Skenario Persiapan Pembelajaran

Ketika mempersiapkan kegiatan pembelajaran hendaknya menghasilkan pengalaman belajar yang memenuhi ciri 4M:

1) Meaningful (penuh makna),

2) Memorable (penuh kenangan),

3) Motivational (memotivasi), dan

4) Measurable results (hasil belajar yang terukur) (Allens, 2007).

“Pengalaman belajar yang penuh makna” akan bisa terjadi ketika isi materi yang dipelajari sesuai dengan harapan peserta didik, hasil yang akan dipelajari bermanfaat dalam hidupnya.

“Pengalaman belajar yang penuh kenangan” akan dapat terwujud ketika hasil belajar dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih maju/lebih berkembang, pembelajaran yang dilalui memiliki pengaruh yang tinggi (misalnya dapat mengembangkan daya imajinasi peserta didik, membuat kejutan positif karena sangat menarik perhatian, pengalaman praktik sangat mengesankan).

“Pengalaman belajar yang memotivasi” dapat terjadi ketika materi yang dipelajari menggerakkan keinginan peserta didik untuk belajar dan mendorong tekad untuk mentransfer isi yang berhasil dipelajari menjadi produk hasil belajar atau karya nyata.

Adapun “hasil belajar yang terukur” akan terpenuhi jika program belajar yang dipersiapkan pendidik memiliki target yang jelas terkait hasil belajar yang harus terjadi yang ataupun perubahan perilaku tertentu yang jelas.

Menurut Montague (Montague dalam Allens, 2007) program pembelajaran sebaiknya menerapkan berbagai hal seperti: penggunaan konteks pembelajaran yang terkait dengan situasi yang relevan (use a situational context), aktivitas belajar disusun secara sistematis (analyze tasks systematically), tersedia waktu untuk mempraktikkan teori (provide realistic practice), tidak terlalu membebani memori (minimize memory load initially), perilaku belajar yang salah dapat terdeteksi (analyze performance errors for causes), tersedia umpan balik untuk perbaikan perilaku belajar yang salah (provide corrective feedback), dan dapat membangkitkan kesadaran peserta didik yang mampu melakukan pemantauan perkembangan diri (develop students’ self-monitoring skills).

Proschaska (Prochaska dkk. dalam Allens, 2007) melihat dari sisi psikologi dalam pembuatan desain pembelajaran. Menurut Proschaska ketika merancang program pembelajaran hendaknya sebagai suatu program perubahan perilaku. Tahap perubahan perilaku terdiri dari enam tahap yaitu: 1) tahap pre-kontemplasi (precontemplation), 2) tahap kontemplasi (contemplation), 3) tahap persiapan (preparation), 4) tahap aksi (action), 5) tahap pemeli- haraan (maintenance), dan 6) tahap penghentian (termination).

Tahap pre-kontemplasi merupakan tahap di mana peserta didik belum mampu merasakan adanya permasalahan di dalam dirinya; peserta didik belum ingin berubah, belum ada kebutuhan untuk berubah; ketika peserta didik melihat adanya suatu masalah, masalah tersebut masih dipandang sebagai permasala- han yang datang dari luar dirinya atau disebabkan oleh orang di luar dirinya. Pada tahap ini, jika peserta didik dipaksa untuk berubah, hasil perubahannya akan kembali ke situasi sebelumnya ketika tekanan atau paksaan sudah tidak ada lagi. Karena itu pada tahap pre-kontemplasi ini yang perlu dipikirkan adalah alasan atau rasional tentang perlunya peserta didik melakukan perubahan dan bukan fokus pada hal-hal yang perlu dilakukan dalam program perubahan.

Tahap kontemplasi merupakan tahap di mana peserta didik mulai fokus terhadap permasalahan yang ada dalam dirinya, hal- hal yang menyebabkan terjadinya permasalahan, dan adanya kegamangan terhadap jalan pemecahannya. Pada tahap ini peserta didik belum mengindikasikan adanya kesiapan maupun komitmen untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini peran- cang program pembelajaran hendaknya fokus pada usaha melakukan transisi agar pelajar menyadari keadaan yang lebih baik yang akan terjadi ketika program perubahan dapat terlaksana. Melalui gambaran tentang hasil yang akan dicapai, peserta didik diharapkan akan menjadi terkesima dan bersedia melakukan perubahan.

Tahap persiapan merupakan tahap di mana peserta didik mulai membuat rencana riil terkait program perubahan yang akan dilaksanakan. Pada tahap ini dilakukan evaluasi baik kemajuan yang terjadi maupun cara menangani masalah yang terjadi ketika peserta didik sedang melaksanakan program perubahan. Tahap ini juga merupakan tahap untuk membangun komitmen melakukan perubahan.

Tahap aksi merupakan tahap di mana peserta didik melaksa- nakan perubahan perilaku. Pada tahap ini perlu diupayakan agar hasil perubahan perilaku peserta didik hingga menjadi kebiasaan (habit), yaitu kebiasaan baru yang lebih baik yang menggantikan kebiasaan lama yang tidak baik.

Tahap perawatan perubahan merupakan tahap mengupayakan agar kebiasaan baru yang sudah baik tidak kembali ke kebiasaan yang tidak baik sebelumnya. Tahap perawatan ini perlu waktu lama hingga kebiasaan baru yang telah terjadi mampu bertahan menjadi nilai-nilai yang diyakini kebenaranya dan menjadi sumber motivasi internal yang mendorong tindakan keseharian.

Tahap penghentian merupakan tahap di mana peserta didik secara sadar menghentikan perilaku yang tidak diinginkan dengan menggantinya berupa perilaku yang diinginkan. Pada tahap ini diharapkan hasil perubahan telah permanen dan tidak akan kembali ke perilaku yang telah menjadi kebiasaan lama pada masa sebelum dilakukan program perubahan.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: