Pertanyaan Sang Muallaf

Muallaf IlustrasiSaya ingin memulai diskusi kita ini dengan sebuah pertanyaan yang pemah diajukan seorang muallaf kepada saya. Hal itu terjadi di awal tahun 2000, menjelang saya berangkat haji bersama istri. Sebenarnya, pertanyaan dia sederhana saja. Bahkan mungkin terlalu sederhana bagi kita yang sudah memeluk Islam puluhan tahun ini. “Pak Kenapa sih kita mesti pergi haji ke tanah suci .. ?”

Sangat sederhana bukan pertanyaan itu? Tapi ternyata, jawabannya tidaklah sesederhana pertanyaannya. Saya bahkan sempat tercenung beberapa kali untuk membelikan jawaban yang memuaskan hatinya. Semakin dipikir, jawaban dari pertanyaan itu semakin membuat hati saya merasa gamang …

Semula, saya ingin memberikan jawaban ringkas, yang segera bisa dicerna oleh sang muallaf: “. saya berangkat haji untuk memenuhi panggilan Allah datang ke baitullah … “

Jawaban ini sebenarnya sebuah jawaban yang biasa kita dengar dari sekitar kita. Bahkan demikian populernya, sehingga seakan-akan sudah otomatis berada di dalam memori otak kita. Dan siap meluncur melalui lidah kita kapan saja. Esensi dari jawaban ini berasal dari kalimat yang dibaca para Jamaah haji sepanjang ibadahnya: “labbaika AlIahumma labbaik; labbaika Laa syariikalaaka labbaik .. ,”

“Aku datang padaMu ya Allah, aku datang padaMu, tak ada serikat bagiMu … ”

Namun sungguh, tiba-tiba saya ragu untuk memberikan jawaban itu kepada sang muallaf. Karena saya tahu, bahwa dia tidak akan puas dengan jawaban tersebut dan akan mengejarnya dengan pertanyaan selanjutnya yang lebih ‘berat’ :

“lho, apakah Allah berjarak: demikian jauhnya dari kita sehingga Dia mesti. memanggil-manggil kita. Bahkan untuk datang ke baitullah (rumah Allah) di Mekkah sana ?”

Saya kira, jawaban dari pertanyaan susulan ini justru lebih rumit dibandingkan pertanyaan pertama. Apalagi di situ dikatakan Allah punya ‘rumah’. Saya bukannya tidak ‘berani’ menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi saya pikir, saat itu saya tidak punya cukup waktu untuk menjawab panjang lebar, dan biasanya kemudian menjadi sebuah diskusi panjang, sebagaimana selalu kami lakukan selama beberapa tahun belakangan.

Akhirnya saya mengurungkan jawaban itu. Saya berusaha mencari alternatif jawaban lain yang ‘lebih sederhana’. Memori di otak saya langsung mengingat sebuah alternatif jawaban lain:

” … saya pergi haji ke tanah suci agar bisa memperoleh pahala shalat 100 ribu kali lipat di Masjid Al Haram, dan bisa berdoa kepada Allah di Multazam yang mustajab … ”

Tentu kita semua tahu esensi darijawaban ini. Apalagi, itu sudah menjadi wacana umum bagi mereka yang berangkat haji, bahwa shalat di Masjid Al Haram memang bernilai 100 ribu kali lipat dibandingkan shalat di tempat lain. Begitulah Rasulullah Muhammad saw mengajarkan kepada kita. Demikian pula, berdoa di Multazam – sebuah tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah – sangatlah mustajab dan langsung direspon oleh Allah.

Alternatif jawaban yang kedua itu sudah di ujung lidah untuk saya ucapkan. Namun, lagi-lagi saya ragu melakukannya. Kenapa begitu? Sebab, langsung terbayang di benak saya, bahwa sang MualIaf itu akan memberondong saya dengan pertanyaan berikutnya yang justru lebih banyak:

’Kenapa berdoa di Multazam lebih mustajab dibandingkan dengan di tempat lain? Bahkan juga kenapa shalat di sana bernilai 100 ribu kali lipat 7 Ini tidak adil, karena enak sekali orang-orang yang tinggal disana dan orang-orang yang berduit bisa pergi haji. Sementara, orang seperti saya tidak punya kesempatan pergi ke sana dan akan kehilangan peluang untuk memperoleh pahala sebesar itu. Sebuah pahala yang tidak mungkin saya peroleh di sini meskipun sepanjang hidup melakukan ibadah terus … ?”

Wah, wah … wah. Sungguh sebuah jawaban yang mengundang ‘masalah’, Bukannya ringkas malah jauh melebar dan menukik lebih dalam. Maka. akhirnya saya mengambil langkah cepat untuk menjawab pertanyaan sang Muallaf itu dengan jawaban klise, bahwa saya berangkat haji itu adalah untuk memenuhi kewajiban yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Saya berharap inilah jawaban paling ‘diplomatis’ untuk memutus peluang diskusi berkepanjangan yang akan terjadi di antara kami.

Akan tetapi, ternyata itu hanya sekadar harapan. Karena tiba-tiba saja terlintas di benak saya firman Allah di dalam Al Quran surat Al Baqarah: 256. ‘Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.

Astaghfirullaahal ‘adzziim. Saya mohon ampun atas segala kebodohan saya. Lagi-lagi saya mengurungkan jawaban saya kepadanya. Jawaban yang ketiga ini pun ternyata juga mengundang ‘masalah’. Malahan. jauh lebih besar! Karena. masalahnya bukan lagi dengan sang Muallaf, melainkan justru dengan Allah. Dzat Yang Maha Lembut dan Maha Berilmu. Kenapa bisa begitu?

Ya, karena jawaban saya yang ketiga ini adalah jawaban indoktrinasi! Seakan-akan saya mengharus-haruskan dan memaksa-maksa orang – termasuk saya dan sang muallaf itu – untuk menunaikan ibadah haji. Padahal Aliah sendiri sebagai Sang Maha Guru kita justru mengajarkan agar kita tidak melakukan pemaksaan-pemaksaan dan indoktrinasi di dalam menjalankan agama! Laa ikrahaa fiddiini … !

Ya Allah, bimbinglah muridMu yang bodoh ini …

Akhirnya, saya mengurungkan niatan saya untuk menjawab secara ringkas. Karena, memang, sebenarnyalah belajar agama ini tidak bisa dirtngkas-ringkas. Apalagi sepintas lalu. Harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh-penuh perhatian, dan tabayyun sepanjang kehidupan kita … ! Maka, berubahlah niatan saya : …saya lantas menceburkan diri dalam sebuah diskusi panjang dan lebar dengan sang Muallaf tentang makna haji …

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: