Merdeka Berarti 1000 Perjuangan (9)

Rombongan kami meninggalkan Ngrimun setelah dua malam berada di sana. Melalui jalan gunung, hutan belukar, dan menyusuri tebing-tebing, akhirnya kami tiba di desa Tridadi, di mana TNI menjadikannya markas pertempuran.

Tentu tidak bijaksana kalau kami berada di sana, kami harus mencari tempat lain, karena siasat berpencar dalam suatu perang gerilya sangatlah perlu.

Rombongan kami telah dikurangi satu keluarga, tinggal 20 orang saja termasuk wanita-wanita dan anak-anak. Kami tiba di Cacaban setelah menyeberangi sungai dan melewati bukit-bukit Daerah ini sangat tandus, tak ada beras. Makanan pokok penduduk cuma tepung gelang, gula aren, dan kelapa. Hari-hari hanya makan itu-itu juga. Untuk menambah kalori terutama untuk anak-anak, kami membeli dari penduduk barang beberapa puluh butir telur ayam. Bukan main susahnya rokok, sudah 3 hari persediaan rokok kami habis. Kami tentu tak bisa bertahan lama-lama di daerah ini, kami tinggalkan Cacaban meneruskan perjalanan.

Kami akan menuju daerah tapal batas Purworejo-Magelang-Wonosobo, tetapi karena datang dari jurusan sebelah Timur, kami harus membelok ke Barat dan Utara. Ini harus menyeberangi sebuah jalan raya yang dikuasai Belanda.

Abdulkadir dan Huseini yang menyusul kemudian, aku perintahkan untuk berjalan di muka melakukan tugas penyelidikan sampai di mana kemungkinan menyeberangi jalan raya. Alhamdulillah, jalan sedang sepi, dan ketika rombongan kami melintasi jalan raya yang angker ini, tak satu pun ‘setan’ yang tampak. Kami selamat memasuki daerah Republik kembali.

Lepas ashar, kami tiba di desa Kalijambe. Desa itu seperti dalam keadaan damai saja. Rumah besar-besar; masjidnya pun bersih, sawah-sawah terbentang di mana-mana sejauh mata memandang. Dan, Kiai Zayadi sedang menanti kedatangan kami. Kami semua mandi di sungai yang airnya jernih sekali. Lepas mandi aku memasuki masjid yang sudah mulai penuh dengan jama‘ah untuk sembahyang maghrib. Aku mengambil kesempatan untuk memberikan sedikit penerangan tentang situasi dewasa itu dan petunjuk-petunjuk yang penting. Beberapa pemuda menyanggupi untuk memindahkan satu regu Hizbullah yang semula aku tugaskan untuk mengawal Ngrimun, dipindahkan ke Kalijambe. Biarlah mereka bisa istirahat dan sekedar makan kenyang-kenyang. Di Kalijambe banyak sekali pemuda, tetapi juga banyak beras dan ikan mujahir.

Tujuan kami bukan Kalijambe, karena itu, hanya dua malam kami berada di daerah yang tenang dan makmur ini. Kami melanjutkan perjalanan ke arah Utara, memasuki daerah Wonosobo.

Kami masih harus menempuh jarak 12 km, melalui gunung-gunung dan harus menyeberangi sungai demi sungai. Kami menghindari jalan umum karena khawatir menemui patroli Belanda. Dalam pada itu, kami juga harus waspada terhadap pelarian sisa-sisa pasukan PKI yang dikejar-kejar TNI, mereka menyelusup memasuki daerah-daerah pedalaman yang jauh.

Waktu dzuhur di tengah jalan, kami menjumpai anak-anak Siliwangi dari salah satu batalion yang sedang dalam perjalanan memasuki Jawa Barat. Dengan salah seorang perwiranya aku mengadakan perundingan sebentar mengenai situasi dan tugas masing-masing. Ia menyampaikan pesan-pesan untuk Letkol Sarbini dan Letkol A. Yani, dan aku sanggupi jika aku telah bersua dengan mereka.

Setelah 11 hari meninggalkan kota, menjelang maghrib, kami tiba di desa Magersari, suatu pos pertama sebelum kami menuju ke desa Sigedong, tujuan sementara kami. Tetapi jalan terhalang oleh sungai yang sedang banjir. Jembatan tidak ada, dan cuaca mulai gelap.

Daripada harus bermalam di suatu lapangan di bukit yang tandus, lebih baik kami menyeberangi sungai yang sedang banjir. Kami, 7 orang laki-laki merupakan pagar betis di sungai, lalu orang-orang perempuan dan anak-anak diseberangkan dengan memegang tangan kami yang telah kami ulurkan menjadi rantai-rantai. Dengan amat susah payah, akhirnya selamatlah kami tiba di seberang sana. Alhamdulillah, bukan main rasa lega dan bahagia.

Dengan perantaraan seorang pemuda, kami diantarkan ke langgar yang dekat. Kami tiba di langgar yang panggungnya dalam keadaan sunyi dan gelap. Kami merebahkan diri karena sangat letih. Semua tertidur, kecuali aku dan Abdulkadir yang jaga. Aku tanyakan kepada pemuda yang mengantarkan kami, siapa nama kiai di situ, dan minta tolong disampaikan kepadanya bahwa ada tetamu datang. Aku beritahukan namaku.

“Wa’alaikum as-salam, ahlan, ahlan marhaban… ” Kiai Suhrowardi datang menghampiri kami dengan membawa lampu petromaks.

Setelah saling menanyakan kabar keselamatan masing-masing, beliau minta permisi sebentar. Hampir 20 menit kami ditinggalkan sendirian. Aku dan Abdulkadir menyelesaikan sembahyang maghrib yang sudah akhir, sementara itu mulut ini terasa kecut sekali karena sejak siang tadi tidak merokok. Rokok sudah ludes sejak siang. Aku merebahkan badan karena letih sekali, dan Abdulkadir aku tugaskan tetap berjaga jika terjadi sesuatu.

Tiba-tiba keluarlah dari rumah Kiai Suhrowardi orang-orang perempuan dan pemuda-pemuda sambil membawa baki-baki yang terisi penuh, diiringkan oleh Kiai dan Ibu Nyai. Kiranya singkong rebus yang masih panas, ubi rebus, gula Jawa, dan kopi panas. Orang-orang yang tertidur aku bangunkan semua. Bukan main girangnya, mereka makan rebusan singkong dan ubi dengan lahap sekali.

Rupanya segala singkong dan ubi rebus itu cuma mukadimah saja, tak lama kemudian datanglah hidangan nasi putih masih panas, gulai kambing, ayam goreng, dan kami dipersilahkan mencicipi oleh Kiai Suhrowardi.

“Kiai, kami bukannya sekedar mau mencicipi, tapi akan kami gempur sampai ludes!” kata Kiai Jamil. Orangnya memang lucu. Semua tertawa riuh.

Malam itu kami pesta besar. Bukan main nikmatnya! Orang-orang perempuan dan anak-anak dibawa Ibu Nyai ke rumah, dan kami yang laki-laki semuanya dipersilakan di langgar. Langgar itu kokoh sekali, terbuat seluruhnya dari kayu jati, dibikin panggung. Lantainya juga dari kayu dan licin sekali. Lepas sembahyang isya, kami ber-cakap-cakap dengan Kiai Suhrowardi.

“Saya memang telah menyuruh anak-anak santri yang menjadi Hizbullah di sini, agar mencari dan menjemput Bapak-Bapak kemari. Sudah 1 minggu ini mereka belum pulang. Memang saya suruh agar mencari sampai dapat,” kata Kiai Suhrowardi.

“Tak usah dijemput kami pasti kemari, insya Allah. Itu kan sudah kita bicarakan sejak lama!” kataku menjawab.

“Saya minta Bapak-Bapak ini tak usah ke Sigedong. Di sana sekarang dijadikan markas TNI. Lebih baik di sini saja. Lagi pula, banyak gutekan yang kosong karena para santri pada pulang setelah Belanda menyerbu ke kota-kota. Bapak-bapak bisa menempati gutekan-gutekan itu. Besok saya akan mengerahkan orang-orang desa untuk membersihkannya dan memperbaiki di mana perlu,” Kiai Suhrowardi mengusulkan.

“Kami ini datang bukan untuk mondok, untuk nyantri. Kami akan menjadikan Sigedong sekedar tempat untuk menitipkan keluarga. Kami yang laki-kali ini tentu tidak akan tinggal di rumah terus-terusan, kami tentu harus mobil, jalan dengan gerak cepat. Ini perang gerilya, Kiai, kita harus mengamankan dulu keluarga kita, lalu kita teruskan perjuangan!” jawabku.

“Apa salahnya di sini, di sini aman, daripada di Sigedong?” Kiai masih tetap dengan usulnya yang semula.

“Di sini memang tepat untuk mengumpet, untuk sembunyi. Tempatnya aman, ada makanan, ada Kiai Suhrowardi, dan tempat ini terpencil di gunung. Tetapi untuk perjuangan dan untuk hubungan kesana-kemari terlalu jauh, tidak bisa untuk gerak cepat,” jawabku meyakinkan.

“Nanti siapa tahu, sesekali kami juga kemari, kami kan mobil terus!” jawab Solichun.

“Ya, sudah kalau begitu!” jawab Kiai Suhrowardi, “Kami diberi tugas apa?”

“Nanti akan banyak tugas. Kami akan kumpulkan dulu para kiai di daerah Kedu ini. Aku akan menetapkan Sigedong karena letaknya di tengah-tengah dan mudah dicapai dari mana-mana. Dari Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo serta Kebumen mudah mencapainya. Lagi pula, daerah itu aman sekali, dikelilingi oleh bukit-bukit lagi, tanahnya subur penuh bahan makanan. Itu semua syarat-syarat yang diperlukan dalam suatu perang gerilya,” jawabku menenteramkan hatinya.

“Jadi apa tugas saya?” Kiai Suhrowardi mendesak.

“Besok pagi kita ke Sigedong. Kita kumpulkan dulu Kiai Sabilan, Kiai Idris Sepuran, Kiai Subandi, kita bicarakan penyelenggaraan pertemuan ulama. Aku juga akan menemui markas TNI di sana untuk mencari hubungan dengan Bambang Sugeng, Gubernur Militer!” Aku menerangkan.

“Di Sigedong itu, kalau memang di sana ada markas TNI, aku akan bisa mencari keterangan di mana Pak Sarbini dan Pak A. Yani berada,” aku menambahkan.

Malam itu, hingga jauh malam kami berbincang-bincang mengenai macam-macam hal, diselingi oleh gelak tawa karena Kiai Jamil terus bercanda. Beruntung juga rombongan kami. Ada ulama yang alim, Kiai Muhammad. Ada pemuda yang ringan kaki, Abdulkadir. Ada pemimpin pasukan Hizbullah, Solichun, dan ada orang yang radikal tetapi lucu, Kiai Jamil.

Ketika orang-orang tengah asyik bercanda, aku merebahkan badanku yang amat letih. Kiai Suhrowardi menawari aku hendak dibikinkan kopi panas lagi, tetapi aku menolaknya, lebih baik memberikan aku bantal saja. Aku ngantuk sekali.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: