RAMUAN OBAT

oleh : apt., Haris Munandar, S. Farm., M.Si

Mengikuti jejak Rasulullah Muhammad SAW, merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Termasuk mewarisi metode pengobatan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Pengobatan yang dilakukan Rasulullah menggunakan tiga cara, yaitu :

Melalui do’a atau pengobatan dengan menggunakan wahyu- wahyu Ilahi yang lebih dikenal dengan istilah do’a-do’a ma’tsur yang datang dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW yang shahih.

Kedua menggunakan obat-obat tradisional baik dari tanaman maupun hewan.

Ketiga adalah menggunakan kombinasi dari kedua metode tersebut. Adapun mengenai pengobatan melalui obat-obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan mineral, hal ini tidak asing lagi dalam dunia farmasi.

Pengobatan ini dikenal dengan farmasi. Ilmu farmasi sendiri terpisah dari ilmu Kedokteran di era kehalifahan Abbassiyah (abad ke 8 M). Dalam perkembanganya farmasi terbagi menjadi berbagai cabang ilmu yang saling berkaitan satu sama lainnya. Cabang ilmu tersebut antra lain mencakup Farmakologi (Farnakodinamik, Farmakokinetik, Toksikologi farmasi, Farmakoginemik, Kimia farmasi, Farmasetika, Farmakognosi (Biologi Framasi)

Farmakologi bidang ilmu mempelajari efek biokimia dan fisiologis dari obat pada manusia yang didalamnya mencakup Farmakodinamik. Farmakokinetik yang mempelajari faktor-faktor yang mengontrol konsentrasi obat di berbagai tempat di dalam tubuh. Toksikologi farmasi yang mempelajari efek toksik dari obat, serta Farmakoginemik yang mempelajari karateristik antar obat dan organisme. Kimia farmasi merupakan studi desain obat untuk mengoptimalkan faramakokinetik dan farmakodinamik dan sintesis dari molekul baru. Farmasetika merupakan studi dan desain formulasi obat, sedangkan farmakognosi merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki bahan-bahan baik yantg berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan dan juga beberapa mineral yang mempunyai khasiat obat. Semua cabang farmasi ini memiliki keterkaitan yang kuat untuk menghasilakan obat yang bermutu dan aman.

Manusia mulainya mengenal ramuan obat untuk suatu penyakit adalah dengan mencoba meramunya dari daun-daunan. Ada banyak jenis daun penawar yang cocok untuk penyakit, jika Allah menghendaki seorang yang cerdik dan rajin mengumpulkan bahan obat temuan sendiri dan penemuan orang lain pada akhirnya akan terkenal sebagai seorang tukang mengobati atau seorang tabib (dokter) alamiah yang pertama. Rasulullah SAW telah bersabda :“ Apabila Allah menurunkan penyakit, pasti Ia akan menurunkan penawarnya.“ (HR. Bukhori Muslim). Pengobatan dalam Islam banyak diisaratkan dalam hadis- hadis Rasulullah. Khususnya dalam hadis apabila ditinjau dari ilmu farmasi maka Rasulullah banyak berbicara tentang farmakognosi yaitu khasiat dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan beberapa mineral yang memiliki khasiat obat.

Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji biofarmasetika. Farmakognosi merupakan sebagai bagian biofarmasi, biokimia dan kimia sintesa, sehingga ruang lingkupnya menjadi luas. Alam memberikan kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan dan mineral yang jika diadakan identifikasi dan menentukan sistematikanya, maka diperoleh bahan alam berkhasiat obat. Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi, dikeringkan, diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap pakai atau yang disebut dengan simplisia, disinilah keterkaitannya dengan farmakognosi.

Beberapa istilah mengenai farmakognosi antara lain

Simplisia

Simplisia : adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral.

Jenis Simplisia :

1. Simplisia nabati

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya.

2. Simplisia hewani

Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh , bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

3. Simplisia mineral atau pelikan

Simplisia mineral atau pelikan adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. dan untuk memenuhi persyarata minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh , antara lain adalah :

1. Bahan baku simplisia.

2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia.

3. Cara penepakan dan penyimpanan simplisia. Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, maka ketiga faktor tersebut harus memenuhi persyaratan minimalyang ditetapkan.

Tahap Pembuatan Simplisia

Pada umumya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut :

1. Pengumpulan bahan baku

Tumbuhan yang akan dibuat menjadi simplisia dapat berasal dari tumbuhan budidaya atau tumbuhan liar, yang paling baik adalah tumbuhan hasil budidaya. Waktu pengumpulan yang terbaik adalah bila bagian tumbuhan yang akan dijadikan simplisia kandungan zat aktifnya paling tinggi. Selain musim juga harus diperhatikan waktu dalam sehari. Misal, minyak atsiri hendaknya dipanen pada pagi hari.

Umur tumbuhan yang baik untuk dipanen juga bervariasi mulai bulanan sampai tahunan. Misal, Daun dipanen ketika tumbuhan dewasa dan akan berbunga. Bunga dipanen ketika bunga kuncup atau mekar. Rimpang (Zingiberaceae) dipanen setelah bagian di atas tanah menguning (mengering). Daerah tempat tumbuh juga bervariasi tergantung dari iklim, ketinggian, kelembaban, dan sebagainya.

2. Sortasi basah

Setelah bahan/tumbuhan yang akan dibuat menjadi simplisia diperoleh maka dilakukan sortasi yaitu memisahkan bagian-bagian yang tidak dikehendaki dari bahan/tumbuhan tsb. Misal, bunga cengkeh, kuncup bunga cengkeh yang mulai memerah dipisah dari kuncup bunga yang masih muda, atau dari tangkainya atau dari bunga yang sudah mekar atau dari fructusnya.Selanjutnya bahan/tumbuhan dibersihkan/ dicuci, ditiriskan

3. Pencucian

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin.

4. Perajangan

Beberapa jenis bahan/tumbuhan perlu mengalami perajangan dengan ukuran tertentu untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Misal, rimpang (rhizoma).

5. Pengeringan

Pengeringan bertujuan agar simplisia dapat disimpan dalam waktu yang lama dan untuk menghindari tumbuhnya jamur serta menghindari aktivitas enzim, aktivitas bakteri dan perubahan kimia lainnya.

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

1). Secara alamiah juga dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. Dengan panas matahari langsung Misalnya untuk bagian tanaman yang relatif keras (kayu, kulit kayu, biji, dan tumbuhan yang mengandung senyawa aktif yang relatif stabil).

b. Dengan cara diangin-anginkan, misal untuk bagian tanaman yang lunak (bunga, daun, dan tumbuhan yang mengandung senyawa aktif yang mudah menguap).

2). Pengeringan dengan panas buatan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu, kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Suhu pengeringan tergantung dari sifat bahan/tumbuhan dan cara pengeringannya, suhu yang terbaik adalah <60oC. Misal tumbuhan yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu 30o – 45o C.

6. Sortasi kering

Sortasi setelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan simplisia, bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing. Misal : bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotor-pengotor yang masih tertinggal.

7. Pengepakan dan Penyimpanan

Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luar dan dalam, antara lain :

1) Cahaya : Sinar dari panjang gelombang tertentu dapat menimbulkan perubahan kimia pada simplisia, misalnya isomerisasi, polimerisasi, rasemisasi dan sebagainya.

2) Oksigen udara : Senyawa tertentu dalam simplisia dapat mengalami perubahan kimiawi oleh pengaruh oksigen udara terjadi oksidasi dan perubahan ini dapat berpengaruh pada bentuk simplisia, misalnya, yang semula cair dapat berubah menjadi kental atau padat, berbutir-butir dan sebagainya.

3) Reaksi kimia intern : perubahan kimiawi dalam simplisia yang dapat disebabkan oleh reaksi kimia intern, misalnya oleh enzim, polimerisasi, oto-oksidasi dan sebagainya.

4) Dehidrasi : Apabila kelembaban luar lebih rendah dari simplisia, maka simplisia secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya sehingga rnakin lama makin mengecil (kisut).

5) Penyerapan air : Simplisia yang higroskopik, misalnya agar-agar, bila disimpan dalam wadah yang terbuka akan menyerap lengas udara sehingga menjadi kempal basah atau mencair.

6) Pengotoran : Pengotoran pada simplisia dapat disebabkan oleh berbagai sumber, misalnya debu atau pasir, ekskresi hewan, bahan-bahan asing (misalnya minyak yang tertumpah) dan fragmen wadah (karung goni).

7) Serangga : Serangga dapat menitnbulkan kerusakan dan pengotoran pada simplisia, baik oleh bentuk ulatnya maupin oleh bentuk dewasanya. Pengotoran tidak hanya berupa kotoran serangga, tetapi juga sisa-sisa metamorfosa seperti cangkang telur, bekas kepompong, anyaman benang bungkus kepompong, bekas kulit serangga dan sebagainya.

8) Kapang : Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, maka simplisia dapat berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan simplisia, tetapi juga akan merusak susunan kimia zat yang dikandung dan malahan dari kapangnya dapat mengeluarkan toksin yang dapat mengganggu kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.