Tamatnya Zaman Penjajahan (2)

Muazin memperdengarkan iqamat, tanda sembahyang akan dimulai, setelah Kiai Hisyam memasuki ruangan masjid. Beliau mengenakan jubah dan sorban. Tetapi beliau tidak langsung menuju mihrab, tempat imam, beliau menghampiri Kiai Iskandar dan meminta yang belakangan ini menjadi imam. Kiai Iskandar tidak bersedia, mempersilakan Kiai Hisyamlah yang menjadi Imam. Tetapi Kiai Hisyam tetap meminta bahkan mendorong Kiai Iskandar memasuki mihrab menjadi imam. Yang didorong tetap saja tidak bersedia dengan alasan bahwa sohibul bait adalah seorang yang lebih utama darinya. Sebaliknya, Kiai Hisyam tetap meminta Kiai Iskandar menjadi imam, beliau lebih utama katanya dan lagi pula ia hendak meminta berkah dan seorang tamu. Lama kedua kiai ini saling mempersilakan masing-masing menjadi imam hingga para santri dengan amat sabarnya menanti dengan perasaan hormat kepada keduanya. Kiai Hisyam lalu berpaling kepadaku sambil mempersilakan aku menjadi imam disebabkan karena Kiai Iskandar menolak. Aku mesti tahu diri, siapa aku ini. Dengan hormat aku katakan kepada beliau “Kalau sudah tidak ada lagi kiai di sini, apa boleh buat!” Maksudku sekedar basa-basi humor sebagai penolakan.

Akhirnya, Kiai Hisyamlah yang maju menuju mihrab. Sebelum memulai sembahyang, kiai mengumumkan kepada hadirin, sehabis sembahyang nanti kita semua membaca bersama-sama Nazham Burdah, untuk memohon kepada Allah SWT agar kita dilindungi dan memperoleh pertolongan-Nya dalam situasi yang genting dewasa itu. Agaknya beliau sangat terpengaruh oleh pembicaraan kami yang baru berlangsung beberapa menit tadi.

Dalam sembahyang, imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an Surat At-Thariq, yang mengajak kami para makmum mengikuti firman-firman Allah yang sangat membekas di dada kami. Bahwa hendaklah manusia berpikir dari apa ia dijadikan. Dijadikan dari setitik air yang memancar, yang keluar dari sulbi pria dan wanita. Tetapi Allah berkuasa untuk mengembalikan hidup setelah mati. Kelak pada hari diperlihatkan nanri segala rahasia, sekali-kali tak ada kekuatan apa pun yang bisa menolong kecuali yang datang dari-Nya. Sesungguhnya Al-Qur’anlah Firman Allah yang benar-benar menjadi pemisah antara yang haq dan yang batil. Sesungguhnya orang-orang kafir itu merencanakan tipu daya yang benar-benar jahat. Namun Allah Maha Pembuat rencana yang sebenar-benarnya. Diberinya mereka bertangguh barang sebentar!

Selesai sembahyang maghrib berjama’ah, seperti yang dianjurkan oleh Kiai Hisyam, kami semua beramai-ramai membaca Nazham Burdah. Banyak di antara santri yang hafal di luar kepala. Nazham Burdah adalah sebuah kitab rangkaian sajak dalam sastra klasik Arab sepanjang 320 bait svair. Pengarangnya bernama Syeikh Muhammad Al-Bushiri. Seperti banyak kitab-kitab klasik Arab dan kitab-kitab keislaman pada umumnya tidak pernah jelas disebut kapan kitab itu dikarang, sedang pengarangnya hanya cukup disebut namanya tanpa biografi sekalipun hanya ringkasan saja. Kitab tersebut dikarang sekitar 7 hingga 8 abad yang lampau.

Di dalamnya banyak dilukiskan madah dan pujian terhadap kemuliaan sifat-sifat Nabi di antara sahabat-sahabatnya dalam menjalin kasih sayang satu terhadap lainnya, di dalam menggalang persatuan dan kesatuan menyusun kekuatan menghadapi semua musuh dan lawan-lawannya, di dalam ketabahan mereka menyelesaikan perjuangan demi perjuangan, dan di dalam meratakan kasih sayang untuk menegakkan kebenaran serta menghalau kebatilan.

Pengarangnya mengajak semua pembacanya untuk meneliti sejarah nabi besar bersama-sama sahabat-sahabatnya yang selalu siap melaksanakan pimpinannya. Tanyakan kepada mereka yang mengalami pertempuran-pertempuran besar di Hunain, di Badar, di Uhud, dan di semua medan juang, betapa dahsyatnya daya juang mereka yang tak gentar menghadapi segala aksi-aksi musuh, keras dilawan keras dan tipu-muslihat dilawan dengan taktik berjuang.

Betapa otak menyentuh hakikat kebenaran Nabi,

Bila hari-bari bergelimang di alam sesat dan mimpi,

Terkadang mata mencerca seolah redup sinar matahari,

Bukan apa, cuma sang mata sedang gundah lantaran sakit Seteguk air yang segar terasa hambar,

Sebab badan tak enak mulutpun jadi tawar.

Demikian antara lain sindiran-sindiran halus disisipkan Al-Bushiri dalam Burdahnya. Lepas sembahyang isya, sesudah kami dijamu dengan “potong-ayam”, sementara para santri tekun dengan pelajarannya masing-masing, Kiai Hisyam menjumpai kami di kamar tidur Kiai Iskandar. Kami meneruskan berbincang-bincang mengenai situasi yang sedang terjadi dewasa itu.

“Beberapa hari yang lalu regent (bupati Hindia Belanda) mengumpulkan para kiai. Katanya atas perintah dari atasan bahwa pemuda-pemuda kita akan diwajibkan menjadi serdadu. Kami para kiai diam saja tidak memberikan reaksi apa-apa. Anak-anak santri sudah mulai gelisah. Bagaimana jelasnya mengenai soal ini?” Kiai Hisyam memulai pembicaraan.

“Itu betul!” sela Kiai Iskandar, “bahkan saya sudah dihubungi salah seorang pejabat pemerintah menanyakan sikap saya tentang hal itu. Saya cuma katakan, minta waktu, karena saya akan tanyakan kepada pimpinan atasan saya.”

“Jadi bagaimana sikap kita?” Kiai Iskandar mendesak.

“Inilah yang musykil”, jawabku, ―pemerintah Hindia Belanda sudah merasa bahwa pada akhirnya Jepang memaklumkan perang kepada Belanda dan menduduki kepulauan kita Indonesia. Kalau ini terjadi, maka dalam tempo yang singkat saja, bala tentara Jepang dengan mudahnya memukul habis seluruh kekuatan perang Hindia Belanda. Beberapa pemimpin dan orang-orang yang dianggap pro-Jepang telah ditangkapi.”

“Jadi untuk itu semua, pemuda-pemuda mau dijadikan serdadu?” tanya Kiai Hisyam.

“Itulah soalnya!” jawabku,

“pemuda-pemuda kita mau dipaksa menjadi serdadu, namanya milisi. Padahal mereka belum terlatih benar sebagai tenaga perang, menghadapi tentara Jepang yang sudah bertahun-tahun bertempur di daratan Tiongkok, Manchuria, dan terus ke selatan.” “Itu berarti menjadikan anak-anak kita umpan peluru Jepang!” sela Kiai Hisyam.

“Bukan itu saja yang penting,” jawab Kiai Iskandar. “Jika pemuda-pemuda kita harus berperang, apa tujuan mereka? Berperang untuk siapa dan membela siapa? Bagaimana kalau mati? Apa hukumnya mati mereka itu?

“Begini.” Aku mencari kata-kata untuk menurunkan temperamen Kiai Iskandar yang sudah mulai semangat. Sementara Kiai Hisyam menyuruh khadamnya membuat lagi kopi yang panas. Kopi tubruk. “Dalam surat K.H.A.Wahid Hasyim yang baru aku terima, beliau ceritakan bahwa Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari telah memanggil K.H.A.Wahab Chasbullah, K.H Mahfuzh Shiddiq, K.H.Bisri Syamsuri, K.H.A.Wahid Hasyim, dan beberapa pimpinan teras Nahdhatul Ulama untuk membicarakan masalah tersebut, bertempat di Tebuireng.”

“Nah, lalu bagaimana?” serentak berbareng kedua kiai ini seperti tidak sabar menantikan akhir ceritaku.

“Telah ada keputusan dalam musyawarah tersebut. Kita tidak membahasnya dari segi politiknya, tetapi semata-mata dari segi hukum Agama Islam. Tentang hukum mati dalam sesuatu peperangan. Orang bisa dihukumi mati syahid apabila mati karena membela agama, membela harta-benda, membela kemerdekaan, membela kehormatan, dan sebagainya. Sekarang kita nilai. Perang sekarang ini perang antara siapa melawan siapa? Bukankah perang antara Jepang melawan Belanda dan Hindia Belanda? Kecuali kalau Jepang memaklumkan perang dengan Bangsa Indonesia. Dari pengamatan politik, Jepang tidak akan memaklumkan perang melawan Bangsa Indonesia, bahkan Jepang sangat berkepentingan terhadap simpati Bangsa Indonesia. Sebab itu, tentunya Jepang hanya akan memaklumkan perang melawan Belanda dan Hindia Belanda,” demikian aku menjelaskan.

“Itu bijaksana sekali ulama-ulama kita,” sela Kiai Hisyam.

“Kita kan bukan Belanda dan juga bukan Hindia Belanda.” “Kalau begitu, artinya kita menolak secara halus,” Kiai Iskandar menyambung.

“Jadi, menurut keputusan Tebuireng, mari dalam suatu peperangan yang tidak karena membela agama, tidak pula kemerdekaan, tidak juga harta benda, dan juga tidak untuk membela kehormatan, itu namanya mati sia-sia, dan jelas bukan mati syahid. Masalah masuknya pemuda-pemuda kita menjadi milisi Belanda erat sekali dengan masalah mati itu tadi. Jangan lupa, masuknya pemuda-pemuda kita ke dalam milisi Belanda untuk melawan Jepang itu artinya menyerahkan nyawa di ujung bayonet Jepang,” demikian aku melanjutkan keteranganku.

“Apakah keputusan musyawarah Tebuireng itu telah disampaikan kepada MIAI?” Kiai Iskandar bertanya.

“Sudah!” jawabku, “bahkan telah diterima menjadi pendirian MIAI. Beberapa hari yang lalu, MIAI telah melangsungkan sidang lengkapnya di Yogya. Hoofdbestuur Nahdhatul Ulama telah mengutus sebuah delegasi terdiri dari: K.H.A. Wahab Chasbullah, K.H. Mahfuzh Shiddiq, K.H. Mohammad Dahlan, dan K.H. Mohammad Ilyas untuk membawa hasil Musyawarah Tebuireng, dan ternyata diterima bulat sebagai pendirian dan sikap seluruh partai dan organisasi anggota MIAI.”

“Alhamdulillah,” sela Kiai Hisyam,

“kenapa K.H.A. Wahid Hasyirn tidak masuk delegasi Nahdhatul Ulama?” “Beliau ketua MIAI,” jawab Kiai Iskandar, “lagi pula beliau ikut musyawarah Tebuireng, bukan? ” “Tentang pemuda-pemuda kita, nanti harus bagaimana? Mereka tentu tidak mempunyai keberanian untuk menolak begitu saja terhadap perintah pejabat Hindia Belanda,” demikian Kiai Iskandar bertanya.

“Itu sudah diatur,” aku menjelaskan, “sebuah delegasi di bawah pimpinan K.H.A. Wahab Chasbullah akan menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menjelaskan semua itu dari segi hukum Agama Islam. Menurut ketentuan penguasa bahwa milisi itu bertingkat-tingkat. Ada yang dijadikan milker, ada yang menjadi pasukan pengawal kota, dan ada tenaga-tenaga keamanan kampung. Kita akan memperjuangkan agar pemuda-pemuda yang memenuhi syarat-syarat tertentu cukuplah kiranya bilamana diserahi menjaga keamanan kampung saja. Tentu ada seleksi mengenai kesehatan tubuh, yang tidak sedang belajar dan yang belum sampai umur. Santri-santri itu tentunya masuk golongan pelajar hingga tidak dikenakan kewajiban milisi. Kalau toh cuma menjaga keamanan kampung, biar tidak ada milisi pun kita harus menjaga keamanan kampung kita, misalnya dari gangguan penjahat, maling, dan sebagainya.”

“Ini ngomong-ngomong sendirian. Bagaimana tentang Jepang? Kalau mereka datang kemari, apa sikap kita?” tanya Kiai Iskandar.

“Pertanyaan ini bisa membahayakan kita di mata Belanda. Dan itu masih terlalu pagi. Kita tentu akan melihat dahulu bagaimana nanti. Yang penting, kita hadapi dulu Belanda ini dengan cara-cara yang bijaksana. Mereka masih berkuasa, dan kita harus menyelamatkan umat kita dari perbuatan fitnah mereka,” aku menenangkan.

Hari sudah larut malam, masing-masing kami dipersilakan masuk tidur. Kedua kiai masih akan mengambil air wudhu untuk melakukan sembahyang malam. Sedang aku tidak kuat lagi menahan kantukku, lalu merebahkan diri di atas kasur yang sudah disiapkan.

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: