Merumuskan Kembali Tujuan Pendidikan Pesantren

Beberapa ringkasan yang menarik dari buku ‘bilik-bilik pesantren’ nya Nurcholish Majid adalah bahwa;

Diantara kelemahan pesantren adalah lemahnya visi dan tujuan yang dibawa pendidikan pesantren. Agaknya tidak banyak pesantren yang mampu secara sadar merumuskan tujuan pendidikannya dan menuangkannya dalam tahapan-tahapan rencana kerja atau program.

Kurangnya kemampuan pesantren dalam meresponi dan mengimbangi perkembangan zaman tersebut, dengan faktor lain yang sangat beragam, membuat produk-produk pesantren dianggap kurang siap untuk “lebur” dan mewarnai kehidupan modern.

Secara lebih rinci, beliau mengungkapkan beberapa gagasan dalam rangka merumuskan kembali tujuan pendidikan pesantren diantara nya:

a. Mempelajari al-Qur’an dengan cara yang lebih sungguh-sungguh daripada yang umumnya dilakukan orang sekarang, yaitu dengan menitik beratkan pada pemahaman makna dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Ini memerlukan kemampuan pengajaran yang lebih besar. Yaitu pengajaran kesatuan-kesatuan pengertian tentang ayat-ayat atau surat-surat yang dibacanya dengan menghubungkannya dengan ayat-ayat atau surat-surat lain (yang belum terbaca pada saat itu). Pelajaran ini mungkin mirip dengan pelajaran tafsir, tetapi dapat diberikan tanpa sebuah buku atau kitab tafsir melainkan cukup dengan al-Qur’an secara langsung.

b. Memperbanyak bahan bacaan atau buku pegangan. Penggunaan cara ini sangat tergantung pada kemampuan para pengajar dalam mengembangkannya secara lebih luas.

c. memanfaatkan pelajaran-pelajaran di pesantren untuk “disisipi” pandangan-pandangan keagamaan tadi.

d. menumbuhkan kesadaran dan penghargaan yang lebih wajar pada hasil-hasil seni-budaya Islam atau seni budaya umumnya. Hal ini penting sekali untuk menumbuhkan kepekaan rohani, termasuk kepekaan rasa ketuhanan yang menjadi inti rasa keagamaan.

e. mengadakan pendalaman-pendalaman pada segi lainnya dalam suatu tingkat yang lebih lanjut dan bersifat “takhassus”. Suatu catatan berkaitan dengan hal tersebut adalah keharusan mengadakan pengaturan kembali alokasi waktu dan tenaga pengajaran sehingga terjadi penghematan dan intensifikasi bagi pelajaran-pelajaran lainnya.

f. tanggap dengan tuntutan-tuntutan hidup anak didiknya kelak dalam kaitannya dengan perkembangan zaman. Di sini pesantren dituntut dapat membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan nyata yang didapat melalui pendidikan atau pengajaran pengetahuan umum secara memadai. Di bagian ini pun, sebagaimana layaknya yang terjadi sekarang, harus terjurusan-jurusan alternatif bagi anak didik sesuai dengan potensi dan bakat mereka.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: