro dan Kiai Imam Rafi‘i ditangkap Belanda, ayah bersama santri-santri yang lain, semuanya prajurit Diponegoro meneruskan perjuangannya, ngraman terhadap Belanda di mana-mana. Ketika itu saya ikut ayah, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Akhirnya saya menetap di Ngrimun sini. Ooh Allah, andaikata saya masih muda, saya pasti akan menyertai Tuan-Tuan meneruskan perjuangan ayah saya yang belum selesai…!” Kiai Idris menundukkan kepalanya, air matanya berlinang-linang. Kami semuanya diam, diliputi suasana haru.

“Jadi Mbah bukan orang asli sini?” Kiai Jamil membuka percakapan kembali.

“Bukan! Saya berasal dari Bagelen, tapal batas Purworejo-Yogya,” jawabnya, “Ya, tetapi di mana-mana bumi Allah juga. Itu rumah-rumah,” sambil menunjuk beberapa rumah di kanan kiri dalam jarak yang cakup jauh antara yang satu dengan lainnya “adalah rumah anak cucu saya!”

“Mbah, kami sekali lagi mengucapkan terima kasih atas segala bantuan Mbah. Tetapi maafkan, kami cuma sementara saja di sini, kami masih akan meneruskan perjalanan. Kami mohon do‘a Mbah, semoga kami dilindungi Allah dan perjuangan kita diberkahi oleh-Nya,” aku mengalihkan percakapan.

“Saya sebenarnya senang sekali Tuan-Tuan ada di sini. Tetapi saya juga memaklumi, Tuan-Tuan bukan sekedar orang mengungsi. Tuan-Tuan adalah pemimpin-pemimpin kami, memimpin perjuangan yang sangat berat ini. Dan di tempat ini memang tidak cocok untuk medan perjuangan. Di sini cuma cocok untuk tempat sembunyi. Sebab itu, walaupun hati saya sangat berat berpisah dengan tuan-tuan, tetapi saya merasa sangat berbahagia dapat menolong orang-orang yang sedang melakukan Jihad Sabilillah!” jawab Kiai Idris.

“Jangan lupakan kami, Mbah, mohon doa selalu tiap sembahyang!” sela Kiai Muhammad.

“Insya Allah saya tak akan pernah melupakan Tuan-Tuan. Nama Tuan-Tuan telah lama saya kenal lewat Kiai Abu, dan hati saya merasa telah menjadi satu dengan Tuan-Tuan,” Kiai Idris berhenti sebentar, lalu sambungnya, “tidak cuma tiap sembahyang, tetapi tiap ingat Insya Allah selalu akan mendoakan tuan-tuan.” Hingga di sini Kiai Idris berhenti, beliau mengusap air matanya dengan ujung sarungnya yang mulai membasahi pipinya. Lalu sambungnya: “Umur saya sudah terlalu tua, saya sudah kenyang dengan hidup. Rasanya hidup ini cuma menambah dosa saja. Aku tak bisa berjuang, tak bisa ke mana-mana. Orang lain pada berjuang, saya cuma duduk-duduk saja di sini, menambah dosa!” kata Kiai Idris.

“Dosa Mbah Insya Allah diampuni Allah,” sahut Kiai Muhammad,

“pengakuan seseorang tentang dosanya telah diampuni Allah. Lagi pula, Allah SWT tidak membebani manusia secara taklif, memaksakan diri. Manusia disuruh beramal bi qadri al-imkan, sekedar kemampuannya. Apa yang dilakukan Mbah benar-benar sesuai dengan bi qadri al-imkan.”

“Saya minta do‘a Tuan-Tuan. Jika sewaktu-waktu saya dipundut Allah pulang ke rahmatillah, supaya tetap dalam iman, Islam, dan husnulkhatimah,” kata Kiai Idris.

Beliau minta di antara kami membacakan do‘a, tetapi tak ada seorang pun di antara kami yang bersedia. Kami meminta beliau yang membaca do‘a. Beliau tidak mau, tetapi setelah kami desak, akhirnya bersedia membacakan buat kita semua.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: