Menjadi Guru (8)

Seorang wali murid mengajukan pertanyaan mengenai kelakukan anaknya tentang sembahyang. la ingin anaknya menjalankan sembahyang dengan baik. Ya, orang tua mana yang tak ingin melihat anaknya rajin sembahyang, tepat pada waktunya, dan tertib. Tetapi kenyataannya tidaklah selalu demikian. Mereka sering membolos, sembahyang hanya kalau diperintah, itu pun harus beberapa kali. Aku katakan kepadanya dalam kursus […]

Menjadi Guru (7)

Agama hendaklah dilaksanakan secara menyeluruh. Artinya, dikerjakan dalam gabungan antara keyakinan, pengertian, dan praktek sehari-hari. Tiap-tiap rumah tangga harus menjadi tempat untuk menghayati praktik beragama, dengan diresapi dalam suasana yang terus-menerus. Sebenarnya tidaklah terlampau sukar, asal ada kemauan dan ketekunan dari kalangan orang tua. Kita sekarang, setelah anak-beranak, merasa sangat beruntung bahwa dahulu orang tua […]

Menjadi Guru (6)

Waktu istirahat (tidur) Mengapa soal istirahat dan tidur aku mintakan perhatian dari para wali murid? Bukankah soal itu perkara paling mudah? Sepintas lalu memang benar. Semua orang bisa istirahat, maksudku: bahwa istirahat suatu perkara yang bisa dilakukan semua orang. Begitu pula soal tidur. Tetapi soalnya tidak hanya demikian. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan berhubungan dengan […]

Menjadi Guru (5)

Membantu pekerjaan orang tua Kecuali bermain-main, anak-anak penting sekali dibiasakan bekerja membantu orang tuanya di rumah. Membantu pekerjaan orang tuanya di sawah jika ia seorang petani, membantu pekerjaan di toko jika ia bertoko, membantu pekerjaan bengkel jika orang tuanya mempunyai perusahaan bengkel. Alhasil, pekerjaan apa saja dari usaha orang tuanya di rumah. Tentu harus diingat […]

Menjadi Guru (4)

Bermain-main Bermain-main secara seenaknya atau rileks adalah penting bagi dunia anak-anak dalam pertumbuhan rohani, jasmani, dan pikiran. Tidak baik jika anak-anak terus menerus berada dalam suasana terikat oleh ketegangan belajar dan di hadapan orang tua. Mereka memerlukan pelemas saraf. Itulah bermain-main. Di sana mereka juga menjalani fitrah atau naluri manusiawi hidup secara berkawan karena manusia […]

Menjadi Guru (3)

Selalu saja menjadi semboyan kuat dalam benakku bahwa tugasku sebagai guru, cumalah: menjadikan murid-muridku bertubuh sehat, pandai dan berakhlak. Tetapi untuk melaksanakan satu baris kalimat ini tidaklah mudah dalam praktik sehari-hari. Boleh dibilang hampir 100% murid-muridku terdiri dari anak-anak rakyat. Jangan dilupakan artinya: Rakyat jajahan! Kita masih hidup di bawah kekuasaan politik maupun ekonomi dan […]

Menjadi Guru (2)

Sudah menjadi kelaziman bahwa sebelum anak-anak memasuki ruangan kelasnya masing-masing untuk menerima pelajaran, mereka akan menggunakan waktu di luar kelas itu untuk menikmati suasana bebas. Hal itu sangat baik bagi pertumbuhan rohani dan jasmani anak-anak. Mereka akan mempergunakannya untuk bermain-main, berkejar-kejaran atau bercanda. Aku bahkan senang melihat anak-anak menggunakan waktu bebasnya dengan sebaik mungkin. Bahkan […]

Menjadi Guru (1)

Pada tahun 1936, ketika usiaku 17 tahun, aku sudah mulai menjadi guru. Ketika itu aku duduk di kelas terakhir di Madrasah Al-Huda. Sebenarnya belumlah guru betul. Murid-murid tidak seluruhnya memanggilku ustad, banyak juga yang memanggilku dengan namaku. Maklumlah, aku cuma sekedar musa’id, yaitu pembantu guru yang sebenarnya, Ustazd Mursyid guru yang sebenarnya dari Madrasah Al-Huda. […]

Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun ke medan pengabdian (4)

Percakapan menjadi panjang. Hadratus Syaikh memberitahukan kepadaku bahwa surat yang tadi sedang dibacanya datang dari seorang ulama terkenal di Jawa Tengah, yang beliau telah anggap sebagai gurunya. Aku tahu sifat Hadratus Syaikh yang selalu memandang ulama seangkatannya sebagai gurunya. Ini adalah sifat tawadhu, rendah hari. Dikatakan bahwa beliau sangat sedih mengapa harus berbeda pendapat antara […]

Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun ke Medan Pengabdian (3)

Nama A. Wahid Hasyim, atau lebih tepatnya Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, sudah sering aku dengar dan aku baca dalam surat-surat kabar atau majalah-majalah. Bahkan sesekali gambarnya ikut menghias di sana. Di kalangan kami, pesantren, beliau dikenal sebagai putera dari seorang ulama besar yang amat harum namanya, K.H. Hasyim Asy’ari, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang. “Putera […]

Kembali ke Atas